Hampir seminggu berlalu dari pesta pernikahan Sekar. Sam kembali sibuk dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Adi hampir menyelesaikan novelnya. Mungkin besok akan dikirim.
Trrrrlt... ponsel Sam berbunyi. Dari nomor tidak dikenal...
Siapa lagi kali ini?
“Halo?” kata Sam.
“Sam? Ini Denis,” kata suara di ujung seberang sana.
Deg! Jantung Sam terasa berhenti berdetak.
Denis.
Denis.
Hampir saja ia lupa. Dua hari bertutut-turut, Sam diam-diam mengharapkan teleponnya. Namun Denis tidak menelepon. Kini setelah hampir satu minggu berlalu, ketika Sam belajar untuk melupakan kehadirannya, Denis kembali menghubunginya. Apa maunya?
“Lagi ngapain?” tanya Denis.
“Kerja,” jawab Sam singkat.
“Kamu hari Sabtu besok ada waktu?” tanya Denis.
“Nggak tahu. Mungkin di kantor, lembur,” jawab Sam.
“Aku ingin sekali ngobrol sama kamu. Kapan kamu ada waktu?” desak Denis.
“Denis, untuk apa?” sahut Sam tanpa basa-basi.
“Yah, nggak apa-apa kan? Kita ngobrol sebentar. Lagipula kita kan teman lama. Apa salahnya?” desak Denis.
“Kalau begitu kita ketemu di Mal Taman Anggrek jam satu siang,” kata Sam mengalah.
“Sip. Kalo begitu. Sampai Sabtu nanti,” kata Denis senang.
Telepon b******k. Apa maunya Denis? Sialan! Sam jadi nggak bisa konsentrasi kerja.
“Ngelamun aja. Kerja,” tegur Nugraha sambil lewat.
“Lagi butek,” keluh Sam.
“Cuci muka, sana!” saran Nugraha sambil nyengir.
Hari ini benar-benar hari yang mendebarkan. Akhirnya novel yang ditulisnya selesai juga. Adi sudah membaca ulang dua kali dan rasanya semua kalimat yang kurang enak sudah diperbaiki. Sempurna. Beberapa hari yang lalu ia juga sudah menyempatkan diri pergi ke kawasan elektronik
Mangga Dua untuk membeli printer dan tinta.
Setelah menyusuri beberapa toko, Adi berhasil mendapatkan printer yang harganya di bawah satu juta rupiah, plus tinta yang hemat dengan harga di bawah seratus ribu rupiah. Kertas ukuran A4 sebanyak dua rim sudah menunggu di kamarnya, lengkap dengan amplop cokelat besar lima lembar.
Dengan perlahan, Adi menekan perintah print di layar komputer. Sedetik. Dua detik. Namun tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya, muncul peringatan di layar komputer bahwa ada masalah dalam mencetak. Adi membatalkan perintah cetak barusan dan memberikan perintah yang baru. Lagi-lagi terjadi hal yang sama. Printer barunya sama sekali tidak mau mencetak. Duh, ada apa sih?
Adi mengecek kabel USB yang menyambung antara laptop dan printer, namun semua baik-baik saja. Ia mengecek sambungan kabel laptop ke stop kontak. Tidak ada masalah. Sambungan kabel printer ke stop kontak pun tidak bermasalah. Lalu mengapa printernya sama sekali tidak mau menurut?
Adi mengamati printernya beberapa saat dengan cemas. Mengapa di saat penting begini masalah selalu datang? Tiba-tiba ia tersadar.
“g****k banget gue. Pantesan nggak mau nyala. Gue nggak teken tombol on ternyata,” seru Adi tertawa lega, menertawakan kebodohannya sendiri.
Berikutnya printer baru Adi dengan mulus mencetak lembar demi lembar. Bagaikan nyanyian surga di telinga Adi, dengung mesin printer itu berbunyi terus menerus. Akhirnya selesai. Ia menyimpan file novelnya ke dalam disket sebagai soft copy, lalu bergegas pergi ke tukang jilid untuk merapikan naskahnya.
Adi membawa bungkusan cokelat berisi naskah, bagaikan benda berharga. Dengan sumringah, ia menunggu kendaraan umum di pinggir jalan, menuju Pal Merah, tempat salah satu penerbit besar berada.
Adi memandangi gedung besar yang dimasukinya. Jadi disinilah tempatnya naskah-naskah diseleksi, batinnya. Ia cengengesan sendiri di depan pintu masuk.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya seorang Satpam curiga.
“Oh, iya. Saya mau ke bagian editor fiksi. Lantai berapa, ya?” tanya Adi, berusaha menunjukkan ekspresi tenang, meski sejak tadi jantungnya terus menari hula-hula.
“Oh, Mas naik lift ke lantai lima. Sebelumnya titip KTP ke resepsionis dulu untuk ditukar tanda pengenal,” kata Satpam itu sambil menunjuk ke arah meja resepsionis di bagian dalam.