The Story

1149 Words
Hari itu merupakan hari rabu, di lama ketika satu hari setelah Ingrid pulang dari liburannya bersama dengan teman-teman barunya yang ada di kota itu. Semenjak ingird tinggal di Apartemen milik Tony, Ingrid merasa sangat-sangat nyaman, namun entah mengapa perasaan nyaman itu hilang begitu saja setelah ia kembali dari liburannya. Namun, meski pun seperti itu Ingrid dengan sengaja tidka memberitahukan hal ini kepada Tony, karena ia tidak ingin membuat sang kekasih merasa khawatir. “Hari ini aku akan bertugas malam, Ingrid!” sebuah penjelasan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Ingrid yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka pun kini menolehkan pandangannya ke arah Tony yang terduduk di sana. “Kau berjaga malam?” tanya Ingrid lagi, dan membuat Tony mengangguk menjawabnya, “Yeah … tak apa jika kau bermalam sendirian di sini?” itu lah yang di lontarkan oleh Tony kepada Ingrid, karena pasalnya ini adalah pertama kalinya Ingrid tidur di apartemen saat itu, karena beberapa minggu yang lalu Tonny mendapatkan Shift pagi. Mendengar ucapan itu, membuat Ingrid menghembuskan napasnya menanggapi pertanyaan dari Tony, yang kemudian Ingrid pun menganggukkan kepala seraya berkata, “Ya, lagi pula aku tidak akan kenapa-napa di sini!” jelas Ingrid kepada Tony yang kemudian membuat Tony tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketikasang kekasihnya itu datang dengan membawakan dua piring menu makan pagi untuk mereka santap di pagi itu. Meski sebenarnya, Ingrid merasa tidak nyaman akhir-akhir itu. Namun karena Tony memang harus bekerja, Ingrid pun tidak bisa melakukan apapun selain mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. … Tik … tok … tik … tok … Pandangan Ingrid saat itu tertoleh ke arah dinding yang memperlihatkan jam yang kala itu akan segera menunjukkan waktu makan siang, yang pada akhirnya membuat Ingrid pun menghembuskan napasnya dan memutuskan untuk membuat makan siang untuk dirinya dan juga Tony. Ketidak nyamanan yang ia rasakan di apartemen itu, membuat dirinya pun berniat untuk mendatangi sang kekasih dan memberinya makanan, yang setidaknya membuatnya tidak berlama-lama sendirian di apartemen itu dan setidaknya ia menemui kekasihnya itu. Dengan langkah malasnya, Ingrid berjalan dari ruang TV menuju ke arah Dapur, yang kebetulan posisinya dekat dengan jendela yang memperlihatkan gedung sampingnya, yaitu Apartemen tua yang bernama Los d Angels dan juga kulkas mereka yang diletakan sengaja menyamping, sehingga mereka bisa melihat ke arah luar jendela setelah mereka menutup pintu dari kulkas tersebut. “Hhh … mari kita lihat ada apa di sana!” gumam Ingrid seraya membuka kulkas untuk melihat isi yang ada di dalamnya, namun … ketika pandangannya berada di dalam kulkas, entah mengapa Ingridn merasa bahwa ada sesuatu yang tengah memperhatikan dirinya dari luar jendela itu. Yang tentu saja membuat Ingrid merasa penasaran dan akhirnya menutup pintu kulkas untuk kemudian menoleh menatap ke arah luar jendela. Kedua mata Ingrid kini melebar dan pupilnya menjadi kecil setelah terkejut melihat empat pasang mata yang kini tengah mengintip dirinya dari sana, yang tentu saja membuat Ingrid merasa kaget sekaligus penasaran dengan kedua orang yang tidak terlihat begitu jelas karena gelapnya ruangan yang mereka pijaki saat itu, yang hanya menampakkan empat mata saja. Namun detik kemudian suara kikikkan anak kecil membuat Ingrid menyadari jika kedua orang yang tengah mengintip di sana adalah anak kecil. Yang tentunya membuat Ingrid tersenyum ketika dengan perlahan lampu yang ada di ruangan tempat kedua anak mengintip itu menjadi terang. Memperlihatkan seorang anak perempuan berusia sekitar enam hingga tujuh tahun yang kala itu tersenyum dengan kedua rambut coklat ikal dan panjang yang sengaja dikucir dua di kedua sisi, serta poni yang menutupi dahinya saat itu. Serta seorang anak lelaki berusia sembilan hingga sepuluh tahun yang berada di samping anak perempuan itu yang kini tertawa, rambut keduanya berwarna sama, yang membuat Ingrid merasa bahwa keduanya merupakan adik dan kakak. Karena melihat mereka yang saat itu terlihat sangat senang, membuat Ingrid pun tersenyum untuk kemudian berniat untuk menyapanya, karena pada dasarnya Ingrid menyukai anak kecil dan ia juga adalah guru TK, jadi tidak heran ketika ia bertindak sangat akrab dengan anak-anak. Dengan tersenyum manis, Ingrid melambaikan tangan kepada mereka, namun bersamaan dengan itu, Angin yang cukup kencang menerpa wajah dari Ingrid yang kini terkejut karenanya. “Ahk!” pekik Ingrid di sana, dengan cepat ia menoleh menatap ke arah samping kanan dan kiri untuk kemudian menoleh ke arah balkon yang kala itu tertutup dan sama sekali tidak terbuka, yang tentu saja membuat dirinya merasa bahwa ada hal yang janggal pada saat itu. Namun, ia berusaha untuk mengesampingkan rasa tersebut dan kembali menoleh menatap jendela, tapi ia mendapati tidak ada siapapun di sana. Ia hanya suara tawa dari keduanya, yang ia yakini menertawainya di sana. Dan membuat Ingrid hanya bisa menghembuskan napasnya dan menggeleng ketika merasa bahwa kedua anak itu pasti termasuk ke dalam anak-anak yang jahil, atau setidaknya seperti itu. … Seperti apa yang ia niatkan, ia memasak menu makan siang untuk sang kekasih yang juga ia siapkan dalam porsi yang besar, karena tahu jika yang akan menyantap makanan itu tidak hanya kekasihnya, namun juga teman-teman kerjanya. Dengan langkah yang riang, ia berjalan keluar dari taksi untuk menuju base pemadam kebakaran atau kantor pemadam kebakaran. Yang letaknya hanya memakan waktu sekitar lima belas menit jika menggunakan taksi atau kendaraan. Langkahnya kini berjalan mendekati beberapa lelaki yang tengah berbincang di samping truk-truk pemadam di sana, dan ia sangat mengetahui salah satu dari ketiga orang yang berbincang itu, karena ia tahu postur dari Tony. Ingrid tersenyum dan kemudian memanggil Tony dengan suara yang lembut, yang kemudian membuat ketiganya menoleh dan Tony, yang memang salah satu dari ketiganya terkejut ketika mendapati Ingrid datang ke sana. “Tony!” panggil Ingrid dengan pelan, “Oh! Ingrid?! Kau datang??” tanya Tony terkejut, dirinya bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumannya di hadapan kedua temannya yang kini mulai menjadi penasaran dan kemudian bertanya, “Siapa nih?” tanya salah satu dari keduanya, dan membuat Tony segera menoleh dan berdeham seraya menjawab, “Ehem … ini kekasihku, Ingrid!” ucap Tony kepada keduanya yang kemudian terkejut dan segera menjabat tangan Ingrid, “Oh! Salam kenal, aku Mike teman Tony!” ucap Mike memperkenalkan dirinya kepada Ingrid yang kini tersenyum dan mengangguk mendengarnya, “Aku peter, salam kenal!” ucap Peter dan membuat Ingrid melakukan hal yang sama kepada Peter. “Jadi … ada apa, hum?? adakah masalah?” tanya Tony kepada Ingrid yang kini tersenyum kepadanya dan kemudian menggelengkan kepala seraya berucap. “Tidak ada, Tony! Aku membawa ini untukmu dan yang lainnya! Aku yakin kau belum makan siang kan?!” ucap Ingrid kepada Tony yang kini terkejut mendengarnya dan pandangannya kini menatap ke arah tas yang isinya penuh dengan wadah makanan, yang membuat Tony kini tersenyum dan berucap, “Kau sengaja membuat ini?” tanya Tony, dan Ingrid menganggukkan kepalanya, “Yeah … untukmu, karena aku membuat banyak, berbagilah dengan yang lain!” jelas Ingrid yang kemudian membuat Tony segera memeluknya dan berucap, “Thank you!” ucap Tony, yang membuat Ingrid tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya. …  To Be Continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD