MAS SUAMI

1356 Words
  Pagi ini Nala terbangun di pelukan hangat milik suaminya, semenjak malam pertama beberapa waktu lali, Akhtar benar-benar memperlakukan Nala dengan baik bahkan Akhtar tak canggung sama sekali untuk memeluknya seperti ini. Meskipun Nala tahu suaminya itu berwajah datar namun ia yakin disisi dinginnya itu masih tersimpan jiwa romantis dan mesra seperti ini. Awalnya Nala memang merasa risih dengan Akhtar yang kadang kala memeluknya seperti ini yang tadinya tidur saling memunggungi tiba-tiba tangan kekarnya sudah asik nangkring di pinggangnya. Nala menatap jam pukul dua dini hari, Nala ingin bangun karena merasa kantong kemihnya terasa penuh, alih-alih segera beranjak namun ia malah berdiam diri menikmati hembusan teratur suami tampannya itu. Sebelum Nala melepaskan dirinya dari pelukan Akhtar pelan-pelan ia memindahkan tangan yang melingkar tepat di pinggangngya. “Mmmh—mau kemana?” Tanya Akhtar terbangun dengan suara serak “Ke kamar mandi sebentar, Mas balik tidur lagi aja.” Pinta Nala yang sudah bangun dari tidurnya “Buruan—jangan lama, saya mau peluk lagi.” “Iya sebantar.” Balas Nala dengan perasaan malu Pernikahan Nala dan Akhtar sudah berjalan dua minggu lebih mereka menikah dan dari Akhtar dan Nala belum sama sekali melakukan kontak intim seperti pengantin pada umumnya. Keduanya masih merasa canggung jadi keadaan Akhtar dan Nala baru sekedar saling berpelukan kala tidur, mencium tangan suaminya, dan Akhtar mengelus pucuk kepala Nala. Namun akhir-akhir ini Nala melihat Akhtar yang berbeda lebih terasa manja bila hanya bersama dengan dirinya dan akan kembali berlaku datar bila mereka berada di luar. Bahkan Nala tidur pun memilih menggunakan kaos kebesarannya bukan baju lingerie seperti yang di novel ceritakan kala malam pertama, Nala hanya saja merasa risih tentunya Akhtar tak begitu mempermasalahkan yang terpenting Nala nyaman menggunakan kaos kebesarannya itu. Tahu Nala sudah kembali dari kamar mandi, Akhtar segera memposisikan dirinya kembali memeluk Nala dari belakang. Sungguh Nala menahan debaran dadanya takut bila Akhtar akan mendengarkan degup jantungnya yang kurang ajar ini. “Tidur Nala,” Serak Akhtar di sela-sela leher Nala “Iya, Mas.” Jawab Nala dengan lirih Nala kembali menyamankan dirinya, mencoba biasa saja dengan tingkah suaminya—bukankah Akhtar berhak mendapatkan semuanya lebih dari ini jadi Nala hanya pasrah mendapat perlakuan Akhtar yang seperti ini. Bahkan hanya agar bisa memeluk Nala Akhtar memindahkan kepalanya di bantal milik Nala. “Mas—“ Panggil Nala “Hmm.” “Nggak bisa tidur.” Eluh Nala “Kaya ada yang ganjel nggak enak.” Imbuh Nala “Kenapa?” Balas Akhtar yang kembali mengeratkan pelukannya “Kamu laper?” Tanya Akhtar “Nggak ih—geseran kenapa sih, risih tahu.” Dengus Nala “Ck! Kamu ini ribet sekali—kamu kesini.” Pinta Akhtar agar Nala mau mendekat ke arahnya “Iya.” Hingga akhirnya Nala yang berbalik memeluk badan kekar suaminya itu, bukan karena perasaannya yang sedang tidak enak, namun ia asing dengan keadaan Akhtar yang beberapa hari ini terlihat naked bukan half naked namun Akhtar tetap lah Akhtar yang akan merasa bodoh. “Mas pake baju deh, risih aku liatnya.” “Ya Tuhan ada apa lagi, Nala!” Kesal Akhtar “Mas, nggak baju apa-apa?” Tanya Nala terus terang “Pake brief—ada apa? Kamu nggak suka?” Tanya Akhtar balik “Ah—nggak gitu, ganjel kalo Mas peluk Nala dari belak—“ “Emhh—“ Desah Nala saat bibir keduanya sama-sama melekat dan Akhtar memotong pembicaraan sang Istri “Saya nggak bisa tidur kalo pake baju Nala, saya harap kamu harus mulai terbiasa.” Ujar Akhtar setelah melepas pungutan mendadaknya itu sedangkan Nala sudah memproduksi wajah merah merona “Jadi, saya harap kamu harus membiaskan dan diam saja.” Titah Akhtar sembari memasukkan tangannya ke dalam kaos Nala “Mas—“ Desau Nala “Hmm.” Nala tak bisa melarang Akhtar dengan apa yang laki-laki itu lakukan dengan tubuhnya itu—kebetulan Nala hanya memakai kaos gombrongnya dan celana dalam tanpa bra yang melekat. Akhtar seorang laki-laki wajar bila ia berani melakukan ini pada istrinya karena pasalnya semenjak mereka resmi menikah Akhtar masih menahan diri untuk tak menyentuh Nala karena ia tahu Nala mungkin masih merasa canggung dengannya. Namun untuk malam ini pengecualian Akhtar ingin mencoba dengan pemanasan terlebih dahulu, Akhtar tak munafik ia menyukai tubuh sintal Nala ini, hingga tanpa sadar Akhtar sudah kembali menyatukan kuluman bibirnya antara bibirnya dan bibir Nala dengan tangan tangan tetap menjelajah p******a sintal milik Nala, erangan Nala terdengar lirih kala Akhtar terlalu kasar memilin p****g payudaranya. Akhtar menggulingkan Nala agar tidur terlentang sedangkan ia sudah berada di atas Nala dengan masih menyatukan kuluman mereka. Akhtar kecanduan dengan rasa bibir Nala yang berbeda seperti ada rasa yang berbeda yang mampu membuatnya enggan menyudahi kuluman mereka. “Mass—akhh—“ Erang Nala saat kedua tangan Akhtar meremas kedua p******a Nala “Bangun—saya mau lepas kaos kamu.” Pinta Akhtar yang kemudian mendapat anggukan Nala Akhtar membuang kaos Nala di sembarang tempat, segera Akhtar merebahkan Nala, matanya menatap takjub p******a Nala yangs selama ini hanya tersimpan di balik kaos kebesarannya itu. Tahu Akhtar mengamati payudaranya dengan minat membuat Nala malu dan segera menutup p******a polosnya itu. “Jangan di tutup, ini indah.” Ujar Akhtar yang kemudian mencium lembut bahu telanjang Nala “Malu, Mas.” “Sama suami.” “Ck—akhhh Mas jangan di gigit ih!” kesal Nala yang kemudian mendapat ciuman panjang Akhtar. ¤¤¤ Akhtar menghela nafas kesalnya, sejak kegiatan intim dengan Nala terintruksi kehadiran Tiara yang terbangun menangis, mau tak mau Akhtar yang saat itu sudah benar-benar sudah berada di ujung tanduk harus terdorong reflek tingkah Nala yang kaget mendengar tangisan pilu Tiara. Bahkan kini gadis mungilnya itu sudah kembali menguasai Nala, egois memang Akhtar yang kali pertama mereka melewati hidup bersama memberikan raut wajah datar pada Nala bahkan sekarang dia benar-benar membutuhkan Nala. Melihat keduanya bisa kembali nyenyak membuat Akhtar semakin kesal, ia menahan pening di kepalanya bahkan Nala masih bisa tertidur nyenyak dengan Tiara. Akhtar menyetakkan tubuhnya kembali berbaring di samping Nala, lagi-lagi Akhtar menghela nafas kesalnya dengan hembusan kasar. Nala melihat Tiara sudah kembali tidur nyenyak, perlahan Nala melepaskan belitan tangan Tiara pada lehernya, dengan gerakan pelan Nala memutar badannya menghadap Akhtar pelan. “Mas, ambilin bantal sofa deh.” Pinta Nala “Buat apa?” Tanya Akhtar heran “Buat lindungin Tiara, taroh di bawah lantai—jaga-jaga kalo dia nanti jatoh, buruan.” Nala menjelaskan keinginannya agar Akhtar mengambil bantal sofa “Iya, sebentar.” Akhtar mengatur empat bantal sofa yang ia tata di bawah tepat dimana Tiara tertidur. Awalnya Nala menempatkan Tiara di antara tengah mereka namun Akhtar menolak agar Tiara di tidurkan bagian pinggir dan Nala di bagian tengah—tentu Akhtar tak begitu saja membiarkan malam intimnya di ganggu sang anak, bukan—bukan karena Akhtar tak lagi memperdulikan Tiara namun ia sekarang menemukan guling hidup paling nyaman setelah ia hanya tidur bertemankan guling mati. “Sudah.” Ujar Akhtar “Ya udah tidur lagi.” “Hmmm.” Nala yang tahu Tiara sudah benar-benar lelap, ia memilih untuk menghadap ke arah sang suami yang kembali menampilkan wajah datarnya padahal Nala sudah suka dengan Akhtar yang penuh ekspresi seperti tadi, Akhtar terlihat manly dan tentu seksi. “Kenapa?” Tanya Akhtar “Suamiku ngambek, jadi harus aku bagi dulu sama anakku.” Ujar Nala enteng dan Akhtar hanya mendengus “Bener—ngga mau di peluk lagi?” Tanya Nala melihat Akhtar sudah kembali menutup matanya acuh “Ck, ya udah.” Gengsi adalah nama tengah milik Akhtar, Akhtar menahan lengan Nala menahan istrinya kembali memunggunginya lagi. “Jangan.” Tahan Akhtar “Apa?” “Kemari, saya peluk.” Senyum mencabik Nala mengudara yang akhirnya ia masuk ke dalam pelukan Akhtar “Jangan banyak gerak, Nala.” “Besok, beli kasur paling luas ya Pak, kalo gini saya sempit dong.” Eluh Nala “Tiara ada kamar sendiri—saya pindahin dulu.” Sebelum Akhtar bergerak bangun Nala menahannya “Apaan sih bercanda doang, jangan di pindah ya—aku mau tidur bertiga.” Akhtar hanya mengiyakan saja permintaan Nala Akhirnya malam ini mereka melewati malam yang beranjak pagi itu bertiga, Nala sudah perlahan menerima pernikahannya dengan Akhtar. Menikah dengan duda tampan ini tak begitu menyiksanya, Nala menerima dengan lapang d**a meski suaminya memang berwajah datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD