Disebuah ruang yang kala itu dipenuhi oleh warna putih, yang di dalamnya tersedia dua buah meja dan satu buah kursi dengan jarak antara satu kursi dengan yang lainnya begitu berjauhan, serta sebuah meja yang hanya terletak di hadapan kursi yang lainnya, yang menempel dengan dinding ruangan tersebut.
Seorang lelaki berperawakan tampan, tinggi dan sangat stylist pada saat itu pun berjalan untuk kemudian terduduk di sebuah kursi yang letaknya menempel pada tembok saat itu, raut wajah yang diperlihatkannya sangat penuh dengan rasa kekhawatiran serta penasaran.
Tap … tap … tap …
Terdengar dengan sayup-sayup suara langkah kaki seseorang di sana, membuat lelaki tersebut hanya bisa menolehkan pandangannya untuk menatap seorang wanita yang datang dengan sebuah jaket khusus yang sengaja di desain untuk orang-orang yang memiliki gangguan mental agar setidaknya merasa tenang dan tidak melukai orang lain di sekitarnya pada saat itu.
Kedua orang itu sama sekali tidak dikenali oleh Ingrid yang menyaksikan peristiwa tersebut di sana. Seolah ia tengah menonton sebuah adegan yang tidak ia ketahui sebelumnya, yang tentu saja membuat dirinya menjadi penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya diantara mereka berdua yang kini saling terduduk berhadapan.
“Aku tidak gila, Josh … bisa kah kau menolongku?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh wanita tersebut membuat Ingrid menoleh menatap lelaki yang baru saja di panggil Josh oleh wanita itu, yang kemudian membuatnya terdiam dan tidak bereaksi sama sekali.
“Katakan padaku Ema, Siapa yang kau lihat saat itu?” itu lah pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki tersebut, yang kemudian setelah ia mendengar pertanyaan itu, Ingrid merasa bahwa lampu menjadi padam, dan suasana menjadi amat gelap.
“Hh … hhh … “ deruan napas ingrid menjadi tak menentu di buatnya, ia merasa ketakutan tidak namun ia tidak mengerti dengan apa yang ia takutkan pada saat itu, hingga pada akhirnya ia kembali melihat wanita tua dengan postur yang tidak terlalu tinggi yang kala itu memperlihatkan kuku-kuku panjangnya yang menyeramkan, dan juga kedua mata hitam legam serta hidung yang mancungnya turun ke bawah dan terlihat tidak normal, bahkan gigi runcing yang ia miliki itu semakin memberikan efek yang menyeramkan ketika tertawa menatap Ingrid yang kala itu menjadi amat sangat terkejut.
Wanita tua itu berdiri diantara siluet seorang lelaki dan anak perempuan kecil, yang tentunya membuat Ingrid menjadi bertanya-tanya mengenai siapa kedua orang itu?
Namun, ketika semakin ia menatap wanita tua itu. Tubuhnya merasakan aneh, ia merasa mual dan akhirnya muntah. Dan lebih parahnya lagi, ia melihat darah yang keluar dari mulutnya, yang kemudian mengalir dari kedua lubang hidung dan kedua bola matanya, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi terkejut dan berteriak dengan histeris sejadi-jadinya.
“AAAAA!!!! KYAAAA!!!”
Ia merasa sangat takut ketika menyadari bahwa ia mengalami hal yang buruk seperti itu, yang bersamaan dengan jeritannya, tawa dari nenek tua tersebut pun menggelegar, dan membuatnya menjadi takut.
“HEHEHEHEHEHE!!!” itu lah tawa serak yang di tuturkan oleh wanita tua tersebut, dan detik selanjutnya Ingird pun terbangun dari tidurnya.
“!!!”
Ingrid membuka kedua matanya setelah terhentak di atas kasur itu.
“Hh … hhh … hhh …”
Deruan napas Ingrid tidak menentu, dirinya kini menoleh menatap ke arah jam yang kala itu menunjukkan pukul tiga lebih tujuh pagi, yang membuat dirinya kini menghela napas setelah merasa bahwa ia baru saja bermimpi buruk, sangat amat buruk. Dengan perlahan ia terbangun dari kasurnya untuk kemudian menyalakan lampu kamar tidurnya yang kala itu lampu tersebut terletak tepat di samping kasurnya.
“Astagahh … buruk sekali mimpiku itu!” gumam Ingrid kepada dirinya sendiri, dan bahkan saking buruknya Ingrid menangis untuk beberapa saat dan menggelengkan kepalanya lagi untuk memastikan bahwa itu semua merupakan sebuah mimpi, dan tidak ada yang perlu ia takuti.
Ingrid menganggukkan kepala ketika merasa bahwa pemikirannya itu benar, yang membuat dirinya pun kini segera meraih ponselnya dan segera menghubungi Tony, karena ia merasa bahwa suara dari Tony lah yang akan menenangkannya pada saat itu.
Tutt … tuttt …
Cklek!
“Tony!” panggil Ingrid dengan senang, namun raut wajah Ingrid seketika berubah ketika mendengar sebuah suara yang ia yakini bukan lah suara dari Tony sang kekasih pada saat itu.
“ Help Me …. please … aku ketakutan di sini …. hhh … hhh … “
Sebuah suara rintihan dan permintaan tolong yang Ingrid dengar saat itu, membuat dirinya kini mengerutkan dahinya dan kembali berusaha memanggil nama Tony, karena Ia takut jika Tony sedang bercanda saat ini,
“Tony?” tanya Ingrid lagi, namun suara itu mulai menjadi jelas dan membuat Ingrid menyadari jika itu adalah suara dari Ema, wanita yang ada di dalam mimpinya.
“Help me … dia membunuh Santino karena tidak suka atas perlakuan kita kepadamu … tolong aku … kumohon … dia akan segera membunuhku setelahnya … tolong aku … tolong aku … TOLONG!!!!” ucap wanita itu dan sangat mengejutkan Ingrid yang kini melempar handphone miliknya di sana, dan bersamaan dengan itu lamnpu di dalam kamar menjadi error, mereka mengedip dengan begitu cepat dan tentu menakutakn bagi Ingrid.
GRAAKK!!!
“AAAKHH!!!” Ingrid berterikan ketika ia melihat sebuah tubuh terjatuh dan tergantung di sana, dan bahkan tubuh itu mengejang seolah sekarat akibat jeratan tali di lehernya, meski kepala dari tubuh itu tidak bisa dilihat dengan jelas oleh Ingrid.
“AAAAAA!!” Ingrid menjadi semakin berteriak karenanya, dan dengan segera ia berlari untuk keluar dari kamar apartemennya di sana. Dirinya bahwa rela terjatuh dan merangkak dengan cepat untuk segera keluar dari kamar tersebut, namun ketika ia membuka pintu, dirinya kembali terkejut ketika melihat raut wajah dari EMA yang terlihat sangat-sangat mengerikan.
Wajahnya membiri dengan mulut yang mengaga, mengeluarkan darah, serta leher yang terlihat memiliki jeratan tali tambang, yang kembali membuat Ingrid berteriak dengan kencang.
“AAAHH!!”
Namun untuk yang kedua kalinya, kini Ingrid kembali terbangun dari tidurnya di sana. Dan tentu saja membuat dirinya merasa semakin ketakutan pada saat itu, napasnya tersenggal dan pandangannya kini menoleh menatap ke sekitar, di mana tak ada apapun di ruang kamar saat itu, dan bahkan waktu pun sudah berganti menjadi pagi hari, dan membuat Ingrid yakin jika kali ini dia benar-benar terbangun dari mimpi buruknya malam itu.
“Hhh … hhh …” Ingrid hanya bisa mengelus dadanya ketika ia merasakan jika jantungnya masih berdetak dengan kencang pagi itu, dan dirinya berusaha menenangkan diri setelah merasa jika itu merupakan sebuah mimpi. Mimpi yang tidak ingin dirasakan lagi olehnya seumur hidupnya.
…
Selama hidupku aku pernah bermimpi buruk, namun … mimpi buruk kala itu, merupakan mimpi yang sangat tidak aku sukai, dan aku berharap di dalam hatiku jika itu tidak akan lagi aku alami. Dan aku tidak ingin memimpikannya kembali.
-Ingrid-
....
To Be Continue.