Meet a stranger

1521 Words
[Ivander Adley] Pagi yang cerah, dibuka dengan kecupan hangat Kira di pipi kanan membuatku langsung tersenyum untuk menyambut hari. Kira menarik selimutku dan berkata, "bangun! Kita masak bareng, yuk!" ajaknya dengan manja. Aku mengucek mata, lalu dengan sabar, Kira menungguku bangun dan begitu aku menginjakan kaki di keramik yang dingin, dia langsung menarik tangan kananku untuk mengikutinya di dapur. "Aku bahkan belum cuci muka, Kira!" kataku memberikan alasan. "Tak perlu. Mau bagainanapun seorang Ivan Adley tetap keren, kok," jawabnya sambil menyunggingkan senyuman manis. "Pagi-pagi sudah menggoda. Kita mau masak apa memangnya?" tanyaku sambil membuka kran air yang seketika mengalirkan air dingin nan segar. Kugunakan untuk mencuci tangan dengan sabun, lalu mengelapnya dengan serbet yang sudah ada di samping wastafel. "Nasi goreng jamur kesukaanmu," katanya yang membuatku semakin bersemangat untuk membantunya memasak. "Okay. Jadi ini alasanmu kemarin membeli jamur?" Kira mengangguk sambil membuka bungkus jamur. Mengeluarkannya, lalu menaruhnya di atas tatakan untuk kemudian dipotong. "Nasinya sudah ada?" tanyaku memastikan. "Aku menanak nasi jam empat pagi tadi." "Kau bangun pagi sekali," komentarku. "Bukankah itu bagus?" Dia meminta pendapat. "Tentu." Kira mulai memotong-motong jamur, sementara aku membuat bumbu yang terlebih dahulu kukupas kulitnya. Deperti bawang putih dan merah. Aku tak terlalu bannyak menggunakan bumbu cukup bawang putih dan merah, kemiri, saus tiram, dan kecap manis. Simple, bukan? "Kau mau pakai toping apa saja?" tanyaku. "Jamur, potongan ayam, dan sosis. Bagaimana menurutmu?" "Bagus," kataku lalu mengambil sosis untuk kupotong sedikit tipis-tipis. "Kira, apa kau pernah berpikir, bagaimana kehidupan kita setelah impian kita terwujud dan kita sudah punya anak?" Kira berbalik, sepertinya dia tak habis pikir kenapa tiba-tiba aku bertanya soal ini padanya. Padahal sebelumnya aku tak pernah sekalipun membahas masalah ini dengannya. "Kurasa, hidup kita bisa dikatakan sudah sempurna. Jujur saja aku menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertamaku nanti. Dan ... kau tahu kan, apa alasannya?" tanya Kira padaku. "Untuk menjaga adiknya nanti," jawabku asal-asalan. "Yeah. Kau benar." "Bukankah anak perempuan juga bisa menjaga adiknya?" tanyaku mencoba menyanggah pendapatnya. "Tapi, anak laki-laki jauh lebih kuat dan mereka akan terdidik sebagai pemimpinsejak dini jika memiliki adik yang usianya tak jauh berbeda dengannya." Kira memberikan alasan yang logis. "Bagaimana kalau ...." ucapanku terganggu oleh suara ponsel Kira yang terdengar begitu nyaring. Dia merogoh saku celananya lalu mengangkat panggilan yang masuk. "Halo!" Dia mengawali pembicaraan. "Siapa?" tanyaku berkomat kamit tanpa mngeluarkan suara. "Terana," jawab Kira berbisik padaku. Untuk apa dia menelpon bagi-pagi begini? Apa ada hal mendesak yang harus dia katakan sepagi ini? Mengingat sekarang baru jam lima tiga puluh menit dan bukan waktunya seseorang menelpon. Aku melanjutkan kegiatanku memotong kemudian setelah selesai dengan semuanya aku langusng memanaskan minyak untuk menumis bumbu yang tadi sudah kubuat. Kira cukup lama saat menelpon. Bahkan terhitung sudah delapa menit mereka mengobrol. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sepagi ini? Ketika aku akan memasukan nasi ke dalam bumbu yang telah matang Kira datang menghampiriku. Lalu membantuku memasukkan toping yang tak ikut digoreng bersama bumbu. Dan di saat inilah aku bertanya. "Ada apa Terana menelponmu sepagi ini?" Wajar bukan, kalau aku penasaran apa yang mereka bicarakan sepagi ini? Lagian Kira juga tipe orang yang suka jujur mengenai masalah apapun. "Hari ini dia akan mengadakan jumpa pers. Dan aku harus ikut," ujarnya lalu mengambil alih untuk mengaduk-aduk nasi yang sudah masuk ke penggorengan. "Saat semuanya masih abu-abu?" tanyaku tak percaya. "Dia berpikir, untuk merngubah opini publik dengan memberikan ruang untukku memberikan penjelasan sejelas-jelasnya." "Memberikan ruang untukmu bahkan ketika opini publik sudah terbangun sejak jauh-jauh hari? Kurasa itu percuma?" Aku berpendapat. "Maksudnya?" dia menghentikan kegiatannya mengaduk-aduk nasi dan menatapku. "Opini publil sudah terbangun dan jika tak ada pelaku yang bisa dijadikan pengalih villain, maka akan sulit publik untuk berpihak padamu," jelasku. Terdengar kasar memang. Tapi inilah yang terjadi di dunia nyata. Hukum tertinggi adalah penilaian publik. Biarpun kau benar tapi opini publik sudah terbangun dan menempatkanmu pada peran antagonis, selamanya publik akan menganggapmu sebagai antagonist. Perlu hal besar untuk mengubah mindset mereka untuk berpikir sebaliknya. "Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Kira yang sepertinya memikirkan ucapanku barusan. "Dia memaksamu ikut?" "Ya." "Konsekuensi jika kau tak ikut?" "Pennyelidikan dihentikan dan tak akan ada yang akan disalhkan dalam masalah ini," kata Kira menjelaskan apa yang dia tahu dari Terana. Bagus. Kurasa Terana memaksa Kira. Dan semoga dia punya rencana besar untuk mengubah opini publik. "Tak ada pilihan lain. Ikuti saja rencananya. Kuharap dia meniliki rencana besar yang akan membuat posisimu diuntungkan," kataku mencoba membuatnya berpikiran positif. Tanpa terasa masakan kami telah siap. Kira menaruhnya di atas mangkuk lalu membawanya ke meja makan untuk segera kami makan. Dari sini aku sudah bisa mendengar suara yang keluar dari perut Kira. Dia lapar. Dan ini hal yang biasa terjadi padanya saat pagi hari. Aku sudah hapal. Aroma nasi goreng buatan kami benar-benar nikmat dan semoga saja rasanya juga nikmat seperti aromanya. Mengingat kami biasa membuat makanan seperti ini sebelumnya. Kira makan lebih dulu, dia memakan suapan pertama berisi nasi dengan sosis di atasnya. "Bagaimana rasanya?" tanyaku pada Kira. "Enak. Coba saja!" Tanpa pikir panjang aku langsung menyendok nasi dan memasukannya ke mulut. Memakannya dengan suapan yang lumayan besar dan meraskan hal yang tak biasa. Rasanya ... asin. "Kau menambahkan garam ya, tadi?" "Kukira kau belum menaruhnya." Aku tertawa setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutku. "Aku sudah memasukan garam. Pantas saja rasanya jadi asin." Kira tertawa kecil, kemudian kembali memakan nasi goreng gagal kami. Sungguh. Ini benar-benar asin. Meskipum begitu, Kira mau memakannya. Apa mungkin dia terlalu lapar sehingga memaksa untuk makan nasi goreng itu? Entahlah. Namun, melihatnya seolah menikmati makanan buatan kami, aku jadi menghabiskannya juga. Sambil menatap wajah Kira yang polos tanpa ada riasa sedikitpun. "Ada apa?" tanya Kira. "Melihatmu agar makanan ini jadi enak," ucapku yang langsung dibalasnya dengan kalimat, "pagi-pagi sudah gombal." Seusai makan, aku bersih-bersih. Mandi dan menyiapkan diri untuk pegi ke kantor. Jam masih menunjukan pukul enam pagi. Aku masih punya waktu satu jam dan ino cukup untukku bersiap-siap. Sementara aku bersiap-siap, Kira memasak lagi rupanya. Dia membuat bento untukku. Sebagai bekal agar aku tak makan di luar. Seperti anak-anak memang, tapi ... siapa sih yang akan menolak makanan enak buatan Kira? Aku yakin seratus persen, kalau makanan ini jauh lebih enak dari nasi goreng buatan kami tadi yang keasinan. "Semoga bento ini tak seasin nasi goreng kita tadi," bisikku di telinga Kira sambil memeluk pinggulnya. "Nope, aku bisa jamin kalau makanan kali ini jauh lebih enak dari nasi goreng yang tadi. Lagi pula, nasi goreng tadi asin karena kesalah pahaman kita, kan?" "Yeah. Aku jadi bisa memetik pelajaran dari sana," kataku. "Apa?" "Perbaiki komunikasi dan jagan gegabah dalam menentukan pilihan sendiri." Kira malah tertawa mendengar penjelasanku. Dan di saat yang sama aku mengecupnya. "Aku berangkat dulu. Dan jangan lupa, kalau pergi nanti beri tahu aku lokasinya." "Siap, Mr. Ivan," kata Kira yang membuatku semakin gemas melihatnya. Aku mengacak-acak rambutnya kemudian mencubit pipi tembamnya. "Aku pergi dulu," ujarku lalu mengecup keningnya. Hal yang selalu kulakukan pada Kita ketika hendak pergi bekerja. Kuharap kecupan itu bisa menjadi tanda kalau kasih sayangku selalu melekat di dirinya sampai aku pulang. Aku membuka pintu dan dikagetkan oleh sosok pria dengan jambang yang dicukur rapi dengan kemeja abu-abu yang dikenakannya. Aku mengenal pria ini. Namanya Pak Janu Delano. Dan dia adalah designer yang kemarin meeting denganku. Lalu, bagaimana bisa dia tahu tumahku? Padahal kan aku tak pernah sekalipun memberitahukan mengenai alamatli padanya. "Janu!" ujar Kira yang berada di belakangku ketika hendak kutanyakan beberapa pertanyaan pada Janu. Aku cukup kaget, mendapati kenyataan kalau mereka saling mengenal, dan tunggu ... apa dia teman SMA kira? Atau .... teman sesama model? Mengingat dari postur tubuh Janu dia memiliki tubuh atletis yang kuyakin dibentuk dengan baik olehnya. "Kalian saling mengenal?" tanyaku pemasaran untuk segera mendapat jawaban atas tanya yang begitu banyak muncul di kepalaku. "Dia ... " "Saya hanya akan mengembalikan ATM ini, kemarin terjatuh di mobil. Dan saya baru menemukannya di malam hari," jelasnya. Ada banyak sekali alasan yang bisa dibuat tapi kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh orang sepertinya. Dia terlihat tulus. "Terima kasih." Kira menerima ATM yang diberikan oleh Janu dan mengantonginya. Aku bisa melihat perasaan tak nyaman yang ditunjukkan oleh Kira saat ini. Mungkin tak enak karena melihatku yang ada di sini. Dan berpikir kalau aku cemburu pada pria bernama Janu ini. "Ngomong-ngomong, dia adalah orang yang kubicarakan kemarin," ungkapku pada Kira. "Dan dia juga yang kubicarakan saat di mobil kemarin." "Wah ... dunia sempit sekali, ya," ujar Janu memberikan komentar. "Yeah, kalau tak disengaja," jawabku yang entah kenapa keluar begitu saja dari mulutku. Padahal aku tak memiliki maksud untuk memberikan kalimat sarkasme padanya. "Oh ya," aku melihat ke arah jam tangan yang melingkar di lengan. "Sudah jam tujuh tiga puluh menit. Aku harus pergi dulu," kataku pada Janu dan Kira. "Hati-hati, Mas!" ujar Kira setengah berteriak ketika aku melangkah memasuki mobil yang terparkir di depan teras. Membuka pintu dan tersenyum dari jauh ke arahku. Yeah, aku membiarkan mereka berdua. Lagipula aku percaya pada Kira. Dia tak akan membiarkan seorang pria masuk ke dalam rumah lecuali ada aku, suaminya. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku percaya padanya agar hubungan kami selalu harmonis. Hubungan yang baik adalah hubungan yang dilandasi oleh rasa kepercayaan dan aku percaya ada Kira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD