Bagai Bom Atom

1012 Words
Menikah karena di grebek telah menjadi mimpi buruk untuk kami. Lebih tepatnya untuk aku. Karena yang aku lihat setelah Sandy mengikrarkan janji suci atas namaku, ia terlihat lebih tenang dan santai. Tidak sepertiku yang malah tambah gelisah. Aku akan mengatakan apa coba saat kedua orang tua ku bertanya aku pulang dengan membawa menantu. Sudah sah pula. Kami di antar oleh bapak kepala desa menggunakan mobil. Sementara motor Sandy di antar oleh kerabat yang tinggal di desa itu. Sebelum berangkat, aku sudah memberi kabar kepada kedua orang tua ku bahwa aku pulang di antar oleh kepala desa setempat. Dan mamaku terdengar sangat cemas. "Apa yang terjadi Al? kenapa tidak dengan teman yang tadi berangkat bersama?" mama mendesah cemas. "Nanti mama akan tahu." Jawabku. Karena aku sudah tidak mampu berkata-kata akhirnya sambungan ku putus setelah aku berkata bahwa mobil kami akan berangkat. Begitu juga dengan Sandy. Ia juga sudah menghubungi kedua orang tuanya agar datang ke rumah orang tua ku. Dan di situlah nanti kepala desa akan menjelaskan kepada mereka saat sudah berkumpul. Dadaku bergemuruh, tanganku basah karena keringat dingin yang keluar melalui pori-pori saat mobil yang kami tumpangi sudah memasuki komplek perumahan tempat tinggal ku. Sandy yang melihat kegelisahan ku, ia hendak menggenggam jemariku namun segera aku tepis. Mungkin ia ingin menenangkan perasaanku. "Maaf, aku belum terbiasa." aku meminta maaf mungkin saja Sandy tersinggung dengan perbuatan ku. Ya, aku memang belum pernah pacaran. Makanya aku juga tidak pernah merasakan genggaman tangan dari lawan jenis. Sedangkan mama ku selalu menasehati ku bahwa aku tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis selain mahram. Katanya dosa. Makanya aku selalu takut untuk melakukannya. Ya walaupun aku selalu melakukannya jika sedang berjabat tangan. "Iya tidak apa. Nanti juga kita akan terbiasa. Kita kenalan dulu." Ada seulas senyuman yang meneduhkan di bibir Sandy. Aku yang sekedar melirik pun merasa damai seperti air danau tanpa sapuan angin. Pak kepala desa yang duduk di sebelah sopir menyunggingkan senyuman. Mungkin ia berpikir ucapan kami hanya gurauan. Padahal memang pada kenyataannya bahwa di antara kami memang tidak terjadi apa-apa. Tubuhku semakin menegang saat mobil ini berhenti di pelataran rumah. Dan di sana juga sudah ada terparkir sebuah mobil lain yang mungkin mobil milik orang tua Sandy. Melihat gelagat ku Sandy berbisik. "Tenang ya, semuanya akan baik-baik saja. Tidak mungkin orang tua kita akan mempercayai ucapan orang lain dari pada ucapan anaknya sendiri. Aku mengangguk. Ada sedikit rasa lega yang tersalurkan dalam jiwa. Ternyata sikap Sandy menenangkan. Kenapa aku tidak menyadarinya ya. Pantaslah Winda bisa bertahan dengan Sandy hingga saat ini. Mengingat soal Winda, pikiranku jadi melayang. Apa yang hendak aku katakan pada Winda jika tahu soal ini. Aku jadi merasa bersalah padanya. Sudahlah, Winda urusan nanti. Sekarang aku harus hadapi dulu persidangan selanjutnya. *** Semua orang terkejut mendengar penjelasan pak kepala desa. Bagai bom atom yang meledak dan menghancurkan segala yang di lewatinya. Mama papa terlihat sangat kecewa dan gagal dalam mendidik anak perempuannya. Bahkan mama sampai terisak di dalam pelukan papa. Mama pasti sangat malu saat mengetahui bahwa anak yang selalu di banggakan berbuat rendah seperti itu. Papa menatap tajam ke arahku yang duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Sandy. Begitu juga kedua orang tua Sandy. Mereka juga tampak sangat kecewa. Setelah suasana kembali tenang, pak kepala desa mohon pamit. Dan tinggallah kami berenam dalam keheningan. Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. "Sandy, Alya, papa percaya dengan kalian. Papa kenal dengan Sandy, ia tidak mungkin melecehkan seorang wanita. Karena kami membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Dan saya juga bangga dengan Sandy. Demi menutupi aib, ia mau bertanggung jawab." Aku dan Sandy menarik nafas lega. Melihat sorot papa dan mama aku bergidik ngeri. Namun setelah mendengar ucapan papanya Sandy aku merasa lega. "Jadi pak Andi dan bu Salma, saya mohon ijin untuk membawa Alya tinggal di keluarga kami. Mereka sudah sah menjadi suami istri jadi biarkan anak kami Sandy belajar menafkahi karena tanggung jawab papak dan ibu sudah berpindah ke pundak Sandy." Ucapan papanya Sandy benar-benar bijaksana. Kedua orang tua ku saling pandang lalu mengangguk. "Baiklah pak. Saya titip Alya. Sebenarnya dia masih terlalu belia untuk menjalani pernikahan ini. Namun mungkin ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa." Ucapan papa terdengar sangat berat. Mungkin berat jika harus melepaskan ku sebelum waktunya. "Bagaimana Alya? sudah siap?" mama Sandy bertanya. "Baiklah om, tante, Alya ambil pakaian dulu ya." Aku meminta ijin untuk mengambil beberapa potong pakaian untuk ganti. "Kok om dan tante si? panggil papa dan mama juga dong kayak Sandy. Sekarang kalian anak kami juga." Kedua orang tua Sandy tertawa kecil mendengar panggilanku. Begitu juga papa dan mama. Mereka terlihat lebih santai dari sebelumnya. "Ah iya ma, pa." Aku meralat ucapan ku lalu meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Tak lama aku keluar dengan membawa sebuah tas berukuran sedang yang aku tenteng di tangan kanan ku dan tas selempang di pundak kiri ku. Aku berpamitan kepada papa dan mama ku. Mereka mengantarku hingga ke teras depan. Di dalam perjalanan aku banyak diam. Selain pikiran yang masih melayang juga suasana canggung menyelimuti kami. Aku duduk di jok belakang sendirian karena Sandy pulang membawa motornya. Aku bersandar di pintu dengan mata menatap ke luar jendela untuk menikmati pemandangan malam. Papa Sandy fokus mengemudi. Sedangkan mama Sandy pun sibuk menatap jalanan. "Kita makan dulu ya pa, sepertinya menantu kita butuh energi untuk nanti malam." Mama Sandy melempar candaan untuk mencairkan suasana. Namun candaan itu membuat otakku traveling ke mana-mana. Walaupun umurku baru 17 tahun tapi aku tahu apa yang biasa di lakukan oleh orang yang baru menikah yaitu ibadah malam. "Wah, kamu benar ma." Sahut papa Sandy. Dan akhirnya papa Sandy mengehentikan mobilnya di depan sebuah warung tenda sederhana namun bersih dan nyaman. Aku sampai terheran, keluarga Sandy yang berasal dari kalangan orang kaya mau makan di pinggir jalan seperti ini. Karena bisanya orang kaya kan makannya di restoran. Aku keluar mobil dan langsung di apit oleh papa dan mama Sandy sedangkan Sandy berjalan mengekori dari belakang. Di sini aku yang merasa bahwa aku adalah anak papa dan mama Sandy. Sedangkan Sandy seperti anak tiri. B e r s a m b u n g
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD