Teror

2208 Words
Sinar mentari menyambut pagi yang cerah di hari Sabtu ini. Amira sudah bangun dari tidur malamnya. Matanya masih bengkak mengingat ia menangis cukup lama sampai ia tertidur. Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian pergi untuk sarapan. Setelah dirasa cukup, Amira pun turun menuju meja makan. Nampak Robinson telah lebih dulu menyantap makanan yang telah dibuat bi Inah, asisten rumah tangga mereka. Amira yang melihat ayahnya pun sebenarnya sangat malas tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur turun dari kamarnya lagi pula cacing di perutnya sudah berbunyi dari tadi meminta untuk cepat-cepat diberi makan. Jadi ia buang jauh-jauh egonya sekarang demi perutnya. Amira duduk di meja makan tanpa sepatah kata pun kepada ayahnya. Ia mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng buatan bi Inah ke piringnya, kemudian memakannya dengan sangat lahap tanpa menghiraukan keberadaan sang ayah. Robinson yang sadar akan perilaku Amira, ia kemudian membuka suara memecah keheningan di ruang makan tersebut. "Ehem, sayang maafin papah ya atas kejadian semalam, papah gak bermaksud untuk menyakiti kamu, papah hanya refleks," ucap Robinson meminta maaf pada putrinya. Mendengar sang ayah bicara, Amira hanya terdiam. Mungkin ia benar-benar kecewa dengan ayahnya. Hanya karena Andre, ayahnya bahkan hampir menamparnya. "Amira! Papah sedang bicara jadi tolong hargai papah!" Ucap Robinson sekali lagi dengan nada suara yang naik satu oktaf berharap agar Amira akan menjawabnya. Dan benar saja, Amira pun menjawab pertanyaan Robinson. "Ya pah, Amira dengar kok. Amira juga udah lupa kejadian semalam. Amira sudah selesai makannya, Amira pamit mau ke kamar dulu," ucap Amira kemudian berlalu dari hadapan ayahnya menuju ke kamarnya. Robinson yang melihat sikap putrinya tahu betul kalo Amira itu masih marah kepadanya. Ia akan cari waktu lain untuk membicarakan tentang kelanjutan perjodohannya dengan Andre. Benar-benar tidak pantang menyerah tekad Robinson untuk menjodohkan Amira dengan laki-laki pilihannya. *** Di dalam kamar Amira yang benar-benar masih kesal dengan sikap ayahnya hanya bisa berdoa agar keajaiban datang ke dalam hidupnya. "Hmmm, daripada aku bete di rumah bertemu papah selalu saja berantem mending aku jalan sama Rachel, lagi pula aku udah lama gak hangout bareng dia," gumam Amira. Ia pun meraih handphonenya yang berada di nakas dan mendial nomor Rachel dan tak lama Rachel pun mengangkat panggilan dari Amira. "Hallo Rachel, apa kabar? Lagi sibuk gak? Kita hangout yuk mumpung weekend nih," cerocos Amira. "Ckckck, selow dong. Tumben nelpon, kayaknya sibuk banget ya sama Devan sampai lupa sama sahabat sendiri," ejek Rachel dari seberang telepon. "Ish gak gitu kali, banyak kerjaan numpuk di kantor, maaf ya!" ucap Amira. "Oke, mau ketemu dimana?" ucap Rachel. "Tempat biasa aja ya, 2 jam lagi dari sekarang, oke!" sahut Amira dan menutup sambungan telepon tersebut. Amira pun segera mandi dan bersiap-siap. Tidak butuh waktu lama, ia pun telah siap dan segera berangkat menuju cafe yang sudah dijanjikan. Ia keluar kamar dan menuruni tangga menuju garasi mobil. Belum sampai di garasi, ia dikagetkan oleh suara ayahnya yang memanggilnya. "Amira, tunggu! Kamu mau pergi kemana? Papah ingin bicara sebentar saja," ucap Robinson. "Emm, ini pah Amira ada janji mau ketemu sama Rachel, lain waktu aja ya pah kita ngobrolnya aku sudah terlambat," ucap Amira kemudian berlalu dari hadapan ayahnya. Robinson pun tidak bisa menghalangi putrinya. Ia takut kalau Amira akan marah lagi padanya. Ia akan sedikit bersabar lagi agar bisa berbicara empat mata dengan Amira. *** Amira mengendarai mobil kesayangannya menuju cafe yang sudah mereka janjikan. Hari ini jalanan tidak terlalu ramai seperti hari-hari biasanya. Tak terasa jarak dari rumah ke cafe hanya memakan waktu 30 menit. Amira pun segera turun dan menemui Rachel yang sudah terlebih dahulu sampai di cafe. "Hai, sorry aku terlambat!" ucap Amira yang baru saja datang dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. "Udah biasa kamu mah, udah gak heran aku," celetuk Rachel yang sudah tau kebiasaan sahabatnya. Amira hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya tersebut. Mereka pun memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang melepas rindu mengingat memang sudah lama sekali mereka makan berdua seperti sekarang. "Kerjaan kamu gimana Mir?" ucap Rachel. "Yaaa gitu deh, lagi banyak banget proyek papah yang aku pegang jadi aku sedikit sibuk," ucap Amira santai. "Oh iya, ngomong-ngomong soal perjodohan kamu gimana tuh?" ucap Rachel yang seketika membuat Amira kaget hingga terbatuk. "Uhuk-uhuk, duh gak usah ngomongin soal itu deh, males aku bahasnya, gak penting. Lagian sepertinya perjodohan itu akan gagal karena aku sudah punya kekasih sungguhan." ucap Amira sambil menepuk-nepuk dadanya pelan dan meminum air mineral pesanannya. "Oh ya, siapa?" tanya Rachel penasaran. "Devan!" ucap Amira dengan senyumnya. Rachel yang mendengar ucapan Amira tersebut seketika terkejut hingga ia terbatuk. "Uhuk-uhuk.., "Rachel terbatuk. "Eh, kamu gak apa-apa? Minum dulu nih," ucap Amira sambil menyodorkan gelas berisi air kepada Rachel. "Gak apa-apa, aku cuma keselek aja tadi. Oh ya, tadi kamu bilang apa? Devan, pacar kamu?" tanya Rachel yang masih penasaran. "Iya, kami baru resmi menjadi pasangan kekasih sungguhan beberapa hari yang lalu. Ya, kamu tahu kan sejak perjodohan itu aku selalu cari cara agar perjodohan itu batal, sampai akhirnya aku meminta Devan untuk jadi pacar pura-puraku, eh tapi ternyata aku malah jatuh cinta sungguhan padanya dan ternyata Devan juga memiliki rasa yang sama, lucu ya." ucap Amira antusias sambil sesekali tertawa kecil. "Hihi iya-iya, selamat ya. Semoga hubungan kalian langgeng," ucap Rachel dengan nada malas. "Makasih ya, kamu memang sahabatku yang paling the best," ucap Amira. Ia tak tahu dibalik senyumannya, ia sudah membuat luka cukup dalam di hati sahabatnya. Mendengar kabar yang menyakitkan dari mulut Amira, Rachel semakin mantap ingin membuat hidup Amira hancur. Persetan dengan persahabatan diantara mereka. Bagi Rachel, Amira selalu saja mengambil apa yang selalu menjadi incarannya. 'aku gak akan biarin kamu bahagia bersama Devan. Aku akan buat perhitungan sama kamu Mir, tunggu saja pembalasan ku' gumam Rachel di dalam hatinya sambil memasang wajah sinis memperhatikan Amira yang sedang makan. Tak terasa pertemuan antara kedua sahabat tersebut cukup lama hingga akhirnya Rachel memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Amira masih ingin bersama dengan Rachel tapi sepertinya Rachel punya kesibukan yang tidak bisa ditunda. "Mir, maaf ya kayaknya aku harus segera pulang, soalnya ada urusan mendadak," ucap Rachel. "Yahh, baru aku mau ajak kamu shopping," ucap Amira sambil memanyunkan bibirnya. "Iya maaf ya barusan aku dapat pesan dari saudara dan aku harus kesana secepatnya, next kita hangout lagi ya," ucap Rachel. Amira pun mengerti dan tidak akan memaksa Rachel. Rachel pun pergi terlebih dahulu dan Amira masih setia duduk manis di bangku cafe. Rasanya sangat malas sekali ia untuk pulang ke rumah. *** Ddrrtt.. ddrrtt.. Handphone Amira berbunyi, terdapat panggilan masuk hanya nomor saja yang nampak tidak ada nama yang tertera. "Siapa nih yang nelpon, gak ada namanya," gumam Amira lalu mengangkat telepon tersebut. "Hallo, ini siapa ya?" ucap Amira namun tidak ada suara yang terdengar dari seberang telepon. "Hallo, ini siapa sih? Kok gak ada suaranya? Gak usah iseng deh ya," Amira mulai kesal dan ingin menutup panggilannya namun saat ia ingin menutup panggilannya, tiba-tiba ada suara yang terdengar. "Kamu tidak boleh bahagia, kamu harus menderita dan merasakan apa yang aku rasakan. Aku akan buat perhitungan untukmu!" ucap seseorang dari seberang telepon yang spontan membuat Amira buru-buru mematikan handphonenya. Amira pun panik dan bingung, siapa yang berani mengancamnya. Karena takut akan terjadi sesuatu hal Amira pun bergegas untuk pulang. Saat ia sampai di parkiran mobil, ia melihat sesuatu yang mengejutkan di mobilnya. "Kamu harus mati!" ucap Amira membaca tulisan yang terdapat pada kertas yang ditempel di kaca mobilnya. Sontak Amira langsung mengambil kertas tersebut lalu merobeknya. Amira clingak-clinguk mencari keberadaan seseorang di halaman parkir cafe tersebut. Tapi, ia tak menemukan satu orang pun . Amira pun masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya. "Astagfirullah, ada apa ini? Sepertinya ada yang sedang mencoba mengancamku," gumam Amira dan mencoba membuat dirinya tenang. Amira pun bergegas pergi dari cafe tersebut. Ia mencoba membuat dirinya setenang mungkin walaupun sebenarnya dirinya sangat ketakutan tapi ia berusaha untuk tetap tenang mengingat ia sedang menyetir mobil, ia tidak ingin ada hal-hal aneh yang tidak diinginkannya terjadi. Tidak lama, Amira pun sampai di rumahnya dan buru-buru untuk masuk ke dalam kamar. *** "Non Amira, ada paket untuk non, sudah bibi taruh di kamar non," ucap bi Inah sedikit berteriak saat melihat Amira menaiki tangga menuju kamarnya. Tidak menggubris ucapan bi Inah, Amira terus berjalan menuju kamarnya, karena menurutnya kamarnya adalah tempat teraman baginya. Begitu ia masuk ke dalam kamar, ia melihat kotak berukuran cukup besar di atas kasurnya. Perlahan ia mendekati kotak tersebut dan membukanya. "Aaaarrrrgggghhhhh," seketika Amira berteriak ketakutan dan melempar kotak yang ia buka. Bi Inah yang mendengar teriakan Amira pun langsung masuk ke kamar Amira. "Ada apa non, kenapa non berteriak?" tanya bi Inah panik. "I..itu bi di dalam kotak, aku gak mau lihat, tolong buang bi, buang yang jauh. Kalau perlu bibi bakar saja," ucap Amira sambil terisak ketakutan duduk meringkuk di atas ranjangnya. Bi Inah pun segera mengambil kotak yang dimaksud dan benar saja, bi Inah pun terkejut saat melihat apa isi yang terdapat di dalam kotak tersebut. Terdapat sebuah boneka beruang yang lumayan besar tapi telah disobek-sobek bagian perutnya dan dilumuri oleh darah. Entah itu darah sungguhan atau bukan tapi yang jelas itu membuat Amira sangat ketakutan. Bi Inah membawa kotak tersebut keluar kamar dan membakarnya seperti perintah Amira. *** Setelah selesai membakar kotak berisi boneka tadi, bi Inah beranjak ke kamar Amira hanya ingin melihat kondisi majikannya tersebut. Melihat bi Inah datang, Amira refleks langsung memeluk tubuh bi Inah sebagai tanda bahwa ia ingin meminta perlindungan. "Non gak apa-apa?" tanya bi Inah memastikan keadaan Amira. "Amira gak apa-apa bi, tapi Amira takut bi," jawab Amira yang masih diselimuti rasa takut. "Bi, besok lagi bibi jangan sembarangan terima paket dari siapapun itu ya bi," lirih Amira. Bi Inah yang tahu akan ketakutan yang dialami Amira mencoba menenangkannya. "Iya non, maafin bibi ya. Non Amira gak apa-apa kan? Kalau ada yang mau diceritain, cerita saja non bibi siap dengerinnya kok," ucap bi Inah sambil mengelus punggung milik Amira. Amira pun menceritakan kejadian yang ia alami seharian ini karena memang Amira sudah menganggap bi Inah seperti ibu nya sendiri karena bi Inah sudah mengurus dirinya dari kecil bahkan semenjak ibunya tiada saat umurnya 15 tahun hanya bi Inah yang selalu dekat dengan Amira dan paling mengerti Amira. "Bi, seharian ini aku terus diteror sama orang yang gak aku kenal. Pertama ada orang yang menelepon dan mengancamku, kedua ada kertas yang bertuliskan 'kamu harus mati' di kaca mobilku, dan barusan ada yang mengirim boneka yang dicabik-cabik dan dilumuri darah, aku takut bi!" ucap Amira menjelaskan kejadian yang ia alami sembari menangis. "Astagfirullah, non ada musuh atau tidak kira-kira?" tanya bi Inah. "Gak ada bi, aku takut bi, aku takut!" ucap Amira dan memeluk erat tubuh bi Inah. "Ya sudah, non mendingan sekarang istirahat ya, biar bibi temani disini," ucap bi Inah dan diangguki oleh Amira. Amira pun tertidur dipelukan bi Inah. Pelukan hangat dari bi Inah membuat Amira larut dalam mimpi indah. Bahkan ia lupa untuk sekedar membersihkan diri terlebih dahulu. Mengetahui Amira telah tertidur pulas, bi Inah perlahan mengangkat kepala Amira dan meletakkannya di bantal kemudian bi Inah pergi meninggalkan Amira untuk melanjutkan pekerjaan yang telah tertunda. *** Malam pun tiba. Udara malam yang dingin menusuk kulit Amira hingga membuat ia terbangun dari tidurnya. Bi Inah ternyata lupa untuk menutup jendela kamar Amira. Pantas saja angin bisa bebas keluar masuk kamar Amira. "Hoam," Amira menguap dan melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 8 malam. "Pantas saja dingin sekali, rupanya bi Inah lupa menutup jendela," gumam Amira kemudian beranjak untuk menutup jendela kamarnya. Saat ia ingin menutup jendela kamarnya, ia melihat sesosok manusia berdiri tegak di depan pagar rumahnya memperhatikan kamar Amira yang berada di atas. Sontak Amira pun terkejut dan buru-buru menutup jendela dan menguncinya kemudian menutup gorden kamarnya. "Astagfirullah, siapa itu? Kenapa sepertinya dia sedang memperhatikanku dari bawah," ucap Amira sembari mencoba mengintip melalui celah-celah gorden. "Non Mira ngapain?" ucap bi Inah mengagetkan Amira. "Astagfirullah bi, kaget aku! Untung aku gak jantungan," ucap Amira sambil memegangi dadanya yang berdetak naik turun. "Maaf, non. Bibi kesini bawa makanan untuk non, pasti non Mira lapar kan?" ucap bi Inah dan meletakkan makanan diatas meja. "Wahh, iya bi aku laper banget. Makasih ya bi," ucap Amira dan seketika lupa akan sosok orang yang memperhatikannya. "Papah belum pulang bi?" tanya Amira. "Tuan tidak pulang non, beliau pergi ke Kalimantan tadi pagi!" jawab bi Inah. Amira hanya mengangguk paham akan kebiasaan ayahnya yang suka pergi keluar kota untuk mengurus bisnisnya tanpa berpamitan terlebih dahulu padanya. Ia pun bergegas untuk mandi dan setelah itu memakan makanan yang sudah disiapkan oleh bi Inah. *** Amira makan dengan lahapnya mengingat ia memang sangat lapar, saat ia makan Devan meneleponnya. Amira girang bukan kepalang, baru saja nanti setelah makan ia akan menelpon kekasihnya itu tapi Devan sudah terlebih dulu meneleponnya. "Hallo sayang, lagi apa?" ucap Devan dari saluran video call. "Hai, aku lagi makan nih," ucap Amira. "Aku kangen Mir!" ucap Devan to the point. "Hihihi, bisa aja baru juga gak ketemu berapa lama. Mmm, tapi iya deh aku juga kangen kok," ucap Amira malu-malu. "Kalau begitu besok kita ketemu ya, aku jemput," ucap Devan. "Oke aku tunggu!" ucap Amira dan mematikan sambungan video call nya. Mengingat hari sudah malam, Amira kembali untuk tidur setelah menghabiskan makanannya. Ia tidak ingin terlihat kurang fresh saat bertemu Devan besok. Semoga tidurnya nyenyak dan bermimpi indah. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD