Chapter 27 : Di Dalam Lift

843 Words
“Makasih, Pak. Mari,” kata Adi sopan. Ia bergegas ke meja resepsionis dan menukar KTP miliknya dengan tanda pengenal, lalu menuju lift.             Beberapa orang ikut masuk ke dalam lift. Wajar. Jam-jam segini mungkin karyawan baru kembali dari makan siang. Adi berdiri agak merapat ke dinding belakang lift. Semuanya baik-baik saja sampai tiba-tiba semua tombol angka di dalam lift menyala dan gerakan lift berhenti mendadak.             Ups, ada apa ini?             “Waduh, macet lagi ya? Padahal saya ada meeting sebentar lagi,” keluh seorang pria berusia awal tiga puluhan.             “Kemarin bukannya udah dibetulin?” sahut seorang wanita muda. Umurnya mungkin sekitar awal tiga puluhan.             “Aduh, cepetan dong. Aku paling nggak tahan lama-lama di dalam lift,” keluh seorang wanita muda yang cantik. Umurnya mungkin sebaya dengan Adi. Ia menekan tombol darurat berulang kali.             “Sabar, Tasya. Tenang. Sebentar lagi juga dibukain,” hibur wanita yang lebih tua.             “Tapi Mbak Laras, aku udah nggak tahan. Aku paling takut kejebak lift kayak gini. Dulu pernah kejadian, di kampus, dan rasanya nyeremin banget,” keluh Tasya, mengigit-gigit bibirnya gelisah. Keringatnya mulai bercucuran.             Pria muda itu membuka ponselnya dan menelepon. “Halo, Ben, darurat!” kata pria itu. “Lo, di mana, Dri? Bos dah nungguin. Rapat dah mau mulai,” seru suara di ujung sana. Suaranya kedengaran di seluruh ruangan lift.             “Bukain lift! Gue kejebak! Haloooo? Halooo? HALOOO!!!” seru pria itu berteriak-teriak. Ia melihat ke ponselnya dan mengumpat, “b******k. Low batt!!”             “Ponsel saya ditinggal di kantor,” keluh Laras menyesal. “Saya punya juga,” sahut Tasya.             Adi mengecek ponselnya, dan melihat bahwa baterenya sekarat. “Saya juga low batt.” “Terus gimana sekarang?” tanya Tasya berharap. “Ya, udah, terpaksa nunggu. Oh ya, kayaknya saya lupa-lupa inget. Saya Andri, bagian marketing. Mbak?” tanyanya sambil memperkenalkan diri. “Saya Laras. Dia Tasya. Kami editor bagian fiksi,” jawab Laras. Jantung Adi serasa meloncat keluar. Horee!! Ada editor fiksi di dalam lift bersamanya!!! “Mas, tamu ya? Mau ke mana tadinya?” tanya Tasya melirik kartu pengenal yang menggantung di d**a Adi.             “Iya. Saya mau nganter naskah ke bagian fiksi, lantai lima,” kata Adi berusaha menahan senyum. Jangan sampai ketahuan kalau sebenarnya ia girang banget dengan situasi ini. Mm, siapa tahu karena nggak ada kerjaan di lift, mbak-mbak ini mau melihat naskahnya dan menyetujuinya? Mm, bukan ide buruk...             “Ooo... fiksi apa Mas?” tanya Laras. “Fiksi dewasa. Mbak...” jawab Adi terputus.   Gggrk!! Belum selesai Adi bicara, tiba-tiba lift berguncang keras. Gggrk!!             “Tidaaaak!!! Jatuuuuh!!!!” Tasya menjerit keras sambil menutup telinganya dengan tangan. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Ia berjongkok ketakutan dan mulai menangis terisak-isak.             “Nggak, nggak ada apa-apa,” hibur Laras.             Adi berpegangan pada dinding lift. Hatinya mulai ciut. Bagaimana nasibnya? Jika lift ini benar-benar jatuh, mungkin editor yang cantik-cantik ini akan mati. Dan itu berarti gawat!!   Mengapa gawat?   Ya, tentu saja! Mereka pasti tidak akan sempat membaca naskah yang sudah ditulisnya dengan susah payah.   Tunggu, tunggu!! Ada yang lebih gawat!!   Bagaimana kalau lift ini jatuh dan terbakar? Jangan-jangan naskahnya ikut terbakar tanpa ada seorang editor pun membacanya. Oh, tidak!! Ini benar-benar gawat!!!             “Sudah dua puluh menit. Kok nggak ada yang datang juga, ya?” keluh Andri gelisah sambil memencet tombol darurat beberapa kali. Mukanya tampak pucat. Keringatnya mulai bercucuran dengan deras. Ia bersandar ke dinding lift, dan merosot ke bawah, hingga terduduk di lantai.             Laras masih sibuk menenangkan Tasya.             Memang, udara di dalam lift mulai sumpek. Suhu pun kini terasa panas. Adi mengoyang-goyangkan kemejanya, supaya sedikit lebih sejuk.             “Kenapa, Mas Andri? Sakit?” tanya Adi sambil ikutan duduk bersila di lantai. “Sakit perut. Tiba-tiba,” kata Andri mengangguk dengan wajah pucat. Adi tersenyum simpati.             Peeesss... Tiba-tiba ada bau tak sedap...             Adi berusaha menahan napas, sambil mati-matian tersenyum sopan. Tapi, percuma. Bau busuk terus menerjang masuk hidungnya hingga perutnya terasa mual. Ia tidak bisa lagi berpura-pura seolah-olah semua baik-baik saja.             Semua saling memandang, dengan tatapan menuduh. “Oalaah, siapa ya yang ngebom?” tanya Laras dengan nada manis menusuk. Tidak ada yang menjawab...             Peeeessss.... Bau itu tidak kunjung hilang, malah bertambah kuat. BRUT!! Bruuut!! Sekarang sudah jelas siapa pelakunya.   “Ampun, deh, Mas Andri. Makan apa sih?” keluh Laras jengkel. “Sori. Nggak bisa ditahan. Sakit sekali,” kata Andri merintih. “Aduuuuh!!!” keluh Tasya.   Gila! Bau banget! Kayak bau telor busuk, batin Adi. Ia menutup hidungnya rapat-rapat.   “Soriiii, saya udah mati-matian nahan. Nggak bisa,” keluh Andri kesakitan. BRUUT!! Bruuuuuut!!!!             “Lama-lama kita bisa mati sesak napas, kalau Mas Andri kentut terus!!” bentak Laras meledak. Tadi Tasya yang harus dihibur, kini Andri bikin masalah.             Adi melirik ke arah Andri. Cowok itu mengipas-ngipas dengan tangannya. Mukanya benar-benar pucat. Kasihan. Ia tampak betul-betul menderita. Tapi, Adi tidak bisa berbuat banyak selain tidak ikut-ikutan memaki pria yang malang itu.             Bletak!!   Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dengan keras. Adi menoleh. Oh, tidak!! Tasya pingsan!!             “Tas, Tasya bangun! Bangun, Tas!! Tasya!!” seru Laras panik sambil menampar wajah cewek cantik itu berulang kali. Namun Tasya tidak kunjung sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD