Knock ... Knock ...

1085 Words
Siang hari itu, Ingrid tengah melamun di dalam kelas tempatnya mengajar. Ia melamun setelah ia selelsai mengajar anak-anak Tk bermain dan bernyanyi bersama seperti biasanya. “Ingrid!” sebuah panggilan yang di lontarkan oleh seorang wanita lainnya di sana, membuat Ingrid pun terperanjat dan menoleh menatap wanita itu, yang kemudian membuat Ingrid tersenyum seraya berucap, “Oh … Tiffany!” panggil Ingrid membalas Tiffany, sang guru seni di Tk yang kini tersenyum kepada Ingrid dan kemudian berucap, “Kau baik-baik saja? Aku lihat kau terus melamun dan menjadi diam akhir-akhir ini!” jelas Tiffany kepada Ingrid yang kini tersenyum menanggapinya untuk kemudian menganggukkan kepala seraya berucap, “Yeah, aku baik-baik saja … Tiffany!” jawab Ingrid dan membuat Tiffany kini menganggukkan kepalanya untuk kemudian mengusap bahu Ingrid dan berucap, “Jika kau memiliki masalah, katakan saja kepadaku ya! Aku akan membantumu sebisaku!” ucap Tiffany dan membuat Ingrid tersenyum dan menganggukkan kepalanya lagi seraya berucap, “Terima kasih, Tiffany!” ucap Ingrid dan membuat Tiffany menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kepada Ingrid pada saat itu. … Di kamp pemadam kebakaran sore itu, Tim dari Tony baru saja sampai di markas untuk beristirahat, yang tentu saja membuat Tony yang merangkap menjadi wakil dari captain di sana membantu beberapa orang lainnya untuk memarkirkan truck pemadam di sana. “Oi, Tony!” sebuah panggilan yang di dengar oleh Tony pun membuatnya kini menoleh menatap ke arah arah sang kaptain yang memanggilnya dan tepat di mana sang kaptain berdiri, di sana ada seorang wanita yang benar-benar tidak asing baginya, dan itu adalah Ingrid sang kekasih. Tentu sajamelihat itu membuat tony tersenyum dengan senang seraya berlari untuk menghampiri Ingrid dan juga sang Captain di sana. “Berbincang lah! Aku yakin dia mendatangimu karena sesuatu!” ucap sang Captain kepada Tony yang membuat lelaki bertubuh tegap dan kekar di sana pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada sang captain yang kini berjalan meninggalkan dirinya dan juga Ingrid. “Thank you Cap!” itu lah ucapan yang di lontarkan oleh Tony kepada Captainya sebelum akhirnya pandangan Tony kini tertuju kepada Ingrid di sana. “Aku tidak tahu kau akan datang, Ingrid!” ucap Tony kepada wanita cantik itu yang kini tersenyum menanggapinya dan kemudian berucap, “Aku ingin melihatmu!” ucap Ingrid kepada Tony, yang tentu saja membuat Tony kini mengerutkan dahinya merasa ada yang aneh dengan ucapan dari Ingrid saat itu, karena ia sangat-sangat mengenal Ingrid, yang pada akhirnya ia pun memutuskan untuk kemudian kembali bertanya, “Ada apa? Adakah hal yang mengganggumu? Kau terlihat sedikit diam!” jelas Tony kepada Ingrid yang kini menghembuskan napasnya dan berucap, “Aku hanya bermimpi buruk malam tadi!” jelas Ingrid dan membuat Tony kini mengerutkan dahinya lagi, ingin mendapatkan cerita mengenai mimpi itu, namun Ingrid menggelengkan kepala dan kembali bertanya, “Kapan kau pulang?” tanya Ingrid kepada Tony, yang kemudian membuat Tony kini mengusap halus rambut milik Ingrid da kemudian berucap, “Aku akan pulang secepatnya, Ingrid …. sehari lagi, aku akan pulang setelah hari ini selesai!” ucap Tony yang kemudian membuat Ingrid pun kembali menghembuskan napasnya untuk kemudian menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan itu. “Apakah kau tidak masalah jika tidur di sana sendirian lagi untuk satu malam ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu pun membuat Ingrid kini menganggukkan kepalanya dengan pelan dan kemudian berucap, “Yeah … aku rasa aku bisa melakukannya!” ucap Ingrid dan membuta Tony kini menganggukkan kepalanya, dan Ingrid segera memeluknya dengan erat, yang tentu saja membuat Tony kini membalas memeluk Ingrid untuk kemudian Ingrid pun berpamitan untuk segera pulang dari sana. “Baiklah … aku akan pulang, Tony!” ucap Ingrid kepada Tony, yang kini tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Kau akan berjalan kaki?” tanya Tony, dan membuat Ingrid menggeleng seraya berucap, “Aku akan menaiki taksi karena aku harus berbelanja!” jelas Ingrid menjawab pertanyaan Tony, dan membuat sang kekasihnya itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya lagi dan kemudian berucap, “Berhati-hati!” itu lah yang di ucapkan oleh Tony sebelum akhirnya Ingrid pun pergi dari kamp pemadam kebakaran. … Jam pun menunjukkan pukul enam sore, Ingrid baru sampai di apartemen miliknya dan juga Tony setelah sebelumnya ia berbelanja untuk bulanan mereka. Dengan santai Ingrid masuk ke dalam apartemen itu dan segera saja meletakan seluruh belanjaannya di atas meja ruang makan di sana, yang kemudian membuat Ingrid kini menghembuskan napasnya merasa cukup lelah di hari itu. Ingrid kini berjalan untuk kemudian meraih segelas air putih untuk membasuh tenggorokkannya yang terasa kering pada saat itu, dan tentu saja dirinya harus berjalan melewati jendela yang berpas-pasan dengan jendela anak-anak yang ia lihat malam kemarin, namun ketika ia menoleh menatap jendela itu, di dalamnya nampak sangat sepi, yang tentu saja membuat Ingrid bertanya-tanya mengenai ke mana perginya kedua anak tersebut. Namun karena Ingrid tidak begitu menanggapi pertanyaan yang ada di dalam kepalanya yang membuatnya kini segera berjalan untuk membuka belanjaan miliknya dan segera membereskannya agar setidaknya ia bisa beristirahat di malam itu dengan cepat. Tok … tok … tok … Pandangan Ingrid dengan cepat menoleh menatap ke arah pintu apartemennya yang ia rasa baru saja di ketuk di sana, yang membuat Ingrid pada akhirnya berjalan untuk menghampiri pintu itu seraya bertanya, “Siapa?” tanya Ingrid, namun karena tidak ada yang menjawab, membuat Ingrid kini berjalan dan membukakan pintu apartemen tersebut, namun … tak ada siapa pun yang ia dapati pada saat itu, yang membuat dahi Ingrid kini mengerut dan membuatnya menoleh ke arah kanan dan kiri, namun tak ada siapa pun di sana. Merasa tidak mendapati apapun membuat Ingrid pun kembali menutup pintu apartemen itu untuk kemudian berjalan menuju dapur. Baru saja ia melangkah sebanyak lima kali, pintu apartemennya kembali di ketuk, yang tentu saja membuat Ingrid kini menolehkan pandangannya kembali ke arah pintu itu, untuk kemudian membuatnya membukakan pintu tersebut lagi dan lagi, lagi tidak mendapati apapun. “Siapa itu?!” tanya Ingrid lagi, namun di sana benar-benar sepi, dan membuat Ingrid akhirnya kembali menutup pintu tersebut, namun kali ini ia mengunci pintunya dan mengintip melalui celah pintu untuk memeriksa siapa yang dengan jahil mengetuk pintu apartemennya di sana. Tok … tok ..!! “!!” Ingrid terperanjat, ketika ia benar-benar tidak mendapati siapapun di luar sana, namun mendengar suara ketukan dari pintu apartemen miliknya dengan keras di sana. Napas Ingrid seketika menderu-deru dengan tidak karuan, yang kemudian membuat Ingrid kini menggelengkan kepalanya merasa bahwa ada hal yang tidak beres pada saat itu di sana. Membuat Ingrid kini segera meraih ponselnya untuk kemudian segera menghubungi Tiffany temannya. … To Be Continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD