Tersulut Emosi

1515 Words
"Hai Dev, rapi amat! Kamu mau kemana?" tanya Rachel saat melihat Devan keluar dari pintu rumahnya. "Ehh, Rachel. Kamu ngapain disini?" Devan bertanya balik. "Mm, mau ngajak kamu jalan!" ucap Rachel dengan senyum yang mengembang. "Maaf, tapi aku gak bisa. Aku sudah ada janji dengan Amira, lain waktu saja ya, bye!" ucap Devan dan meninggalkan Rachel yang terdiam. Mendengar nama Amira disebut, seketika senyumnya pudar, wajahnya menampakkan rasa benci yang amat sangat. Entah mengapa rasanya sangat sakit orang yang dicintai ternyata lebih mengagung-agungkan wanita lain. "Kamu lihat saja Amira, aku gak akan berhenti membuat kamu hancur sehancur-hancurnya sampai kamu benar-benar pergi meninggalkan Devan. Sampai kapan pun aku gak akan rela Devan menjadi milikmu!" gumam Rachel sarkas dengan amarah yang membuncah. Entah sampai kapan kebenciannya terhadap Amira akan pudar. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Rachel pun pergi meninggalkan rumah Devan dengan amarah yang menggebu-gebu. *** Di cafe sudah ada Amira dan Devan yang duduk berdua sambil bersenda gurau. Dua sejoli ini melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. "Dev, aku mau cerita boleh?" ucap Amira tiba-tiba di sela-sela obrolannya dengan Devan. "Boleh lah, apa sih yang enggak buat pacarku ini. Mau cerita apa emangnya, kok kelihatannya serius banget?" tanya Devan penasaran. "Beberapa hari ini sepertinya ada yang sedang menerorku Dev, aku takut!" ucap Amira. "Hah, teror? Siapa yang coba-coba neror kamu?" tanya Devan penasaran. "Aku juga gak tahu, selama ini aku gak pernah punya musuh atau apa pun itu!" ucap Amira dengan wajah murung. "Hey, sudah jangan sedih ya. Aku janji akan selalu melindungi kamu dari apapun, jangan terlalu dipikirkan ya. Jangan sedih dong nanti cantiknya hilang, ayo senyum!" ucap Devan sambil tersenyum mencoba menenangkan Amira. Mendengar ucapan Devan, Amira seperti terhipnotis. Yang tadinya ia murung menjadi kembali tersenyum. Sungguh benar-benar Devan bisa merubah segalanya. Beginikah rasanya mencintai seseorang dan dicintai seseorang. Memiliki seseorang yang mencintai kita sungguh benar-benar bisa membuat hidup lebih berwarna. Oh, andaikan saja ayahnya bisa membuang jauh-jauh pikiran untuk menjodohkannya dan merestui hubungannya dengan Devan, Amira pasti akan selalu bahagia. *** Dari kejauhan tampak sorot mata tajam melihat ke arah dua insan yang sedang dimabuk asmara tersebut. Rachel, ya orang tersebut adalah Rachel. Ternyata diam-diam Rachel mengikuti kemana perginya Devan. "Benar-benar kalian! Lihat saja kamu Amira, aku akan buat perhitungan untukmu, kamu tunggu saja!" ucap Rachel geram hingga kedua tangannya mengepal keras. Rachel mengambil handphone di dalam tasnya dan menghubungi seseorang. "Halo, lakukan tugas yang sudah saya katakan, nanti malam!" ucap Rachel dengan seseorang dari sambungan telepon. Kemudian Rachel menutup panggilan telepon tersebut dan melangkah pergi keluar dari cafe. Sementara dimeja lain masih nampak Amira dan Devan yang masih terlihat bersenda gurau. Sungguh pemandangan yang bisa membuat siapapun yang melihatnya iri. Semoga saja cinta mereka abadi. Semoga. *** Malam pun tiba, Amira pun sudah diantar pulang oleh Devan. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Amira. Semoga hari-hari berikutnya juga seperti ini. Amira pun bergegas untuk sekedar membersihkan diri karena badannya sudah sangat lengket. "Bi, ayah sudah pulang?" tanya Amira ketika melihat bi Inah. "Belum non," jawab bi Inah. "Oh ya non, bibi sudah menyiapkan makan malam untuk non Amira," lanjut bi Inah. Tanpa menggubris ucapan bi Inah, Amira melenggang begitu saja menaiki tangga menuju kamarnya. "Dasar lelaki tua, pergi gak pernah bilang, sekarang kasih kabar pun enggak, ckckck benar-benar tidak ada pedulinya sedikitpun dengan anak perempuannya." Amira bergumam sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya Amira pun bergegas untuk mandi. *** "Arghhh, jangan, tolong…" Bi Inah berteriak histeris. Amira yang baru saja selesai mandi seketika langsung keluar kamar begitu mendengar teriakan dari bi Inah. Dan benar saja, ketika ia membuka pintu kamar dan hendak turun kebawah, dari atas terlihat dua orang yang tidak ia kenal sedang berusaha mengacak-acak rumah Amira. Terlihat juga bi Inah yang mencoba menghalangi pria-pria bertubuh kekar tersebut namun tenaganya tak sebanding dengan mereka, akhirnya bi Inah terjatuh karena terdorong oleh pria bertubuh kekar itu. Melihat kejadian itu, Amira pun bergegas langsung turun ke bawah tak peduli akan bahaya apapun. "Bi, bibi gak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Amira kepada bi Inah dan beringsut memeluk bi Inah yang ketakutan. "Bibi gak apa-apa non," jawab bi Inah. "Ada apa ini? Siapa kalian? Kenapa kalian mengacak-acak rumah saya?" tanya Amira kepada dua lelaki tersebut dengan mata menyorot tajam. "Lo pasti Amira?" tanya salah satu pria bertubuh besar tersebut. "Iya, kalian siapa? Ada perlu apa? Kenapa kalian mengacak-acak rumahku?" tanya Amira dengan emosi yang membuncah. "Lo gak perlu tahu siapa kita. Ini belum seberapa, gue peringatin sama Lo, jauhi Devan kalau Lo gak mau ada hal lain yang lebih parah dari ini yang menimpa Lo ataupun Devan, paham!" ucap pria tersebut dengan mata yang menyeringai tajam sambil mencoba membelai wajah lembut Amira tapi cepat ditangkis oleh Amira. Selesai mengucapkan kalimat ancaman itu, kedua pria tersebut pergi meninggalkan Amira dan bi Inah yang masih diliputi rasa takut ketakutan. "Siapa mereka? Dev-Devan? Apa hubungannya dengan Devan? Kenapa aku harus menjauhi Devan? Ya Allah, teror apa lagi ini? Aku sudah lelah!" gumam Amira dengan ketakutan yang terlihat dari raut wajahnya. Segera ia tepiskan dulu pikiran yang ada di kepalanya. Ia dan bi Inah membereskan sisa-sisa barang pecah belah yang berserakan di lantai. "Bi, kenapa mereka bisa masuk kesini? Kemana para satpam yang berjaga? tanya Amira. "Mang Darso kan pulang kampung non, terus mang Ujang izin karena sedang sakit jadi tidak ada yang berjaga," ucap bi Inah menjelaskan. "Oh iya, aku lupa bi padahal mereka sebelumnya sudah izin padaku, ya sudah ayo bi kita lanjut bereskan biar aku bantu," ucap Amira. *** Sementara, tidak jauh dari rumah Amira kedua pria bertubuh besar itu tengah berbicara dengan Rachel yang menunggu di dalam mobil. "Semua sudah beres bos, saya jamin dia pasti akan ketakutan setelah ini," ucap salah satu pria bertubuh kekar kepada Rachel. "Bagus, ini bayaran kalian!" ucap Rachel sambil menyodorkan uang di dalam amplop berwarna coklat. "Terimakasih bos, kalo ada kerjaan lagi langsung saja hubungi kami!" ucap pria tersebut dan berlalu pergi setelah menerima uang yg jumlahnya cukup banyak. Rachel yang menerima laporan dari kedua orang suruhannya merasa sangat puas. Ia tidak akan segan-segan menghancurkan siapapun yang mencoba mengganggu miliknya, walaupun itu sahabatnya sendiri. "Rasakan kamu Amira, kalau kamu masih terus bersama Devan, aku pastikan akan ada hal baru yang lebih menyakitkan dari ini, lihat saja!" gumam Rachel dan kemudian memutar kunci mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata meninggalkan rumah mewah Amira. Selama perjalanan Rachel merasa ada mobil yang cukup mewah sedang mengikuti dirinya. Rachel pun mencoba menambah kecepatan laju mobilnya. Ciiit… Tiba-tiba saja Rachel menginjak rem dalam-dalam karena mobil yang mengikutinya berhasil memotong jalannya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Kepala Rachel pun bahkan hampir saja terbentur stir mobil. "Sialan, siapa yang coba-coba mengganggu perjalananku?" umpat Rachel kesal karena perjalanannya merasa terganggu. Saat ia hendak keluar dari mobil, tiba-tiba saja dari mobil mewah tersebut keluar dua orang pria bertubuh kekar dengan wajah yang sangar dan satu orang pria bertubuh atletis menggunakan setelan jas rapi dengan wajah dingin nan tampan yang mengekor di belakang dua orang pria bertubuh kekar tersebut berjalan menuju mobil yang dikendarai Rachel dan mengetuk jendela mobil Rachel dengan kasar. "Keluar cepat! Atau gue ancurin nih kaca mobil Lo!" ucap salah satu pria sangar tersebut kepada Rachel. Rachel yang sebenarnya takut, menurut dan mencoba keluar dari dalam mobilnya karena pria-pria tersebut terus saja mengetuk-ngetuk kaca mobil Rachel dengan kasar. "Ada apa? Si-siapa kalian? Kenapa kalian mengganggu perjalananku?" ucap Rachel terbata. Belum sempat dijawab oleh dua pria sangar tersebut, pria bertubuh atletis itu maju dan mulai bersuara. Suara bariton yang khas ditambah paras wajahnya yang sangat tampan membuat jantung wanita manapun berdebar bila di berada dekatnya. "Apa yang kamu lakukan di rumah calon istriku? Kenapa kau mengganggunya? Sepertinya kau ingin bermain-main denganku!?" ucap Andre di hadapan Rachel dengan seringai tajam. "Ca-calon istri? Maksud anda, Amira?" ucap Rachel dengan rasa penasaran. "Ya, perempuan yang terus menerus kau ganggu itu adalah calon istriku, jadi….jangan coba-coba kau menyakitinya atau kau akan terima akibatnya, paham!" ucap Andre. "Hahaha, jadi anda ini Andre calon suami Amira. Hmm, begini ya..aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Jika anda tidak ingin Amira terus ku ganggu, suruh dia untuk menjauhi Devan, karena dengan begitu dia akan terbebas dari teror yang selama ini mengganggunya," ucap Rachel. "Jadi kau cemburu?" tanya Andre. "Kau pikir saja sendiri! Kau pikir aku bisa senekat itu karena apa!" Rachel pun berlalu dari hadapan Andre, namun belum sempat ia memasuki mobilnya itu punya sedikit pesan untuk Andre. "Dengar baik-baik! Cepat nikahi Amira agar ia bisa jauh dari Devan. Jangan sampai ada teror-teror lain yang akan mengganggunya nanti, kalau dia masih terus berhubungan dengan Devan, ingat itu!" ucap Rachel dan kemudian masuk kedalam mobil lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan Andre yang masih berdiri terpaku bersama kedua bodyguardnya. Mendengar ancaman tersebut, Andre pun kembali tersulut emosi. Ia tidak menyangka bahwa Devan mempunyai pengaruh buruk untuk keselamatan Amira. Ia harus benar-benar mengambil tindakan agar Amira bisa terbebas dari teror wanita gila seperti Rachel. Apapun akan Andre lakukan demi keselamatan Amira, terlepas suka atau tidaknya Amira atas tindakannya nanti, itu tidak penting. Yang paling terpenting saat ini adalah menjaga keselamatan Amira. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD