Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu para pekerja kantor untuk pulang. Amira pun bergegas pulang mengingat ia ada janji untuk bertemu dengan Devan, kekasih pura-puranya. Mendengar kabar Devan mengajaknya bertemu, sejenak ia melupakan kekesalannya terhadap Andre. Ya, Devan bisa membuat kemarahan Amira menjadi surut dengan seketika. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Amira benar-benar telah mencintai Devan. Yang awalnya Amira hanya meminta Devan untuk menjadi pacar pura-pura agar perjodohan itu batal tapi siapa sangka Amira benar-benar jatuh cinta pada Devan. Cinta memang tidak ada yang pernah tahu kapan akan datang.
Setelah sampai di rumah mewahnya, Amira buru-buru ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sampai-sampai Amira tidak memperhatikan ada Robinson dan Andre serta Oma Ratna yang sedang duduk di ruang keluarga.
Begitu selesai membersihkan diri, Amira kemudian memoles wajahnya dengan riasan sederhana namun tetap terlihat cantik saat di wajahnya. Kemudian Amira memilih gaun indah dan high heels yang akan dipakainya mengingat ia akan makan malam bersama Devan.
Ddrrtt.. ddrrtt..
Handphone Amira yang berada di nakas berbunyi, ada pesan yang masuk. Amira pun meraih benda pipih tersebut dan mendapati pesan dari Devan.
"Aku sudah sampai, aku tunggu di depan rumahmu."
Setelah membaca pesan dari Devan Amira bergegas untuk menemui Devan karena ia tidak mau kekasihnya itu menunggu terlalu lama. Saat turun dari kamarnya, Andre yang menatap Amira seketika terpana melihat kecantikan Amira. Andre sengaja datang ke rumah Amira untuk meminta maaf kepadanya, tapi sayang ia malah dikejutkan oleh hal yang paling tidak ia senangi. Amira yang masih tidak sadar akan keberadaan orang-orang di ruang keluarga itu dikagetkan dengan suara dari neneknya.
"Ya ampun, cucu Oma cantik sekali. Kamu pasti mau pergi sama Andre untuk makan malam kan sayang?" Ucap Oma Ratna yang mengagetkan Amira.
Mendengar ucapan dari sang nenek, sontak Amira kaget kemudian menoleh ke sumber suara dan melihat ada Andre sedang duduk menatapnya dalam.
"Eh, ada Oma!" ucap Amira sambil menghampiri dan memeluk Oma Ratna karena memang mereka jarang sekali bertemu.
"Maaf Oma, aku gak tahu kalau ada Oma disini. Kapan Oma datang? Kenapa tidak meneleponku?" Amira melanjutkan perkataannya sembari melepas pelukannya.
"Tadi siang Oma sampai sini, sengaja Oma gak telpon kamu karena Oma ingin memberikan surprise untuk cucu Oma tercinta," ucap Ratna sembari menjawil hidung mancung cucu kesayangannya.
"Tapi maaf ya Oma, kebetulan aku ada janji akan pergi makan malam bersama kekasihku, dan ia sudah menungguku di mobil, jadi aku tidak bisa menemani Oma," ucap Amira sambil menekankan kata kekasihku sengaja agar Andre mendengarnya dengan jelas.
Mendengar ucapan Amira, semua orang yang ada di ruang keluarga itu terkejut kecuali Andre yang memang sudah mengetahui hubungan Amira dengan Devan. Tanpa basa-basi Amira segera pergi meninggalkan orang-orang yang berdiri mematung penuh dengan pertanyaan di benak mereka masing-masing. Andre yang mendengar ucapan Amira dibuat kesal dan akan membuat perhitungan lagi terhadap Devan. Bahkan Andre pun berencana ingin segera mempercepat hari pernikahannya dengan Amira.
***
"Hai, maaf membuatmu menunggu terlalu lama, Dev." ucap Amira sambil tersenyum kepada Devan yang sudah menunggunya di mobil dan dibalas senyuman oleh Devan.
Devan lalu menjalankan mobilnya menuju restoran yang lokasinya cukup jauh dari rumah Amira. Di sepanjang perjalanan menuju restoran Amira dan Devan terus bercerita dan bercanda tawa. Memang dunia ini serasa milik mereka berdua.
Tak lama, mereka telah sampai di cafe, mereka langsung ke meja yang sebelumnya sudah dipesan oleh Devan. Devan memesankan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang santai. Sampai pada akhirnya perbincangan mereka mulai serius.
"Mir, sebenarnya aku mencintai kamu sudah sejak lama, aku ingin kita tidak hanya sekedar menjadi sepasang kekasih pura-pura tapi menjadi sepasang kekasih sungguhan," ucap Devan dengan wajah serius sambil menggenggam lembut tangan Amira.
Mendengar ucapan Devan, sontak Amira pun terkejut. Ia tidak menyangka Devan akan mengungkapkan perasaannya kepada Amira. Amira sangat senang mengetahui laki-laki yang diam-diam ia sukai ternyata memiliki perasaan yg sama dengannya. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan tanpa berpikir panjang, Amira pun menerima perasaan cinta Devan. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih sungguhan.
