|Kirana Gantari|
Cahaya lampu yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit serta etalase-etalase toko terlihat gemerlap. Mataku seolah dimanjakan dengan cahaya yang memiliki berbahagi warna itu. Kota Mediter memang termasuk ke dalam kota metropolitan, satu tingkat di bawah kota Jakarta yang sudah masuk dalam jajaran kota megapolitan. Meskipun tetap saja, menurutku Mediter jauh lebih nyaman dibanding kota Jakarta yang over population. Di Mediter, tak semua orang bisa tinggal di sini. Ada klasifikasi khusus yang harus dipenuhi untuk bisa tinggal di kota kecil ini. Sehingga populasi bisa dikendalikan.
Kami sekeluarga sebenarnya berasal dari Jakarta. Namun, karena alasan pekerjaan akhirnya Papa memutuskan untuk memindahkan kami ke Mediter, dan ... rupanya lambat laun aku begitu menyukai kota ini. Kota yang nyaman, asri, bersih dan dengan tatanan kota yang sangat rapi. Mungkin kota ini cocok disebut sebagai kota masa depan. Suara klakson mobil mengagetkanku sampai-sampai aku terlonjak dan keluar dari gelembung pemikiranku sendiri. Aku menoleh ke arah mobil hitam yang baru saja menyelip kita, lalu ke arah Ivan.
"Kau terkejut?" tanyanya melihat sekilas padaku.
"Ya, ada apa dengan mobil itu?" tanyaku dalam keadaan masih kaget.
"Hanya menyelip, dia memintaku menyingkir sedikit untuk memberikannya ruang," jawab Ivan.
Kurasa ini adalah masalahku. Aku yang terlalu larut dalam pemikiranku sendiri, sehingga hanya dengan mendengarkan suara semacam itu saja aku terkejut bukan main.
"Masih jauh?" tanyaku karena Ivan memutuskan untuk mengambil jalan lain. Jalan alternatif yang sengaja dipilihnya agar kami bisa sampai lebih cepat.
"Hanya beberapa ratus meter lagi. Kenapa? Kau sudah bosan?" tanya Ivan padaku.
"Nope, hanya tanya saja, kok," jawabku lalu kembali melihat ke depan. "Oh ya, bagaimana hari pertamamu kerja?" tanyaku penasaran karena dari yang kudengar waktu itu, Ivan memilki masalah dengan bosnya dan kurasa ini bukan hari yang baik baginya setelah memutuskan untuk cuti di hari Jumat kemarin.
"Not a good day." Suaranya terdengar tak bersemangat. Apa seburuk itu?
"Apa ini soal boss?" tanyaku menebak.
"Yeah, lagipula ini salahku. Yang tak bekerja lebih keras dari seharusnya." Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri, padahal setahuku Ivan selalu bekerja keras bahkan dia sering tak tidur hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yangs sengaja dibawanya pulang. Aku memang tak paham betul apa permasalahan yang menimpanya, tapi yang terpenting, aku bisa terus bersamanya untuk bisa selalu menyemangatinya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Aku tak menyalahkan diri sendiri, hanya saja memang kenyataannya semuanya masih jauh dari ekspektasiku," kata Ivan kelihatan berubah kesal.
Aku menyentuh tangannya yang berada di perseneling. Mengelusnya perlahan untuk membuatnya kembali tenang.
"Bagaimana harimu? Apa saja yang kau lakukan di rumah?" tanya Ivan berusaha mengalihkan pembicaraan tadi yang sepertinya akan berakhir dengan keributan jika tak segera dihentikan.
"Tadi siang, niatnya aku ingin berbelanja di supermarket yang saat ini kita tuju. Dengan penyamaran yang kuyakin tak dapat dikenali oleh siapapun" Aku jadi ingat kejadian tadi siang. Bagaimana aku begitu percaya diri dengan penyamaranku yang pada akhirnya malah dengan mudah dapat terbongkar.
"Kau menyamar?" tanya Ivan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.
"Ya, itu adalah caraku untuk bisa berbaur di keramaian," jawabku berusaha menepis keraguannya.
Ivan mendengus menahan tawa. "Itu namanya bukan membaur, Kira. Oh ya, apa yang kau pakai saat menyamar?" tanya Ivan padaku.
"Masker, topi dan kacamata hitam," jawabku percaya diri.
Sebelah tangan Ivan mengusap wajahnya, lalu berakhir dengan menutupi mulut seolah menyembunyikan senyum yang dia buat.
"See! Membaur itu, kau menjadi satu dengan kerumunan, dan tak mengenakan sesuatu yang mencolok. Dan kurasa item serba hitammu malah menjadikanmu sebagai pusat perhatian," jawabnya tersenyum ke arahku.
"Kurasa aku harus lebih sering menonton film bertema spionase," balasku. "Pantas saja mereka dengan mudah mengenaliku saat hanya mengenakan masker."
"Di mana kacamatamu?" tanya Ivan penasaran karena sebelumnya aku mengatakan memakai kacamata hitam.
"Security menyuruhku untuk melepaskannya. Mungkin dia mengira kalau aku memiliki niat jahat di sana dengan pakaian seperti itu," kataku lalu mengembuskan napas kesal.
"Nah, jadi lain kali gunakan pakaian yang tak terlalu mencolok dan mungkin dengan sebuah riasan kau dapat berubah menjadi orang lain. Seperti yang pernah kau katakan, the power of make up," katanya mengutip kalimat yang beberapa bulan yang lalu kukatakan.
"Yeah, kurasa kau benar, dan saat ini kita hanya mengandalkan kacamata dan masker saja," ujarku menunjukan isi tasku.
"Kau menyuruhku memakai masker dan kacamata?"
"Please ...." Aku menunjukan wajah terimutku, untuk membujuknya. Dia tak akan pernah bisa menolakku jika aku menunjukan wajah itu.
"Okay ... okay ... Oh ya, lanjutkan ceritamu!" katanya yang ingat kalau tadi ceritaku dipotong oleh rasa penasarannya.
"Sampai mana tadi?" Aku bahkan lupa sudah sampai mana aku bercerita.
"Kau menyamar," jawab Ivan tanpa mengalihkan pandangan ke arahku.
"Oh ya. Aku sudah berbelanja, bahkan sudah ada beberapa barang yang telah kumasukan ke dalam troli." Aku kembali bercerita.
"Lantas?" Ivan kelihatan tak sabar.
"Tapi seseorang berhasil mengenaliku. Dia bahkan memotretku beberapa kali dan membuatku merasa tak nyaman. Lalu, entah dari mana mereka berasal, beberapa orang media mendatangiku. Mereka mengejarku untuk mendapatkan informasi langsung dariku. Bahkan setelah aku berlari sampai ke depan supermarket, mereka terus mengikutiku. Aku hendak mencari taxi, tapi tak juga menemukannya. Sampai-sampai seorang pria menghentikan mobilnya dan memintaku masuk untuk membuatku lolos dari media." Okay, kurasa tak ada salahnya untuk menceritakan soal Janu padanya. Ivan juga bukan tipe pria pencemburu yang terlalu possesif dengan siapa saja yang dekat denganku.
"Pria?" Ahh ... dia malah memberikan highlight pada kata itu. Dari sekian banyak kata yang keluar dari mulutku, dia malah lebih tertarik pada kata itu. Astaga.
"Ya, pria yang waktu itu kutemui di Bubble Blue," jelasku padanya. Dan kemungkinan besar Ivan tahu tempat itu. Meskipun tak tahu orang yang kumaksud karena kurasa dia baru sekali pergi ke bubble blue.
"Bubble Blue?" Ivan meminta penjelasan.
Kurasa dia lupa tempat itu. Tempat di mana untuk pertama kalinya dia menjemputku pulang dalam keadaan mabuk saat kami masih pacaran waktu dulu. Dia menggendongku karena dia memarkirkan mobil di depan minimarket yang letaknya lumayan jauh dari Bubble Blue. Saat itu temanku menelponnya karena dia tahu Ivan tengah mencariku. Ivan menemukanku dalam keadaan teler dan tak bisa jalan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menggendongku sampai di mobil.
"Kau lupa?" Aku meminta penjelasan.
"Oh, diskotik tempatku waktu itu menggendongku karena kau teler?" ujar Ivan dengan nada mengejek. Sial.
"Yeah ... yeah ... bagian itu tak perlu kau sebutkan," kataku sambil memutar bola mata.
"Jadi kau ke sana saat beberapa hari lalu pulang dalam keadaan mabuk?" Kali ini Ivan meminta kejelasan. Dan aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Pria itu kukenal dari Bubble Blue dan tanpa disangka dia menolongku dari kejaran paparazi dan beberapa wartawan media."
"Kebetulan sekali," katanya.
"Yeah, kebetulan yang tak disangka, aku tak habis pikir, bagaimana jika pria itu tak membawaku pergi dari sana, para wartawan mungkin akan menghujaniku banyak sekali pertanyaan dan yang ada aku bisa membanting salah satu kamera mereka."
"Dan kau akan dianggap sebagai Villain lagi?"
"Yeah, tentu saja. Bukankah itu kesukaan mereka?"
"Sudah sampai," kata Ivan menunjukan pintu masuk menuju parkiran supermarket ini. Ivan memarkirkan mobil tak jauh dari pintu keluar dan setelahnya kami meninggalkan mobil dan menuju pintu masuk supermarket ini.
Kami sengaja memakai masker hitam karena banyak yang tahu wajah suamiku dan mereka pasti akan langsung tahu siapa yang berjalan bersamanya. Security tak mencegat kami karena aku tak memakai kacamata hitam hanya masker yang umum digunakan.
"Mau beli apa dulu?" tanya Ivan.
"Bahan makanan. Kulkas kita hampir tak ada isinya." Aku melapor padanya.
"Baiklah, kau sudah punya daftar belanjaanya?"
"Of course. Aku menyusunnya tadi pagi."
"Bagus," ujarnya sambil menarik sebuah troli dan mendoongnya. "Aku yang mendorong troli dan kau yang memasukkan belanjaan."
"Ide bagus, itu akan jauh lebih cepat," komentarku lalu mulai berjalan menuju area bahan makanan.
Aku mulai memasukkan satu persatu barang yang masuk dalam list daftar belanjaanku. Membelinya beberapa barang sekaligus agar aku tak perlu repot-repot untuk bolak balik ke sini.
"Kau tahu, tadi siang barang ini tak ada." Aku menunjukkan sebuah margarin merek yang biasa kugunakan.
"Kenapa?" tanya Ivan padaku.
"Entahlah, mungkin habis. Dan baru distock ulang," jelasku lalu memasukkan beberapa bungkus margarin.
Setelah aku selesai dengan berbelanja, kami menuju kasir dan langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, akhirnya Ivan mau cerita banyak padaku, termasuk mengenai bagaimana dia menjalani harinya yang diakhiri dengan pertemuan dengan seorang designer kemasan produk yang menurutnya memiliki kemampuan yang keren dalam hal membuat desain kemasan.