Sudah hampir jam satu siang. Sam melirik jam tangannya dengan gelisah. Orang yang ditunggu-tunggunya belum juga tiba. Tadi ia sudah mengsms tempat bertemunya di depan lift dekat Time Zone, biar mudah. Sebentar-sebentar ia melirik ke arah jam tangannya. Lift sudah terbuka beberapa kali, namun Denis tidak ada di sana. Apakah Denis betul-betul datang? Jangan-jangan hanya dirinya yang betul-betul mengharapkan pertemuan ini...
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya lembut. Sam berbalik. Denis. Itu Denis.
“Hai, udah lama nunggu?” tanya Denis tersenyum.
“Nggak. Baru aja nyampe,” kata Sam berbohong.
“Laper, nih. Cari makan, yuk. Mau makan apa?” tanya Denis.
“Apa aja terserah,” kata Sam.
“Ya udah, kita ke Sapo Oriental aja. Deket,” usul Denis.
Sam mengangguk dan mengikuti Denis. Seorang pelayan mendekati mereka dan menyediakan sebuah meja. Setelah sibuk memesan, Denis tersenyum sambil memandangi Sam.
“Kamu... berubah. Jadi makin cantik,” puji Denis.
Sam tersenyum. “Thanks,” jawabnya.
“Apa kabar? Kamu kerja di mana sekarang?” tanya Denis.
“Perusahaan advertising. Di Sudirman. Kamu?” Tiba-tiba bahasa Sam jadi sopan.
“Di Menteng. Jadi Asisten Manajer Finance,” sahut Denis.
“Wah, keren juga. Karir kamu bagus,” puji Sam.
“Thanks. Jadi kaku gini. Pake gue elo aja, deh,” kata Denis tertawa.
Seorang pelayan datang membawa baki berisi dua gelas es jeruk dan menaruhnya satu persatu di hadapan Denis, lalu Sam.
“Jadi, ketemu sama Adi di mana?” tanya Denis menyelidik
“Dikenalin temen. Lo sendiri kenal cewek lo di mana? Siapa ya namanya,” kata Sam ringan seolah-olah cuek. Ia menyesap es jeruknya perlahan.
“Oh, Desi. Adiknya teman kantor,” kata Denis.
“Udah berapa lama jalan sama Desi? Udah ngerencanain pernikahan belom?” tanya Sam.
“Belom. Belom tahu. Kita sih udah jalan setahun. Belum serius-serius amat. Lihat nanti, lah. Elo sendiri?” tanya Denis.
“Mm, belum tahu. Masih lihat lagi ke depannya gimana,” sahut Sam.
Keduanya terdiam. Sam menyesap es jeruknya.
“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi selama enam tahun ini? Cerita dong. Biasanya elo banyak cerita,” bujuk Denis.
“Yah, apa ya yang mau diceritain? Bingung,” keluh Sam.
“Orang tua elo gimana?” tanya Denis.
“Baik. Mama di Amrik ngurusin ponakan. Gue punya tiga ponakan. Papa di rumah keluarga barunya. Gue juga udah lama nggak kontak ke dia. Gue hidup sendiri di rumah. Yah, sejauh ini fine-fine aja,” kata Sam.
“Mereka jadi cerai ya, akhirnya?” tanya Denis.
“Iya, lo sendiri tahu ceritanya, kan. Enam tahun yang lalu,” kata Sam pahit.
“Iya, sudah enam tahun ya. Nggak berasa. Sam... mengenai enam tahun yang lalu... gue sori banget...” kata Denis.
“Nggak apa-apa,” sahut Sam cepat.
“Nggak. Gue tahu lo marah. Sakit hati. Tapi saat itu gue nggak bisa apa-apa. Gue masih bau kencur. Jujur gue nyesel, nggak bisa menghibur elo waktu itu...” kata Denis sedih.
Andaikan Denis mengatakan hal ini enam tahun yang lalu...
“Lo pacaran berapa lama sama Nita? Cewek yang waktu itu?” kata Sam nyeri. Nita adalah cewek yang merebut Denis darinya. Teman sejurusan Denis yang tidak henti-hentinya mencari perhatian meskipun tahu pasti kalau cowok itu sudah punya pacar. Mengingatnya membuat Sam merasa muak.
“Putus setahun kemudian,” kata Denis.
“Tapi elo kan, gampang dapet cewek. Udah berapa kali pacaran?” tanya Sam.
“Yah, lumayan. Sekitar sebelas kali, sesudah putus sama elo,” jawab Denis.
Jawaban itu membuat Sam sakit hati. Sebelas kali? Sementara ia terus-menerus melajang dan tidak bisa melupakan mantan kekasihnya yang sedang sibuk dengan Sebelas cewek lain. Bodoh. Benar-benar bodoh.
“Elo sendiri? Pasti udah banyak pacarnya,” kata Denis nyengir.
“Enggak, tuh. Nggak banyak. Gue sempet kosong setelah putus sama elo,” tandas Sam.
“Oh, gitu,” kata Denis terdiam.
Pelayan datang membawakan makanan yang sudah dipesan Denis. Ada cumi garam, sapi lada hitam, dan cah kangkung.
“Ayo dimakan. Ini makanan kesukaan kamu semua, kan?” kata Denis sambil mengambilkan beberapa daging ke mangkuk nasi milik Sam.
“Mau tidak mau Sam jadi terharu. Rupanya Denis belum lupa makanan kesukaannya. Ia melahap makanannya tanpa banyak bicara.
“Habis ini mau ngapain?” tanya Denis.
“Nggak tahu,” sahut Sam sambil melahap makanannya.
“Nonton, yuk,” ajak Denis.
Sam terdiam.
“Eh, pacar lo nanti marah, ya?” tanya Denis tertawa kecil.
Sam terdiam. Apa yang harus dilakukannya untuk menanggapi ajakan Denis? Sam benar-benar bingung. Dadanya berkecamuk. Pikirannya bercampur aduk menjadi satu.
Kapan lagi Sam? Kapan lagi bisa nonton sama Denis? Selama ini bukankah elo bener-bener merindukan dia? Ayolah, Sam! Kalau dulu Denis pernah direbut orang, sekarang giliran elo untuk ngerebut balik...
Jangan Sam. Apa elo lupa sakitnya diduain? Oke, cewek itu emang nggak banget. Tapi kan, tetep aja dia pacar Denis yang sekarang. Jangan ngerusak hubungan orang...
Alah, cewek kayak gitu aja dipikirin? Cewek gatelan kayak gitu diputusin sekali juga langsung nyantol ke cowok lain. Denis juga nunjukin minat ke elo kan? Kapan lagi? Inilah saatnya elo memperbaiki hubungan dengan Denis... Jangan coward begitu dong, Sam...
Sam elo memang berhak untuk bahagia, tapi bukan di atas penderitaan orang lain... Masa elo tega, sih!
Alah, basi! Sekarang nggak zamannya malu-malu. Kalau elo nggak aktif bisa-bisa nggak akan pernah dapet cowok. Denis berharga buat elo kan? Kejar! Rebut! Jadikan dia milik elo!! Sekarang!!!!
“Adi cemburuan, ya?” tanya Denis membuyarkan lamunan Sam.
“Ah, eh... oh... enggak. Kalo mau nonton, boleh-boleh aja,” kata Sam.
Denis tersenyum puas.
Yes!! You go girl!!
Oh, no way! What are you doing, Sam?
******
Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk karya Author berjudul MY SEXY IT GUY dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih.