Tentu saja seorang Maureen Tan bisa menyesuaikan diri di mana dia berada. Seperti saat ini.
Maureen sedang berdiri dengan mengenakan pakaian seragam buruh pabrik, dia berdiri di hadapan para rekan kerjanya.
"Selamat siang, perkenalkan saya Maureen Tan. Kalian bisa memanggil nama saya Mo saja. Mulai hari ini, segala produksi di tempat ini menjadi tanggung jawab saya. Tolong bantu saya untuk menyesuaikan diri," Mo mengangguk hormat di hadapan ratusan pekerja.
Di atas balkon lantai dua, Mo berbicara dengan suara lantang dan jelas. Dia bukan tengah mencari hormat dari para pekerja tapi yang Mo inginkan hanya kerja sama yang baik dari para pekerja.
"Oke Mo. Cukup perkenalannya. Kita lanjutkan berkeliling gedung," Larry menyudahi sesi perkenalan yang teramat singkat dari Mo.
Larry memberi lirikan mata pada Mo agar mereka segera melanjutkan tur keliling tempat kerja.
Mo melambaikan tangan ke arah para pekerja sebelum mengikuti Larry menjauhi balkon.
Para pekerja buruh bertepuk tangan dan ikut melambai ke arah Maureen. Tentu saja Mo menghadiahi mereka senyum manisnya.
Lalu dia memutar badan ke arah berlawanan bergerak pergi menjadi anak itik Larry.
"Jangan terlalu ramah sama pekerja. Atur manusia itu jauh lebih sulit dari mengatur uang. Nanti kamu jadi sungkan menegur mereka saat mereka lalai dalam bekerja," Larry menegur sikap Mo yang terlihat luwes dengan para pekerja.
Mo memperlihatkan cenggiran saja atas nasihat yang Larry berikan padanya.
Para pekerja buruh kembali ke pos masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Suasana pabrik kembali bising oleh suara mesin pabrik.
Mo berusaha menyamakan langkah kakinya agar bisa sejajar dengan langkah kaki Larry. Sementara jari tangan Larry bergerak menunjuk tempat yang mereka lewati dan mulut sibuk mengatup guna menjelaskan fungsi dari tiap ruangan.
"Kak, kenapa Kakak yang menemani aku untuk berkeliling. Bukankah seharusnya penanggung jawab pabrik yang mempunyai tanggung jawab ini?" Tanya Mo berharap dia dapat bertemu kembali dengan Kings.
Entah mengapa Mo merasa terusik ketika Kings tidak berusaha mencari dirinya.
Larry terkekeh geli mendengar protes dari Mo.
"Kakak lelakiku sedang sibuk dengan urusan administrasi di kantor. Karena aku orang baik maka aku yang menemanimu, Adik nakal," Larry berujar disertai sikap pongah.
Jengkel dengan jawaban mengejak calon iparnya, Mo balik mengerjai Larry. Dia meraih lengan Larry lalu menautkan lengannya di lengan Larry untuk berpura-pura bersikap manja.
"Kak Larry kenapa begitu baik sama aku. Mo jadi terbawa perasaan haru kan," ujar Mo dengan mengguncang lengan Larry.
"Karena kamu adalah calon ... Grit," pekik Larry saat kepalanya menoleh ke samping kanan, dia melihat sosok calon istrinya.
Sementara di seberang lorong, dua insan manusia yang tengah berbincang tidak melihat ke arah seberang.
Mereka asyik membahas masa lalu mereka sampai mereka mendengar suara teriakan dari lorong seberang.
Mo ikut menoleh kepalanya ke arah pandang Larry dan mata Mo melihat sosok Kings yang berdiri di samping Inggrit.
Langsung saja Mo menundukkan kepala. Dia memanjatkan doa dalam hatinya agar Kings belum sempat melihat wajahnya.
#Sial. Kenapa ada Kak Grit di sini. Seharusnya aku tak usah berpikir untuk dapat berjumpa kembali dengan Kings#
Mo mengutuki keadaan saat ini yang membuat dia merasa ketar-ketir tak karuan.
Tak hanya menunduk, Mo bahkan merapat tubuhnya ke sisi Larry. Dia berusaha mendapat rasa percaya diri yang dimiliki Larry.
Di seberang lorong, Inggrit melambaikan tangan ke arah calon suaminya. Dahinya berkerut heran saat melihat sosok adiknya yang terlihat gugup.
Rupanya Kings sudah mengenali suara orang yang berteriak itu adalah Larry, sang adik, yang berteriak memanggil Inggrit. Jadi Kings tidak ikut menoleh ke arah seberang lorong.
"Ada apa Grit?" Terdengar nada khawatir yang terkandung dari suara Kings.
Inggrit kembali memalingkan wajah ke arah lawan bicaranya.
"Itu ada adik bungsuku. Dia kelihatan gugup," sahut Inggrit mempercepat langkah kakinya untuk menuju jembatan penghubung antara dua bangunan.
Kings ikut mempercepat langkah kakinya hingga dapat melangkah bersama Inggrit.
Saat langkah mereka sudah tersisa jarak satu meter, Kings mengangkat wajahnya untuk melihat sosok adik bungsu Inggrit yang belum pernah dia temui selama ini.
#Kenapa ada gadis itu di tempat ini. Jangan-jangan gadis muda itu yang Inggrit bilang adik bungsunya#
Jantung Kings terpacu cepat bukan karena efek dari melangkah cepat tapi karena mendapati sosok gadis muda yang pernah bermalam bersamanya.
"Kamu," bentak Kings dengan suara menggelar.
Inggrit yang berdiri di samping Kings tersentak kaget lalu bergerak mundur.
Mo semakin merapatkan tubuhnya ke arah Larry.
Larry yang hendak menghampiri Inggrit tak bisa bergerak karena tubuhnya ditahan oleh Mo.
Tubuh Mo menempeli tubuh Larry.
Merasa kesal dengan tingkah Mo, Kings melangkah menghampiri gadis muda yang masih menundukkan kepalanya itu.
Ditariknya lengan sebelah Mo yang bebas membuat cengkeraman tangan Mo di lengan Larry terlepas begitu saja.
Mo masih bersikeras untuk menghindari konfrontasi dengan Kings.
"Hei gadis muda, bisa-bisanya kamu menempeli Larry seperti lintah. Kalau kamu ingin bersenang-senang dengan pria, cari pria lain," hardik Kings menghentak lepas lengan Mo yang tadi dia genggam.
Inggrit menatap nanar ke arah punggung Kings.
"Kenapa kamu bersikap sekejam ini pada adik bungsuku, Kings. Larry, tolong kasih tahu kakak lelakimu yang belagu ini kalau Maureen bukan gadis perayu."
Inggrit melangkah maju dan menarik tangan Mo. Dia menarik adiknya pergi menjauh.
Mo menurut dan membawa langkah kakinya untuk mengikuti kakaknya bergerak pergi.
"Hei, kenapa kamu berkata sekasar itu. Dia itu adik Inggrit. Dia tidak merayuku Kak. Kamu hanya salah paham saja," ujar Larry meninju pelan d**a Kings.
Kings mendengus dan membuang wajahnya ke samping. Enggan berdebat dengan Larry.
"Kamu harus minta maaf sama Mo," Larry mengingatkan Kings untuk meminta maaf atas sikap kasar Kings.
Tentu saja Kings tidak merasa bersalah. Bagi Kings, sikap Maureen yang tadi dia lihat memang bukan sikap gadis baik.
#Bermimpi saja kalau aku minta maaf pada gadis itu#
Kings pergi meninggalkan Larry yang tengah membelalakkan mata.
*****
"Kamu baik-baik saja Mo?" Tanya Inggrit menghela napas panjang setelah bersusah payah menarik tangan Mo.
Inggrit memilih untuk mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk yang terdapat di ruang kerja Larry.
"Kenapa dengan pria itu Kak?" Mo bertanya dengan wajah jengkel.
Ya, Mo akhirnya mengangkat wajahnya setelah mereka sudah berada di dalam ruangan.
"Kenapa kamu malah bertanya sama kakak. Kamu kelihatan gugup dan menghindar. Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" Selidik Inggrit berusaha mencari tahu akal penyebab tingkah aneh Mo serta sikap kasar Kings.
"Pria itu? aku tak mengenalnya Kak. Aku gugup karena tadi habis memperkenalkan diri secara resmi di hadapan ratusan pekerja," ujar Mo ikut duduk di samping Inggrit.
Inggrit tentu saja tak percaya terhadap alibi Mo. Mo yang dia kenal begitu percaya diri tiba-tiba bersikap minder saat bertemu Kings.
Tapi Inggrit tak ingin memaksa adiknya bicara jika bukan keinginan Mo sendiri untuk bercerita.
"Pria tua itu jahat banget ya Kak. Nuduh Mo merayu kak Larry. Padahal sikap Mo biasa saja terhadap calon suami Kakak."
Mo berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Inggrit tidak terus menaruh curiga terhadap sikapnya.
"Entahlah. Kings seperti menaruh kesal padamu padahal kalian belum pernah berjumpa sebelumnya."
"Iya. Mo saja baru tahu kalau dia ternyata kakak lelaki Larry kalau bukan karena wajah mereka terlihat mirip," ujar Mo.
"Ya mereka memang mirip. Serupa tapi tak sama," ujar Inggrit pelan.
"Maksud Kakak apa?"
Inggrit hanya menggeleng kepalanya saja.
*****