Saat Amira akan melangkahkan kakinya naik ke tangga menuju kamarnya, ia dikejutkan oleh suara ayahnya.
"Amira, kamu sudah pulang nak?" tanya Robinson.
"Sudah pah," jawab Amira singkat.
"Amira, bisa kita bicara sebentar?"
"Bisa pah," jawab Amira.
Amira pun mengekor ayahnya menuju taman kecil di belakang rumahnya. Amira sudah paham kemana arah tujuan pembicaraannya nanti. Mereka duduk di bangku taman dan saling berhadapan.
"Amira, papah minta maaf ya. Belakangan ini, papah terlalu sibuk sampai papah lupa denganmu," ucap Robinson memulai pembicaraan.
"Gak apa-apa pah, Amira ngerti kok. Maafin Amira juga ya pah kalau belakangan ini Amira selalu marah-marah," ucap Amira sambil memandang wajah lelaki tua dihadapannya.
"Gak sayang, kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah."
"Pikiran Amira sedang kalut pah, belakangan ini Amira selalu saja mendapat teror-teror yang menakutkan," ucap Amira gusar.
"Apa selama ini kamu memiliki musuh nak?"
"Gak ada pah."
"Papah akan utus beberapa bodyguard untuk menjaga kamu mulai hari ini!"
"Gak perlu pah, itu berlebihan. Lagipula Amira gak butuh," tolak Amira.
"Tapi nyawa kamu dalam bahaya nak!"
"Semoga saja sudah tidak ada lagi yang akan menerorku pah," ucap Amira tersenyum.
"Dari mana kamu tahu jika sudah tidak ada yang akan meneror kamu lagi nak?" tanya Robinson khawatir.
Amira hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang ayah. Tidak mungkin ia memberi tahu penyebab ia diteror selama ini karena Devan, bisa-bisa ayahnya akan sangat membenci Devan. Cukuplah ia sendiri yang mengetahuinya.
Mereka berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Sesekali mereka menyesap teh dan menikmati kue yang telah dihidangkan oleh bi Inah.
"Oh ya pah, apa ada lagi yang ingin papah bicarakan? Kalau tidak ada, Amira izin mau ke kamar, Amira mau istirahat pah!" ucap Amira memecah keheningan.
"Sebentar nak. Papah mau membicarakan tentang...perjodohan kamu dengan Andre," ucap Robinson.
"Oh, soal itu. Mulai sekarang, Amira setuju pah. Semua terserah papah, papah atur aja gimana baiknya," ucap Amira tersenyum dan menggenggam tangan Robinson.
"Kamu serius, Amira?" tanya Robinson penasaran.
Amira hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu Amira izin ke kamar ya pah?"
"I-iya nak..kamu istirahat ya!" ucap Robinson dengan sedikit terbata karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Amira pun berlalu pergi dari hadapan ayahnya. Ia mencium pipi ayahnya terlebih dahulu sebelum ia benar-benar meninggalkan ayahnya sendiri yang bingung atas ucapan dan perilaku Amira terhadapnya. Robinson tersenyum senang dan masih benar-benar tak menyangka atas ucapan Amira yang menyetujui perjodohannya dengan Andre. Ia pun segera mengabarkan berita baik ini kepada Andre.
"Hallo, Andre. Segera kamu siapkan semua untuk acara pernikahan kamu dengan Amira ya, om sudah bicara dengan Amira dan Amira menyetujui perjodohan kalian," ucap Robinson setelah panggilan telepon terhubung.
"Benarkah om? Kabar baik sekali ini!" ucap Andre senang.
"Ya, segera kamu urus semuanya ya sebelum Amira berubah pikiran!" ucap Robinson dan menutup sambungan telepon tersebut.
Sementara di dalam kamar, Amira terus saja melamun. Ia hanya bisa pasrah akan takdir yang menimpa dirinya. Dengan terpaksa, ia harus menerima perjodohan itu dan ia harus rela mengubur mimpinya dalam-dalam untuk membina rumah tangga bersama Devan, orang yang ia cintai.
Drrrt..drrrt..drrrt..
Terdapat beberapa kali panggilan masuk yang membuyarkan semua lamunan Amira, namun tak dihiraukan olehnya. Sampai akhirnya terdapat sebuah pesan masuk. Penasaran, siapa yang sedari tadi menghubunginya, ia mengambil benda pipih tersebut. Ia membuka aplikasi hijau miliknya dan membaca pesan tersebut.
"Bersiaplah sekarang, aku akan menjemputmu sebentar lagi. Kita akan pergi ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin."
"Huuh, dasar manusia itu. Papa pasti telah memberitahunya. Sekarang dia pasti sedang besar kepala karena aku sudah menyetujui perjodohan itu," gumam Amira.
Mendapati pesan dari Andre yang mengajaknya pergi, ia sebenarnya sangat malas. Namun ia memiliki sedikit rencana untuk mengerjai Andre. Senyuman licik pun tergambar di bibirnya.
"Kita lihat, aku akan membuat kamu risih oleh sikapku nanti," gumam Amira sambil tersenyum licik.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Cuaca siang hari ini pun cukup cerah. Sejak menerima telepon dari calon mertuanya, Andre membatalkan semua meeting hari ini hanya untuk pergi bersama dengan Amira. Ia akan segera mungkin menyelesaikan persiapan untuk acara pernikahannya nanti.
"Siang om, Amira ada?" ucap Andre yang baru saja datang sambil menyalami Robinson.
"Eh, nak Andre. Ada-ada, Amira ada di kamar. Tunggu saja sebentar biar dipanggilkan oleh bi Inah."
"Kalau boleh, biar saya saja om yang panggil Amira ke kamar!?"
"Oh, tentu saja boleh. Silahkan, om tinggal dulu ya. Om titip Amira ke kamu, om percaya sama kamu!" ucap Robinson sambil menepuk-nepuk bahu Andre.
"Tenang om, Amira akan selalu aman berada di dekat saya," Andre tersenyum.
Andre pun berjalan menghampiri Amira ke kamarnya. Sampai di depan kamar Amira, ia mengetuk pintu kamar Amira.
Tok..tok..tok..
"Amira, ini aku, Andre. Apa kamu sudah siap?" tanya Andre dari luar kamar Amira sambil tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar Amira.
"Amira…"
"Amira…"
Tok..tok..tok..
"Kenapa tidak ada jawaban? Apa aku coba masuk saja ya?" gumam Andre.
Merasa tak ada jawaban, Andre pun penasaran. Akhirnya, ia mencoba membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam kamar Amira. Dan..betapa terkejutnya ia, orang yang ia tunggu ternyata sedang terlelap dalam tidur.
"Huhh, pantesan diketok-ketok gak muncul-muncul, ternyata bidadariku sedang tidur," ucap Andre tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Andre pun menghampiri Amira, mencoba untuk membangunkannya dengan cara menggoyangkan pundak Amira perlahan dan memanggil namanya. Namun cara tersebut rupanya tak efektif. Akhirnya ia mendapatkan ide. Ia akan mencoba membangunkan Amira dengan cara yang lebih romantis seperti cerita-cerita di negeri dongeng. Perlahan ia duduk di tepi ranjang. Ia mulai memajukan tubuhnya hendak mencium Amira, namun naas, belum sempat bibirnya menyentuh bibir Amira, ia terjerembab ke lantai akibat dorongan kuat dari Amira.
"Heh, kamu mau ngapain? Jangan sembarang ya," ucap Amira kesal sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Bukannya marah, Andre malah tertawa melihat tingkah Amira.
"Ckckck..rupanya bidadariku sudah pandai berakting sekarang ya," ucap Andre yang sudah berdiri sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Akting? Maksud kamu apa? Siapa yang akting?" tanya Amira ketus.
"Kamu lah, siapa lagi. Itu buktinya kamu pura-pura tidur."
"Eh, aku memang tidur bukan akting."
"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu siap-siap, aku tungguin," ucap Andre.
"Ck, iya-iya. Ganggu orang tidur aja. Yaudah kamu keluar, tunggunya di bawah aja, jangan disini," ucap Amira lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Kalau aku maunya nunggu disini gimana?"
Amira menghentikan langkahnya dan memutar badannya. Matanya melotot ke arah Andre, membuat Andre tertawa dan Andre pun bergegas keluar dari kamar Amira. Hal seperti ini saja bisa membuat Andre sangat bahagia.
"Baiklah-baiklah, aku keluar. Jangan lama-lama ya mandinya," ledek Andre.
Amira berjalan menghentakkan kaki menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Arrrggghhh, ngeselin banget sih tuh orang. m***m lagi, mau ngapain coba tuh tadi, main nyosor-nyosor aja. Bisa gila aku kalau terus lama-lama sama dia," gumam Amira kesal ketika sudah di dalam kamar mandi.
Andre yang ternyata belum sepenuhnya meninggalkan kamar Amira mendengar ocehan Amira di dalam kamar mandi.
"Mandinya buruan sayang, jangan lama-lama. Atau.. mau aku bantu mandikan?" ucap Andre di depan pintu kamar mandi sambil terkikik.
"Arghhh, dasar m***m keluar gak, tunggu di bawah!?" Amira berteriak kesal dari dalam kamar mandi.
Andre pun tertawa puas karena telah berhasil meledek Amira. Andre pun turun setelah mendengar bunyi shower dan menunggu Amira di ruang tamu.
***
Saat Amira turun, mata Andre tak henti-hentinya melihat kecantikan yang terpancar dari calon istrinya itu. Matanya terpana dengan pancaran wajah Amira. Sedikit polesan bedak di wajahnya, dan menambahkan sedikit blush-on dikedua pipinya, serta memberikan sedikit warna merah muda pada bibirnya, membuat Amira semakin menawan. Dan saat Amira semakin mendekat, indera penciumannya bisa mencium aroma parfum yang khas menguar memenuhi ruangan tersebut. Aroma yang selalu membuat Andre dimabuk kepayang.
"Kedip woyyy," ucap Amira ketika sudah berada dekat dengan Andre.
Andre terkesiap, ia pun menjadi salah tingkah karena ucapan Amira. Dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Kamu cantik!"
"Sudah dari lahir!?" Amira melenggang pergi mendahului Andre.
Andre pun menyusul Amira yang sudah lebih dulu sampai di mobilnya. Andre pun memutar kunci mobil dan menjalankan mobilnya memacu di tengah keramaian ibukota menuju butik ternama di kawasan Senopati.
Bersambung....