Adi membuka tas ranselnya dan merogoh-rogoh. Ada sebuah majalah otomotif yang baru dibelinya di dalam. Ia tadi dengan sengaja beli majalah untuk mengisi waktu kalau-kalau disuruh menunggu.
“Dikipasin aja, Mbak Laras,” usul Adi sambil menyodorkan majalahnya.
“Ya, ya, betul juga,” kata Laras mengambil majalah Adi dan mulai mengipas-ngipas.
Plup!!
Tiba-tiba semua gelap.
Oo...oh!!
Ini buruk! Buruk sekali.
“Lampunya mati, ya,” kata Adi berusaha memecah keheningan.
Tidak ada yang menjawab.
Brrruuuuut!!!!
Lalu hening...
Entah berapa lama waktu berlalu. Rasanya Adi sudah berubah wujud menjadi tikus got saking lamanya. Di hari yang awalnya mendebarkan, Adi kini harus berakhir di dalam lift macet yang sempit dan berbau busuk, dengan satu orang sakit dan satu orang pingsan, lengkap dengan mati lampu segala.
Gggrrrk!! Grrrk!!
“Bunyi apa itu?” tanya Adi cemas.
“Jangan-jangan liftnya mau jatuh,” sahut Laras perlahan.
Tak ada yang berani bergerak. Semua menahan napas...
Grrrrkkk!!!
Oh, Tuhan! Jangan kau ambil nyawa hambamu secepat ini. Saya belum sempat jadi penulis. Belum sempet kawin juga. Saya nggak mau jadi mayat tidak dikenal. Jangan biarkan lift ini jatuh... batin Adi.
GRRRRRKKKKK!!!!!
Adi memejamkan matanya rapat-rapat. Percuma. Tidak ada harapan. Sebentar lagi ia akan hancur berkeping-keping. Selamat tinggal Indonesia... Selamat tinggal Jakarta...
GRRRRRRKKKK!!!!!
“Ya, tarik lagi!!” seru seseorang dari kejauhan.
Dari pintu bagian atas lift, terlihat cahaya yang menyilaukan. Perlahan-lahan pintu lift di buka.
Adi memberanikan diri mengintip. Siapakah mereka? Malaikat? Apakah ia sudah sampai di surga?
“Terus tarik!! Ya, tahan!!” seru seseorang.
“Waduh, cuma sepertiga pintu yang bisa dilewatin. Mbak, Mas, yang di dalam lift, bisa manjat?” seru seorang petugas lift.
Huaa!!! Adi meloncat bangun. Ia masih hidup!! Itu petugas lift!!!
“Bisa, bisa. Tapi ada yang sakit satu, pingsan satu,” seru Adi kegirangan.
“Saya keluar duluan. Udah nggak bisa ditahan lagi,” pinta Andri merintih.
“Iya, iya,” sahut Adi kasihan.
“Ambil tangga. Talinya mana?” seru petugas lift kepada rekannya.
Semuanya berlangsung cepat. Andri dikeluarkan paling duluan. Ia dibantu seorang petugas lift untuk naik, dan dipapah sampai ke toilet. Orang-orang yang berkerumun untuk menonton semakin banyak, seperti lebah.
Seorang petugas lift turun ke dalam lift dan menggendong Tasya sampai ke pintu. Di luar, rekannya menarik Tasya keluar. Wanita cantik itu dibopong ke ruang terdekat untuk beristirahat.
Berikutnya adalah Laras. Ia bisa naik sendiri, dengan sedikit bantuan. Wajahnya sudah amat lelah, tapi ia masih bisa tertawa terbahak-bahak begitu lolos dari dalam lift.
Terakhir, tentu saja Adi. Dengan gagah, Adi naik sendiri keluar lift tanpa bantuan petugas lift.
Bletak!
“Adaaaw!!!” rintih Adi. Saking terlalu semangatnya keluar sampai-sampai kepalanya terbentur dinding lift. Ada-ada saja. Akhirnya batal deh, keluar lift dengan keren. Meskipun demikian semua orang bersorak-sorai begitu Adi keluar dari lift. Semua orang tiba-tiba menjadi ramah dan ingin tahu.
“Duduk, dulu Mas. Pasti kaget, ya?” ajak seseorang dengan sopan. Adi di bawa masuk ke ruang tamu yang nyaman di bagian dalam. Es teh manis yang menyegarkan langsung disuguhkan untuknya. Perlahan-lahan Adi minum sambil memperhatikan sekeliling.
“Ini di mana ya, Mbak?” tanya Adi sopan.
“Ini di lantai lima. Mas mau ke mana?” tanya karyawati itu sopan.
“Ke lantai lima. Mau ketemu editor fiksi. Saya mau menyerahkan naskah novel,” kata Adi. Ternyata ia sudah berada di tempat yang tepat.
“Novel apa, Mas? Dewasa, remaja, atau anak-anak?” tanya karyawati itu lagi.
“Dewasa,” sahut Adi.
Laras berjalan melaluinya sambil tersenyum sopan.
“Wah, kebetulan. Mbak Laras, Mas ini mau ketemu sama Mbak rupanya,” kata karyawati itu.
“Oh, mau ketemu saya?” tanya Laras menghentikan langkahnya. Ia menghampiri Adi dan duduk di salah satu sofa.
“Iya, mau menyerahkan naskah novel fiksi dewasa katanya,” sahut karyawati itu.
“Waduh, kebetulan. Malah kenalan di dalam lift. Malu-maluin aja,” kata Laras tertawa kecil.
“Iya, Mbak. Tapi untung kita selamat, ya,” kata Adi berbasa-basi.
“Iya, memang liftnya musti dibenerin. Mana naskahnya?” tanya Laras.
Adi mengambil naskahnya dari dalam tas, dan mengulurkannya. Laras langsung membuka dan melihat isinya sekilas.
“Yo, wis. Nanti saya baca dulu. Tunggu tiga bulan, ya. Nanti kita kabari. Mira, tolong bikinin surat tanda terimanya,” pinta Laras kepada karyawati itu.
Mira mengangguk dan membawa pergi naskah milik Adi.
“Nggak kerja, Mas?” tanya Laras berbasa-basi.
“Oh, nggak. Saya ngajar privat. Sore,” jawab Adi kikuk.
Tak lama kemudian Mira kembali, membawa sehelai kertas berisi tanda terima resmi, dengan kop surat dari penerbit yang bersangkutan.
“Oke, nanti kalau belum ada kabar juga, telepon ke nomor ini. Cari saya. Tiga bulan, ya Mas Adi,” kata Laras sambil menunjukkan nomor telepon yang tertera di dalam kertas tanda terima.
Adi menerimanya dengan tersenyum lebar. “Terima kasih, Mbak Laras. Saya tunggu kabarnya,” kata Adi senang. Ia berpamitan dan pulang. Kali ini dengan tangga.
Adi kapok naik lift untuk sementara waktu.
Benar-benar kapok!!!