***
Ada dua pasang mata di tempat berbeda yang melihat kejadian romantis antara Devan dengan Amira, mereka adalah Rachel dan Andre. Diam-diam ternyata Andre mengikuti kemana perginya Amira dan Devan. Di lain sisi, ternyata ada Rachel yang kebetulan akan makan malam tapi sialnya dia malah melihat kemesraan antara Devan dan Amira. Sungguh betapa hancurnya hati mereka melihat masing-masing orang yang mereka cintai sedang memadu kasih. Rachel semakin mantap untuk menghancurkan hubungan antara Devan dan Amira, begitupun dengan Andre. Ia akan membuat perhitungan lagi terhadap Devan, mengingat ancamannya waktu itu sama sekali tidak membuat Devan mundur dan tetap memilih untuk terus menjalin hubungan dengan Amira.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Devan harus segera mengantarkan Amira untuk pulang. Waktu yang mereka habiskan untuk sekedar melepas rasa rindu rasanya sudah cukup. Devan mengendarai mobilnya membelah jalanan yang masih sedikit ramai. Tidak lama mereka pun sampai di depan rumah mewah milik keluarga Amira.
"Dev, makasih ya untuk malam ini, aku seneng banget," ucap Amira sambil menggenggam tangan Devan.
"Aku yang makasih karena kamu sudah mau menerima cintaku," ucap Devan yang kemudian mengecup tangan dan dahi Amira.
Amira yang kaget akan sikap dan perilaku Devan menjadi malu, wajahnya merah seperti kepiting rebus. Melihat Amira yang tersipu malu Devan pun menjadi gemas hingga akhirnya ia mencubit pipi Amira.
"Ahh, sakit tau!" Amira berteriak sambil memanyunkan bibirnya dan mengelus pipinya.
"Makanya jangan gemesin, jadinya aku cubit kan! Ya sudah, kamu masuk ya takut papah kamu nyariin," ucap Devan dan diangguki Amira.
Amira yang sudah keluar dari mobil pun berpamitan kepada Devan untuk masuk ke dalam.
"Hati-hati ya dijalan, kalo udah sampai rumah jangan lupa kabarin aku," ucap Amira.
"Oke bos!" Devan pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Amira.
***
Amira berjalan masuk ke rumahnya dengan sedikit mengendap-endap takut jika ia membangunkan orang rumah yang sudah tertidur. Ia mengambil kunci yang ada di dalam tasnya kemudian membuka pintu rumahnya dengan sangat perlahan. Setelah pintu berhasil dibuka, ia masuk dan berjalan sangat pelan. Saat ia ingin menaiki tangga menuju kamarnya, ia dikejutkan dengan sebuah suara.
"Ehem, bagus! Dari mana kamu sampai larut malam baru pulang?" ucap Robinson mengagetkan Amira.
Amira yang kaget pun langsung menoleh ke sumber suara dan menghampirinya.
"Ehh papah. Papah belum tidur? Udah malem tau ini gak baik untuk kesehatan papah," ucap Amira dengan senyum manisnya berharap agar papanya tidak akan marah padanya.
"Papah tanya kamu dari mana! Kamu tahu kan tadi ada Andre, kenapa malah kamu tinggal pergi?" Ucap Robinson dengan nada sedikit keras.
"Amira habis pergi makan malam bersama kekasih Amira pah. Udah Amira bilang berapa kali sih pah, Amira itu gak mau dijodohin, lagian Amira juga udah punya pacar, jadi sepertinya rencana perjodohan itu dibatalkan saja ya karena Amira gak mungkin ninggalin pacar Amira," jelas Amira panjang lebar kepada Robinson.
Mendengar ucapan anaknya Robinson marah, bahkan ia hampir saja menampar anak semata wayangnya itu karena telah berani melawan papanya.
"Beraninya ya kamu," ucap Robinson sambil melayangkan tangannya hendak ingin menampar wajah Amira namun seketika terhenti.
"Kenapa pah? tampar aja pah tampar Amira. Hanya karena ambisi papah supaya perusahaan papah lebih maju, papah rela mengorbankan anak papah sendiri. Papah gak tau rasanya jadi Amira pah, yang papah pikirkan hanya uang, uang, dan uang gak pernah mikirin gimana perasaan Amira," ucap Amira sambil menahan tangis kemudian pergi meninggalkan ayahnya menuju ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, Amira langsung menghamburkan tubuhnya ke tempat tidur. Air matanya tak sanggup ia bendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya atas perilaku papahnya. Hingga tak sadar ia pun terlelap dalam tidurnya.
Sementara di ruangan bawah terlihat Robinson yang masih berdiri memaku mengingat kejadian barusan.
"Astaga, hampir saja saya menampar Amira. Saya akan mengajaknya bicara esok hari, pasti emosinya sudah stabil. Percuma saja kalau diajak bicara sekarang," gumam Robinson yang diliputi rasa bersalah karena hampir menampar Amira namun tetap dengan pendiriannya akan menjodohkan Amira dengan laki-laki pilihannya. Robinson pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Bersambung...