Dekorasi Yang Indah

1396 Words
Tidak terasa, persiapan pernikahan sudah hampir 100 persen selesai. Ijab kabul akan dilakukan di rumah kediaman Robinson. Sementara acara resepsi akan dilaksanakan di hotel bintang lima di daerah Jakarta Pusat. Andre pun memesan kamar hotel untuk dirinya dan juga amira. Serta untuk orang tuanya yang akan datang saat pesta pernikahannya nanti. Rumah Robinson pun disulap menjadi tempat yang mewah dan menakjubkan. Andre benar-benar melakukannya dengan sangat sempurna. "Bagaimana om, oma, bagus bukan?" ucap Andre kepada Robinson saat mereka tengah melihat hasil dekorasi wedding organizer ternama pilihan Andre. "Fantastis. Kamu memang melakukannya dengan sempurna ndre," jawab Robinson yang terpesona oleh hasil karya wedding organizer tersebut. "Tentu om, semua akan saya lakukan yang terbaik untuk Amira. Apapun itu!?" Andre tersenyum. Ia masih tidak menyangka, hari yang ia tunggu-tunggu sebentar lagi akan terwujud. "Kamu ini memang benar-benar calon suami idaman Andre. Sudah ganteng, baik, kaya pula. Semoga cucuku bisa bahagia bersamamu ya!?" ucap Oma Ratna memuji Andre. Begitulah Oma Ratna, ia memang sangat menyukai pria-pria kaya. Mungkin jika dirinya masih muda, mati-matian ia akan merebut cinta Andre. Sama seperti Robinson, isi otaknya hanyalah uang. Rupanya sifat tersebut bisa menurun. *** Seperti biasa, Amira enggan sekali keluar kamar. Ia keluar kamar hanya sesekali jika ingin mengambil makanan di dapur. Di kamar ia disibukkan oleh pekerjaan kantor yang dikirim melalui email oleh asistennya. Meskipun di rumahnya ada Oma Ratna yang menginap beberapa hari, ia tetap saja tidak ingin keluar kamar. Ia benar-benar sedang malas berinteraksi dengan orang-orang, siapapun itu. Kecuali bi inah. Lain daripada yang lain, biasanya mendekati acara yang paling sakral calon pengantin dan keluarga akan disibukkan dengan segala hal-hal penting untuk acara pernikahan. Tapi berbeda dengan Amira, ia lebih senang menyibukkan diri di dalam kamar. Biarlah semua ditangani oleh Andre dan ayahnya. Toh, pernikahan ini bukanlah keinginan Amira, melainkan keinginan Andre dan ayahnya. Berita pernikahannya pun sudah terdengar kemana-mana. Beberapa teman dan koleganya kerap mengucapkan selamat. Namun, bukannya senang ia malah sedikit risih. *** "Huhhh, lama-lama bosen juga aku di kamar," gumam Amira dan menjatuhkan kepalanya bertumpu pada kedua tangannya di atas meja kerjanya. Tok..tok..tok.. "Siapa?" tanya Amira. "Ini bibi non. Bibi bawain makan siang untuk non Amira," ucap bi Inah. "Masuk bi," perintah Amira. Bi Inah masuk ke dalam kamar Amira dan meletakkan nampan berisi makanan untuk Amira. "Nanti dimakan ya non," ucap bi Inah. "Ya bi, makasih ya." Melihat Amira yang murung, bi Inah memberanikan diri untuk bertanya. "Non, maaf. Kenapa kok wajahnya murung begitu, kan besok non Amira mau menikah!?" tanya bi Inah. "Huhh, gimana gak bete sih bi, pernikahan ini kan bukan maunya aku. Aku juga gak mencintai Andre, bibi tau itu kan." Amira bercerita. "Non yang sabar ya. Pelan-pelan non pasti bisa mencintai tuan Andre." "Gak tau lah bi, aku sepertinya kurang yakin," Amira gelisah. "Bibi liat, non sama tuan Andre sering sekali bertengkar. Hati-hati loh non, jangan terlalu membenci tuan Andre, takutnya nanti non malah cinta mati kepada tuan Andre," ucap bi Inah, sengaja ingin meledek Amira. Amira yang mendengar ucapan bi Inah sontak terkejut dan matanya membulat sempurna. "Apaan bi? Ishh amit-amit jabang bayi, jangan sampai deh bi cinta mati sama tuh orang, bisa besar kepala nantinya," Amira bergidik ngeri sambil mengetuk-ngetukkan kepalan tangannya di kepala dan meja secara bergantian. Bu Inah yang melihat tingkah Amira hanya tertawa kecil. Dan ia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. "Ya sudah, bibi izin keluar ya non mau melanjutkan pekerjaan, masih banyak soalnya," pamit bi Inah. "Iya bi, makasih ya makanannya." Bi Inah hanya mengangguk. Ia pun berlalu dari kamar Amira. Kini tinggalah Amira sendiri. Ia mulai menyantap makan siangnya mengingat dirinya sangat lapar. Ia sedikit senang karena Andre tidak pernah mengganggunya beberapa hari ini karena mereka dilarang bertemu sampai acara ijab kabul selesai. Tiba-tiba Amira teringat oleh Devan. Ia mengambil benda pipih di kantong celananya. Membuka tempat penyimpanan foto dan ia memilih foto devan. Ia memandangi paras tampan lelaki yang ia cintai di layar handphonenya. Bayang-bayang wajahnya selalu melintas di benaknya. Andaikan pernikahan ini terjadi di antara dirinya dengan Devan, sudah dipastikan Amira akan menjadi wanita yang paling bahagia. Namun sayang, impian itu harus pupus. Demi keselamatan dirinya dan juga Devan. Sampai ia mengetahui siapa dalang dari semua teror-teror yang mengganggunya selama ini. Benar saja, sekarang hidupnya jauh lebih