Kecupan Pertama

1027 Words
Aku duduk termenung di sebuah kamar yang sangat asing untuk ku. Kamar dengan luas dua kali lipat dari luas kamarku ini tubuhku membeku. Di kamar ini lah aku malam ini akan tidur. Berbagi kasur dan selimut dengan orang asing. Walaupun kami sudah saling kenal dan bersahabat tetap saja Sandy adalah orang asing untuk ku. Saat pendengaran ku menangkap deru langkah yang semakin mendekat, tubuhku kian bergemuruh. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Apa lagi saat mataku menangkap sosok tinggi dan besar sedang mendekatiku. "Kamu belum tidur Al?" Sandy bertanya dengan nada lemah lembut. Ia duduk di bibir tempat tidur sambil melepaskan jaketnya. Entah dari mana dia aku pun tidak tahu. "Be-belum." Aku tergagap. Rasa gugup yang mendera tubuhku membuat lidah ku terasa kelu. "Kenapa? kamu belum mengantuk?" tanyanya lagi. Kali ini Sandy menaikkan kedua kakinya dan duduk bersila menghadap ku. Dan aku kembali di landa gundah gulana. Aku tidak menjawab. Aku benar-benar gugup saat ini. "Al, semuanya sudah terjadi dan tidak perlu untuk di sesali. Aku pun tidak pernah menyesal menikah denganmu. Malah aku ingin kita memulai dari awal." Deg. Apa maksud ucapan Sandy. Apa dia menyukai ku. Tapi rasanya tidak mungkin. "Maksud kamu?" aku memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap bola mata yang meneduhkan itu. "Aku mau pacaran dulu sama kamu. Apa kamu mau jadi pacar aku?" What? dia nembak aku di saat malam pertama aku dan dia. Ini seperti mimpi. Apa ini rasanya di tembak oleh seseorang. Rasanya itu dag dig dug tidak karuan. "Kamu mau gak jadi pacar aku cantik?" Sandy kembali mengulang pertanyaannya setelah aku hanya bungkam. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Tapi kamu janji ya jangan ngapa-ngapain aku dulu." Aku mengangkat jari kelingking ku ke depan wajah Sandy. Sementara Sandy tertawa kecil saat mendengar penuturan ku. "Ya enggak lah. Namanya juga pacaran masa mau macem-macem. Paling cium dikit boleh kan?" ucapnya sambil mengedip-ngedip kan sebelah matanya. Entah kenapa gayanya jadi tengil kayak gitu. "Kan mulai." Aku mencubit gemas perutnya. Suasana hangat menyelimuti kamar ini. Yang tadinya terasa beku tiba-tiba mencair setelah kami sama-sama melempar candaan. "Al, bobok sini." Sandy menepuk lengan nya agar aku tidur berbantal kan lengannya. Aku menoleh. Aku merasa ragu untuk menuruti permintaan Sandy. Aku takut Sandy akan menerkam ku di saat aku lengah. "Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan macam-macam." Ucap Sandy. Mungkin ia melihat keraguanku. Akhirnya aku mendekat. Dengan d**a bergemuruh dan perasaan campur aduk aku memberanikan diri meletakan kepala ku di atas lengan Sandy. Nyaman itulah yang aku rasakan. Ia melingkarkan tangannya di pinggangku lalu memejamkan mata. Dengkuran halus mulai terdengar. Nafasnya yang hangat menerpa kepala ku bagian atas. Karena lelah, aku pun akhirnya tertidur juga. *** Keesokan harinya aku terbangun tatkala kamar tidur terasa kosong. Aku membuka mata dan tidak mendapatkan Sandy di sampingku. "Kemana Sandy?" gumam ku, ternyata aku mulai kehilangan dia. Aku bangkit dari atas pembaringan yang nyaman. Aku berjalan perlahan untuk mencari keberadaan Sandy. Lalu terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak lama berselang terlihatlah seorang pria tampan berambut basah dengan mempertontonkan d**a bidangnya. Aku menunduk karena gugup. Darahku terasa berdesir. Ternyata dia terlihat sangat menawan jika seperti ini. Entah aku harus bersyukur atau bagaimana. Tanpa adanya proses pacaran seperti yang lain tiba-tiba saja sudah sah. "Kamu sudah bangun Al?" tanya Sandy sambil mendekat ke arahku. Dia berdiri tepat di hadapanku lalu mengangkat dagu ku menggunakan telunjuknya. "Kenapa menunduk? ini semua milikmu, kamu boleh melihatnya bahkan menyentuhnya." Sandy menuntun telapak tanganku untuk menyentuh d**a bidangnya serta sobekan rotinya. Ya Tuhan, kenapa otak ku jadi traveling ke mana-mana ya. Itu Sandy juga kenapa bisa berkata seperti itu. Dia kan masih bocah, sama kayak aku. Jangan sok dewasa deh. Aku kan jadi merinding. Darahku semakin berdesir saat menyentuh kulitnya yang lembut. Aku terbuai dengan sentuhan itu. Jiwaku melayang. Ah, baru saja menyentuh dadanya aku sudah hampir gila. Ku hempas kan jauh-jauh pikiran kotor itu dari otak ku. Namun tiba-tiba saja ada benda kenyal dan hangat melekat di bibirku. Aku sampai memejamkan mata untuk menikmatinya. Dan beberapa detik kemudian aku membuka mata kembali. Sandy mengusap ujung bibirku menggunakan telunjuknya yang ada jejak basah di sana lalu tersenyum manis kepadaku. "Terima kasih ya, ini adalah awal perkenalan kita." Ucap Sandy setelah ia mengecup bibirku. Aku menunduk malu. Sudah tidak dapat aku bayangkan seperti apa rona wajahku. Kecupan pertama pasti akan meninggalkan kesan yang luar biasa. Apa lagi kecupan itu di berikan dari orang yang sudah halal. Sudah nikmat, dapat pahala pula. Aku bersyukur karena aku bisa memberikan kecupan pertama ini untuk suamiku. Saat Sandy sedang berpakaian, aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi. Aku buru-buru karena sudah di panggil dari luar. Selesai mandi aku bergegas memakai pakaian ganti dan segera turun ke lantai satu. "Selamat pagi ma, selamat pagi pa." Aku menyapa kedua orang tua Sandy yang mulai sekarang menjadi orang tua ku juga. Mereka sudah duduk di ruang makan untuk sarapan pagi. "Selamat pagi juga Al," balas mereka serempak. "Kok aku enggak di kasih selamat Al, aku kan suamimu." Sandy yang duduk di samping ku protes karena tidak mendapat ucapan selamat dari ku. "Apaan si, kan sudah tadi." Aku menyenggol lengan Sandy menggunakan siku ku. "Oh, jadi tadi ucapan selamat ya? mulai sekarang harus kamu hafalin oke." Bisik Sandy di telinga ku dan itu membuat bulu kuduk ku meremang. "Kapan mulai makannya kalau bisik-bisik terus." Seloroh mama mertuaku. "Iya ma, maaf." Aku dan Sandy pun meminta maaf gara-gara menunda sarapan pagi. Kami pun memulai makan pagi. Biasanya jika di rumah aku akan makan pagi bertiga. Dan di sini menjadi berempat. Ah, aku jadi kangen dengan rumah. Pasti mama dan papa kesepian saat aku berada di sini karena abang ku belum pulang dari Surabaya. Bang Aldi berencana akan tinggal di sini untuk menemani papa dan mama setelah mendengar bahwa aku tinggal dengan keluarga Sandy. "Al, setelah ini kita temui Winda ya? kita jelaskan semuanya." Sandy berucap setelah ia menyelesaikan suapan terakhirnya. "Aku takut San," aku menjawab lirih. Karena jujur aku takut. Winda pasti akan kecewa karena aku sudah mengkhianatinya. "Kamu tenang ya, aku tidak akan membiarkan Winda menyakitimu. Kamu adalah istriku jadi kamu lah yang pantas aku bela." Hm ucapan Sandy benar-benar membuatku melambung ke awang-awang. Dan setelah Sandy meyakinkan, aku pun mengangguk setuju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD