"Kalian masih punya muka untuk datang ke sini setelah apa yang kalian perbuat?" Winda menatap sinis terhadapku dan Sandy. Aku tahu dia sedang marah, dia kecewa, dia sedang sakit dengan perbuatan kami. Sungguh aku tidak ada maksud untuk mengkhianatinya apa lagi merebut Sandy dengan cara yang tidak elegan. Semua ini terjadi hanya karena salah paham.
"Dengar Win, kami ingin meminta maaf juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Sandy mencoba bernegosiasi dengan Winda.
Sedangkan aku hanya diam. Mau ikut bicara takut salah. Jadi aku membiarkan Sandy berbicara. Jika ucapan Sandy tidak sejalan, maka aku akan ikut angkat bicara.
"Semuanya sudah jelas bahwa kalian pengkhianat jadi untuk apa kalian datang ke sini. Ucapnya lagi dengan nada yang tinggi.
"Win, ini tidak seperti yang kamu dengar. Ini semua hanya salah paham antara warga desa di sana." Sandy terus berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sepertinya Winda sudah terlampau sakit hati. Ia sama sekali tidak mau menerima penjelasan Sandy.
"Win, kami mohon dengarkan penjelasan kami. Ini terjadi karena salah paham, bukan kemauan kami." Aku mencoba ikut angkat bicara. Membiarkan Sandy terus di sudut kan rasanya aku kasihan.
"Diam kamu!" sentak Winda terhadapku. Ia mendekat lalu melayang kan telapak tangannya ke arah wajahku. Aku pasrah. Karena mungkin ini tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang Winda alami.
"Jangan sakiti Alya!" sergah Sandy. Sandy menahan pergelangan tangan Winda agar tidak sampai mengenai pipiku. Sandy benar-benar memegang ucapannya.
Sedangkan Winda semakin menatap tajam ke arah ku. d**a nya naik turun, nafasnya tidak beraturan serta giginya menggeletak menahan amarah.
"Sudah jika kamu memang tidak mau menerima penjelasan kami, kami permisi. Dan kami tetap minta maaf karena kesalah pahaman ini." Suara Sandy melunak. Ia melepas cekalan tangannya di pergelangan Winda lalu mengajak ku pergi dari sana.
"San, jika kamu benar-benar mencintaiku kembalilah padaku dan tinggalkan Alya." Winda berteriak saat kami hendak masuk ke dalam mobil. Dan Sandy pun berbalik arah. Aku sudah pasrah dengan keputusan yang akan Sandy buat. Seandainya Sandy akan meninggalkan ku. Aku akan berusaha rela.
"Maaf Win, dalam keluarga kami pantang yang namanya bercerai. Aku menikahi Alya sah secara hukum dan agama. Dan jika kamu meminta aku meninggalkan Alya maaf. Aku lebih baik di benci oleh kamu dari pada di benci oleh Tuhan." Sandy berucap dengan satu tarikan nafas. Seperti tidak ada keraguan di sana. Aku pun tidak mengira bahwa Sandy akan tetap mempertahankan pernikahan kami yang terjadi karena kesalah pahaman.
"Pergi kalian!" teriak Winda dengan kerasnya. Dan kami pun segera masuk ke mobil dan meninggalkan rumah kontrakan Winda.
***
Di dalam perjalanan aku lebih banyak diam. Hanya bersuara jika Sandy bertanya. Pikiranku benar-benar kacau. Ada rasa kasihan dengan keadaan Winda. Bagaimana caranya ia mengobati luka hatinya nanti. Ah, kenapa aku jadi kepikiran terus dengan Winda ya. Seandainya aku yang berada di posisi Winda, pasti aku juga akan merasakan sakit hati seperti Winda.
"Kamu mikir apa Al?" tanya Sandy setelah kami berada di tengah kota. Sandy mengemudikan mobilnya entah ke mana. Yang jelas ini bukan jalan ke rumah. Namun aku enggan bertanya. Aku pasrah ke mana pun Sandy akan membawaku pergi.
Aku melirik. "Winda San," aku berkata lirih.
"Sudah jangan terlalu di pikir kan. Winda tidak mau mendengar penjelasan kita, ya sudah. Yang terpenting kita sudah berusaha menjelaskan dan meminta maaf." Sandy berkata lembut sekali. Tatapannya meneduhkan. Walaupun umur Sandy baru 18 tahun, tapi pikirannya cukup dewasa.
Dan aku pun mengangguk. Mungkin ini adalah takdir yang memang harus kami jalani. Aku akan berusaha menerima Sandy sebagai pendamping hidupku.
"Kita mau ke mana San?" aku akhirnya bertanya. Merasa penasaran ke mana Sandy ingin pergi. Karena jalan yang di lalui semakin menjauh dari kota.
"Aku akan membawamu ke surga." Ucap Sandy sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"What surga?" aku menyipitkan mata. Jangan-jangan Sandy akan mendorongku ke jurang.
"Jangan berprasangka buruk dulu. Mana ada suami yang tega ngejahatin istrinya si? Apa lagi belum sempat menikmati indahnya surga dunia. Kan sayang." Ucap Sandy di sertai kedipan mata.
"Dasar tengil." Aku berdecak sebal menatap Sandy yang terus-terusan mengedip-ngedipkan sebelah matanya seperti orang kena belek.
Dua jam perjalanan yang kami lalui, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Sandy telah memasuki rest area di tepian hutan. Di sana juga sudah berjejer rapi beberapa mobil dan motor. Aku melihat sebuah papan yang bergambar air terjun dan bertuliskan Air Terjun Curug Cilember. Wah hatiku langsung berbunga.
Setelah Sandy menerima karcis parkir dan membeli dua buah tiket masuk, kami pun melewati sebuah gerbang untuk memasuki area obyek wisata yang sudah terkenal itu. Suasana hutan pinus yang sejuk membuat pikiran jadi adem. Tak salah memang Sandy mengajak ku kemari. Selain susana hutan yang nyaman, di sana juga tersedia beberapa tenda yang boleh di sewa untuk beristirahat. Selain tenda ada juga beberapa gazebo berdiri di tepian air terjun. Ada juga vila nya juga loh. Pokoknya fasilitasnya termasuk lengkap.
Sandy menggenggam erat jemariku untuk menyusuri jalanan menuju Curug yang indah dan menawan itu. Kami berhenti di sebuah gazebo yang paling dekat dengan air. Tak lupa Sandy membeli minuman segar dan cemilan untuk menemani kami bersantai.
"Mau minum ay?" tawar Sandy sambil membuka sebotol air mineral.
"What? ay?" aku menyerngitkan dahi saat mendengar Sandy memanggilku dengan sebutan ay. Rasanya geli di telinga.
"Iya ay, ayang maksudnya boleh kan?" tanya Sandy lagi dengan gaya cute nya. Ia benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Ingin rasanta aku mencubit kedua pipinya.
Aku mengangguk. Walaupun terdengar aneh namun aku harus terbiasa dengan panggilan itu. Mungkin itu bertanda bahwa Sandy benar-benar menerima ku sebagai pasangan hidupnya.
Setelah aku mengangguk, ia pun menyodorkan air mineral itu kepadaku. Aku pun menerima lalu meneguknya untuk membasahi kerongkonganku yang kering. Sandy juga membuka serta menyuapiku dengan cemilan kesukaanku yaitu kentang goreng. Entah kebetulan atau gimana, dua bisa membeli cemilan kesukaanku itu.
"Ay, aaa." Sandy menyuruhku membuka mulut. Aku pun menurut.
Dengan telaten Sandy menyuapiku serta menyuapi dirinya sendiri dengan cemilan itu. Aku benar-benar merasa gimana gitu. Apakah semua orang juga merasakan apa yang aku rasakan jika di perlakukan romantis oleh pasangannya. Apa lagi pasangan halal. Pasti sensasinya lebih berbeda. Seperti aku ini. Darahku seakan mengalir lebih deras yang membuat sedikit sensasi panas di tubuhku.
"Ay, ngadap ke sana." Sandy menyuruhku menghadap ke air terjun. Aku pun menurut. Tiba-tiba saja Sandy melingkarkan tangannya di pinggangku lalu meletakkan dagunya di bahuku. Darahku berdesir hebat dengan posisi seperti ini. Apa lagi wajah kami hampir tidak ada sekat. Nafasnya terasa menyapu leher jenjangku.
"Ay, apa kamu nyaman dengan posisi seperti ini?" Sandy bertanya dengan suara parau.
Aku sudah tidak bisa merasakan apakah ini nyaman atau bukan. Yang jelas semua rasa menjadi satu.
"Iya, aku merasa nyaman." Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku ke arah yang lainnya. Aku tetap fokus menatap air terjun sambil menikmati deru nafas dan detak jantung Sandy.