Hari itu, Ingrid menghabiskan waktunya bersama dengan Tony. Seolah keduanya saat itu melepas kerinduan karena tiga hari lamanya mereka tidak bertemu. Pandangan Tony terus tertuju kepada Ingrid dan tidak pernah sedikit pun teralihkan di hari itu.
“Aku senang kau sudah baik-baik saja, Ingrid!” ucapan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Ingrid yang kala itu tepat berada di hadapannya selai tersenyum dengan manis, dan bahkan senyumannya semakin mengembang ketika Tony mengecup tangan Ingrid yang selalu ia genggam seharian penuh dengan lembut.
“Yeah … aku juga merasa senang karena aku tidak merasa diganggu lagi!” ucap Ingrid.
Balasan itu membuat Tony tersenyum menanggapinya, pandangan Ingrid pun secara spontan kini menatap ke arah layar TV yang kala itu sudah menayangkan Drama korea kesukaannya, yang membuatnya kini berucap,
“Ups! Dramanya sudah di mulai, ihi!” ucap Ingrid dengan senang, dirinya kembali memposisikan tubuhnya untuk menghadap ke TV dan menatap layar kaca itu.
Melihat jika sang wanita sedang excited menyaksikan drama korea yang paling di tunggu olehnya pun membuat Tony merasa jika sang kekasih membutuhkan camilan malam untuk menemaninya, dan itu membuat Tony pun beranjak seraya menawarkan setidaknya popcorn yang telah ia beli untuk minggu ini menonton bersama dengan teman-temannya, menonton pertandingan football.
“Wanna popcorn and some soda?” sebuah tawaran yang di lontarkan oleh Tony kepada Ingrid saat itu membuat Ingrid menganggukkan kepalanya dan berkata,
“Yes I want, thank you!” ucap Ingrid kepada Tony yang kini tertawa mendengarnya.
Tony pun berjalan dengan santai menuju dapur untuk menyiapkan semangkuk popcorn yang ada di dalam bupet makanannya dan juga mengambil beberapa kaleng soda yang tersimpan di lemari kulkasnya, sebelum akhirnya berjalan kembali dan meletakkan kedua hal itu di atas meja seraya berkata,
“Ini dia!” ucap Tony, dan membuat Ingrid kini berseru dengan senang,
“Yeay! Thank you!” ucap Ingrid kini meraih popcorn dari mangkuknya.
Kala itu pandangan Tony secara tidak sengaja menatap ke arah pergelangan tangannya yang kala itu terdapat sebuah gelang yang amat tidak asing menurutnya, yang tentu saja membuat Tony merasa penasaran pada saat itu, dan jujur saja Tony sedikit cemburu karena yakin jika gelang itu adalah gelang yang juga sering di pakai oleh temannya, Adam.
“Hei … aku kenal dengan gelang yang kau gunakan ini, Ingrid!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini menoleh menatapnya yang juga menatap Ingrid dengan serius,
“Oh … kau tahu?” tanya Ingrid dan membuat Tony menganggukkan kepalanya mendengar hal itu,
“Itu gelang milik Adam, dari mana kau mendapatkannya, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Ingrid kini tertegun dan kemudian berkata,
“Eum … tolong jangan salah paham, Tony!” ucap Ingrid kepada Tony yang kini menatapnya penuh dengan rasa penasaran,
“Aku berusaha, tapi bisa kah kau menjelaskannya, kenapa kau bisa mendapatkan gelang ini, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Ingrid pun menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata,
“Dua hari yang lalu Adam menemuiku di Serenity Angels!” jawab Ingrid, dan hal itu sungguh mengejutkan bagi Tony.
Seketika dahi Tony mengerut setelah Ingrid berkata jika Adam menemui dirinya dua hari yang lalu, yang tentu saja membuatnya semakin cemburu dan tidak mengerti apa maksud dari tindakan Adam pada saat itu, karena pasalnya ia juga mengunjungi dirinya di malam yang sama, dua hari yang lalu.
“What?! untuk apa dia mendatangimu terlebih dahulu dan memberimu gelang itu sebelum akhirnya dia menemuiku?!” jelas Tony, seketika Ingrid mengerutkan dahinya mendengar itu.
“Dia menemuimu setelahnya?” tanya Ingrid dan membuat Tony menganggukkan kepalanya.
Tony menggelengkan kepala dan beranjak dari kursi itu, merasa jika ada yang salah dari Adam, namun pergerakannya terhenti oleh Ingrid yang dengan segera menahan tangannya dan menggenggamnya dengan erat seraya berkata,
“Aku belum selesai bercerita, Tony! Dia datang untuk menyelamatkanku!” ucap Ingrid dan membuat Tony kembali merasa aneh dengan hal itu, “Gelang ini, dia memberikannya untuk melindungiku, dia juga mengatakan bahwa sebelum bertemu aku, dia sudah memimpikan kita berdua, Tony!” jelas Ingrid,
Mendengar ucapan itu, seketika saja membuat Tony kini teringat dengan satu momen di saat Adam mengatakan nama dari Ingrid, yang sebenarnya jelas-jelas ia ingat jika ia belum pernah menceritakan tentang Ingrid kepada siapapun dan termasuk dengan Adam.
“Itu lah sebabnya ia mengenali namamu!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini mengerutkan dahinya dan bertanya,
“Apa maksudmu?” tanya Ingrid dan membuat Tony kini menoleh menatapnya dan tersenyum,
“Aku memang merasa jika Ada hal yang istimewa dalam dirinya, mungkin semacam cenayang!” ucap Tony lagi mulai berkata melantur, dan hal itu membuat Ingrid menjadi bingung karenanya.
“Huh?! Apa yang kau katakan?!” tanya Ingrid kepada Tony, yang kemudian membuat Tony tersenyum menatap Ingrid.
Tony kembali terduduk di sofa itu dan mulai bercerita, jika Adam datang ke apartemen mereka dua hari yang lalu, di malam setelah dirinya bertemu dengan Ingrid. Yang tentu saja hal itu membuat ingrid menjadi penasaran dan mulai bertanya kepada Tony,
“Untuk apa dia datangdi malam hari, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat Tony pun akhirnya bercerita panjang lebar mengenai Adam dan juga hal yang ia katakan kepada Tony.
Tony Point of view
Aku akan menceritakan apa yang aku alami ketika Adam datang mengunjungiku dua hari yang lalu, dan karenanya kita harus pergi ke dua hari yang lalu, dan itu lah tujuan kita saat ini!
Back to two days ago!
Malam itu berbeda dari malam-malam yang lalu, malam itu terlalu sepi untukku, tak ada satu pun senyuman dari seseorang yang sangat aku cintai di sana, yang kini membuatku merasa sangat-sangat merindukan dirinya. Bagaikan sebuah tanaman yang tidak diberikan tetesan air setiap harinya, tidak seperti beberapa hari yang lalu. kini aku layaknya sebuah pohon kecil yang tidak diberi air, yang perlahan-lahan menjadi layu dan akan segera mati. Aku membutuhkan Ingrid untuk aku bisa tetap hidup di sini, aku bagaikan seorang zombie yang tidak memiliki perasaan.
Malam itu aku hanya termenung di atas sofa panjang itu, tidak memiliki niat untuk membersihkan tubuhku, dan tidak memiliki niat untuk menyiapkan hidangan makan malam, dan membiarkan diriku sendiri melewatkan jam itu.
“Hh … aku seperti mayat hidup!” gumamku kepada diriku sendiri.
Ting … tong …
Sebuah suara bel dari luar sana, membuatku segera menoleh menatapnya, merasa jika bel itu hanya diperuntukkan untukku malam itu, yang membuatku kini menoleh menatap ke arah jam pada dinding ruangan dan bertanya-tanya siapa yang datang di malam hari seperti ini. Dengan malas aku berjalan menghampiri ke arah pintu, dan mengintip siapa yang datang lewat celah dari pintu yang sengaja di pasang untuk bisa mengintip dan orang yang baru saja menekan bel di sana adalah temanku, Adam.
Seorang teman yang sama-sama bekerja di dalam bidang yang sama namun memiliki tugas yang berbeda, aku adalah seseorang yang langsung datang ke lapangan untuk menyelamatkan dan membantu siapapun yang membutuhkan, sedangkan dirinya bertugas di belakang layar, seseorang yang memberikan aku serta tim ku arahan ke mana kami harus pergi dan bagaimana keadaan di lapangan nantinya ketika kami berada di perjalanan menuju … katakan saja ‘medan perang’ .
Dahi ku praktis mengerut ketika mengetahui siapa yang menekan bel itu, namun karena aku juga merasa penasaran atas kedatangannya, membuat ku kini membukakan pintu untuknya seraya berkata,
“Adam, why you here?? you surprised me!” itu lah kata yang aku ucapkan kepadanya yang kini tersenyum seraya memberikanku satu kotak pizza dan dua box chicken.
“Katakan saja aku berkunjung, Tony!” itu lah yang di ucapkan olehnya dan hal itu membuatku mengedikkan kepala untuk memintanya masuk ke dalam apartemen.
“Get in!”
Adam berjalan masuk ke dalam, dan aku yang merasa penasan pun menatapnya yang kini terlihat memandangi seluruh sudut apartemenku, hal itu membuatku kini bertanya-tanya kenapa dirinya terlihat seperti tengah menscan sesuatu hal saat itu.
“Ada apa?? kau jarang datang untuk berkunjung!” ucapku kepada Adam yang kini tersenyum menanggapi hal itu, untuk kemudian dirinya kini berjalan menuju balkon dan membuka pintu balkon tersebut seraya berkata,
“Tidak … hanya memastikan bahwa kau baik-baik saja Tony!”
Mendengar hal itu dari seorang lelaki membuatku merasa cukup merinding, baik … jika Adam adalah seorang wanita, maka aku akan sangat tersanjung dan merasa senang, namun … pada kenyataannya alih-alih senang, aku merasa takut saat ini. Aku sama sekali tidak bereaksi ketika dirinya berkata seperti itu dan hal itu pun sepertinya membuat Adam tersadar dan secepat mungkin meralat ucapannya dengan berkata.
“Oh no! Aku tidak seperti yang kau pikirkan Tony, aku hanya merasakan sebuah firasat dan aku langsung datang kepadamu karena aku tahu kau dan juga Ingrid membutuhkan sebuah bantuan!” itu lah hal yang ia luruskan kepadaku.
Jujur saja, Adam adalah seseorang teman yang amat membuat diriku penasaran, sejak aku bertemu dengan dirinya untuk pertama kali, sehingga sebaik dan sebisa mungkin aku selalu menyapanya terlebih dahulu dan mendekatinya terlebih dahulu, hingga pada akhirnya kami menjadi teman dan sahabat yang baik. Namun … malam ini, tidak sepertti biasanya karena ia terlebih dahulu yang mendekatiku dan mebngatakan jika aku membutuhkan bantuan karena dia mendapatkan sebuah firasat yang buruk, yang tentu saja membuatku merasa semakin penasaran dengannya.
“Firasat apa yang kau rasakan sehingga sesegera saja datang kepadaku, Adam?” tanyaku kepada dirinya.
Ia yang kala itu tengah bersandar di besi pembatas balkon apartemen ku pun menoleh menatap ku dengan penuh keseriusan, dan dirinya pun berkata,
“Kematian!” ucapnya, dna hal itu seketika saja membuatku merasa menjadi tidak enak.
Bulu kudukku praktis berdiri dan aku tidak bisa merasakan hawa yang biasanya aku rasakan, seolah aku mati rasa. Keringatku praktis mengucur, dan aku merasa menjadi gugup seketika setelah dirinya berkata seperti itu.
“M … m … mati?” tanyaku kepadanya, dan membuat Adam kini menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaanku.
“Idzinkan aku untuk berkeliling dan aku akan memberikan beberapa saran yang sepertinya harus kau lakukan, Tony … ini demi kebaikanmu!” ucapnya lagi, dan hal itu membuatku mengangguk menanggapi ucapannya.
...
To Be Continue.