Siapapun yang melihat Sam dan Adi berjalan beriringan pasti akan menoleh iri tanpa sadar. Keduanya tampak mempesona malam itu.
Yang wanita anggun dan elegan. Wajahnya cantik. Lehernya jenjang. Kakinya sangat indah. Lekuk tubuhnya pun sangat enak dilihat. Tinggi badannya yang 171 cm, membuat Sam tampak bagaikan peragawati kelas atas.
Sedangkan yang pria, tampak matang dan dewasa. Wajahnya yang menarik, penuh dengan rasa percaya diri. Badannya yang cukup atletis membuat postur tubuhnya tampak maskulin. Dengan tinggi badan 184 cm membuatnya sangat serasi bersanding dengan Sam.
Keduanya melangkah masuk ke ruang resepsi dengan mantap, dan segera membaur di antara kerumunan para hadirin. Di dalam, Sam langsung menengok ke kanan dan ke kiri, seolah-olah mencari seseorang.
“Sam, jangan celingak-celinguk gitu dong. Anggun sedikit,” kata Adi sambil merangkul bahu Sam mesra.
“Ups, sori, Di. Kelupaan,” bisik Sam. Ia mencengkeram pinggang Adi erat-erat.
“Sam, pinggang gue sakit. Lo mau main sumo?” bisik Adi jengkel.
“Sori, sori,” bisik Sam nyengir. Ia melonggarkan pegangannya.
“Gimana, temen-temen SMU lo ada, nggak?” bisik Adi.
“Ada, di ujung sebelah sana. Gue udah ngeliat beberapa,” balas Sam.
“Terus, kita mau ke sana nggak?” bisik Adi.
“Eng... enggak usah, deh,” kata Sam ciut.
“Dih, kok ga pede sih? Yuk, kita samperin. Pokoknya gue akan coba semesra mungkin. Oke?” bisik Adi.
Sam ragu-ragu namun akhirnya mengangguk. “Iya, deh,” sahutnya.
Sam dan Adi berjalan sambil bergandengan tangan mesra menuju kerumunan orang-orang yang sudah sangat dikenal Sam di masa lalu.
“Ya, ampuuun! Saaam! Sam kan? Gue pangling! Lo berubah bangeet,” seru Eva menghampiri Sam dengan tatapan tidak percaya.
“Eva! Lama nggak ketemu,” kata Sam menyambut Eva dan saling menempelkan pipi.
“Apa kabar? Lo feminin sekarang, ya?” tanya Eva berbasa basi.
“Baik-baik aja. Lo gimana, udah married?” tanya Sam.
“Belom. Oya, kenalin, ini cowok gue, Fandi,” kata Eva sambil menarik seorang pria mendekat.
Adi mendekat dan merangkul Sam lembut.
“Halo, apa kabar? Kenalin saya Sam, ini pasangan saya, Adi,” kata Sam sambil menatap Adi dengan mesra.
“Duh, mesra amat. Jangan-jangan bentar lagi nyusul,” kata Eva menggoda.
Sam tersenyum mesra ke arah Adi. “Doain aja,” senyumnya.
“Eh, udah ketemu yang lain belum?” tanya Eva teringat.
“Belum,” kata Sam menggeleng.
“Yuk, gue temenin,” kata Eva. Ia menggandeng tangan Sam dan mendekati sebuah kerumunan muda-mudi yang sedang asyik mengobrol. Adi dan Fandi menyusul mereka.
“Saam? Ya ampun, lo berubah banget,” pekik beberapa wanita.
Sam hanya tersenyum.
“Cowok lo ganteng banget. Siapa namanya?” tanya Nina.
Adi mendekat. “Kenalin, ini cowok gue. Adi,” kata Sam memperkenalkan.
“Nina. Adi kerja di mana?” tanya Nina sambil menjabat tangan Adi.
“Saya... “ Adi bingung harus menjawab apa.
“Adi penulis novel. Sebentar lagi bukunya terbit. Doain aja ya,” kata Sam menggamit lengan Adi.
“Wow, saya suka sekali baca novel. Kalo boleh saya minta nomor ponsel kamu dong. Siapa tahu kita bisa ketemu untuk acara diskusi buku,” ajak Nina melancarkan jurus-jurus mautnya. Ia memang cewek yang paling nggak tahan melihat cowok ganteng di depan mata.
“Hubungi Sam aja, ya. Aku takut dia marah, ya nggak sweetheart?” goda Adi sambil merangkul pinggang Sam dengan mesra, dan mengecup telinganya lembut, hingga membuat beberapa teman Sam yang masih lajang berdecak iri.
“Adi...” gumam Sam dengan wajah memerah sampai ke telinga. Baru pertama kali ada cowok yang berbuat sejauh itu padanya. Bahkan dulu Denis pun tidak pernah.
Adi hanya tersenyum sok mesra dan memasang tampang cool.
“Halo, apa kabar semuanya?” tiba-tiba dari arah punggung Sam, terdengar suara seorang cowok yang sangat ditakuti Sam selama beberapa tahun terakhir.
Bahu Sam langsung menegang.
Tubuhnya membeku.
Ia mencengkeram lengan Adi erat-erat.