Bab 4 Bertemu Kembali

1047 Words
Toko-toko berderet memancarkan pesona mata pembeli yang berisikan barang-barang mewah dengan harga yang cukup fantastis. Tak heran bahwa tempat ini adalah tempatnya orang kaya berkumpul. "Sebenarnya kamu mau ke toko yang mana?" Akhirnya Yura membuka suara karena sedari tadi mereka berdua hanya mengelilingi mall tanpa tujuan. Saat diperjalanan saja mereka hanya diam. "Aku juga bingung." Bisakah hari ini saja Andra tidak membuat Yura kesal. Dari tadi kakinya pegal karena membututi Andra, seperti anak ayam yang takut ditinggal oleh induknya. Yura menghela napas lelah. "Apa kesukaan adik sepupumu?" "Aku tidak tau." Ini lama-lama ni anak pengen di tampol, untung ganteng. Batin Yura. Karena Andra bingung akhirnya Yura memutuskan untuk pergi ke toko tas. "Hadiah tas saja, ya?" Yura bertanya sambil melihat tas yang berkilau seperti berlian tak heran jika harganya selangit. "Yaudah kamu yang pilih." "Oke." Andra bersandar di dinding memperhatikan Yura yang dari tadi berdiri lalu jongkok melihat semua tas. "Aku pilih yang ini aja." Andra melihat tas yang dipilih oleh Yura yang begitu indah. "Teralu berkilau." "Tapi ini bagus, idaman para wanita." "Teralu mencolok ganti pokoknya." Andra tetap kekeh ingin ganti. "Kamu gimana sih, kan aku yang pilih." Yura juga sama saja tidak mau kalah ditambah Andra juga sama tapi Andra sadar dia harusnya mengalah. "Oke kalau begitu, kalau dia tidak suka tas itu kamu yang harus temani aku main bisbol." "Oke aku terima tapi kalau dia suka, kamu harus berikan aku gratis tiket konser." Yura sebenarnya tidak enakan tapi ya mau gimana lagi, dia ingin sekali mendapatkan tiket tanpa perlu mengantri. Hal itu yang membuat tiket cepat habis. Tanpa kamu minta pun aku akan memberikannya. Batin Andra. "Oke." Setelah itu mereka berdua pergi ke restoran Korea. pengunjungnya sangat ramai tidak hanya untuk makan saja ada juga yang ingin berfoto dengan Chef karena wajahnya mirip artis kpop. Tak hanya itu saja di tempat itu juga tersedia pakaian hanbok dan tentu saja Yura sangat tertarik menggunakannya lalu Andra memesan 2 pasang pakaian khas Korea tersebut. Mereka berfoto bersama tanpa disadari hal itu membuat mereka dekat. Aku tidak tau perasaan ini akan kembali. Batin Andra. Setelah lama berfoto barulah mereka makan dimana restoran ini menyediakan ruangan khusus. Andra memang sengaja memesan ruangan agar terhindar fansnya apalagi paparazi. "Enak juga ya makanannya, sampe belepotan gitu. " Tangan Andra bergerak membersihkan sisa makanan disudut bibir Yura. Jangan ditanya keadaan jantung Yura seperti apa sekarang, sudah pasti tidak baik-baik saja. Gini ya rasanya deket sama bias, berasa dimiliki. Batin Yura yang salah tingkah dengan perlakuan laki-laki di hadapannya ini. "Kamu gak takut apa kalau disini ada CCTV?" Tanya Yura menepis rasa bapernya itu. "Mereka tidak akan memberitahu kalau pun mereka menyebarkannya, restoran ini akan bangkrut." Mendengarnya saja sudah membuat Yura kaget dan membuat dirinya tersedak. "Biasa aja dong kagetnya." Andra menyodorkan air putih lalu Yura meminumnya. "Ternyata kamu bisa kejam juga ya jadi orang." "Aku bukannya mau kejam tapi aku gak mau kehidupan pribadiku diumbar. Mengerti?" Yura mengangguk paham, dalam hati dia berusaha tetap tenang karena pertama kali ini dia merasa bahagia apalagi yang membuatnya bahagia adalah biasnya sendiri walaupun lelaki itu menyebalkan. # Malamnya mereka berdua pergi ketempat undangan ulang tahun dimana dipasang hiasan di halaman belakang rumah yang begitu luas dan rumahnya pun bisa dibilang seperti istana. "Assalamualaikum." "Aaaaa Kak Andra." Gadis bergaun merah itu memeluk Andra. Sebenarnya sakit tapi Yura mencoba untuk tersenyum toh juga dia bukan siapa-siapa, disini dia hanya tamu. Andra melepaskan pelukannya karena dia risih. "Bukannya salam malah main meluk-meluk nih bocil." "Wa'alaikumsalam kak, ya abisnya aku kangen banget sama kakak." Gadis beranjak usia satu tahun dari Andra itu memayunkan bibirnya, memang imut tapi Andra tak suka melihatnya. "Btw, itu di sebelah kakak siapa?" Gadis itu melihat Yura dengan tatapan tajam, tentu saja Yura agak gak enak dilihat seperti itu. "Dia sahabat kakak, kenalin namanya Ayura dipanggil Yura." "Hai!" Sapa Yura tapi gadis itu malah melempar tatapan tak suka. "Ouh, kenalin aku Reva Adiratama sepupu eh calon istri kak Andra." "Dih." "Canda kak, hahaha." Tawa Reva tapi memang benar dia menyukai Andra. Jangan ditanya keadaan hati Yura seperti apa? sudah jelas sakit. "Jangan teralu berharap deh, fokus aja dulu sama kuliah kamu." "Iya kakak pujaan hatiku." Reva pun beranjak pergi menemui teman-temannya yang sedang sibuk berbincang-bincang. "Udah kamu gak usah dengerin ucapan bocil itu." Andra tak tau perasaan Yura saat ini tapi dia tau raut wajah Yura berubah seperti orang patah hati. Kamu telat aku udah sakit hati duluan. Batin Yura. "Eh ini kadonya kamu gak kasih?" "Nanti pas potong kue." Raut wajah Yura tak bersemangat lagi, memilih pergi ke meja yang banyak sekali makanan dan minuman sudah tertata rapi di atas meja. Yura mengambil minuman dua gelas rasa jeruk untuknya dan satunya untuk Andra. Saat Yura berjalan menuju tempat yang dituju ada seorang lelaki berjas navy yang sengaja diam di depan Yura saat berjan lalu Yura menabraknya dan minuman itu tumpah mengenai jas lelaki tersebut. "Eh maaf-maaf." Yura hanya bisa mengatakan itu saja. "Kalau lagi jalan hati-hati jangan nunduk kan gak kelihatan wajah cantikmu itu." Lelaki itu tersenyum. Yura sadar siapa pemilik suara berat ini dan dia sangat benci dengan lelaki ini yang hampir saja mengambil keperawanannya. "Deren?" Yura mendongak melihat lelaki yang tinggi dari dirinya. "Hai!" Sapanya dan menarik tangan Yura pergi dari kerumunan orang-orang mencari tempat yabg sepi. "Lepaskan tanganku!" Yura tak suka ditarik paksa seperti itu apalagi dia kejadian tahun lalu yang membuat dirinya trauma setengah mati saat lelaki itu membawanya ke kamar. "Kenapa kamu menghindariku?" "Bukannya sudah jelas aku tidak mau berhubungan dengan lelaki b*****t seperti dirimu." Yura ingin kabur saat ini juga tetapi Deren menarik tangannya lagi dan membuat dirinya menabrak d**a bidang milik lelaki itu. "Aku minta maaf, saat itu aku mabuk dan aku gak ada berkeinginan berbuat senonoh kepadamu." Tidak bisa dibayangkan kalau itu sampai terjadi, mau taruh dimana muka Yura kalau dia hamil diluar nikah. "Sudah cukup aku dengar permintaan maaf kamu dan yang aku pikirkan siapa yang menyelamatkan aku waktu itu?" Yura masih kepikiran sampai sekarang karena dia tidak tau siapa yang menyelamatkan itu. "Aku tidak tau siapa tapi yang pasti aku tidak melakukan apa-apa kepadamu dan aku masih mencintaimu." "Tapi aku tidak ingin berhubungan lagi sama kamu, jadi lupakan semuanya itu hanya masa lalu." Yura pun pergi meninggalkan Deren yang menatap kepergian dirinya dari jauh. Dan dari kejauhan sana seorang sedang mengintai mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD