MENJADI ISTRI

3589 Words
Nala menunduk malu kala melihat Akhtar keluar dari kamar mandi yang masih terlilit handuk di pingangnya. Nala yakin wajahnya sudah bersemu merah layaknya kepiting merah yang sudah di rebus dengan air mendidih, mengingat ia sebelumnya masih gadis ting-ting dan tak pernah mendapat suguhan badan yang terlihat kokoh dengan otot-otot yang menonjol tepat di tempatnya. Biasanya memang biasa melihat sang abangnya mondar-mandir di depannya tanpa baju tapi itu beda abangnya adalah saudara kandungnya sedangkan di depannya ini adalah dulunya laki-laki asing yang kini bermetamorfosis menjadi suaminya. Ingin mencuri-curi pemandangan takut ketahuan dan tentu malu. Fokus adalah rapalan kalimat Nala saat ini, tangannya sembari aktif memindahkan beberapa pakaiannya ke dalam lemari yang sudah di beri speace oleh Akhtar. Selain tak pernah menyangka akan berpasangan dan hidup bersama seorang duda Nala juga tak menyangka berbagai lemari serta ranjang luas di kamar itu—yang ia tahu dulu tak pernah terfikir dalam angan hidupnya. “Kamu mau mindahin baju atau mau lirik-lirik saya dengan mata indahmu itu?” Celetuk Akhtar yang sudah selesai memakai pakaiannya “Memangnya aku lirik-lirik Mas Akhtar apa?” Aku Nala dengan sedikit gugup “Saya nggak buta, Nala.” “Ya sudah kalo nggak buta.” “Apa?” Tanya Akhtar yang ingin Nala mengulang apa yang barusan ia katakan “Nggak ada—aku udah selesai, mau mandi dulu.” Pamit Nala dengan wajah merah Nala masuk ke dalam kamar mandi dengan menghela nafas, bicara dengan Akhtar butuh kekuatan super bila tidak sesak nafas yang ada seperti saat ini, telinga laki-laki itu terlalu sensitif. Tak ingin memikirkan yang lebih lagi Nala segera menuju bathup ia ingin merilekskan tubuhnya setelah acara pernikahan meski acara resepsinya tak begitu banyak tamu karena temannya dan teman Akhtar tak begitu banyak maka Nala memilih resepsi bertema garden party yang lebih private suasana kekeluargaan, Nala menghampiri Bathup dan akan mengisinya dengan air hangat namun ia terhenti bathupnya sudah terisi air dan sabun terapi di dalamnya tentunya lilin aroma therapy sudah menyala terang. “Baik juga Mas Akhtar nyiapin ini buat aku mandi.” Batin Nala sebelum melepas pakaiannya   ¤¤¤  Makan malam perdana Nala di rumah Akhtar, terrasa kaku dan canggung masih menyelimuti Nala. Ia harus beradaptasi dengan keluarga sultan ini apalagi beradapatasi dengan posisinya sekarang menjadi istri sekaligus untuk Mutiara bocah kecil yang menjadikan Nala ibu sambungnya itu. “Tiara, mau makan sama apa nak?” Tanya Nala “Tiala, mau sama ayam goreng sama sayur sop ya Bunda” Request Tiara “Siap, sayang—Mas Akhtar mau Nala ambilin lauk apa?” Nala bertanya juga pada suaminya itu “Aku bisa ambil sendiri.” Acuh Akhtar “oh—ya sudah.” Nala mengalah dan terlihat samar ibu mertuanya menggeleng heran “Bunda—Bunda nanti temenin Tiala tidur di kamar Tiala ya.” Pinta Tiara setelah Nala mengambilkan makanan untuknya “Siap, Princess Bunda.” Setelah makan malam selesai, Nala menemani Tiara mengerjakan tugas sekolahnya tugas Nala selain istri dan ibu bagi Akhtar dan juga Tiara adalah menjadi guru dadakan seperti ini sedangkan Akhtar jangan tanyakan kemana laki-laki dewasa itu berada ia lebih memilih di ruang kerjanya berdiam diri disana setelah makan malam usai. Tak begitu sulit mengajari Tiara belajar menghitung seperti ini, Tiara termasuk anak yang mudah menangkap pelajaran membuat Nala bersyukur memiliki Tiara yang pintar tanpa harus ia mengeluarkan tenaga lebih. “jadi sepuluh di kurangin tiga berapa, adek.” Tanya Nala di tengah-tengah ia mengajari Tiara “Sepuluh kurangin tiga ya Bunda, eemm—satu,dua, tiga—tujuh Bunda, sisa tujuh.” Teriak Tiara senang “Pintar anak Bunda.” Di sisi lain Akhtar tanpa sengaja mendengar keseruan belajar antara anak dan istri barunya yang begitu semangat itu. Bukan—bukan karena Akhtar tak suka dengan pandangan yang asik itu Akhtar hanya asing dengan kehadiran Nala, Akhtar mau menikahi Nala karena Tiara yang begitu menganggumi Nala jadi apapun itu untuk Tiara Akhtar akan melakukan apapun termasuk menikahi Nala meski tanpa cinta di antara keduanya—bukan tidak akan cinta Akhtar hanya belum ingin menyelam ke arah rasa cinta yang berlebih karena hatinya masih ada Rahayu di hatinya. “Ayo di susun dengan rapi dulu bukunya setelahnya kita istirahat tidur ya.” Ajak Nala “Tiala mau main game bentar Bunda, Boyeh?” Ujar Tiara yang ingin bermain game sebelum tidur “No, sudah malam waktunya istirahat sayang—Tiara nggak capek tadi lari-lari di acara Bunda sama Ayah, hmm?” “Yahh—nggak boleh ya Bunda?” Nala mengangguk “Bukan nggak boleh tapi Tiara harus istirahat tidur besok sekolah, kalo tidurnya telat nanti Tiara ngantuk di sekolah, Tiara mau ngantuk di kelas lalu ketinggalan pelajarannya, Nak.” Nala memberikan penjelasan Tiara menggeleng cepat.” Tiala, Nggak mau ngantuk Bunda.” Jawab Cepat Tiara “Pintar anak Bunda, ayo sekarang Tiara pamit sama opa sama oma dulu abis itu sikat gigi dan cuci tangan dan kaki ya.” Pesan Nala Lagi, Tiara menganggu setuju. “Opa sama Oma, Tiala pamit tidul dulu ya.” Pamit tiara dengan mencium pipi kedua Opa dan Omanya “Iya sayang, mimpi indah ya cucu Oma dan Opa.” Jawab Gandhi dan Razita “Pa-Ma, Nala pamit nidurin Tiara dulu.” “Iya, kita juga mau istirahat.” Nala mengangguk kemudian pamit ¤¤¤ Hampir saja Nala tertidur di ranjang Tiara dan menghabiskan malam pertama Nala di rumah besar ini dengan tidur di sisi Tiara bila saja sebuah tepukan di bahunya membangunkan Nala. “Mas Akhtar?” Panggil Nala dengan suara seraknya “Kamu tidur di kamar kita bukan tidur sama Tiara nggak mandiri nanti dia.” Ujar Akhtar tanpa ekspresi “Maaf Mas aku ketiduran.” Nala menjelaskan dengan setengah nyawa yang terkumpul “Ya sudah, pindah ke kamar.” Pinta Akhtar lagi “Iya, Mas.” Akhtar dan Nala masuk ke kamar mereka berdua, Akhtar menuju ke ranjang mereka sedangkan Nala menuju ke lemari baju ingin mengganti bajunya yang Nala pakai dengan baju piyama tidurnya, Nala membawa baju piyamanya ke kamar mandi dan menggantinya disana. Nala keluar dengan piyama nyaman yang melekat di tubuhnya setelahnya menuju ke meja riasnya yang tadinya terisi peralatan Akhtar kini bertambah dengan skincare milik Nala yang isinya tak begitu banyak hanya beberapa rangkain skincare Nala. Nala memang sengaja mengulur waktunya memakai rangkaian skincarenya sembari menunggu Akhtar benar-benar tidur, rasanya aneh ia harus satu ranjang dengan laki-laki apalagi laki-laki itu adalah suami sahnya. “Kamu mau tidur apa terus dandan?” Tanya Akhtar dengan sarkas “Rangkaian skincareku banyak, Mas. Kalo mau tidur, tidur duluan aja.” Ujar Nala membalas pertanyaan Akhtar “Tanpa kamu suruh, aku juga mau tidur.” Cuek Akhtar “Ya udah.” Selesai dengan urusannya Nala akhirnya harus beranjak dari meja riasnya, menyingkap selimut berwarna abu-abu muda itu dan mengambil posisi di samping Akhtar. “Selamat tidur, Mas.” Nala memberikan selamat tidur pada Akhtar yang tanpa ada balasan “Emm—mas makasih buat air mandinya tadi.” Nala mengucapkan terima kasih pada Akhtar “Hmm.” Singkat Akhtar dan membuat Nala memutar bola matanya kesal kemudian ia tidur memunggungi Akhtar ¤¤¤ Tepat alarmnya berbunyi Nala membuka matanya perlahan, sudah kebiasaannya bila subuh waktunya Nala segera bergagas bangun, Nala membiasakan pengelihatannya, menyesuaikan badannya agar tidak kaku terlebih dahulu. Namun, saat badannya akan ia bawa untuk terlentang benda berat menimpa pinggangnya. Netra Nala mengedarkan pandangannya ke bagian pinggangnya, sebuah lengan kekar melingkar di pingangnya dan tentu saja Nala merasakan hembusan nafas tenang, tak ingin membuat gerakan mengagetkan sosok yang sedang memeluknya itu. Gengsi aja besar, sok-sokan bertingkah cuek padanya pada nyatanya Akhtar tidur sembari memeluknya seperti ini. “Mas—geseran dong, berat.” Lirih Akhtar “Hmmm—“ Akhtar hanya membalas hanya dengan dehaman saja dan Nala lagi-lagi harus menghela nafas pasrahnya Lima menit sudah berlalu sedangkan Akhtar masih saja mengalungkan lengan kekarnya dipingang Nala “Mas—mau berapa lama lagi? Aku mau bantuin siapin sarapan pagi.” Eluh Nala lagi “Ck! Lima menit lagi. Brisik banget sih kamu.” Lagi, Nala memutar bola matanya kesal “Ini udah setengah enam, astaga, Mas—“ “Astaga Nala—cerewet sekali kamu.” “Ngomong juga baru aja di bilang cerewet, udah meluk nggak pake ijin, ngomel lagi.” Dengus Nala kesal kemudian menarik jubah piyamanya dan Akhtar tentu kembali tertidur “Bangunkan saya jam tujuh pagi.” Pesan Akhtar sebelum Nala keluar dari kamar “Iya, nanti Nala bangunin.” Nala turun ke bawah guna membantu menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga suaminya itu. Nala sudah terbiasa dengan aktivitas pagi seperti ini, karena dulu sebelum Nala menikah ialah yang menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan abangnya—Nala harus menjadi wanita mandiri sejak dulu sejak Mama tercintanya pergi untuk selamanya. Nala melihat Mama mertuanya dan juga pembantu rumah tangga sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan pagi mereka nanti, Nala menghampiri keduanya. “Ma, Nala bantuin ya.” Ujar Nala “Loh—udah bangun?” Tanya polos sang Mama mertua “Udah Ma, Nala kebiasaan bangun pagi—nala bantuin apa, Ma?” Tanya Nala lagi “Emm—kamu bisa bersihin cumi sama sayur ini, La?” Tanya Razita “Bisa, Ma.” Razita melihat cara Nala membersihkan cumi yang belum ia apa-apakan sama sekali. Namun di luar dugaan Razita, Nala begitu telaten membersihkan cumi yang ia tahu membersihkannya pun butuh teknik yang benar dan Nala melakukan dengan benar. “Mama, ada lemon atau jeruk nipis?” Tanya Nala tiba-tiba membuat Razita gelagapan ketahuan memperhatikan menantunya itu “Ada—Mbok Diman, lemonnya masih ada?” Tanya Razita “Masih, bu. Saya ambilkan dulu.” Ujar Mbok Diman “Ini Mbak lemonnya.” “Makasih Mbok.” Ketiganya sudah kembali sibuk dengan kegitannya meracik bumbu-bumbu dan sayuran, Nala tak canggung ataupun kaku di dapur karena kebiasaannya membuatnya bisa melakukan kegiatan memasak ini. “Nggak salah juga Akhtar milih Nala jadi istrinya, cekatan juga dia di dapur.” Batin Razita menilai Nala yang sedang meniriskan cumi yang baru saja ia beri perasaan jeruk lemon Nala memindahkan cumi yang baru saja ia bersihkan dari perasaan lemon ke dalam wadah baru setelahnya ia akan mencampurkan ke dalam tepung, namun sebelum ia selesai mencampurkan cumi ke dalam campuran tepung suara kencang Tiara membuatnya harus meninggalkan kegiatannya. “Udah nggak apa-apa di tinggal aja, urusin dulu Tiara, La.” Pinta Razita pada Nala “Iya Ma, maaf ya Ma.” “Iya nggak apa-apa, gih.” Razita mengijinkan “Bundaaa—“ Teriak Tiara “Iyaa, Sayang. Sebentar.” Balas Nala sembari keluar dari dapur Nala menghampiri Tiara yang menangis di depan kamarnya dengan kencang. Membuat Nala segera meraih tubuh mungil Tiara ke dalam gendungannya. “Kok nangis kenapa? Anak cantik nggak boleh nangis.” Nala menenangkan Tiara dan membawanya masuk kembali kedalam kamar gadis cilik itu “Tiala takut Bunda pelgi lagi, soalnya nggak ada di samping Tiala.” Ujar gadis kecil itu masih dengan isakannya “Bunda engga pergi kemana-mana, Nak. Bunda cuman lagi masak di dapur.” Nala memberikan penjelasan “Jadi ndak pelgi?” “Enggak dong, Bundakan sayang Tiara” Ujar Nala “Sekarang mandi yuk sama bunda, biar nanti nggak terlambat kesekolah.” Ajak Nala “Bunda nanti sore les ballet kah?” Tanya Tiara di saat bajunya sedang di lepas oleh Nala “Iya nanti sama Bunda ya belajar Balletnya, Miss Winda jadwalnya hari rabu.” Jelas Nala dan Tiara mengangguk “Yak, sekarang ayo mandi.” Ajak Nala sembari membawa Tiara ke kamar mandi Selesai memandikan Tiara, Nala meminta Tiara untuk duduk sementara di kasur, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, ia harus segera membangunkan suaminya itu. “Tunggu disini dulu ya Sayang, Bunda bangunin Ayah dulu, sebentar.” Pesan Nala dan Tiara pun mengangguk setuju Nala masuk kedalam kamarnya dengan Akhtar, segera ia menuju ke arah ranjang yang suaminya masih tertidur dengan nyenyak. Ia kira hari ini Akhtar mengambil cuti kerjanya namun mengingat Akhtar adalah manusia paling perfeksionis rasa-rasanya tak mungkin bila Akhtar mengambil cuti. “Mas—udah mau jam tujuh, nggak bangun.” Nala membangunkan Akhtar “Ehmmm—“ Erang Akhtar “Jam berapa?” Tanya Akhtar di sela-sela nyawanya belum sepenuhnya terkumpul “Udah hampir jam tujuh—buruan ih bangun, Tiara aku tinggal sendiri soalnya belum pake baju dia.” Lagi, Nala meminta Aktar segera bangun “Ck, ya sudah kamu urusin Tiara saja dulu, saya mau mandi—geser.” Pinta Akhtar “Iya-iya.” “Nala, kaos saya tolong ambilin.” “Ya Tuhan, maunya apaan sih nih orang.” Gumam Nala sembari mengambilkan kaos Akhtar “Ini.” Nala memberiakan kaos milik Akhtar “Aku tinggal ya, Mas.” “Hmm.” Akhtar membalas hanya dengan dehamannya saja ¤¤¤ Pagi yang chaos, Nala harus bolak-balik kekamarnya dan kamar Tiara, dua bayi besar dan kecil sama-sama berteriak membutuhkan Nala. Nala menghela nafas lelahnya menjadi istri bukanlah hal yang bisa di anggap remeh, apalagi Nala yang biasanya tak mengalami hal ini sebelumnya membuatnya sedikit lelah dan kaget, di dua sisi ia sama-sama di butuhkan sedikit kelimpungan Nala membagi perhatiannya. “Gayanya aja sok-sok’an gengsi, tahunya juga butuh Nala.” Ujar Razita pada suaminya yang tangannya sibuk menyiapkan keperluan suaminya “Namanya juga laki-laki, Ma. Kemarin kan dia sendiri yang nyiapin sekarang ada istri yang mau ngelayanin dan merhatiin.” “Iya sih, tapi tetep aja gengsinya ged—“ “Nalaa—dasi saya manaa?” Teriak Akhtar hingga terdengar hingga di lantai bawah “Ck-ck, Mama kasihan sama Nala juga.” “Sudahlah Ma, yang terpenting Akhtar sudah ada yang ngurusin.” Gandhi membalas keresahan Razita Nala harus bolak-balik menyiapkan keperluan dua orang yang kompak memanggil namanya tanpa ada rasa mengalah sedikitpun. “Apa lagi?!” Tanya Nala yang sudah merasa lelah “Nggak ada, aku mau turun kebawah.” “Tolong, ajak Tiara ke bawah dulu ya Mas, aku mau mandi—aku ada janji sama Bu sholicatun soalnya.” Ujar Nala sebelum Akhtar beranjak keluar dan Akhtar hanya mengangguk mengerti Nala harus mandi cepat karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sedangkan jam pagi kuliahnya pukul delapan pagi meski hanya saeu mata pelajaran ia juga harus mengejar dosen pembibingnya. Pilihan Nala jatuh pada sweater warna navy dan juga celana jeans biru mudanya, sengaja Nala berani menganti baju di kamar karena Akhtar tak berada di kamar mereka, dengan terburu Nala memakai pakaiannya sebelum ia merias wajahnya dengan sederhama. “La, kamu masih lama atau saya tingg—“ Tanya Akhtar saat masuk ke dalam kamar “Arrgghhh—kenapa nggak ketuk pintu dulu sih.” Teriak kaget Nala “Saya kira kamu sudah siap.” Tanya Akhtar dengan tenang “Belum, balik badan dulu buruan, Mas.” Pinta Nala “Saya tunggu di bawah, buruan!” Pinta Akhtar Nala melangkahkan kakinya ke lantai bawah dengan langkah terburu. Nala melihat Tiara sudah siap dengan tas gendongnya dan sedang duduk manis di ruang keluarga. Nala duduk di kursi meja makan meraih s**u yang sudah tersedia di meja makan, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan mau makan pun sudah tidak ada waktu, setelah menindaskan susunya Nala beranjak dari duduknya, menghampiri Razita dan Gandhi bermaksud pamit kepada kedua mertuanya. “Ma, Pa, Nala pamit kuliah dulu.” Pamit Nala tak lupa mencium tangan keduanya “Nggak makan dulu, La?” Tanya Razita “Engga sempet, Ma.” Balas Nala Tin-tin “Ya tuhan—“ desah kesal Nala “Ma, Pa, pamit.” “Iya, hati-hati ya.” Pesan Razita dan Nala mengangguk Nala masuk kedalam mobil Akhtar, setelah mendudukkan Tiara di kursi penumpang di belakang. Baru di hari pertama ia menjadi istri dan ibu saja Nala sudah serepot ini bagaimana sebelum Nala menjadi istri Akhtar betapa repotnya Razita mengurus dua bayi besar dan kecil ini. “Jadwal kamu hari ini apa saja.” Tanya Akhtar setelah menjalankan mobilnya “Cuman bimbingan aja sama mau ke perpustakan sih.” Akhtar mengangguk paham. “Setelahnya langsung pulang saja nanti Tiara yang jemput Pak Naib.” Akhtar memberitahu “Iya Mas—oh ya Mas, Nanti sore aku sama Tiara ada jadwal Ballet jadi bisa ijinin kami?” Tanya Nala lagi Akhtar mengangguk setuju. “Di antar Pak Naib saja, saya harus ke kantor.” Nala mengangguk tanda setuju menolak pun tidak akan mendapat ijin jadi daripada menjadi pertengkaran dini ia lebih baik menurut Setelah menurunkan Tiara di sekolah taman kanak-kanaknya, keduanya segera meluncur ke arah kampus. Tiga puluh menit kemudian Nala dan Akhtar sampai kampus tempat nala menimba ilmu dan tempat akhtar bekerja sebagai dosen. Nala merapikan bawaannya setelahnya ia mengulurkan tangannya guna ingin pamit sebagai istri. “Apa? Minta uang jajan?” Tanya Akhtar pada Nala “Yang minta uang jajan juga siapa, orang mau cium tangan.” Jelas Nala dengan kesal dan akhirnya Akhtar mengangsurkan tangannya untuk Nala cium “Aku pamit, Mas.” Pamit Nala setelah mencium tangan Akhtar “Iya.” Namun setelah keluarnya Nala keluar dari mobilnya, diam-diam Akhtar tersenyum dengan kelakuan istrinya, Nala—cukup luwes memerankan istri serta ibu sambung untuknya dan putri kecilnya, putrinya itu tak salah menjatuhkan pilihan kepada Nala. Hanya berupa kagum pada Nala bukan karena ia sudah jatuh cinta, bukan tak akan pernah namun nanti saat waktunya sudah tepat, ia akan menerima Nala kehadiran Nala terlebih dahulu, sebelum ia belajar mencintai Nala, istrinya. ¤¤¤ Lelah, adalah kata tepat untuk Nala saat ini, selesai mengajar Ballet murid-muridnya tadi Nala dan Tiara segera bergagas pulang, matanya mengidar mencari dimana letak mobil Wijaya namun yang terlihat adalah mobil suami tampannya yang berwajah dingin namun menggemaskan. “Bunda, itu Ayah!” Seru Tiara sembari menunjuk pada laki-laki tegap sedang menenteng box makanan sedang berlari menyebrangi jalan “Udah yang nari Ballet?” Tanya Akhtar “Sudah.” Jawab Nala “Ayah tadi Tiala, nambah gerakan lagi dong.” Deru Tiara di gendongan sang ayah “Oh ya? pintar anak ayah ya.” Puji Akhtar “Sini mas, aku bawain.” Nala menawari bantuan “Terima kasih.” Tahu akan macet seperti ini, Akhtar berinisiatif membeli makan mengganjal perut, nasi box dengan jumlah tiga itu ia belikan untuk Nala, Tiara dan juga untuk dirinya. Seperti biasa mobil Akhtar merayap pelan, macet selalu menjadi teman setia Akhtar ketika akan pulang. “Kok mas yang jemput bukannya tadi Pak Naib nungguin aku sama Tiara?” “Sengaja, aku yang minta Pak Naib pulang—satu arah jalan pulang.” “Ohh gitu.” “Suapin.” “Hah?” Bingung Nala Akhtar menunjuk box makanannya yang masih tertutup rapat itu. “Suapin nasinya, saya lapar.” “I—iya, sebentar.” Nala menuruti keinginan Akhtar “Ihh—Ayah masih di suapin Bunda, Tiala aja makan sendili.” Ejek Tiara yang duduk di belakang Nala menahan ketawanya melihat Akhtar meliriknya tajam. “Ayahkan lagi pegang kemudi Sayang, jadi nggak bisa makan sendiri.” Nala menjelaskan “Oh gitu ya Bunda, Tiala juga mau di suapin kalo gitu.” “Tiara! Diam dan lanjutkan makan kamu.” Tegas Akhtar dan membuat Tiara mengurungkan niatnya untuk maju ke depan “Mas—nggak usah pake di bentak bisa? Dia kan anak kecil.” Nala menegur Akhtar dan laki-laki itu hanya mendengus tanpa peduli Mereka sampai di rumah tepat pukul delapan malam, Tiara yang sudah kenyang memilih tertidur mau tak mau sepajang sisa jalan hanya sepi merayap di dalam mobil Akhtar itu. “Biar aku yang gendong, kamu bawa tas kerja saya sama tas Tiara.” Nala hanya mengangguk tanda mengiyakan Akhtar menidurkan Tiara di tempat tidurnya, Nala menyusul dari belakang. Meletakkan tas Tiara setelahnya menyiapkan baju tidur untuk Tiara kenakkan, Akhtar yang melihat istrinya sedang sibuk menyiapkan baju untuk Tiara segera menariknya. “Apa? Aku mau nyiapin baju ganti Tiara dulu, kasihan kalo nggak mandi dia.” Nala menjelaskan “Nggak usah biarin, kasihan lagi kalo di bangunin nanti ngamuk.” Ujar Akhtar “Kan banguninnya pelan-pelan.” Nala masih tetap kekeh “Mendingan kamu ngurusin saya daripada ngurusin Tiara yang udah tidur.” Saat ini Nala pastikan bahwa wajahnya sudah bersemu merah setelah mendengar perkataan sang suami barusan, namun Nala segera mengalihkan dirinya untuk menyiapkan kembali baju Tiara. Setelah mengatakan hal barusan Akhtar meninggalkan Nala. “Lama-lama Jantung gue kedut-kedut mulu nih, dengar ucapan Mas suami tiba-tiba begitu terus.” Runtuk Nala “Nalaa!” Panggil Akhtar “Iya-iya.” Balas Nala lirih ¤¤¤ Terbangun di pelukan suami tidak pernah terbayang di benak Nala, sudah tiga hari ini ia selalu terbangun di pelukan Akhtar tentunya dengan Akhtar yang tanpa mengenakan bajunya—setiap Nala mengajukan protes pada Akhtar laki-laki tampan itu hanya menjawab sekenanya. “Karena saya juga butuh kehangatan—buat apa punya istri kalo nggak bisa di ajak kelon.” Skak mat Nala mendengar tuturan Akhtar seperti itu Sebelum negara api kembali menyerang, sebelum Nala mengurusi sang putri, Nala lebih dulu menyiapkan keperluan suaminya yang bila ia tak menyiapkan kebutuhannya Nala sudah hapal dengan kelakuan suami kakunya itu, berteriak memanggil Nala sebelum kebutuhannya tercukupi. Kemeja biru muda, celana kain hitam, dasi hitam, serta jas hitam sudah tertata rapi di tempatnya bahkan sepatu laki-laki itupun sudah siap mengkilat. “Mau kemana?” Tanya Akhtar dengan suara serak “Kekamar Tiara, mau bangunin dia nanti telat lagi.” Ujar Nala “Aku dulu yang kamu urus.” Akhtar tak mau kalah “Ya Mas mandi dulu, nanti aku kesini lagi kalo Tiara udah mandi—emangnya mau sekalian aku mandiin.” Celoteh Nala “Kalo kamu bersedia, ya kenapa tidak.” Balas Akhtar santai yang kemudian beranjak dari kasur menuju ke arah kamar mandi yang tentunya tetap santai meski di badannya hanya terpasang brief ketat “Lama-lama jantungku ambruadul.” Yang Nala tahu, Akhtar yang awalnya dingin menjadi lebih sering menggodanya, membuat kesehatan hati dan jantungnya tak berjalan normal seperti biasanya. Tentunya tanpa Nala sadari juga hati serta perasaannya sudah bersemi cinta tanpa Nala sadari, yang Nala tahu, Nala ikhlas menjalankan peran barunya ini. ¤¤¤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD