Nala malu-malu keluar dari kamar mandi, baru kali ini Nala berani menggunakan pakaian tidur dengan kain tipis, bertali bahu spaghetti. Takut dengan penampilannya dan Akhtar tak suka dengan apa yang ia kenakan. Nala akhirnya tetap nekat keluar dengan baju tidur tipis warna hitam itu, matanya memandang Akhtar yang sedang asik menatap lurus ke layar televisi itu, Nala sengaja melewatkan ritual skincarenya Karena Akhtar selalu mengeluh saat mencium pipinya terasa pahit, nah untuk malam ini juga Nala mengikhlaskan darinya untuk melewati ritualnya itu.
"Tidak pake skincare?" Tanya Akhtar saat tahu Nala memilih masuk ke dalam selimut
"Nggak, katanya Mas kalo cium Nala rasanya pahit." Gantian Akhtar yang mengangguk
"Mas, besok ada ke kantor?" Tanya Nala lagi
Akhtar menatap aneh pada Nala, yang tak biasanya menanyakan ia pergi ke kantor apa tidak.
"Tidak, ada janji main golf sama Papa dan Ayah." Jawab Akhtar
"Emhh—aku mau Tiara dulu kalo gitu." Canggung Nala saat tahu Akhtar biasa saja dengan penampilannya
Akhtar menahan pergelangan tangan Nala, "Sudah tidur, lebih baik kamu menemani saya."
"Mass—emhhmm." Desah Nala saat bibir Akhtar membukam cepat bibir tipis Nala
"Kamu sengaja pake baju ini?" Tanya Akhtar di sela-sela ciumannya
Nala mengangguk ngaku, sebenarnya ia juga malu namun demi Akhtar dan Mama mertua yang sudah menanyakan kapan ia segera isi, maka ia berusaha menangguhkan hati mamakai baju tipis yang sering di sebut lingerie itu.
"Jelek ya Mas? Ngga cocok ya di badanku?" Tanya Nala cemas
Akhtar menggeleng dan kini sudah menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher Nala. "Bagus, saya suka." Serak Akhtar
Akhtar laki-laki normal, apalagi semenjak ia benar-benar menjadi duda ia belum sama sekali kembali melakukan hubungan intim dan sekarang nafsu laki-laki itu sudah kembali berada di ujung tanduk hanya melihat tubuh seksi Nala yang pas di bagian tertentu. Akhtar bangun dari atas Nala guna melepas kaosnya. Reflek Nala menjalankan tangannya pada pahatan seksi pada perut Akhtar, ini obsesi Nala secara diam-diam bisa menyentuh benjolan keras di perut Akhtar dan juga segitiga di bagian kanan dan kiri Akhtar.
"Suka?" Nala menatap Akhtar dengan binar bahagia
Hingga Akhtar menarik gaun lingerie Nala dan melemparnya ke sembarang arah dan sekarang mereka sama-sama half naked, hanya tersisa celana dalam yang masih melekat pada mereka. Akhtar kembali mencium Nala sedikit kasar, nafsu yang selama ini ia pendam dalam muncul ke permukaan. Di depannya adalah istrinya dan itu halal untuk ia sentuh.
Akhtar kembali membaringkan Nala, menatap ke arah Nala. Ada satu rahasia yang selama ini Akhtar simpan sendiri dan jangan sampai Nala tahu kenyataannya bahwa semenjak Akhtar dan Nala menikah, Akhtar masih gagal untuk jatuh cinta dengan Nala, hanya rasa sayang pada Nala yang baru terbangun namun untuk perasaan cinta sepertinya Akhtar belum begitu ingin memberikan pada Nala. Pada dasarnya cintanya masih tetap untuk Rahayu mendiang istrinya.
Jahat? Memang, bukankah havesex bisa di lakukan tanpa cinta? Dan itulah yang sedang Akhtar lakukan. Menikmati sajian tubuh Nala dan bisa mengosongkan kantong spremanya.
Akhtar bukan tega hanya saja ia juga ingin meyakinkan hatinya bahwa Nala patut ia beri hati dan membuatnya bisa melepas Rahayu dengan ikhlas, meski bayangan Rahayu sering menghantuinya dan sering datang kepada mimpinya dengan senyum yang selalu Akhtar favoritkan.
∆∆∆
"Saya kunci pintunya dulu." Nala mengangguk malu dan segera menutupi tubuh polosnya
Akhtar kembali pada Nala, menciumnya sedikit kasar, membuat Nala mengerang pada ciuman dari Akhtar. Tangan laki-laki itu tak tunggal diam, ia mulai menjelajah kemana-mana hingga berhenti pada p******a sintal Nala, meremas, memelintir bagian n****e yang sudah mengeras karena rangsangan itu.
"Mas—ahhmm." Desah Nala kala Akhtar mengulum n****e merah muda itu dengan kuluman kasar
"Apa sakit?" Akhtar menanyakan pada Nala
"Sedikit—perih, jangan di gigit." Bukannya mengindahkan ucapan Nala Akhtar malah semakin kuat mengulum niple milik Nala
"Akhhh—Mas Akhtar." Akhtar diam-diam senang melihat Nala menyukai sentuhannya tanpa menolak meski ia berlaku sedikit kasar
"Sebentar." Akhtar berdiri dari posisinya melepas brief yang tersisa menutupi kejantanannya
Nala mengalihkan pandangannya saat tahu kejantanan Akhtar sudah siap untuk dirinya, mengalihkan pandangannya yang terpenting tidak melihat benda yang mengeras itu. Nala malu.
"Hey—ada apa?" Tanya Akhtar membawa wajah Nala mendongak padanya
"Ma—malu, Mas." Nala yakin pipinya pasti sudah memerah
"Saya suamimu kamu mau melihat pun boleh, jangan malu." Nala mengangguk kemudian Akhtar kembali mencium bibir tipis Nala dengan semangat
Apa Akhtar sudah bilang bahwa bibirnya Nala terasa manis dan berbeda dengan mendiang istrinya dulu. Keduanya larut dalam ciuman mereka hingga Nala memberanikan diri menyentuh milik Akhtar yang sudah tegak mengacung itu.
"Pegang Nala."
∆∆∆
Nala amatir dan ia sadar itu, di detik pertama Nala masih mengelus dengan halus dan penuh irama namun Akhtar tak sesabar itu di bantunya tangan istrinya untuk bergerak lebih cepat. Akhtar mengerang membuat Nala melihat takjub—memandang Akhtar mendongak ke atas karena sensasi permainan tangannya. Dengan berani Nala mengantikan tangannya dengan lidahnya.
Dengan masih menggerakkan tangannya, lidah Nala menyentuh tepat di kepala kejantanan Akhtar, akhtar yang merasakan Nala menjilat kepala kejantanannya segara menatap Nala terkejut.
"La,arghh—" Desah Akhtar
Ini pertama kalinya Nala berani melakukan adegan seperti itu demi suaminya, menyenangkan suaminya, meski ia juga tahu cinta belum pernah hadir di antara mereka. Kata teman Nala meskipun make love tanpa cinta masih bisa di lakukan, seperti sekarang ini. Nala suka sentuhan yang Akhtar berikan begitupun sebaliknya.
Dan sekarang Akhtar benar-benar sudah berada di ujung tanduk, Akhtar merasa Nala lebih bisa menyenangkannya tanpa harus di tuntun. Akhtar mendorong Nala agar terlentang tidur. Akhtar menarik celana dalam tipis Nala dengan sentekan kuat.
"Mas jangan di robek, bisa?" Pinta Nala
"Nanti saya belikan lagi." Santai Akhtar "Sekarang, tahan dan genggam kuat tangan saya kalo sakit kamu bisa menggigit bahu saya." Nala mengerti maksud Akhtar hanya mengangguk
Pelan tapi pasti Akhtar membawa ke jantanannya mengarah pada inti Nala. Kata pertama yang muncul dalam benak Akhtar sempit dan ketat, kenangannya terasa tertarik seirama. Lirihan kecil Nala terdengar hingga tanpa sadar air matanya lolos menetes, sekarang ia benar-benar menjadi Istri Akhtar sesungguhnya.
"Maaf—kalo membuatmu sakit, La." Ujar Akhtar pelan sembari mencium kening Nala tulus
"Bergerak, pelan Mas." Akhtar mengangguk dan tersenyum
Keduanya benar-benar larut dalam permainan intim ini, berbagai gaya Akhtar berikan pada Nala dan Nala menerima dan mengikuti keinginan Akhtar.
"Yahh—Masss di situ, please—oh godd, Ahhmm." Racau Nala saat Akhtar menemukan titik G-spot Nala dengan tepat
Hujaman Akhtar semakin kuat dan untuk ke tiga kalinya keduanya sama-sama sampai pada titik surga, Akhtar menantap Nala yang masih bergetar sisa-sisa percintaannya.
"Terima kasih, Nala." Nala mengangguk lemah
Akhtar turun dari kasur, berniat membantu Nala meredakan rasa nyerinya. "Mas, mau kemana?" Tanya Nala lirih
"Sebentar ke kamar mandi." Nala membiarkan saja
∆∆∆
Nala merasakan bagian intinya terasa sangat seperti sapuan disana. Nala membuka matanya dan benar saja Nala menatap lekat pada suaminya yang sedang asik menyeka bagian intinya dengan gerakan lembut. Bahkan di saat Akhtar menyeka intinya Nala bisa melihat kejantanan Akhtar masih berdiri tegak.
"Mas mau lagi?"
"Hah?"
"Itu?" Nala menunjuk milik Akhtar
Akhtar menggeleng. "Nggak apa-apa, saya tahu kamu capek." Jawab Akhtar
"Ak—aku nggak apa-apa kok, kalo Mas minta lagi."
"Nala, berbaring lagi." Pinta Akhtar tanpa memperdulikan ucapan Nala, Akhtar kembali ke kamar mandi setelahnya tidur di samping Nala
Akhtar menarik Nala agar dekat dengannya, memeluk istrinya yang baru saja menyenangkan dirinya, dengan sama-sama polos mereka saling melekat, Akhtar menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Nala. Nala mengalungkan tangannya pada pinggang Akhtar menyembunyikan wajahnya pada lekuk leher Akhtar tentu dengan menghirup wangi Akhtar.
"Mas tadi hebat—terima kasih sudah mau melakukan dengan hati-hati, Mas." Akhtar tersenyum sebelum mengangguk di sertai senyum yang di pastikan mengandung gula jawa itu
Manis dan Nala suka itu.
"Tidur Nala, jangan sampai saya berubah pikiran."
"Mauuu—" pancing Nala
"Tidur, nanti saya bangunkan." Ujar Akhtar dengan semakin menarik Nala pada pelukannya dengan ciumannya pada kening dan bibir
∆∆∆