Fitting Gaun Pernikahan

1618 Words
Andre dan Amira pun sampai di butik mewah langganan keluarganya. Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju butik tersebut. "Selamat datang pak Andre, bu Amira," ucap salah satu pegawai butik saat melihat Andre dan Amira. "Ya," jawab Andre. "Silahkan pak, bisa dilihat-lihat dulu. Kami menyediakan beberapa pilihan gaun yang sesuai untuk calon istri bapak," ucap pegawai butik. "Oh ya, bisa saya lihat?" "Tentu pak, mari ikuti saya." Andre dan Amira mengikuti langkah pegawai butik tersebut. Dan mereka sampai di depan beberapa contoh gaun pengantin yang dipajang di manekin. Mata Andre pun tertuju pada gaun berwarna putih tanpa lengan dengan memamerkan sedikit bagian d**a agar terlihat lebih seksi. "Mba, saya mau calon istri saya coba gaun yang ini," ucap Andre sambil menunjuk gaun pilihannya. "Wah pilihan pak Andre luar biasa. Gaun ini adalah gaun two piece berbahan sutra yang sangat lembut dengan atasan off-shoulder dan rok yang mengembang. Perpaduan antara klasik dan modern, the best of both worlds pokoknya pak," ucap pegawai tersebut menjelaskan lalu mengambil baju yang menjadi pilihan Andre lalu mengajak Amira untuk mencoba gaun tersebut. Amira hanya menuruti saja kemauan Andre. Ia mengikuti pegawai butik tersebut untuk mencoba gaun pilihan Andre. Ia kemudian masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan gaun tersebut dibantu oleh salah satu pegawai butik tersebut. Setelah dirasa telah selesai, pegawai butik itu keluar terlebih dahulu. "Wahh, ternyata selera manusia itu bagus juga, gaunnya bagus dan juga indah," gumam Amira didepan cermin memperhatikan tubuhnya yang telah terbalut gaun pilihan Andre. Ia keluar dan memperlihatkannya kepada Andre. Saat Amira keluar, Andre langsung terpana melihat kecantikan sempurna yang ada pada diri Amira. Netranya tak berhenti memandangi Amira bahkan hingga tak berkedip. "Kamu, sangat, sangat cantik. Pilihanku memang tidak pernah mengecewakan bukan!?" ucap Andre di belakang telinga Amira, membuat tubuhnya bergidik. "Cih, kau dengar ya, gaunnya tuh biasa saja, karena aku yang memakainya jadi ya kelihatan menarik." "Benarkah seperti itu?" "Iyalah, gak ada istimewanya sama gaun yang aku pakai sekarang, menurutku biasa saja." "Baiklah, tapi aku suka dengan gaun ini, dan ukurannya juga sangat pas di tubuhmu, jadi aku akan ambil yang ini untukmu." "Terserah.." ucap Amira cuek. Amira pun melepas gaun tersebut dibantu oleh pegawai butik. Setelah selesai ia keluar dan duduk di ruang tunggu yang telah disediakan sambil bermain handphone melihat aplikasi birunya. "Mba, saya ambil gaun yang ini," ucap Andre kepada pegawai butik. "Baik pak," jawab pegawai tersebut. Andre pun kemudian berjalan menuju tempat dimana banyak high heels berjejeran. Dan, matanya tertuju pada high heels berwarna bening seperti kaca. Andre mengambilnya dan menyuruh Amira untuk memakainya. "Sekarang, kamu pakai ini," ucap Andre yang sudah berada di bawah Amira sambil melepas sepatu yang dikenakan Amira dan memakaikan high heels pilihannya di kaki Amira. Amira sangat menurut, ia sudah sangat malas untuk berdebat oleh Andre. Apapun yang dilakukan Andre saat ini padanya, ia tidak akan menolaknya. Tapi setelah itu, dia punya sedikit kejutan untuk Andre. Setelah memakai heels nya, Amira pun berdiri. "Sangat pas dan cocok di kakimu. Sangat serasi juga dengan gaun yang tadi kupilih," ucap Andre dengan mata berbinar. "Hemm.." Amira hanya bergumam dan kembali melepas heels tersebut dan menggantinya dengan sepatu yang ia pakai sebelumnya. Andre pun menuju kasir kemudian membayar gaun dan heels pilihannya untuk amira. Serta setelan jas, kemeja, dan juga sepatu untuknya. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju toko perhiasan yang tak jauh dari lokasi tempat mereka membeli gaun pernikahan. *** Setelah sampai di toko perhiasan yang letaknya memang tak jauh dari tempat mereka membeli gaun pengantin, Andre mengajak Amira masuk ke dalam toko tersebut untuk memilih-milih beberapa perhiasan untuk dipakai saat acara pernikahannya nanti. Saat di toko, Amira tiba-tiba memiliki sebuah ide. Ia akan memilih beberapa jenis kalung dengan harga yang fantastis. Tak hanya kalung, ia juga akan meminta gelang, anting, cincin, yang harganya mencengangkan. Sengaja agar perlahan Andre mundur, karena biasanya lelaki tidak akan menyukai wanita yang materialistis. "Wahhh, kalungnya bagus-bagus banget," puji Amira saat melihat jejeran kalung berlian di dalam kaca dan menunjuk salah satu kalung kemudian memakainya. "Bagus," ucap Andre ketika melihat Amira memakai kalung pilihannya. "Hu'um.." Amira mengangguk di depan kaca. "Tapi aku lebih suka yang ini," ucap Andre sambil menyodorkan kalung pilihannya. "Eemm, ini juga bagus. Sini coba aku pakai," Amira merebut kalung yang dipegang Andre lalu memakainya. Setelah kalung tersebut dipakai, mata Andre berbinar melihat Amira. "Sempurna," ucap Andre. "Oke mbak, saya ambil kalung yang ini," ucap Andre kepada pegawai toko dan memberi kalung pilihannya. "Eh, tapi aku mau yang ini juga," ucap Amira merajuk. Tak banyak basa-basi, Andre pun menyerahkan kalung pilihan Amira kepada pegawai toko tersebut. Amira dibuat terkejut, ia pikir Andre akan menolaknya tapi ternyata Andre menuruti kemauannya. "Mbak, saya mau cincin yang ini, gelang yang ini, sama anting yang ini," ucap Amira girang sambil menunjuk-nunjuk pilihannya. Andre mengerutkan dahinya. "Hey, kita hanya akan membeli kalung saja Amira, karena cincin sebelumnya sudah aku pesan jauh-jauh hari." Andre bersuara. "Kenapa memangnya kalau aku minta yang lain? Kamu keberatan?" tanya Amira menyelidik. "Yess, benar kan dugaan aku, dia pasti sekarang ilfil karena aku matre, pasti setelah ini akan ngadu ke papah dan membatalkan perjodohan itu," gumam Amira di dalam hati dan tersenyum menang. "Baiklah, ambil saja semua yang kau suka yang penting kamu bahagia," ucap Andre. Lagi-lagi Amira dibuat terkejut oleh sikap Andre. Jangankan ilfil, marah pun tidak. Senyum yang menghias bibirnya tadi perlahan pun pudar. Rasanya sia-sia saja idenya. Sepertinya memang benar, Andre amat sangat mencintainya, bahkan ia tidak menjadikan masalah sedikit pun tentang begitu banyaknya permintaan Amira. Padahal jelas, jika ditotalkan semua perhiasan yang Amira pilih, harganya sangatlah fantastis. Hampir mendekati satu milyar. Bukan harga yang main-main, mengingat perhiasan yang Amira pilih adalah berlian bukan cuma emas 24 karat. "Saya ambil ini semua ya mba," ucap Andre kepada pegawai toko dan menyerahkan beberapa perhiasan pilihan Amira. Amira hanya cemberut memandangi sikap Andre. Ia bahkan sedang berpikir cara apa lagi yang ampuh yang akan membuat Andre membatalkan perjodohan tersebut. Mereka pun telah usai berbelanja kebutuhan yang diperlukan saat acara pernikahan nanti. Sepanjang perjalanan pulang Amira terus saja menekuk wajahnya. Ia nampak kesal karena rencananya ingin membuat Andre menjauhinya gagal. Andre yang sadar karena terus memperhatikan Amira pun penasaran. "Amira, mau makan dulu?" tanya Andre. "Gak perlu, aku gak laper!" jawab Amira sambil berjalan mendahului Andre. "Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kok cemberut begitu?" ucap Andre penasaran ketika mereka sudah berada di dalam mobil. "Gak apa-apa," jawab Amira singkat. "Oh ya, aku mau nanya, boleh?" sambung Amira. "Tentu saja boleh. Memangnya, apa yang mau kamu tanyakan?" ucap Andre tenang. "Kamu gak keberatan sama sekali membelikan perhiasan sebanyak itu untukku?" "Kenapa aku harus keberatan?" "Total harganya bukan harga yang sedikit loh." "Lalu, kenapa? Buatku uang bukanlah masalah. Apapun akan aku berikan untukmu, asalkan kamu bahagia," ucap Andre tersenyum. Amira hanya mengangguk. Rupanya rasa cinta Andre padanya benar-benar besar. Sepanjang perjalanan pun mereka hanya terdiam. Bahkan karena bosan, Amira sampai-sampai tertidur. "Amira, sudah sampai!" Andre membangunkan Amira yang terlelap tidur. Namun, tidak ada reaksi sama sekali dari Amira. Kesal karena menunggu lama, Andre pun berniat menggendong Amira ala bridal style menuju kamarnya. Perlahan Andre membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh Amira perlahan. Namun, baru sampai di depan pintu rumah, Amira tersadar. "Arrrggghhh, lepaskan aku, turunkan aku. Ngapain gendong-gendong aku segala, aku bisa jalan sendiri, lepaskan!?" teriak Amira sambil memukul-mukul d**a dan punggung Andre. "Salah sendiri, dibangunin aja susah banget, ya udah kugendong kan jadinya," ucap Andre sambil mengedipkan sebelah matanya. "Lepaskan ku bilang, turunkan aku, sekarang!?" ucap Amira tegas. Seketika Andre refleks melepas gendongannya karena teriakan Amira sangat dekat sekali dengan telinganya. Amira pun terjatuh. "Aww, sakit tau. Kenapa kamu lepasin aku?" ucap Amira kesal sambil mengelus-elus bokongnya yang kesakitan akibat terjatuh dari gendongan Andre. "Kan tadi kamu sendiri yang bilang suruh lepasin, sekarang sudah aku lepasin kamu malah marah-marah. Lagian kenapa mesti berteriak, telingaku sakit mendengar suara kamu yang cempreng itu," jawab Andre. "Maksudnya lepasin ya pelan-pelan bukannya dijatuhin gitu aja, emangnya gak sakit, huhh," Amira meringis kesakitan. "Ya sudah, aku minta maaf ya. Sini aku bantu," tawar Andre. "Gak usah, gak perlu, aku bisa jalan sendiri." Amira merajuk dan melangkah masuk ke dalam meninggalkan Andre. Robinson yang melihat kedatangan putri dan calon menantu kesayangan nya pun bertanya karena Amira jalan sedikit pincang. "Sayang, kamu kenapa kok jalannya pincang begitu?" tanya Robinson. "Tanya aja tuh sama calon menantu kesayangan papah," ucap Amira cemberut. "Andre, Amira kenapa?" tanya Robinson yang melihat Andre datang sambil membawa tentengan belanjaan di tangan kanan dan kirinya. "Ohh, ini pah tadi Amira gak bisa diem saat ku gendong, jadinya ya jatuh," ucap Andre lalu meletakkan belanjaan Amira di atas meja ruang tamu. "Ya Allah, kirain ada apa," Robinson tersenyum. "Papah, ih. Kok gak belain aku, malah ketawa begitu," Amira mengerucutkan bibirnya. "Terus papah harus apa sayang?" ucap Robinson membelai lembut rambut Amira. "Papah omelin itu si Andre, lagian ngapain dia pake gendong-gendong Amira segala, emangnya Amira anak kecil apa," ucap Amira merajuk. "Baiklah-baiklah, nanti Andre papah omelin, bahkan papah hukum." Mendengar jawaban papanya, Amira tersenyum puas. Amira berjalan perlahan menuju kamarnya. Andre yang melihatnya pun terus menjahilinya. "Mau aku gendong lagi sampai kamar?" ucap Andre sambil mengedipkan mata. "Papahhh…." Amira berteriak. "Andre…" panggil Robinson. Andre pun hanya tertawa melihat tingkah kekanakan Amira. Benar-benar sangat menggemaskan. Robinson yang melihatnya pun bahagia. Semoga pertengkaran kecil seperti ini akan membuahkan benih-benih cinta untuk Andre di dalam hati Amira. "Om, Andre pamit pulang dulu ya. Ini gaun dan beberapa perhiasan Amira," ucap Andre ketika Amira sudah benar-benar tidak terlihat. "Baiklah ndre, terimakasih banyak ya. Kamu yang sabar menghadapi sikap Amira. Dia memang seperti itu, tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik," ujar Robinson. "Gak apa-apa om. Aku malah senang jadi bisa aku jailin terus." "Andre, Andre. Kamu ini," Robinson tertawa. Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya Andre benar-benar pulang. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD