Langkah kaki dari Dokter ingrid, Adam serta perawat yang bertugas kini berimbang dan serempak menuju ruang rawat dari pasien bernama Ingrid. “Apakah kau sudah menyuntikkan obat penenangnya?!” tanya Dokter Charlote kepada sang perawat yang kini mengangguk.
“Saya sudah memberinya, tapi kejangnya tidak mereda dan semakin parah!” jelas sang perawat yang membuat mereka masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan jika Ingrid mengejang dan tengah di pegangi oleh dua perawat lainnya, mulutnya mengeluarkan busa, kedua bola matanya hanya menyisakan bagian bawahnya saja karena ia menahan rasa sakitnya pada saat itu.
“Bawakan penenang dosis tinggi!” ucap Dokter Charlote kepada salah satu perawat yang kini segera berlari mengikuti perintahnya yang kini ikut memegangi tubuh dari Ingrid di sana, sedangkan Adam kini menoleh menatap ke arah jam dipada dinding yang kala itu menunjukkan pukul tiga lebih tujuh, yang segera saja membuatnya berlari untuk menghampiri Ingrid dan menggenggam tangannya seraya memakaikan gelang yang ia bawa seraya berucap.
“Ingrid! … hei! Hei … it’s ok… it’s ok !!” ucap Adam berbisik kepada Ingrid pada saat itu, yang bersamaan dengan itu, Ingrid menjadi tenang dan kejangnya perlahan menghilang. Adam tidak berhenti menenangkan Ingrid yang terbaring di lantai saat itu, yang membuat Dokter Charlote pun terkejut melihatnya di sana.
…
Kini, setelah ingrid tenang dan sesi konselingnya di batalkan, Adam pun memutuskan untuk berbincang dengan dokter Charlote yang terlihat sangat kebingungan dan terlihat banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada Adam.
“Jadi … apa niatmu mendatanginya, Adam? Kenapa kau memberikan gelang itu kepadanya?” tanya Dokter Charlote kepada Adam yang kini menghembuskan napasnya dan kemudian berucap,
“Aku ingin memastikannya, Dokter! Aku pun belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu, aku hanya baru mencurigainya saja!” jelas Adam kepada Dokter Ingrid yang kini mengerutkan dahinya mendengar pernyataan Adam, yang tentu saja membuat Dokter Charlote kini berkata,
“Baru mencurigainya saja?” tanya Dokter Charlote, dan membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian menanggapi ucapan itu lagi dengan berkata,
“Tidakkah anda melihatnya? Waktu yang di tunjukkan oleh jam dinding di ruang rawat Ingrid saat itu berhenti tepat pada pukul tiga lebih tujuh, dan saya rasa itu berhenti pada waktu pagi! Dan beberapa hari yang lalu, saya bahkan memimpikan hal yang buruk mengenai ingrid, jadi itu lah yang membuatku curiga, Dokter!” jelas Adam kepada Dokter Ingrid yang kini menghembuskan napasnya dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Jadi … kau ingin berbicara dengannya?” tanya Dokter Charlote kepada Adam, yang kemudian membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi tawaran tersebut.
“Baiklah … sesi hari ini aku serahkan kepadamu, Adam! Kau boleh berbincang dengan Ingrid dan gali informasi apa pun darinya! Semoga saja ia tidak seperti Joshua!” jelas Dokter Ingrid, dan membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu.
“Terima kasih Dokter Charlote!” ucap Adam kepada Dokter Charlote yang kini tersenyum kepadanya dan kemudian menganggukkan kepala menanggapi ucapan tersebut.
…
Dan di sini lah Adam saat ini, berhadapan dengan Ingrid yang sudah tersadar beberapa jam yang lalu yang tentu saja membuat Adam kini tersenyum ketika menatapnya yang kini menoleh menatap Adam dengan kedua alis yang berkerut di sana, karena tentu saja Ingrid belum mengenal Adam.
“Eum, Hai … ini aku Ingrid, namaku Adam. Kau menelpon panggilan emergency beberapa hari yang lalu, dan aku yang menangani laporan mu saat itu … kau mengingatnya?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu pun membuat Ingrid terlihat terkejut mendengar hal itu dan kemudian berkata,
“Kau yang ada di telpon itu!” ucap Ingrid membuat Adam menganggukkan kepalanya, dan Ingrid menganggukkan kepala untuk kemudian menunduk dan berucap,
“Maafkan aku … aku tidak bermaksud memberikan sebuah kesaksian palsu, Adam! Tapi … aku benar-benar melihat mereka!” jelas Ingrid kepada Adam yang kini terdiam ketika melihat wajah seirus yang diperlihatkan oleh Ingrid pada saat itu, yang membuat Adam merasa tidak asing dengan raut itu, dan teringat kembali dengan Joshua.
“...” melihat Adam terdiam, membuat Ingrid kini berkata,
“Aku tidak gila, tapi tak ada satu pun yang mempercayaiku!” ucap Ingrid kepada Adam, yang segera membuat Adam menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata,
“Tidak Ingrid! Aku mempercayainya!” ucap Adam kepada Ingrid, yang tentu saja membuat Ingrid kini menolehkan pandangannya ke arah Adam dengan tatapan terkejut,
“Sungguh?” tanya Ingrid dan membuat Adam menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata,
“Tentu! Tapi aku ingin tahu, sejak kapan kau melihat anak-anak itu … apakah kau mengenal mereka?” tanya Adam kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian dirinya mulai bercerita.
“Itu merupakan hari di mana aku sudah tinggal sekitar satu minggu di Apartemen kekasihku, Tony!” jelas Ingrid kepada Adam, yang kala itu mulai menulis semua cerita yang dijelaskan oleh Ingrid ke dalam lembaran kertas yang ada di hadapannya saat ini, ia terus mendengarkan apa yang diceritakan oleh Ingrid mengenai hari di mana ia didatangi oleh anak-anak itu.
…
…
Hari itu, suasana siang yang seharusnya ramai pun terasa sangat-sangat tenang bagiku. Tak ada suara klakson dari mobil di jalanan sana, dan bahkan bising dari pembangunan di gedung sebelah, seolah semuanya di redam oleh sesuatu hal yang tidak aku ketahui.
Melihat jam menunjukkan pukul duabelas, membuatku memutuskan untuk menyiapkan makan siang untukku dan juga untuk Tony, karena aku berniat untuk menghampiri tempatnya bekerja di hari liburku. Namun, langkah kakiku saat itu terhenti ketika baru saja lewati jendela apartemen kami dan mendapati sesuatu yang tengah memerhatikan di jendela yang terbuka saat itu. Karena aku merasa penasaran, aku pun memutuskan untuk menolehnya dan mendapati dua orang anak kecil yang menggemaskan yang tengah tersenyum dengan lebar tekat ke arahku.
Aku yang memiliki basic sebagai guru TK dan juga seseorang yang menyukai anak kecil pun pasti akan membalas senyuman mereka dengan senyuman serta lambaian tangan, namun entah mengapa secepat aku melambaikan tangan kepada mereka, angin kencang menerpaku dan mengejutkanku. Dan tentu saja membuatku sekaligus merasa bingung, karena pada saat itu aku sama sekali tidak membuka balkon apartemen dan hanya ada AC yang menyegarkan ruangan ini, yang tentu saja membuatku merasa penasaran mengenai dari mana datangnya angin tersebut. Namun, aku mengesampingkan itu untuk kembali menatap kedua anak kecil di sana, namun kusadari jika kedua anak itu sudah tidak berada di sana, yang pada akhirnya membuatku berpikir jika mereka pasti sudah pergi meninggalkanku dan menertawaiku yang terlihat kaget saat itu, karena dengan samar kudengar suara tawa mereka yang pelan. Dan itu merupakan hari pertama ku bertemu dengan kedua anak kecil itu, dan awal dari semua hal yang membuatku menjadi merasa takut karenanya!
-Ingrid-
…
To Be Continue.