Malam ini acara BBQ, semua pekerja datang ke rumah Yura. Semua sudah tersedia tinggal di bakar. Mereka berfoto dan bersenang-senang sembari menikmati makanan.
Pada saat yang bersamaan bel rumah berbunyi menandakan adanya tamu. Tetapi Yura tidak pernah menerima tamu saat malam hari kecuali ada hal yang penting.
Dibukanya tirai jendela dan saat Yura melihatnya tidak ada siapa-siapa. Saat Yura buka pintu lalu melihat ke bawah lantai ada buket bunga mawar putih dan sepucuk surat.
"Ini siapa yang ngirim?" Yura tidak tau siapa yang memberikannya dan bunga mawar putih itu adalah bunga kesukaannya, Yura berpikir bahwa Cana yang memberikannya.
"Bunga dari siapa tuh?"
"Dari kamu." Yura tersenyum dan Cana mengerutkan dahinya bingung "Aku tidak pernah memberikanmu bunga."
"Kalau bukan dari kamu terus dari siapa?" Yura sama sekali belum membuka isi surat itu.
"Coba deh kamu buka isi suratnya siapa tau ada nama pengirimnya."
"Nanti deh." Yura tidak mau membukanya karena teman kerjanya masih belum pulang. Sejujurnya Yura juga penasaran tapi bunga itu di taruh di dalam kamarnya.
Akhirnya para pekerja itu pulang larut malam. Dan Cana masih berada di rumah Yura tapi dia juga penasaran, siapa yang memberikan Yura buket bunga mawar? Ia berfikir bahwa lelaki itu kembali dan ingin menghancurkan Yura.
"Aku boleh menginap di rumahmu?"
"Bolehlah, kamu kek sama siapa aja."
Yura membuka kulkas mengambil kotak s**u rasa vanilla dan menuangkannya di gelas lalu meminumnya. Yura sangat suka minum s**u saat ingin tidur.
"Kapan kamu akan membuka surat itu?"
"Nanti, aku juga penasaran." Yura masuk ke dalam kamar mengambil pembalut karena dia sedang datang bulan di dalam lemari dan ke kamar mandi untuk mengganti pembalut baru itu dia menggosok gigi, tak lupa ia mencuci mukanya.
Tok...tok..
"Masuk na, pintunya gak di kunci."
Cana masuk ke dalam dan duduk di sofa bewarna biru muda dan di atas meja itu ada buket bunga mawar putih, Yura belum membukanya karena asik bermain game tembak-tembakan di komputernya.
Yura sangat fokus bermain game dan Cana yang masih penasaran memilih untuk membuka surat itu tapi saat ingin membuka, Yura langsung menoleh.
"Maaf na, aku terlalu keasyikan lupa kalau ada kamu." Yura mematikan komputernya dan duduk di sofa dekat Cana.
"Iya aku tau kamu kalau lagi serius gak bisa diganggu."
Yura pun mengambil surat itu dan membukanya, di dalamnya tertulis.
"Jika aku kembali apa perasaan itu masih sama?tentu saja masih sama, aku merindukanmu Ayura."
Tidak ada nama pengirim tapi Yura tau siapa lelaki yang buat surat ini.
"Tidak ada nama pengirimnya, apa kamu mengenalinya?"
Yura meneteskan air mata, dia takut sama orang yang pernah membuatnya tersiksa. Dia tidak mau menemuinya.
"Yura kamu kenapa?" Khawatir Cana dan langsung memeluk Yura.
"Aku gak mau ketemu dia."
"Dia siapa?" Cana sangat penasaran siapa orang yang di maksud Yura, tetapi ia tepis karena bukan urusannya dia.
"Lelaki yang dulunya sahabat tapi berubah menjadi monster yang menyeramkan, aku gak mau sampai kejadian itu terulang kembali."
Cana tidak tau apa-apa tentang lelaki itu. "Siapa namanya?" Yura yang masih menangis "Deren Alderic." Terdengar asing bagi Cana tapi gadis itu mencoba mencari tau siapa sebenarnya Deren sampai membuat Yura trauma.
###
Ruangan berbentuk persegi panjang terdapat alat musik dan di tempat itu juga ada tempat khusus untuk membuat lagu. Andra berjam-jam menyiapkan lagu untuk para penggemarnya.
Lagu-lagu yang ia buat sudah membuat para penggemar terkagum-kagum apalagi ketampanannya yang mempesona.
Andra masih kepikiran tentang gadis yang ia temui ya siapa lagi kalau bukan Yura. Lelaki itu sangat senang bertemu Yura, dia tau tentang gadis yang selama ini selalu terlintas dipikirannya.
"Konser di adakan tanggal 3 juli mendatang." Ucap manager yang baru saja masuk yang di awali dengan salam.
"Iya, aku masih membuat lagu." Andra masih fokus dengan layar komputer itu untuk menyesuaikan nada.
Hari sudah siang suara adzan berkumandang untuk menunaikan sholat dzuhur. Andra keluar dari ruangan bergegas menuju masjid Istiqlal bersama managernya.
Di dalam ruangan seni seperti biasa Yura selalu menghabiskan waktunya untuk melukis dan yang ia lukis adalah seorang perempuan yang sedang menangis. Yura masih ketakutan karena Deren telah kembali kedalam kehidupannya.
"Aku tidak akan pernah menemuinya." Yura tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki bernama Deren. Dan Tiba-tiba saja suara nada dering telepon berbunyi berasal dari benda pipih persegi panjang itu, terlihat nomer tidak dikenal.
Yura takut ini nomer Deren apalagi lelaki itu sangat misterius. Yura tidak mengangkatnya dan benda pipih itu kembali berbunyi, ia mengangkat telepon.
"Assalamualaikum." Suara salam dari lelaki, Yura tau ini suara siapa. Hatinya kembali berdegup kencang, siapa lagi pelakunya kalau bukan Andra.
"Wa'alaikumsalam Andra, ada apa?" gugup rasanya tapi Yura berusaha tenang.
"Kamu sibuk nggak?"
"Nggak, kenapa?"
"Temenin beli hadiah buat sepupuku."
"Oke, tapi kamu pake pengawal pribadi?"
Yura sebenarnya takut berjalan bareng Andra bukan hatinya aja yang jedag jedug tapi kalau ada fansnya bisa-bisa dia yang jadi sorotan. Yura Tidak mau itu sampai terjadi.
"Gaklah, tenang nanti aku pake masker sama kaca mata hitam biar keren."
"Biar gak ketahuan lebih tepatnya, jadi jam berapa mau pergi?" Yura merasa sangat bahagia, ya siapa sih yang gak bahagia di ajakin bias pergi jalan-jalan padahal cuman temenin beli kado buat sepupunya.
"Selesai sholat Ashar nanti aku ke rumahmu."
"Kamu tau rumahku?" Yura tak percaya kalau Andra tau rumahnya juga.
"Taulah."
"Dari kamu tau?"
"Tidak penting aku tau darimana yang pasti aku tau."
Yura tau Andra itu terkenal jadi dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Yura tak sabar ingin menemui Andra dan memutuskan untuk pulang kerumah.
"Cana aku pulang." Izin Yura saat Cana baru masuk kedalam ruangannya.
"Tumben, bukannya kamu menghabiskan waktumu di dalam ruangan seni." Cana heran tidak sepertinya Yura sesenang ini.
"Sebenarnya ada apa?"
"Aku di ajak pergi jalan sama Andra katanya sih mau beliin adek sepupunya hadiah."
"Ohh, tapi kamu yakin mau pergi?"
"Iya."
"Kamu gak takut sama kamera tersembunyi?"
"Sebenarnya aku juga takut juga tapi Andra udah bilang dia akan menyamar jadi gak akan ketauan."
"Oh oke." Cana ingin memastikan saja, Andra itu banyak fans apalagi ada fansnya yang sampai ngikutin kemanapun Andra pergi.
"Yaudah aku mau balik bye."
Yura dirumah sedang sibuk memilih pakaian yang cocok untuknya, ada tiga pakaian yang ia pilih dan Yura memilih memakai tunik bewarna cream. Nyaman dipakai dan simple gak ribet.
Setelah itu Yura mandi lalu menggosok gigi dan membasuh muka memakai sabun cuci muka. Barulah dia memakai make up. Tak lupa ia mengambil tas selempang bewarna biru muda, warna itu sudah menjadi warna kesukaannya.
Bel rumah berbunyi, Yura langsung membuka pintu menampakkan Andra yang mengenakan jaket hitam, masker bewarna hitam dan kacamata hitam. Ini jantung Yura gak aman mau mlyeot aja rasanya.
Andra melihat Yura dari bawah sampai atas saja hanya bisa tersenyum dibalik masker.
"Udah?"
"Iya udah." Yura mengunci pintu rumah dan berjalan menuju mobil Andra. Tanpa mereka sadari ada seorang yang sedang memperhatikan dari kejauhan.