Iring-iringan pengantin datang dengan meriah. Diawali oleh beberapa pasang penari, lalu penabur bunga, pengantin, dan keluarga dekat.
Adi membawa Sam bergerak mendekati iring-iringan pengantin, supaya Sam bisa melihat Sekar dengan lebih jelas. Wajah Sekar tampak sangat bahagia. Ia tampak seperti dewi yang turun dari khayangan. Sang mempelai pria sangat gagah. Jelas-jelas wajah yang jatuh cinta. Tanpa disadari air mata Sam menetes. Karena turut bahagia. Juga karena sedih...
“Suatu saat, kamu yang akan ada di sana, Sam,” bisik Adi menghibur.
Sam tersenyum mendengarnya. “Terima kasih, Di,” katanya sambil mempererat rangkulan di lengan Adi lembut.
Mereka kemudian berbaris untuk menyalami pengantin. Perlu menunggu agak lama karena hadirin yang berbaris begitu banyaknya. Mungkin sekitar seribu orang yang hadir di pesta itu. Benar-benar pesta pernikahan besar-besaran. Akhirnya giliran Sam tiba juga.
“Selamat ya, Sekar,” kata Sam tulus sambil menempelkan pipinya.
“Thanks, Sam,” kata Sekar senang. Ia melirik sekilas ke arah Adi yang menyalaminya. “Siapa? Pacar?” tanyanya ke arah Sam.
Sam mengedipkan matanya dengan jahil. “Rahasia,” katanya tersenyum.
Sekar tertawa dan menatapnya penuh arti. Di saat begini pun Sam masih mengajaknya bercanda. Tawa Sekar sedikit banyak menghibur hati Sam dan memulihkan sedikit rasa percaya dirinya. Ia berjalan dengan gagah dan menuruni undakan panggung pelaminan. Tiba-tiba seseorang menginjak gaunnya keras-keras hingga keseimbangannya oleng.
Dengan sigap, Adi buru-buru menangkap Sam ke dalam pelukannya. “Hati-hati, sayang. Jalannya yang anggun,” bisik Adi mengingatkan.
“Sori...” balas Sam dengan muka memerah. Habislah dia!
“”Tidak apa-apa. Tidak ada yang sadar, kok,” bisik Adi menenangkan.
Sam berusaha berdiri tegak. “Thanks...”
“Yuk, makan,” ajak Adi menuntun Sam perlahan. Ia bertingkah seolah-olah tidak ada apa-apa.
Sam mengangguk. “Siapa tadi yang berani nginjek gaun gue?” bisik Sam.
“Elo sendiri, b**o! Siapa lagi?” jawab Adi jengkel.
“Gue kan cuma nanya. Jangan kasar begitu dong,” bentak Sam berbisik.
“Sori...” kata Adi sambil berusaha tersenyum kembali dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Antrian makanan sudah sangat panjang. Sam memutuskan untuk mengantri pempek palembang, sementara Adi mengantri kambing guling. Cewek itu mengambil pempek banyak-banyak dan dua buah garpu, lalu menyingkir dari antrian menunggu kedatangan Adi.
“Adi ke mana?” tanya sebuah suara yang bikin Sam tersentak. Denis. Ia sendirian. Cewek manja yang dibawanya entah berada di mana.
“Ngg... lagi... lagi ngambil kambing guling,” jawab Sam gugup. Hampir saja ia tersedak saking kagetnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tetap tenang.
“Baguslah. Aku lagi ingin ngomong berdua sama kamu. Bisa nggak kita ketemu? Mungkin kita bisa tukeran nomor hp,” kata Denis sambil mengeluarkan kotak kartu nama dari balik saku jas dan menyodorkan sehelai ke arah Sam.
Sam menerimanya dengan ragu-ragu dan berusaha mengambil kartu nama dari tas yang dikempitnya di ketiak, lalu menyadari bahwa ia tidak bisa membuka tas itu dengan satu tangan.
“Kupegangi dulu mangkuknya,” kata Denis tersenyum sambil mengambil mangkuk Sam.
Jemari mereka bersentuhan. Sekali lagi tubuh Sam bagaikan dialiri aliran listrik. Senang. Sakit. Juga rindu. Ia tertegun sejenak memandang Denis, lalu buru-buru merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sehelai kartu nama dari dalam dompet.
“Thanks. Nanti aku call,” kata Denis tersenyum.
“Cewek kamu mana?” tanya Sam basa basi.
“Oh, lagi ngambil makanan. Kamu dan Adi kapan married?” tanya Denis.
“Nggak, masih lama. Kamu sendiri?” Sam balik bertanya.
“Belum tahu,” jawab Denis tak lepas memandang wajah Sam.
Sam terdiam, memegangi mangkuknya. Wajahnya merona, membuatnya tampak semakin cantik.
Denis benar-benar tidak tahan. Ia ingin sekali merengkuh Sam ke dalam pelukannya, seperti masa-masa SMU dulu. Perlahan ia mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh leher Sam yang jenjang dan sangat menggoda.
Tubuh Sam bergetar, menyadari tangan Denis yang mendekat. Namun ia sama sekali tidak berdaya menolak...
Oh tidak... Situasi seperti ini bukanlah situasi yang diinginkannya...
Plak!
Adi datang dengan tergesa-gesa dan menepis tangan Denis dengan keras. Lalu dengan tampang tidak bersalah, ia tersenyum ke arah Sam.
“Ini kambing gulingnya, sayang. Coba buka mulutnya... aaa...” kata Adi berusaha menyuapi Sam, mengalihkan perhatian cewek itu dari mantan pacarnya.
Sam mengambil suapan dari Adi dengan tidak enak hati, tapi Adi mengacuhkannya. Ia tersenyum mesra.
“Enak, kan?” tanya Adi sambil mencubit gemas dagu Sam.
Bagaikan kerbau dicucuk hidung, Sam mengangguk.
Adi menoleh ke arah Denis dengan tatapan mengancam, meski mulutnya tersenyum sopan. “Tadi bicara apa?” tanyanya menyelidik.
Denis jadi salah tingkah. Sial. Sedari tadi pria yang ada di hadapannya benar-benar membuat hatinya jengkel setengah mati. Mau ngajak berantem?
“Nggak, hanya ngobrol biasa,” jawab Denis singkat.
“Cewek kamu nyariin tuh. Kasihan,” kata Adi sambil menunjuk ke arah kerumunan jauh.
Denis menahan malu dengan geram. “Sampai nanti, Sam,” katanya.
“Bye bye...” kata Adi sopan, namun lebih terdengar seperti mengejek.
Denis melotot ke arah Adi yang membalasnya dengan senyum tak bersalah. Namun karena tidak dapat berbuat apa-apa, akhirnya ia pergi.
Sam menarik napas lega. Situasi barusan benar-benar telah membuatnya tegang.