Chapter 23 : Denis

778 Words
Adi memeluknya lebih erat, berusaha memberikan dukungan. “Tenang, sayang,” bisiknya.             “Deniiis!!! Apa kabar? Aduh, udah lama!” seru Eva menghambur ke arah Denis.             “Baik-baik saja. Nih, kenalin cewek gue,” kata Denis dengan suaranya yang renyah.             Sam masih tidak berani membalik badannya. “Lo harus berani,” bisik Adi sambil perlahan-lahan menuntunnya untuk membalik badan.             Di hadapan Sam, muncul pemandangan yang sama sekali tidak ingin dia lihat selama ini. Denis, masih seperti yang teringat jelas dalam ingatan Sam, tetap menarik dan suka tertawa. Hanya saja tubuh dan wajahnya jauh lebih dewasa daripada sebelumnya. Betapa Sam sangat merindukan wajah itu. Denis menyapa semua teman satu-persatu dengan ramah. Di lengannya, seorang wanita dengan manja memandangnya dengan tatapan memuja.             Sam memandang Denis penuh kerinduan, juga rasa pedih. Betapa ia dulu mencintai pria itu. Betapa Denis adalah hidupnya. Segala-galanya. Dan, cowok yang sangat dicintainya itu mengkhianatinya persis ketika Sam sangat membutuhkannya. Ketika keluarganya retak dan kedua orang tua yang disayanginya bercerai...             Janji satu untuk selamanya yang diucapkan satu sama lain ketika mulai berpacaran hanyalah tinggal ucapan bodoh remaja yang dimabuk cinta. Tidak lebih. Padahal Sam mempercayainya sepenuh hati. Padahal Sam terus menerus percaya. Penipu. Pengkhianat. b******k. Payah.   Dada Sam bergemuruh. Ingin rasanya ia melemparkan sepatunya keras-keras ke arah Denis. Tapi, ia tahu, hal itu tak mungkin dilakukannya. Dadanya terasa sesak. Luapan air mata ingin membobol pertahanan Sam. Ia tidak boleh menangis. Tidak. Tidak boleh. Tidak di depan Denis.   “Sayang, kamu kenal cewek jangkung di situ? Dari tadi dia ngeliatin kamu terus,” kata cewek manja di sebelah Denis menunjuk Sam dengan tatapan tidak senang.             Sam muak melihat cewek itu. Pakaiannya amat minim. Payudaranya hampir meloncat keluar seperti balon air. Punggungnya terbuka hingga ujung belahan bokongnya terlihat. Bagian bawah gaunnya terbelah begitu tinggi hingga celana dalamnya samar-samar terlihat. Sam benar-benar merasa jengah.   Denis memalingkan muka ke arah Sam. Mulanya ia tidak mengenali Sam. Namun matanya kemudian membelalak dan senyumnya yang khas muncul memenuhi wajahnya.             “Sam? Sam kan? Kamu cantik sekali,” kata Denis terpesona. Ia melangkah mendekati Sam, sambil melepaskan pegangan cewek manja yang sejak tadi menggelayutinya seperti kera betina.             “Hai, Denis,” kata Sam datar. “Lama sekali kita nggak ketemu,” kata Denis sambil mengulurkan tangan.             Sam mengulurkan tangannya, bermaksud menjabat tangan Denis. Namun Denis mengubah rencananya. Ia menyambut tangan Sam dan menciumnya dengan lembut, seolah-olah mereka masih sepasang kekasih.             Sekujur tubuh Sam bagaikan dialiri aliran listrik.             “Kamu cantik sekali. Kamu tahu? Aku selama ini selalu memikirkan kamu. Rindu kamu. Mungkin sewaktu-waktu kita bisa pergi berdua untuk saling bercerita,” kata Denis melancarkan senyum mautnya, yang biasanya membuat hati para wanita meleleh.             Saat ini pun Sam hampir meleleh di tempat. Dasar t***l! Bukankah semula ia datang untuk menantang Denis? Untuk membuktikan kalau ia baik-baik saja tanpa Denis? Membuktikan bahwa Denis sangat salah sudah mencampakkannya? Tapi mengapa sekarang ia diam mematung? Tunduk pada pesona Denis? Samantha benci pada dirinya sendiri saat ini. Benci sekali.             Adi tidak tinggal diam. Ia maju mendekati temannya, yang hampir kalah perang. Dengan lembut ia merangkul Sam, sambil melancarkan tatapan permusuhan ke arah Denis.             “Siapa sayang? Teman lama?” tanya Adi dengan suara seksi di dekat telinga Sam. “Kenalin dong,” bisik Adi lagi.             Suara Adi bagaikan siraman air dingin. Sam langsung tersadar dari lamunannya. Dengan canggung, ia menatap Adi dengan tatapan memohon maaf. Maaf karena telah melupakan jerih payah temannya yang satu ini. Maaf karena ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Adi hanya membalasnya dengan senyum pengertian, dan isyarat mata untuk melanjutkan sandiwara mereka.             “Denis, kenalkan. Ini Adi, pasangan gue,” kata Sam akhirnya, setelah berhasil menguasai diri.             Denis sedikit terkejut, namun ia segera tersenyum percaya diri, berusaha menilai Adi. “Halo, apa kabar. Saya Denis, teman lama Sam,” katanya tersenyum basa-basi sambil mengulurkan tangan.             “Saya Adi. Cowoknya Sam,” kata Adi sambil melontarkan senyum kemenangan ke arah Denis. “Kapan kamu kenalan dengan Sam?” tanya Denis penasaran.             Sam diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tapi Adi tampaknya sama sekali tidak kaget dengan pertanyaan itu. Ia tersenyum mesra ke arah Sam.             “Belum lama. Tapi, saya jatuh cinta pada pandangan pertama,” kata Adi sambil mengecup pelipis Sam, melirik Denis penuh kemenangan.             Denis menelan ludah. Seumur-umur belum pernah ada cowok yang berani menantangnya terang-terangan begini soal urusan cinta. Denis sangat yakin dengan ketampanan dan kesuksesannya. Tidak ada cowok yang boleh merasa lebih hebat darinya. Apalagi kalau menyangkut Sam. Cewek yang pernah dipacarinya cukup lama, beberapa tahun silam.             “Sam...” kata Denis namun langsung dipotong oleh Adi.             “Sayang, pengantinnya sudah datang,” kata Adi sambil menggiring Sam menjauh.             “Sampai nanti,” kata Sam kepada Denis. *** Dear Sam Lovers, please bantu author dunk. Kak Glow lagi mau ikut lomba untuk novel baru berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH). Mohon BANTU MASUKIN KE PERPUSTAKAAN ATAU LIBRARY KALIAN DENGAN KLIK LOVE. Please Please Please..... Author butuh bantuan teman-teman semua. Makasih banyak ya kakak-kakak cantik.... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD