Andra mengitari tempat pesta berlangsung tapi tidak menemukan Yura, dia sangat khawatir dengan gadis itu apalagi rumah pamannya sangat luas tapi tak seluas rumah ayahnya.
Bola matanya dari tadi berkelana mencari gadis itu.
"Kak, ayo kemari!" Reva menarik tangan Andra untuk mendekat disebelahnya.
Acara pun dimulai dan Yura belum kembali. Saat itu juga Andra melihat ke arah gazebo dimana Yura sedang duduk.
Andra menghampirinya. "Acaranya mau mulai." Yura yang sedang termenung langsung menoleh ke sebelah kirinya yang kini menatap lekat dirinya.
Reva sempat kesal karena Andra meninggalkan tempatnya demi menghampiri Yura.
"Kakak jangan kemana-mana diem disini, aku mau potong kuenya." Sebal Reva dan melemparkan tatapan tajamnya ke arah Yura.
Reva memotong kue dan menaruhnya di piring lalu menyuapi Andra. Tak hanya itu Reva mengakui bahwa Andra adalah kekasihnya, padahal bukan. Andra juga sama kagetnya dengan Yura.
Andra asanya ingin marah tapi disini banyak orang jadi dia tidak mau membuat adik sepupunya itu malu di hari ulangtahunnya.
"Ini kadomu, aku mau pulang ada urusan mendadak."
Andra pergi meninggalkan tempat acara diikuti Yura.
#
Yura gak abis pikir sama Andra padahal itu hari kebahagiaan sepupunya dan dia malah pergi gitu aja padahal gak ada urusan penting.
"Acaranya belum selesai."
"Males lama-lama disana."
"Itu ulang tahun sepupumu lho, gak enak kan jadinya."
"Kamu denger kan tadi dia bilang apa?"
"Iya aku denger, emang kamu gak suka ya sama Reva?."
"Nggak."
Yura merasa senang tapi ia tepis karena dia sadar orang yang seperti Andra mana bisa dia gapai. Walaupun Yura beruntung bisa deket tapi dia setidaknya tau batasan.
"Kamu tadi kemana?aku nyariin kamu."
"A..ku ke...toilet." Yura berbohong, dia gak mau beritahu ini ke siapapun kecuali Cana yang tau tentang ini.
"Oh, tapi setidaknya beritahu."
"Harus ya?"
"Ntar kamu ngilang gimana?siapa yang mau tanggung jawab, hah?"
Yura kaget mendengar Andra seperti itu, dia pikir Andra itu gak jago marah. di depan kamera dia itu orangnya lembut banget sama semua orang apalagi fansnya tapi saat Yura bertemu dengannya keluar sifat aslinya.
"Gak ada yang mau tanggung jawab, aku hidup sendiri dari dulu." Andra terdiam dia merasa bersalah sekarang.
"Eh maaf, cuman aku... khawatir aja."
Aku gak salah denger kan dia bilang khawatir sama aku. Batin Yura yang tersenyum kecil.
"Aku kebelet makanya gak sempet bilang, masa aku teriak bilang izin ke kamar mandi gitu."
"Ya nggaklah mau ditaruh dimana mukaku yang ganteng ini."
Andra mengibaskan rambutnya di depan Yura. Siapapun pasti akan mleyot melihatnya apalagi Yura yang langsung menghadap jendela dan hatinya yang berdetak cukup cepat.
Sesampainya dirumah Yura langsung merebahkan dirinya di kasur kesayangannya, entah kenapa hari ini dia merasa bahagia dan juga merasa kesal karena bertemu dengan mantannya saat masih SMA.
"Seneng bisa deket sama bias eh malah nemu mantan yang sekarang udah muak aku liat." Yura gak abis pikir sama sikap laki-laki yang dulunya baik tapi dia adalah lelaki b***t yang hampir saja melakukan hal itu kepadanya.
Benda pipih berbentuk persegi panjang berdering. "Ini siapa ya?" Tanya Yura karena itu nomer yang tak di kenal.
"Apa ini pemilik Gallery Rose?"
"Iya benar, ini siapa ya?"
"Saya tau kamu dekat dengan Andra tapi setidaknya kamu tau kalau kamu sekarang menjadi perbincangan hangat di media sosial jika saya menyebarkannya untuk itu saya mau kamu jauhi Andra karena jika tidak kamu akan di terror seumur hidupnya dan jika itu terjadi Gallery Rose akan bangkrut."
"Sebenarnya kamu siapa berani sekali ngancem...saya." Panggilan terhenti, Yura sangat kesal. Dia tidak tau siapa orang itu kalau itu benar paparazi dia akan menyebarkan postingan itu.
Yura sudah wanti-wanti kalau itu akan terjadi kalau pun sampai itu terjadi Yura siap klarifikasi. Penyamaran Andra itu bisa saja ketahuan apalagi saat acara ulang tahun sepupunya banyak yang ingin berfoto dengan lelaki itu tapi saat Yura disebelah Andra semua gadis itu menghindar.
#
"Ada yang seneng nih." Suara Cana membuat lamunan Yura buyar.
"Seneng iya, kesel iya."
"Kok kesel sih, emang dari tadi kamu mikirin apa sih kek banyak banget yang kamu pikirin."
"Aku kesel sama dia ternyata dia rese banget jadi orang pengen aku sebar sifat aslinya yang lembut itu."
"Hahaha...pliss ngakak." Cana tertawa.
"Jail iya, rese iya, nyebelin iya tapi bikin ngangenin yakan?" Goda Cana membuat Yura tersenyum kecut.
"Nggak ada paparazi yang dateng kan?"
"Nggak ada, emang kenapa kalau ada paparazi." Ada jeda dalam ucapannya "Kamu ketahuan ya jalan-jalan bareng sama Andra?"
"Nggak tau sih tapi Andra bilang santai aja gak akan ketahuan, mudahan aja gak ketahuan."
"Kalau ketahuan, gimana?"
"Iya aku klarifikasi lah, toh juga aku sama dia itu cuman temen dan seorang fans."
"Ntar kata teman itu akan berubah menjadi kata sayang."
"Apaan sih na, aku gak ngarep ya jadian sama dia cuman kalau dia emang jadi My future ya gaslah masa nggak."
Cana tertawa. "Udah deh emang kalian berdua itu cocok gak ada yang bisa memisahkan kalian berdua."
Yura tersenyum dan pikirannya masih tetap kemana-mana entah apa yang dipikirkannya seperti orang yang gila dengan pikirannya sendiri.
"Yaudah Yura aku keluar dulu mau nyari salad buah, kamu mau?"
"Maulah."
"Oke."
#
Seorang gadis keluar dari mobil sedan berwarna hitam dengan pakaian minim tak hanya itu rambut pendek membawa gitar dan masuk ke dalam mansion.
"Hai! Andra." Sapanya
"Jeana, kenapa...gak bilang kalau mau kesini?"
"Maaf ya abisnya aku pengen ketemu kamu disini biar surprise gitu, aku juga bawain biskuit matahari kesukaan kamu."
"Makasih na, terus kamu kesini sama siapa aja?"
"Bareng Cahyagratama."
"Terus mana itu orang."
"Kangen ya?" Pemilik suara itu menampakkan dirinya di ambang pintu dan Andra berlari memeluk kakak sulungnya itu.
Andra merasa senang saat bertemu sang kakak yang sudah lama tidak bertemu karena kakak sibuk mengurus perusahaan ayah di Korea Selatan.
"Tak ada kabar, tak diundang pulang tak di antar."
"Lu pikir kita jelangkung, hah?" Jeana siap-siap baku hantam sahabatnya yang satu ini.
"Hahaha ngaku."
"Yoklah baku hantam kita."
"Gak deh...pukulan kamu sakit."
"Siap-siap masuk rumah sakit lo, pukulannya masih tetep sama kek dulu." Sahut Agra.
"Iyalah kan gue anak taekwondo."
"Pantes preman di pasar itu takut." Andra membayangkan kejadian tahun lalu di pasar, preman itu melawan tapi malah kabur saat melihat Jeana.
Mereka bertiga tertawa mengingat kejadian tahun lalu yang hanya sebentar dan kembali dengan kesibukan masing-masing. Untuk bertemu saja satu tahun sekali setelah itu pulang ke negara mereka.