Sam pulang dengan lesu. Jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Adi sedang membaca buku di ruang tengah. Samar-samar terdengar dentingan piano. Fifi sedang memainkan lagu Swan Lake.
“Gimana?” tanya Sam sambil duduk bersila di samping Adi.
“Udah. Baru aja tadi siang gue anter ke penerbit. Nih, tanda terimanya. Gue disuruh nunggu tiga bulan,” kata Adi senang. Ia mengulurkan secarik kertas tanda terima kepada Sam.
Sam meliriknya sekilas. “Bagus, deh. Mudah-mudahan keterima.”
Adi tersenyum.
“Gimana kantor? Muka lo capek banget. Tuh, ada teh kalo mau,” kata Adi menawarkan.
“Thanks,” sahut Sam tersenyum tipis. Ia beranjak dari tempat duduknya.
Sam mengetuk pintu kamar Fifi. Wanita itu menghentikan permainannya. “Ya, siapa?”
“Belum tidur, Fi?” sapa Sam.
“Belum. Baru pulang Sam?” tanya Fifi sambil membuka pintu kamarnya.
Sam tersenyum. “Barusan lagu Swan Lake, ya? Mainin lagi, dong. Kalo nggak keberatan,”pinta Sam.
“Boleh. Masuk aja, Sam. Adi juga, kalo mau. Sekalian tehnya dibawa. Kita minum sama-sama. Aku punya camilan, nih,” kata Fifi ramah.
“Oke,” sahut Adi. Ia menutup bukunya, lalu bergabung sambil membawa seteko teh, lengkap dengan tiga buah cangkir.
Fifi memainkan pianonya sementara Adi dan Sam duduk mendengarkan sambil minum teh.
“Fi, kenapa pangeran bisa ketipu sama Odilia? Kasihan Odeth,” kata Sam melantur.
“Lo ngomong apaan sih? Gue nggak ngerti nih,” sahut Adi.
“Oh, kamu nggak tahu cerita Swan Lake ya, Di? Gini, Ceritanya putri Odeth dikutuk penyihir jahat jadi angsa. Terus pangeran jatuh cinta dan berjanji menikahinya sehingga kutukan terlepas. Tapi pada hari pesta, pangeran malah jatuh cinta pada Odilia, anak penyihir, yang berusaha menghalangi Odeth. Ia bersumpah untuk menikahi Odilia di depan hadirin. Berarti pangeran melanggar janjinya pada Odeth. Akhirnya pangeran sadar dan mencari Odeth yang malang. Pertarungan terjadi antara pangeran dan penyihir jahat. Pangeran menang, dan menikah dengan Odeth. Gitu ceritanya. Cerita ini sering dimainkan dalam pertunjukan balet. Ini lagu pengiringnya,” jelas Fifi panjang lebar.
“Ya, tapi itu kan dalam cerita. Dalam kenyataan, pangeran tetap menjadi milik Odilia. Lalu ke mana Odeth?” sahut Sam sinis.
“Belum tentu begitu kan, Sam?” kata Fifi.
“Kalau begitu, apa masih mungkin, pangeran menyadari kesalahannya dan pergi mencari Odeth?” tanya Sam.
“Mungkin saja. Mungkin juga tidak. Tergantung pangerannya,” kata Fifi.
“Sebenernya lo mau ngomong apa sih?” tanya Adi curiga.
“Ah, enggak,” sahut Sam menghindar.
“Jangan boong, deh. Pasti ada apa-apa. Denis?” tembak Adi tanpa basa basi.
“Udah, ah. Gue mau mandi terus tidur,” sahut Sam bangkit dan membawa cangkirnya ke luar.
“Sam, Odeth berhak untuk bahagia... siapapun pangerannya...” sahut Fifi perlahan.
“Iya, thanks,” sahut Sam tersenyum tipis.