Try to be better

1550 Words
[Ivander Adley] Aku membanting pintu dengan cukup keras. Membuat hampir semua orang yang ada di luar sana, kini menjadikanku sebagai bahan tontonan, Aku menutup kaca penyekat menggunakan tirai lipat. Agak aku tak lagi bisa dilihat dari luar sana. Napasku menggebu, dengan detak jantung yang lebih cepat memompa darah ke seluruh tubuh. Aku menunduk, dengan tangan kanan yang memegangi pinggiran meja. 'It's okay, Ivan. It's okay!' 'Bukankah hal ini sering terjadi? Harusnya kau bisa jauh lebih tenang karena hal itu sering terjadi.' Aku duduk di kursi, menatap ke depan dan melihat ke arah komputerku dan membuka jadwal. Rupanya ada cukup banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Ketimbang memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh Boss, bukannya jauh lebih penting menyelesaikan tugasku? Aku memulai menyelesaikan satu-persatu tugas dan di antaranya adalah meeting dengan timku untuk membicarakan strategi pemasaran produk yang baru-baru ini mendapatkan hasil penjualan yang mengecewakan, Kita perlu strategi marketing yang lebih fresh, dan tentu saja lebih efektif untuk dilakukan agar sesuai dengan target penjualan yang telah ditetapkan. Meeting dimulai sekitar pukul dua siang, beberapa saat setelah waktu istirahat selesai. Semuanya hadir dan kami berhasil mencapai mufakat. Rupanya mereka sangat semangat untuk memperbaiki kesalahan lalu. Mereka begitu antusias untuk meningkatkan penjualan dengan cara memperbaiki metode promosi yang lebih menarik. Sekitar jam empat sore, mereka semua keluar dari ruang meeting dan sekarang, hanya ada aku dan Vigo yang tengah membereskan meja. Dia memang biasa melakukan ini dengan Nency, tapi karena Nency saat ini memiliki pekerjaan lain, jadi saat ini hanya dia sendiri yang membereskan sampah bekas meeting tadi. Lagi pula tak terlalu banyak. "Pak!" Dia memanggilku. "Bagaimana kabar mengenai masalah yang menimpa Bu Kira?" tanya Vigo. Dia memang salah satu teman baikku meskipun di kantor dia memanggilku dengan sebutan Pak, tapi di luar kantor kami cukup akrab hingga dia banyak tahu mengenai kehidupanku. Dia juga mengenal baik Kira karena saat kami ngumul bareng dan dia membawa serta Nency di sampingnya, aku juga mengajak Kira. "Tak ada perkembangan yang signifikan," jawabku. "Sepertinya itu bukan hal yang mudah diselesaikan, ya?" tanya Vigo lagi. "Ya," jawabku singkat. Aku tak terlalu tartarik untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Setelah ini, aku ada meeting dengan seorang desainer kemasan untuk produk mie dalam cup. Aku memintanya datang jam lima setelah aku istirahat sejenak dan makan siang karena tadi siang aku lupa untuk melakukannya. Kalau Kira tahu aku belum memakan bekal buatannya, dia pasti marah. Dan mungkin tak akan mau membawakanku bekal lagi. Aku pergi ke mobil yang diparkir di basement untuk mengambil bekal Kira yang ketinggalan di sana. Dan kurasa, lebih baik makan di mobil saja sekalian. Saat ini, banyak pegawai yang sudah pulang, kecuali yang memilih untuk lembur tentu saja. Mereka yang memiliki banyak pekerjaan dan ingin segera menyelesaikannya segera. Setelah pintu terbuka aku masuk, duduk di kursi pengemudi dan membuka kaca jendela untuk membiarkan udara segar bisa bebad keluar masuk karena mesin mobil sengaja tak kunyalakan. Begitu membuka bekal yang dibawakan oleh Kira, air liurku terasa ingin mengalir keluar. Bukan karena aromanya yang sedap karena makanan ini sudah berjam-jam mengendap di sini, jadi tak lagi ada baunya. Tapi yang membuatku begitu ingin memakannya segera adalah tampilnnya. Ada berbagai macam lauk di sini, salah satunya adalah jamur kesukaanku. Aku mengambil sendok lalu mulai memakannya bahkan sapai lupa untuk minum. Padahal sejak tadi aku belum minum. Seperti biasanya, masakan Kira tak pernah mengecewakan. Dan hari ini dia kembali membuktikan keahlian memasaknya semakin meningkat. "Pak!" panggil seseorang yang spontan membuatku menoleh ke luar jendela. "Makan di mobil, pak?" tanya Pak Darian, dia adalah salah satu staff di bagian keuangan dan orangnya memang ramah. "Iya, ngabisin bekal istri," jawabku sambil menunjukan bekal yang kusangga dengan tangan kiriku. "Oh ... lanjutkan, Pak. Selamat makan," ujarnya dengan senyuman. "Terima kasih," kataku. Setelah Pak Darian meninggalkanku, aku kembali menikmati makananku. Menghabiskannya sampai tak tersisa sedikitpun. Ini enak sekali. Aku mengambil ponsel, lalu memotretnya dan mengirim pada Kira. Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya dia membalas pesanku. "Kau menghabiskannya. Besok akan kubuatkan yang lebih enak lagi, tapi antarkan aku membeli bahan makanan nanti malam." Emotikon di bagian akhir kalimat. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri membacanya. Padahal tak ada yang lucu atau manis dari kalimat itu. "Okay, tunggu aku di rumah. Mungkin aku pulang sekitar jam tujuh malam. Ada yang harus kulakukan hari ini," tulisku lalu mengirimkannya pada Kira. "Okay, love you," tulisnya diselingi emoticon mencium. "Love you," balasku dengan emoticon yang sama. Setelah selesai makan, aku kembali ke ruanganku, menyelesaikan hal yang perlu diselesaikan dalam lima belas menit. Sebelum akhirnya aku meninggalkan kantor untuk menemui desainer kemasan produk kami. Sebelumnya dia memang telah mengirimkan preview desain yang dia buat, tapi setelah melalui beberapa revisi, akhirnya aku menjadwalkan pertemuan dengannya untuk membahas lebih jauh dan agar hasilnya bisa sesuai dengan ekspektasiku. Aku mengendarai mobilku menuju Starpack, sebuah coffee shop yang biasa kujadikan tempat nongkrongku bersama rekan-rekan setimku. Kafe ini terletak tak jauh dari taman kota dan merupakan tempat yang menyajikan kopi bercitarasa unik. Aku memang bukan penggemar fanatik kopi, tapi jika disuruh memilih antara meminum jus atau kopi, aku lebih memilih kopi. Sekitar jam lima kurang dua menit, aku sampai di parkiran Starpack. Keluar dari mobil lalu melangkah mendekati kafe yang memiliki warna coklat ini karena hampir semua bangunan terbuat dari kayu yang digabungkan dengan kaca transparan. Aku mencari-cari pria itu, karena tak ada komunikasi dengannya sebelum ini. Kami hanya berkomunikasi melalui surel, dan merencanakan pertemuan ini, di sini, dan saat ini. Butuh beberapa saat untuk mencarinya hingga akhirnya, aku melihat wajah pria itu. Dengan kemeja kotak-kotak merah dia duduk menghadap ke arah kopi yang telah dipesannya. Aku berhasil mengenali wajahnya, dan kemungkinan besar dia tak tahu siapa aku karena dia hanya mengenal namaku tanpa tahu wajahku. Aku mendekat perlahan, lalu menyapanya, "permisi, Janu Delano?" tanyaku memastikan kalau pria ini adalah pemilik nama itu. "Yeah, dan Anda Pak Ivan Adley?" dia menebak. "Yeah, boleh saya duduk?" tanyaku berbasa-basi. "Tentu, silakan duduk!" dia menyilakan aku untuk duduk di harapannya. "Maaf, saya terlalu cepat memesan kopi, bahkan sebeulum Anda datang." "It's okay," kataku. Setelah obrolan basa-basi kami berakhir, kami langsung membahas mengenai desain yang dia buat. Dan semuanya rupanya disimpan dalam laptop yang dibawanya. Dia menjelaskan dengan detail berkaitan dengan desain yang dibuatnya serta apa makna dan tujuannya. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk kami hingga akhirnya mendapat kata sepakat. Pria ini cukup menyenangkan dalam hal kerja sama, dia seolah berusaha memberikan yang terbaik untuk kliennya meskipun dia hanya desigener freelance. "Nanti akan saya kabari mengenai kontrak kerjasamanya saya harap, Anda bersedia hadir untuk penandatanganan itu, dan mengenai loyalty akan diberikan setelah semua proses selesai." Aku memberitahunya. "Baik, Pak." Kami bersalaman, dan aku memutuskan untuk pergi lebih dulu karena Kira pasti akan senang jika aku bisa pulang lebih awal. Saat hendak menyalakan mobil, sebuah notifikasi ponsel mengusik pikiranku. "Maaf Pak, saya lancang. Ini Nara dari Fleur de Nara. Apa anda jadi les merangkai bunga di tempat saya? karena jika tidak, saya akan menerima tawaran dari orang lain karena kebetulan jamnya sama." Aku berpikir sejenak mengenai pesan yang baru saja k****a. Nara? Nara ... Nara ... oh ya ampun. Si Gadis penjual bunga itu. Bagaimana aku bisa lupa dengan jani yang kubuat dengannya? Astaga, ini semua karena aku yang terlalu sibuk dengan urusan Kira dan kantor, sampai-sampai lupa untuk mengingat janji yang pernah kubuat. "Oh, maaf sebelumnya. Saya lupa mengabari kalau dari kemarin saya ada urusan mendadak yang harus segera saya selesaikan. Dan mengenai les itu, jadi. Saya akan datang sesuai perjanjian," balasku lalu segera mengirimkannya. Tunggu, dari mana dia mendapatkan nomorku? Vigo? Apa dia yang memberikan padanya? Tadinya aku akan kembali menyalakan mobil tapi urung karena sebuah notifikasi muncul. "Baik, Pak. Terima kasih." Okay, tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jadi saat ini aku sudah bisa meluncur ke rumah dan menemui Kira. Aku tak sabar untuk menemuinya. Aku sampai di rumah sekitar pukul tujuh lebih lima belas, dan Kira sedang duduk menonton serial televisi. Sebenarnya dia bukan penggemar serial televisi, tapi kemungkinan besar karena bingung mau melakukan apa untuk menghabiskan waktu di rumah, akhirnya dia menonton tv. Dia begitu serius saat menonton televisi. Bahkan suara pintu yang kubuka saja tak dia gubris, dia benar-benar fokus dan tak mendengar suara kedatanganku. Tanpa pikir panjang aku memanfaatkan momen ini untuk mengerjainya. Perlahan-lahan aku mendekati Kira yang rupanya tengah menonton serial thriller, lalu saat aku berada tepat di belakangnya, aku langsung menutup matanya dengan kedua telapak tanganku. Kira berusaha melepaskannya tapi tak kubiarkan, malah aku membuat suara-suara aneh yang terdengar seperti, "serahkan jiwamu padaku," dengan suara yang seram. Dia meronta untuk dilepaskan hingga akhirnya aku melepaskannya karena tak kuat menahan tawa. "Ivan!!" panggilnya dengan nada kesal. Di saat yang bersamaan, tawaku lepas kendali. "Kau ketakutan," ujarku sambil tertawa melihat ekspresi ketakutannya. "Bagaimana bisa kau masuk tapi aku bahkan tak mendengar suara pintu yang terbuka?" tanyan kesal. "Kenapa tanya padaku, tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa terlalu serius menonton," ujarku berusaha berhenti terkekeh. "Yaa .... " Dia berusaha mencari alasan, tapi sepertinya tak menemukannya, "okay, lain kali aku harus lebih waspada." "Nah ... kita jadi ke supermarket?" tanyaku pada Kira. "Tentu, ada hal gila yang terjadi hari ini, nanti akan kuceritakan di mobil saat kita pergi," ujarnya membuatku penasaran. "Baiklah, kira pergi jam berapa?" tanyaku. "Nanti, kalau kamu sudah istirahat," jawabnya. "Bagaimana kalau sekarang? Lebih cepat lebih baik jadi setelah ini aku bisa istirahat." aku memberikan tawaran. "Kau yakin?" "Tentu," jawabku mantap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD