First Day Move

1189 Words
Hari pertama Ingrid bekerja, merupakan hari di mana semua dipertaruhkan, atau setidaknya ia merasa seperti itu. Pagi itu, Tony tengah menyantap roti panggang yang ia buat sendiri, dan pandangannya kala itu menoleh menatap berita di pagi hari dan kemudian beralih ketika mendengar Ingrid bertanya kepadanya. “So … bagaimana menurutmu mengenai bajuku ini?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu membuat Tony menganggukkan kepalanya dan kemudian berucap, “Great! Kau terlihat sangat cantik!” jelas Tony memuji Ingrid yang kini mengerutkan dahinya dan kemudian berkata, “Really?” tanya Ingrid terdengar tidak percaya, namun Tony menggeleng dan kembali berucap, “Kau cantik! Tak perlu merasa tidak PD, aku menyukaimu dan kau terlihat perfect, Honey!” jelas Tony kepada Ingrid yang kini menghembuskan napasnya seolah lega mendengar hal itu, yang kemudian membuat Ingrid berjalan menghampirinya seraya memeluk dan mengcupnya. “Oh, Thank you! Aku hanya membutuhkan kepercayaan diriku hari ini!” ucap Ingrid kepada Tony yang tersenyum dan mengangguk menanggapi penjelasan itu, ia dengan cepat mengangguk dan menjentikkan jemarinya seraya berkata, “Kau sudah mendapatkan semuanya! Don’t need to be Worry! You have to believe that you can!” jelas Tony lagi kepada Ingrid yang kini tersenyum mendengarnya dan menganggukkan kepala menanggapi hal itu. Pip … pip … Dan suara dari jam saat itu pun membuat Ingrid segera tersadar jika itu waktu mereka untuk segera pergi. “Woops! Kurasa kita harus segera pergi dari sini!” ucap Ingrid meraih coat coklatnya serta tas yang telah ia siapkan, dan membuat Tony mengangguk untuk menelan semua roti panggangnya, meraih remote untuk mematikan TV dan segera menegak jus di atas meja dna berjalan menyusul langkah kaki dari Ingrid pagi itu. “Apa kau yakin tidak ingin aku jemput nantinya?” tanya Tony kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepala seraya berucap, “Yeah! I’ll be fine … kau juga memiliki jadwalmu!” ucap Ingrid kepada Tony yang keduanya kala itu berjalan menuju sebuah mobil untuk kemudian keduanya pun segera masuk dan pergi dari apartemen itu. “Tak ada yang perlu kau khawatirkan Ingrid! Aku yakin kau akan diterima dengan baik di sana!” ucap Tony kepada sang kekasih yang kini mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan dari Tony pada saat itu, “I know I will! Terima kasih untuk segalanya, Tonny!” ucap Ingrid kepada Tonny yang kini menganggukkan kepalanya dengan senyuman senangnya mendengar hal itu, “Tentu aku akan melakukan apapun untukmu, Ingrid! I Love you!” ucap Tonny kepada Ingrid yang kini tersenyum senang karenanya dan berucap, “Love you too!” balas Ingrid dan keduanya pun akhirnya sampai di depan sekolah tempat di mana Ingrid akan berkerja, “Baiklah! Semuanya sudah siap bukan? See you at dinner?” ucap Tonny kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian berucap, “Yeah … See you at Dinner!” balas Ingrid, sebelum akhirnya sang kekasih pun pergi meninggalkan Ingrid di depan pagar sekolah itu. … Pagi yang cerah itu tidak membuat Ingrid merasa tenang, dirinya terlihat tegang dan nervous. Bahkan ketika pandangannya menoleh ke arah papan nama sekolah yang pampang dan menempel dengan tembok di pagar sana, membuat Ingrid mengetahui bahwa ini merupakan awal dari segalanya, ia harus membuka lembaran baru dan Athena School adalah sekolah yang bagus untuknya memulai di sana. “Huft!” dihembuskannya napas Ingrid ketika ia berusaha untuk meyakinkan dirinya jika ia bisa melakukan hal itu. Dengan mengangguk, Ingrid pun bergumam, “Yeah … Ingrid! Kau bisa melakukannya, semua dimulai dari sini!” gumam Ingrid untuk akhirnya ia dengan berani berjalan memasuki pagar sekolahan itu untuk menghadap keada Mrs.Amanda, kepala sekolah termasuk pemilik dari sekolah TK Athena School di sana. … Saat ini Ingrid tengah terdiam menatap seorang wanita muda yang kala itu terlihat begitu sombong yang kini terduduk tepat berhadapan dengannya dan tengah membaca map coklat yang memang harus ia serahkan kepada wanita itu saat ini, dan dari papan nama yang tercantum di mejanya saat ini, semua orang akan tahu jika ia adalah Mrs.Amanda, sang kepala sekolah dan juga sang pemiliknya. “So! Kau pernah mengajar di Taman kanak-kanak di kota lain dengan prestasi yang bagus?!” ucap Mrs.Amanda kepada Ingrid yang kini tersenyum dengan kaku dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. Dan untuk persekian detik, raut sombong dari Mrs.Amanda pun berubah dengan seketika menjadi sangat hangat dan ramah, “Selamat datang di sekolah kami, Ingrid! Anda masuk ke dalam kriteria kami dan menjadi guru tetap mulai hari ini!” ucap Mrs.Amanda, yang tentu saja mengejutkan Ingrid yang kini bertanya, “Uh? Guru tetap?!” tanya Ingrid dan hal itu membuat Mrs.Amanda kini tertawa dan mengangguk, “Sure! Nilai yang bagus di sini saja sudah membuatmu akan menetap! Aku suka dengan prestasimu itu, dan jangan anggap aku menerimamu karena Tonny adalah sepupuku okay! Dia hanya memintaku untuk melihat prestasimu saja, tidak menitipkanmu padaku! Jadi jangan marah atau tersinggung dengannya!” ucap Mrs,Amanda, yang tentu saja kembali mengejutkan Ingrid karena ternyata Mrs.Amanda merupakan sepupu yang di maksud oleh Tonny. Namun, karena tidak tahu harus mengatakan apa, Amanda pada Akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum karenanya. ”Well! Karena kau sudah ada di sini, jadi mari aku tunjukkan keseluruhan dari sekolah hingga rules yang ada di sekolah ini, Ingrid … mari!” ucap Mrs.Amanda seraya berdiri dan berjalan keluar dari ruang kelas yang rapih di sana, yang tentu saja membuat Ingrid segera beranjak dan mengikuti langkah kaki dari Mrs.Amanda. Keduanya berjalan dengan santai, keduanya dengan sengaja berkeliling seraya berbincang dan kebanyakan dari perbincangan itu, Ingrid terdiam untuk mendengarkannya. “Sesuai dengan namanya, sekolah ini dikhususkan untuk seorang wanita, namun kami juga tidak menutup pendaftaran untuk anak-anak lelaki!” jelas Mrs.Amanda yang membuat Ingrid merasa penasaran dan akhirnya bertanya, “Eum …. jika saya boleh tahu, kenapa sekolah ini dikhususkan untuk anak perempuan saja?” pertanyaan itu membuat Mrs.Amanda kini tersenyum dan berkata, “Tidak banyak yang bertanya hal bagus dan penting seperti itu kepadaku! Yah! Ini dibangun memang untuk anak-anak wanita, karena kami ingin membuat mendidik anak-anak itu sejak dini menjadi seorang anak wanita yang berkelas! Tanpa memberikan efek negative seperti membuly dan meledek, kami benar-benar mendidik anak-anak di sini sebaik mungkin! Agar mereka menjadi wanita berkelas nantinya di masa depan!” jelas Mrs.Amanda kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya meski ia masih sedikit tidak mengerti dengan hal itu, kenapa harus sejak dini? Apakah itu tidak akan menekan mental anak-anak? Itulah pertanyaan yang hinggap di dalam benak Ingrid ketika mendengarnya menjelaskan seperti itu. “Tapi tenang saja … didikan kami tidak akan menimbulkan tekanan mental kepada anak-anak yang ada di sini! Karena kami mengajari mereka dengan basis bermain!” jelas Mrs.Amanda, seolah mengetahui isi kepala dari Ingrid yang kini tersenyum dan mengangguk ketika mendengar penjelasan lainnya dari Mrs.Amanda. “Ayo! Kita lihat mereka yang tengah belajar masak di kelas masak hari ini!” ucap Mrs.Amanda kepada Ingrid yang kini mengangguk dan keduanya pun berjalan menuju sebuah ruangan yang terlihat penuh berwarna di setiap lorongnya, dan itu merupakan warna yang paling banyak di sukai oleh kaum perempuan, diantaranya pink, kuring, biru muda, ungu, senja dan warna cerah lainnya. Yang membuat Ingrid kembali tersenyum dengan senang ketika melihat warna indah itu. …. To Be COntinue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD