Chapter 34: Bantu Fifi

687 Words
            Hampir genap dua minggu Adi dan Sam bermusuhan. Hari ini Jumat malam. Sam baru saja pulang, ketika Fifi menyambutnya dengan tergopoh-gopoh.             “Sam, kamu ada kesibukan nggak besok? Aku butuh bantuan. Penting banget,” kata Fifi.             “Ada apa?” tanya Sam heran. Tidak biasanya Fifi sepanik itu.             “Besok anak tk usia 3 sampai 5 tahun mau jalan-jalan ke Safari. Mendadak dua guru sakit. Kita kurang orang. Kamu mau kan bantu jadi tenaga pengganti?” tanya Fifi memohon.             “Tapi... tapi gue harus ngapain? Gue nggak bisa ngajar jadi guru,” kata Sam panik.             “Nggak kok. Nggak disuruh ngajar. Itu urusanku. Pokoknya kamu jagain anak-anak yang nggak ada pendampingnya. Itu saja. Kalau ada yang nggak ngerti bisa ditanya ke aku. Plis ya Sam?” kata Fifi memelas.             “Hendry ikut?” tanya Sam.             “Enggak bisa. Dia lagi dinas keluar kota. Adi udah mau. Tinggal satu orang lagi. Susah sekali nyari orang di saat kepepet begini. Mau ya, Sam?” pinta Fifi putus asa.             “Ya, udah. Boleh,” kata Sam menyerah.             “Thank you, Sam. I like you so much,” pekik Fifi sambil meloncat memeluk Sam kegirangan.             Sam tersenyum dan membalas pelukan Fifi.             Pagi-pagi buta Fifi sudah sibuk memasak dan menyiapkan bekal. Adi sudah mandi dan menyiapkan makanan kecil untuk perjalanan. Fifi harus menggedor-gedor kamar Sam sampai akhirnya cewek tomboy itu betul-betul terbangun dari tidurnya. Sementara Sam mandi, Adi menyiapkan kopi untuk tiga orang. Segera setelah selesai minum kopi dan sedikit sarapan, mereka berangkat naik kijang tua miilik Sam.             Suasana benar-benar hiruk pikuk. Adi dan Sam harus memasukkan empat dus berisi air mineral gelas yang disediakan sekolah untuk peserta karyawisata ke dalam bus. Belum lagi masih ada tiga buah dus berisi bingkisan berupa camilan dan alat menggambar untuk anak-anak. Juga dua dus berisi perlengkapan P3K dengan beberapa paket pampers, celana dalam cadangan, kaus cadangan, tisu basah, juga kantung plastik kalau-kalau ada yang muntah. Sebuah audio tape besar juga ikut masuk ke dalam bus untuk memutar lagu anak-anak. Beberapa gulung karpet dan plastik digulung untuk persiapan piknik. Selain itu ada beberapa speaker berwarna-warni yang dipegang oleh masing-masing pengajar, termasuk Adi dan Sam. Benar-benar heboh. Ada sepuluh anak yang tidak didampingi pengasuh. Lima di antaranya adalah anak ekspatriat, yang sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia. TK Apple tempat Fifi bekerja memang dwibahasa. Total anak balita yang mengikuti karyawisata berjumlah 35 orang. Mereka naik bus besar berkapasitas enam puluh orang. Masih ada dua guru lain yang membantu keberangkatan. Keduanya sebaya dengan Fifi. Yeni dan Irma.             Setelah semua barang-barang perlengkapan sekolah dimasukkan ke dalam bus, giliran anak-anak beserta pengasuhnya dinaikkan ke dalam bus. Hampir setiap pengasuh membawa tas besar yang penuh berisi s**u, makanan, juga pernak-pernik perlengkapan balita. Tas-tas besar itu dijejalkan ke tempat penyimpanan barang di atas tempat duduk, juga di antara sela-sela kaki. Hampir tidak ada celah untuk menaruh barang lagi.             Sekitar pukul setengah delapan, mereka siap berangkat. Semua anak TK sudah naik dan didampingi oleh pengasuhnya. Mereka duduk dengan ribut. Ada yang mulai menangis. Ada yang berlari-lari di sepanjang koridor bus. Ada juga yang meloncat-loncat sambil berteriak-teriak. Berisik sekali. Semrawutan.             “Permisi, Pak. Boleh titip ransel saya? Di atas kepala Bapak kayaknya masih ada sedikit tempat kosong,” kata Fifi.             “Oh, boleh-boleh. Masih bisa. Sini, saya bantu,” kata Pak Sopir ramah. Ia mengambil tas ransel milik Fifi dan menaikkannya ke sebuah celah cadangan di atas kepalanya. Tempat itu tidak terlalu besar, dan terbuat dari kaca plastik, yang menyambung dengan kaca plastik pembatas antara sopir dengan penumpang di belakangnya persis. Tapi lumayan, daripada tidak ada tempat. “Berat amat,” komentar Pak Sopir.             “Eh, Iya Pak. Maklum,” kata Fifi tersenyum. Ia langsung beralih ke arah anak-anak muridnya. Ia memberi isyarat kepada Sam dan Adi untuk mendekat. Mereka duduk di bangku bagian belakang.             “Di, Sam, tolong awasin anak-anak, ya. Terutama pintu belakang. Jangan sampai ada yang buka. Kalo ada apa-apa bilang aja,” kata Fifi.             Sam dan Adi mengangguk. Mereka duduk berdampingan. Masih belum berbicara satu sama lain. ****** Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk karya Author berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH) dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. MY SEXY IT GUY Indo sudah ada yaaa...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD