“Elo tuh, gampang banget ketipu sama cowok begituan? Gue meleng dikit, situasi langsung berbahaya,” bisik Adi jengkel. Ia melahap kambing gulingnya penuh napsu.
“Sori, Di. Gue bener-bener nggak bisa ngelawan daya tarik Denis. Sorii...” kata Sam malu sendiri.
“Udah, jangan minta maaf ke gue. Yuk, habis ini kita ngantri makanan utama,” ajak Adi.
“Tapi, gue haus,” kata Sam.
“Gue aja yang ngambilin. Lo tunggu di sini,” kata Adi. Ia bergegas pergi menuju meja berisi penuh minuman.
Benar-benar merepotkan, batin Adi, Cewek ini benar-benar tidak bisa ditinggal sendirian. Lawannya buaya lapar. Bukan lawan yang mudah. Adi mengambil segelas air mineral dan meminumnya sampai habis. Lalu ia mengambil segelas untuk diberikan kepada Sam.
“Permisi,” kata Adi menyenggol, pasangan suami istri paruh baya.
“Oh, nggak apa-apa,” kata pria yang disenggolnya sambil membalik badan menengok sekilas ke arahnya.
Darah Adi langsung berhenti mengalir.
Pria paruh baya itu pun melotot tak percaya ke arahnya.
Ini buruk. Benar-benar buruk.
“Adi?” tanya pria paruh baya itu.
“Sa... salah. Salah orang,” jawab Adi gugup dan buru-buru menghilang ke balik kerumunan.
Celaka. Celaka. Ia harus secepatnya pergi dari sini.
Adi buru-buru menghampiri Sam. “Minum cepetan,” perintahnya panik.
“Ada apa?” tanya Sam kebingungan.
“Udah cepet minum. Kita harus pergi sekarang juga. Bokap nyokap gue dateng. Tadi gue kepergok. Gawat!!” kata Adi semakin cemas.
Dari balik kerumunan, sosok ayahnya hilang timbul. Pria paruh baya itu jelas-jelas sedang mencari anaknya yang baru saja ditemuinya.
“Cepet!!” bentak Adi tidak bisa menunggu lagi. Ia menarik tangan Sam, dan dengan tergesa-gesa berjalan menuju pintu keluar.
“Adi!” seru seseorang dari kejauhan.
Adi semakin mempercepat langkahnya. Begitu sampai di pelataran parkir, ia buru-buru berlari kecil. “Gue duluan!! Biar nggak ketahuan!!” seru Adi sambil berlari meninggalkan Sam.
Dengan secepat kilat, Adi menghilang di antara mobil-mobil yang diparkir. Sementara itu Sam berjalan perlahan. Di dekat pintu masuk, seorang pria paruh baya dengan tergopoh-gopoh keluar menyusul dan melihat ke kanan dan ke kiri. Sam terus berjalan menjauh, ke balik badan mobil yang terparkir agar tidak terlihat.
“Sial!!” umpat pria paruh baya itu keras-keras sambil membanting kakinya. Lalu dengan marah ia kembali masuk ruangan.
Trrrrlt... Ponsel Sam berbunyi.
“Adi? Situasi aman. Gue sekarang sedang menuju ke mobil. Tunggu ya,” kata Sam lalu mematikan ponsel.
Pelan-pelan Sam menuju parkiran dan menemukan Adi sudah menunggu di mobil dengan gelisah.
“Yuk, cabut!” perintah Sam dan dengan segera mobil kijang tua miliknya keluar dari pelataran parkir Balai Sudirman.
“Aduuuh, gue masih laper nih. Tadi nggak sempet makan banyak,” keluh Sam.
“Soriii. Abis darurat. Nyaris aja ketahuan,” kata Adi. “Ya, udah mau mampir ke mana?”
“Ke mana, ya? Ya udah. Makan bubur Menteng aja deh. Yang ada di pinggir jalan,” usul Sam.
“Oke,” sahut Adi mengarahkan mobil menuju kawasan Menteng.
Mobil kijang tua itu perlahan-lahan menyusuri kawasan Menteng dan parkir di pinggir jalan kecil yang dipenuhi mobil-mobil berkelas yang juga sekadar mampir untuk makan bubur. Adi turun dari mobil dan memesan dua mangkuk bubur beserta dua botol teh, lalu masuk kembali ke dalam mobil.
“Gue yang bayar aja deh kali ini,” kata Adi.
“Nggak usah. Bayar sendiri-sendiri aja. Elo nggak hutang apa-apa sama gue kok, Di,” sahut Sam.
“Ini cewek. Udahlah, sekali aja kenapa?” kata Adi jengkel.
Oke, deh. Kalo elo maksa,” kata Sam menyerah.
“Nah gitu, dong,” kata Adi tersenyum tipis.
“Thanks ya, Di,” kata Sam tulus.
“Alah, bubur doang,” kata Adi.
“Bukan. Bukan bubur. Thanks, udah berada di sisi gue saat gue butuh. Untung ada elo tadi. Kalo nggak...” kata Sam menerawang.
“Alah gitu aja dipikirin. Eh, buburnya udah dateng,” kata Adi sambil membuka kaca jendela, menyambut dua mangkuk bubur plus dua teh botol.