aman. Tidak pernah ada lagi teror yang menimpanya. Sepertinya orang itu terus mengikuti gerak-gerik Amira setiap saat. Saat sedang asyik memandangi wajah Devan, tiba-tiba terdapat pesan masuk. "Jangan lupa makan ya sayang, nanti sakit. Ingat, istirahat yang cukup ya karena besok adalah hari spesial untuk kita. Jangan lupa minum vitaminnya ya supaya besok malam kamu bisa melayaniku dengan baik, hihihi." Amira bergidik ngeri setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Andre untuknya. Ia pun berniat membalas pesan tersebut. "Jangan macam-macam ya kamu." "Hahaha, kenapa harus macam-macam? Kamu kan sebentar lagi akan menjadi istriku, jadi kamu pun harus menuruti kemauanku." "Kita akan tidur di kamar terpisah, ingat itu!" Amira mengirim balasan pesan kepada Andre dengan kesal. "Mana ada pengantin baru tidur di kamar terpisah, ada-ada aja kamu ini. Oh ya, aku sudah membeli beberapa lingerie untuk kamu pakai besok malam." Andre mengirim pesan dengan menyisipkan emoticon tersenyum. "Arghhh, dasar mesum." Amira membalas pesan Andre dengan menyisipkan emoticon marah. Saat ini memang emosi Amira tengah memuncak. Selalu saja, setiap ia berinteraksi dengan Andre, pasti ia akan berpacu dengan emosi. Amira pun menyudahi membalas pesan dari Andre. Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa ayahnya bisa menjodohkannya dengan pria m***m seperti Andre. Sedangkan di tempat berbeda, Andre tertawa puas karena telah berhasil mengerjai Amira. Sungguh, ia pun tak ada niat untuk terus-menerus mengerjai Amira. Hanya saja, baginya cara tersebut adalah cara paling ampuh untuknya mendapatkan perhatian dari Amira. Buktinya, pesan yang ia kirim dibalas terus oleh Amira. Itu artinya rencananya berhasil. *** Tak terasa, hari sudah malam. Karena bosan, Amira pun turun dari kamarnya. Ia penasaran akan dekorasi yang disiapkan untuk acaranya besok. Perlahan ia menuruni tangga dan berjalan menuju ke taman belakang rumahnya. Dan...alangkah terkejutnya ia melihat betapa indahnya dekorasi yang dibuat sesempurna mungkin untuk acaranya besok. Amira pun terpana. Netranya tak berkedip memandangi indahnya hiasan dekorasi untuk acaranya esok pagi. Perpaduan warna dan tata cara peletakkan segala aksesoris sangat pas. Mengusung tema klasik dan modern. Tak sadar satu kata berhasil lolos dari bibirnya. "Indahnya!?" ucap Amira dengan mata berbinar. Tak henti-hentinya Amira memuji hasil karya dekorasi yang ada di depan matanya. Sampai, ia dikejutkan oleh ayahnya. "Bagus kan nak?" tanya Robinson yang datang dengan tiba-tiba. Amira terkejut dan menoleh pada sumber suara. "Ehh, papah. Emm, gak kok pah biasa aja ini mah. Menurut Amira banyak sekali yang kurang," bohong Amira. "Masa sih? Perasaan, tadi papah dengar kamu memuji keindahan dekorasi ini," ucap Robinson. "Emm, papah salah dengar itu. Udah ya pah Amira masuk dulu," ucap Amira sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Amira, Amira.." Robinson menggeleng dan tersenyum. Amira pun pergi ke kamar sebelum terlebih dahulu ia mengambil beberapa cemilan dan air mineral untuk di makannya nanti. *** "Si papah nih ngagetin aja. Pasti ngadu entar tuh sm Andre, dan gak lama pasti Andre menelpon atau kirim pesan," gumam Amira yang sudah duduk di sofa di balkon kamarnya. Benar saja, tidak lama ia mengucap terdengar sebuah panggilan masuk, dan itu dari Devan. "Benar kan yang aku bilang, Andre nelpon. Pasti papah nih yang udah ngomong macem-macem," Amira bergumam kesal. Karena handphonenya terus bergetar, akhirnya ia angkat telpon tersebut. "Ya, hallo. Ada apa?" ucap Amira malas ketika panggilan telepon telah tersambung. "Hallo sayang. Sudah lihat hasil dekorasi untuk acara ijab kabul kita besok? Indah bukan?" ucap Andre. "Ya sudah, biasa saja. Gak ada yang menarik. Ternyata seleramu itu benar-benar payah ya," ucap Amira mencebik. "Really? Bukankah kamu memujinya dan tak henti-hentinya memandangi dekorasi tersebut?" Andre meledek. "Duhhh, apaan sih!? Kamu pasti kata papah kan? Dengar ya, papah itu salah dengar tadi. Jadi kamu gak usah kepedean ya. Udah ahh aku mau tidur, cape!?" ucap Amira kesal dan menutup sambungan telepon tersebut. Amira pun mendengus kesal. Mood nya hilang seketika gara-gara Andre. Akhirnya ia memilih untuk tidur. Ia tidak bisa bayangkan, besok adalah hari pernikahannya dan pastinya setelah hari itu, setiap saat pasti Andre akan terus meledeknya. Pikirnya, lama kelamaan dirinya pasti akan menjadi gila karena menghadapi sikap Andre yang usil, atau mungkin malah sebaliknya, Amira akan jatuh cinta kepada Andre. Entahlah. Yang jelas Amira harus siap-siap menjalani hari-harinya bersama dengan Andre yang sebentar lagi akan berstatus menjadi suaminya. Amira pun terlelap dalam tidurnya dan semoga saja Amira bermimpi indah. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD