Perpisahan

2077 Words
Pagi hari yang cerah. Amira sudah duduk santai di balkon kamarnya menikmati udara pagi yang sejuk. Setelah kejadian semalam, rasanya Amira enggan pergi ke kantor. Semua pekerjaan dipercayakan kepada tangan kanan di kantornya. Amira hanya memeriksa lewat email yang dikirimkan langsung oleh asistennya. Ia berpikir, pasti masih banyak teror-teror lain yang siap menimpanya. Berbagai pertanyaan bergelayut dipikirkannya. Kenapa harus Devan? Apa hubungannya dengan semua teror ini dengan Devan. Tok tok tok… Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunan Amira. "Siapa?" tanya Amira. "Ini papah sayang, boleh papah masuk?" ucap Robinson dan membuka pintu kamar Amira. Robinson yang datang langsung menghampiri keberadaan Amira. "Amira, papah minta maaf ya sayang karena baru sempat pulang. Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang? Papah sudah tahu semua dari bi Inah, selama ini ada yang meneror kamu terus menerus. Kenapa kamu gak pernah cerita sama papah nak?" ucap Robinson sambil membelai lembut rambut panjang Amira. "Apa papah masih peduli dengan keadaan Amira? Bukankah papah terlalu sibuk dengan bisnis papah sehingga papah lupa kalau papah ini masih memiliki anak!" jawab Amira sengit. "Heyy, papah kerja buat kita sayang.." "Bukan buat kita pah, tapi buat kepentingan papah sendiri dan untuk memperkaya diri papah sendiri!" "Amira, jaga mulut kamu!" Robinson bangkit dari duduknya. "Kenapa pah? Memang benar kan nyatanya begitu? Dari dulu papah tuh selalu sibuk, sibuk, dan sibuk. Gak pernah papah mikirin gimana Amira. Yang ada dipikiran papah tuh hanya uang dan ketenaran. Amira muak pah. Sudah lah pah, Amira sedang malas berdebat, Amira pusing, Amira mau istirahat. Jadi Amira minta tolong..tolong tinggalkan Amira sekarang juga!" ucap Amira dengan emosi yang membara. Robinson yang tahu pikiran putrinya sedang kalut tidak bisa berbuat banyak, ia hanya menuruti perintah Amira. "Nak, sekali lagi maafin papah ya!" ucap Robinson saat hendak ingin melangkah pergi namun tidak ada balasan dari Amira. Karena tidak ingin adanya keributan, Robinson pun pergi meninggalkan Amira yang masih duduk termangu memandangi langit biru. Tak terasa, bulir-bulir air bening yang ia tahan mati-matian akhirnya keluar juga dari kelopak matanya. Ia menangis. Ia menyesali atas sikap papanya yang selalu mengesampingkan dirinya. Andaikan ibunya masih ada, mungkin hidupnya tidak akan semenderita ini. Baginya, percuma hidup bergelimang harta namun sangat kurang rasa kasih sayang dari orang tua. Itu yang selalu dirasakan oleh Amira. Hidupnya hampa, kosong. Dan ketika hidupnya mulai berwarna dengan bersama Devan, ia malah harus merasakan ketakutan yang luar biasa karena teror-teror yang terus mengganggu dirinya. "Mah..Amira kangen mamah, huhuhuhu.." Amira menangis tergugu sambil memeluk kedua kakinya yang ditekuk dan menundukkan kepalanya. *** Ditempat berbeda, Andre sudah berada di restoran milik Devan. Niatnya ingin memisahkan Amira dengan Devan semakin mantap perihal ia tahu apa penyebab teror yang selama ini selalu mengganggu Amira. Terlihat beberapa orang bodyguard sedang mengacak-acak restoran milik Devan. Meja, kursi, dan hiasan ruangan berantakan dimana-mana tak berbentuk. Kaca restoran pun sudah pecah porak poranda karena ulah orang suruhan Andre. "Maaf pak, ada apa ini?" tanya salah satu pegawai Devan dengan takut yang memang tidur di restoran tersebut karena memang restoran tersebut menyediakan mess untuk karyawan laki-laki. "Mana bos kamu, saya ingin bicara dengannya!" ucap Andre. "Beliau belum datang pak karena memang ini masih sangat pagi." "Telepon dia sekarang, suruh bosmu itu datang menghadap saya!" ucap Andre tegas dan membuat pegawai Devan ketakutan. Pegawai tersebut pun langsung menghubungi Devan sesuai perintah Andre. "Ha-halo, pak Devan. Maaf pak, bisa tolong ke restoran sekarang? Ini sangat penting pak!?" "Ada apa memangnya? Nanti siang saja saya kesana, sekarang masih terlalu pagi!?" "Restoran bapak dihancurkan oleh beberapa orang yang tidak saya kenal pak dan dia ingin bertemu dengan bapak, segera!" "Apa? Dihancurkan? Baiklah, saya akan segera kesana!" ucap Devan dan langsung mematikan panggilan teleponnya kemudian bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri. *** Tak lama, Devan pun telah sampai di restoran miliknya. Dan, betapa terkejutnya ia saat mendapati keadaan restoran yang selama ini dibangunnya dengan susah payah dihancurkan oleh orang-orang yang tidak ia kenal. "Apa-apaan ini! Apa yang kalian lakukan pada restoran milikku? Siapa kalian?" ucap Devan dengan lantang kepada orang-orang yang berada di dalam restoran tersebut. Devan melihat seorang pria tengah duduk manis di sofa paling pojok ditemani oleh dua orang berwajah sangat yang berdiri di sisi kanan dan kiri pria tersebut. Ia pun mencoba menghampirinya. Dan..saat ia sampai telah dekat dengan pria tersebut, alangkah terkejutnya ia saat mendapati sosok pria yang sepertinya pernah ia temui sebelumnya. Ia mengingat-ingat siapa pria itu sampai akhirnya lamunannya terpecah karena suara Andre. "Halo, tuan Devan! Masih ingat dengan saya?" ucap Andre dan langsung berdiri menghampiri Devan. "Ka-kamu? Kamu yang waktu itu menyuruh anak buahmu menghajar saya kan sampai saya masuk ke rumah sakit?" ucap Devan setelah ia mengingat semuanya. "Hahaha, rupanya kau masih ingat!" "Tentu saja, dan apa yang kau lakukan di restoran milikku?" "Sesuai ucapan saya waktu itu. Saya akan melakukan apapun agar kau menjauhi Amira!" "Kalau saya tidak mau kenapa memangnya? Lagi pula kita sama-sama mencintai!" ucap Devan lantang. "Hahaha, cinta katamu? Cinta seperti apa yang kau beri? Bahkan kau pun sendiri tidak pernah tau betapa tersiksanya Amira menerima teror terus-menerus karena ia dekat dengan kau. Penyebabnya itu adalah kau!" ucap Andre sambil menunjuk Devan dengan jari telunjuknya dengan geram. Devan pun terkejut, kenapa dia. Apa hubungannya teror yang menimpa Amira dengannya. "Kau tau, jika kau tidak bisa menjauhi Amira, Amira akan terus mendapat teror-teror yang mengerikan di hidupnya," sambung Andre. "Tapi…." "Tidak perlu banyak bertanya, jika kau memang mencintai Amira, kau cukup menjauhinya, biarkan ia hidup dengan tenang. Begitu juga dengan kau. Aku tidak akan lagi mengganggu hidupmu. Semua pilihan ada ditanganmu!" ucap Andre dan berlalu pergi diikuti oleh bodyguardnya meninggalkan Devan yang terdiam. Devan terdiam dan berpikir. Kenapa harus dia. Berbagai pertanyaan terus bergelayut manja di kepalanya. Ia bingung keputusan apa yang harus ia ambil nanti. Satu sisi ia sangat mencintai Amira dan tidak mau kehilangannya, tapi disisi lain, jika ia terus bersama Amira semua masalah-masalah akan selalu datang padanya dan juga pada Amira. Devan bingung, hingga tubuhnya perlahan jatuh luruh ke lantai. *** Di ruang tamu mewah di kediaman Darmoko sudah ada Robinson dan Andre. Ternyata Andre ke rumah Amira setelah ia melampiaskan emosinya di restoran milik Devan. Ia semakin mantap ingin melanjutkan perjodohannya dengan Amira. Karena, dengan begitu tidak ada lagi yang bisa menyakiti Amira. Siapapun itu. "Om, saya ingin membicarakan tentang perjodohan saya dengan Amira. Apa bisa perjodohan itu dipercepat?" ucap Andre. "Kalau om sih setuju-setuju saja. Lagipula, lebih cepat itu lebih baik." Ucap Robinson sambil menyesap teh yang telah disediakan. "Ya menurut saya pun begitu. Kalau begitu, secepatnya saya akan mempersiapkan semuanya. Tugas om hanya bicara kepada Amira, karena saya pasti butuh dia untuk melakukan fitting baju pengantin yang akan kami gunakan," ucap Andre. "Baiklah, secepatnya om akan bicarakan ini kepada Amira. Mungkin besok saat suasana hatinya sudah mulai membaik," ucap Robinson. Sebenarnya hati Robinson pun tak yakin jika akan berbicara dengan Amira, mengingat setiap kali mereka bertemu pasti akan terjadi perdebatan, tapi ia tetap akan mencari cara agar Amira mau menerima perjodohan itu. *** Handphone Amira bergetar di atas nakas. Amira pun mengambil benda pipih tersebut. Ia mendapati pesan di aplikasi hijau miliknya. Banyak pesan berderet tapi satu pesan yang menarik perhatiannya yaitu pesan dari Devan. "Bisa temui aku sebentar ditaman biasa?" Begitulah isi pesan dari Devan. Amira pun tak membalas pesan tersebut. Ia duduk di pinggir ranjangnya dan menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. "Huft, aku harus apa? Apa aku harus menemuinya?" ucap Amira gusar dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Tak seperti biasanya. Biasanya, Amira akan sangat senang sekali jika mendapati pesan atau telepon dari kekasihnya itu, namun kali ini raut wajahnya menunjukkan rasa ketakutan dan kebingungan. Ia terdiam sesaat sambil menatap langit-langit kamarnya dan akhirnya mendapati sebuah keputusan. "Sepertinya, aku memang harus menemui Devan dan membicarakan semuanya." Amira bangkit dan langsung bersiap-siap menuju taman yang sudah dijanjikan. Setelah selesai bersiap-siap, Amira menuruni tangga dengan sangat tergesa. Amira bahkan tak sadar jika di ruang tamu ada Andre dan Robinson yang sedang asyik berbincang. "Amira, kamu mau kemana nak?" tanya Robinson ketika melihat Amira hendak melewatinya. "Oh, ini pah..Amira mau keluar sebentar karena ada urusan penting," jawab Amira tanpa memperdulikan Andre yang berada di ruangan tersebut. Amira pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang rumahnya karena taxi online yang ia pesan sudah menunggunya. Andre yang tahu kemana perginya Amira, membiarkannya tanpa harus mengikutinya seperti biasa. Karena ia sangat yakin, secepatnya Amira pasti akan menjadi miliknya. Dan perlahan ia akan bisa membuat Amira jatuh cinta kepadanya. *** Saat sampai di taman, Amira melihat Devan yang sudah lebih dulu sampai. Amira pun segera menghampiri Devan yang tengah duduk santai di bangku taman. "Hai, maaf membuatmu menunggu!" ucap Amira. "Hai, gak kok. Aku juga baru sampai. Duduk Mir!" titah Devan. "Ada apa Dev kamu ajak aku ketemuan?" tanya Amira penasaran. "Mir…aku bingung harus ngomong dari mana!" ucap Devan lesu dengan kepala tertunduk. "Ngomong aja Dev, gak apa-apa!" "Huuuhhh..begini Mir, sepertinya hubungan ini kita akhiri saja, aku gak mau kamu terus dalam bahaya karena masih berhubungan denganku," ucap Devan menjelaskan. Amira pun terdiam sesaat lalu mulai berbicara. "Maksud kamu apa Dev?" Amira bertanya mencoba mencerna ucapan Devan. "Teror yang menimpa kamu selama ini disebabkan olehku. Sepertinya ada yg tidak suka dengan hubungan kita, sampai dia mencoba terus-menerus meneror kamu." Hening sesaat dan Amira mulai bicara kembali. "Yaa, orang-orang itu pun berbicara demikian," ucap Amira yang tertunduk lesu. "Orang-orang, siapa maksud kamu?" "Orang-orang yang sudah mengacaukan rumahku Dev, mereka bilang aku harus menjauhimu jika tidak ingin ada teror-teror selanjutnya, dan jika aku masih berhubungan denganmu mereka juga akan menyakitimu," ucap Amira dengan kepala sedikit tertunduk. "Kapan kejadiannya?" "Kemarin malam, Dev." "Sepertinya memang kisah kita harus berakhir sampai disini Mir. Walaupun sebenarnya berat untukku, tapi semua ini demi kebaikan dan keselamatan kamu. Dan… lebih baik, kamu terima saja rencana perjodohan papah kamu" ucap Devan dengan suara yang bergetar. "Ya, sepertinya Dev. Walaupun semuanya berat, karena aku hanya mencintai kamu," ucap Amira dan mulai meneteskan air mata. "Gak usah nangis ya, ini semua sudah jadi takdir yang harus kita jalani. Aku yakin, kamu pasti akan bahagia, percaya lah!" Devan mengusap air mata yang terus-menerus jatuh di pipi gadis yang ia cintai. Membelai lembut, dan berangsur memeluk tubuh Amira yang bergetar karena tangis. Amira pun membalas pelukan tersebut. Berat sebenarnya, belum lama mereka merasakan kebahagiaan namun semuanya harus sirna karena ulah seseorang yang tak bertanggung jawab. "Aku antar kamu pulang ya?" ucap Andre sembari melepas pelukannya. Amira hanya mengangguk. Dan mereka berjalan beriringan menuju mobil Devan. *** "Kita sudah sampai," ucap Devan sambil menarik rem tangan mobilnya. Hening, tidak ada suara dari Amira maupun Devan setelah mobil itu terparkir di depan gerbang rumah Amira. Sampai akhirnya, Devan memecah suasana keheningan. "Mir, sudah sampai!" "Hem.." "Kamu kenapa?" tanya Devan. "Aku.. Amira terdiam beberapa saat dan melanjutkan ucapannya. Aku gak bisa jauh dari kamu Dev, huhuhu." Amira pun terisak. Devan yang tak tega melihatnya meraih tubuh Amira dan memeluknya. Pelukan itu dibalas erat oleh Amira. Pelukan hangat yang nanti pasti akan selalu Amira rindukan. "Kita pasti bisa Mir, kalau memang kita berjodoh, kita pasti akan bersama lagi, ini semua demi keselamatan kamu, banyak bahaya yang mengancam kamu jika kita selalu bersama," ucap Devan dengan menangkup kedua pipi Amira dan mengusap air mata Amira yang tidak hentinya berjatuhan. "Tapi…" Belum sempat Amira melanjutkan ucapannya, Devan membungkam bibir Amira dengan bibirnya. Perlahan, Devan mulai mencium lembut bibir mungil berwarna merah muda itu, menyesapi dalam-dalam dan menikmati manisnya bibir milik kekasih yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Amira pun tak mengelak, ia membalas ciuman Devan. Merasakan hangatnya cinta kasih yang Devan miliki. Keduanya pun terhanyut dan terbawa oleh suasana. Perlahan, Devan melepas bibir mungil milik Amira. Dan menyudahi ciuman tersebut. "Manis.." ucap Devan sembari mengusap bibir Amira yang basah dengan jarinya. Mendengar ucapan Devan, Amira hanya tersenyum kecut. Tak mampu jika harus berlama-lama di dalam mobil berdua, karena hanya akan menambah sesak di d**a, akhirnya Amira memutuskan untuk pulang. "Aku harap, kita masih bisa bersahabat nantinya meskipun kita tidak bisa bersama," ucap Amira. "Tentu, karena dari awal kita memang bersahabat," jawab Devan dengan senyum manisnya. "Aku pamit ya." Amira membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. "Iya.." Devan membuka kaca jendela mobil untuk melihat Amira sejenak. "Hati-hati di jalan." "Iya.. aku pergi ya, dahh!?" Devan melajukan mobilnya dan meninggalkan Amira. Amira pun berjalan gontai ke dalam rumah mewahnya. Di dalam benaknya, ia sama sekali tak pernah menyangka kisah cintanya dengan Devan akan berakhir secepat ini. Perpisahan yang tak pernah ia inginkan sebelumya. Dan mau tidak mau, ia harus bisa menerima perjodohannya dengan Andre, meskipun Amira sama sekali tidak mencintainya, mungkin ia akan mencoba untuk mencintainya suatu saat nanti. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD