Fifi mengambil salah satu speaker dan mulai berseru dalam suara yang kekanak-kanakan, “Okay, Class!! Are you ready?”
“Yes!!!” jerit anak-anak menyakitkan telinga.
Salah satu guru, Yeni, mengawasi pintu depan sambil menyiapkan audio tape.
“Where are we going to?” seru Fifi lagi.
“Safari Park!!” jawab anak-anak sambil berteriak.
“Yes. You are right!! Audiotape, please! We are going to sing along together!!”
“Yes!! Yes!!! Kyaaaaa!!!” jerit anak-anak melengking.
Sam berjengit sambil menutup kedua telinganya. Anak-anak itu mulai bernyanyi dengan suara keras. Sementara itu bus perlahan-lahan berjalan meninggalkan kota Jakarta menuju Taman Safari.
Sepanjang perjalanan, ada saja yang dilakukan anak-anak. Beberapa diantaranya mencoba membuka pintu belakang. Adi dan Sam terpaksa harus waspada sepanjang waktu. Tidak terhitung berapa kali, Sam harus menggendong anak-anak nakal itu kembali ke tempat duduknya masing-masing. Beberapa pengasuh tampak tidak peduli pada anak asuhnya, malah sibuk mengobrol dengan pengasuh lain. Benar-benar tidak membantu sama sekali.
“I want to open the door. Let me do that!” jerit Clark, seorang anak ekspatriat dari Swedia.
“No way! Please, go back to your seat, Clark! Now!!” perintah Adi tegas. Ia berdiri menghalangi pintu belakang mati-matian.
Sam mengangkat tubuh anak itu dan menentengnya seperti anak kucing di pinggang.
“Let me go!! Let me go!!! LET ME GOOO!!! I HATE YOU!!” jerit Clark sambil mengamuk, berusaha memberontak. Ia terus menangis menjerit-jerit sambil menendang dan memukul ke segala arah. Pinggang Sam jadi sasaran empuk kemarahan anak kecil itu.
“Shut up!! You, little rascal!!” bentak Sam jengkel. Ini sudah yang keenam kalinya Clark berusaha membuka pintu belakang. Pengasuhnya sama sekali tidak peduli. Kesabarannya sudah habis. Ia mendudukkan Clark di tempat duduknya, lalu menatap galak pengasuh yang duduk bersebelahan dengan Clark.
“Mbak, tolong bantu saya!! Jaga Clark!! Saya udah capek. Masih banyak anak lain yang harus diurus,” bentak Sam jengkel setengah mati.
Pengasuh itu berhenti mengobrol dan balas melotot ke arah Sam. Namun, Sam terlalu lelah untuk meladeninya. Ia kembali ke tempat duduknya di bangku belakang dan mengempaskan dirinya.
Baru beberapa detik menenangkan diri, seorang anak perempuan mendekatinya. Anak itu sejak tadi duduk dengan tenang. Namanya Anita.
“Yes?” tanya Sam berusaha tersenyum, meskipun lebih mirip seringai serigala saat ini.
“Miss, I feel sick. I wanna throw up,” kata Anita dengan wajah pucat pasi.
Sam langsung panik. “Hold on! Hold on!” teriaknya sambil berusaha untuk meraih sesuatu.
Anita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia memuntahkan isi perutnya tanpa sempat Sam menghindar. Sam menatap kejadian itu dengan ngeri.
Plok.... bruuuueeek....
Sam ternganga tanpa bisa berkata apa-apa. Ia menatap ke bawah.
Di bawah, terbuka kantong yang lebar. Untunglah beberapa saat sebelumnya, Adi dengan sigap membuka kantong sehingga muntahan Anita masuk tepat ke dalam kantong, tanpa m*****i pakaian Sam sedikit pun. Telat sedikit saja, maka bisa dibayangkan akibatnya...
“Masih mau muntah, Anita sayang?” tanya Adi sambil menepuk-nepuk punggung Anita. Gadis kecil itu muntah lagi beberapa kali.
“Sam, panggil Fifi,” kata Adi dengan nada lembut.
Sam mengangguk, lalu bergegas menyingkir ke bagian depan. Tak lama kemudian ia datang bersama Fifi yang sudah siap dengan kotak obat.
“Aduh, masuk angin, ya? Tadi sudah sarapan belum?” tanya Fifi.
Anita menggeleng.
“Yuk, Miss Fifi kasih minyak telon, terus makan biskuit marie, ya,” kata Fifi lembut. Ia menuntun Anita ke depan.
“Thanks,” bisik Fifi ke arah Sam dan Adi.
Adi membungkus bekas muntahan rapat-rapat lalu memasukkannya ke dalam kantung besar hitam yang disediakan sebagai tong sampah.
“Elo nggak apa-apa, Sam?” tanya Adi perhatian.
Sam mengangguk. “Kaget gue. Hampir aja kena. Thanks, Di,” kata Sam menarik napas lega.
“It’s okay. Capek banget ya ngurus anak-anak,” keluh Adi. Keringatnya bercucuran.
Sam mengeluarkan sehelai tisu dan menyodorkannya. Adi mengambilnya dengan senyuman terima kasih dan mengelap wajahnya.
“Elo sabar banget, ya. Kayaknya gue makin lama makin nggak betah deh,” kata Sam sambil menyandarkan kepalanya tanpa sadar ke bahu Adi.
“Nggak juga. Pinggang elo gimana? Sakit?” tanya Adi.
“Lumayan. Tenaganya si Clark gede banget,” keluh Sam.
“Udah, istirahat dulu aja,” balas Adi sambil merangkul dan menepuk-nepuk kepala Sam dengan lembut. Ia sudah lupa akan kemarahannya pada Sam. Malah, Adi sudah lupa bahwa sesaat lalu ia dan Sam masih saling berdiam diri, karena bertengkar.
******
Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk karya Author berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH) dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. MY SEXY IT GUY Indo sudah ada yaaa....