Meet him, again

1206 Words
[Kirana Gantari]   Tak ada yang kebetulan. Kurasa itu adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan situasiku saat ini. Ketika aku kembali bertemu dengan pria bernama Janu ini, dengan alasan mengembalikan kartu ATM yang tertinggal di mobilnya. Di saat yang sama aku merasa bodoh dan ceroboh, karena meninggalkan benda sepenting itu di dalam mobil pria yang tak kukenal. Tapi di sisi lain, entah kenapa aku merasa kalau pertemuan ini memiliki arti lain. Ada sesuatu yang diinginkan oleh Janu dariku.   “Maaf sebelumnya, karena Ivan pergi kurasa tak pantas jika aku mengajakmu masuk ....” Belum sempat aku melanjutkan kalimat, Janu malah memotongnya.   “Yeah ... tentu saja,” dia tersenyum sambil menggaruk bagian tengkuknya karena canggung. “Aku tahu, kok. Aku hanya ingin mengembalikan benda itu saja,” katanya mundur beberapa langkah.   Aku berusaha tersenyum ke arahnya, lalu berkata, “terima kasih karena telah mengembalikan ATMku yang mungkin kalau jatuh di tangan orang yang tak bertanggung jawab, pasti isinya sudah dikuras,” kataku.   “Kau tak mengecek isinya lebih dulu?” tanya Janu.   “Tak perlu, aku yakin kalau kau bukan orang jahat.” Aku yang saat ini merasa canggung.   “Bagaimana kalau aku telah menguras isinya?”   “Aku tahu tempat kerjamu dan aku juga tahu bagaimana mencari tahu informasi mengenaimu,” kataku yang malah ditanggapi dengan kekehan.   “Yeah, kamu benar. So ... karena aku masih banyak urusan, aku pergi dulu. Salam untuk Pak Ivander,” katanya.   “Tentu. Terima kasih,” ucapku sebelum pria itu berlalu dari hadapanku dan pergi memasuki mobilnya yang terparkir di halaman rumahku. Aromanya bahhkan masih tertinggal di sini.   ***   Sekitar pukul delapan lebih lima belas menit aku membawa Thunder melaju di jalanan kota ini. Sebelumnya aku sudah meminta izin pada Ivan untuk membawanya karena rasanya terlalu ribet jika aku menggunakan taxi apalagi mengingat kejadian kemarin aku jadi lebih memilih menggunakan transportasi pribadi dibanding transportasi umum karena waktu tunggu yang relatif lama.   Terana terus menelponku, sekitar sepuluh menit sekali sampai-sampai aku memakai headset wireless untuk membuatku tak perlu meletakkan ponsel di telinga dengan tangan sehingga dapat terus fokus menyetir apalagi lalu lintas saat ini begitu padat. Baru saja aku memikirkan mengenai Terana, dia sudah menelpon. Ponselku berdering dan spontan aku langsung menekan tombol untuk menerimanya.   “Iya?”   “Kau di mana? Sepuluh menit lagia kan dimulai,” ujarnya terdengar panik.   “Kau sudah mengatakan itu beberapa kali, tapi mana mungkin mobilku tiba-tiba saja berubah menjadi jet yang akan sampai di temptmu dalam hitungan detik?”   “Aku tahu tapi ... usahakan datang tepat waktu, okay?”   “Siapkan improvisasi, karena aku nggak janji akan datang tepat waktu. Lalulinta sangat padat saat ini dan aku khawatir kalau di depan ada kemacetan,” aku memberitahunya.   Terdengar suara u*****n di balik telepon. Biarkan saja, memangnya dengan dia mengumpat aku akan tiba di sana secara tiba-tiba? Aku menaikkan kecepatan setelah panggilan Terana berakhir, menikung dan mencari alternatif lain dengan menggunakan GPS yang terpasang pada Thunder. Untung saja Thunder bisa diajak kerja sama dan akhirnya aku bisa menemukan jalan alternatif tercepat dan tanpa macet meskipun sempit. Aku bahkan harus bergiliran dengan penduduk sekitar. Aku berharap mereka tak terganggu, apalagi sampai menyumpahiku karena memaksakan diri melewati jalanan sempit yang sebenarnya hanya muat untuk manusia.   Aku tiba di kantor Sunny Agency sekitar pukul sembilan lebih tujuh belas menit. Aku terlambat lima menit dan semoga saja ini bukan masalah besar mengingat aku sudah berusaha semampuku untuk melanju ke sini. Setelah memarkir Thunder di basement, aku berjalan menuju pintu masuk dengan menenteng tas hitamku, dan di sana sudah sangat ramai orang-orang yang datang ke sini. Aku masih memakai masker hitam meskipun rambutku kubiarkan tergerai bebas dan membiarkan kacamata hitam menutupi mataku.   Aku berhenti sejenak. Menarik napas dan berusaha tenang meskipun pada kenyataannya aku lagi tak baik-baik saja saat ini. Tanganku gemetar. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, dan keringat dingin membasahi tubuhku akibat rasa cemas yang saat ini menggangguku.   ‘Okay, Kira! You can do it!’   Aku melepaskan masker dan kacamata yang sejak tadi melindungiku dan akhirnya aku memberanikan diri melangkah menuju kerumunan dan mendekat ke arah meja konfrensi pers setelah melihat Terana sedang kualahan menghadapi hujan pertanyaan dari media.   “Kira! Kira!” Suara itu terdengar sangat nyaring di telinga dan membuatku sama sekali tak nyaman apalagi dengan pertanyaan yang langsung menghujaniku bahkan sebelum aku sempat duduk di kursi yang rupanya sudah disiapkan untukku.   “Baik, Kirana sudah hadir, jadi saya harap kalian bisa sedikit lebih tenang dan tertib, bisa?” ujar Pak Devan berusaha mengurai keributan.   Tanganku semakin gemetaran saat ini padahal aku tak bersalah dalam masalah ini, bahkan aku yang merupakan korban dalam kasus ini. Namun, bagaimanapun juga rasanya begitu sulit untukku bisa mengendalikan diri di saat-saat seperti ini. Usai menyepakati kalau pertanyaan hanya bisa ditanyakan satu persatu, akhirnya suara bising itu berhasil diredam. Dan perlahan kecemasanku sedikit berkurang. Ini bagus, semakin rendah tingkat kecemasanku semakin musah pula aku mencari jawaban yang paling tepat atas pertanyaan-pertanyaan yang nanti diungkapkan.   “Kau siap?” bisik Pak Devan di telingaku. Aku mengangguk, meskipun dalam hati masih ragu untuk memilai acara ini. Acara yang sama sekali tak ingin kudatangi.   “Pertanyaan pertama!” ujar Pak Devan. Spontan seorang wartawan wanita memberinta sebuah pertanyaan. Ralat. Memberiku pertanyaan karena saat ini akulah bintangnya. Aku yang harus menjawab pertanyaan yang keluar.   Seseorang dari Beauty sweet melayangkan pertanyaan mengenai, ‘bagaimana bisa sabotase itu sampai terjadi sedangkan pengamanan ketat telah dilakukan serta, apa aku punya musuh sehingga ada yang berusaha merusak citraku di depan khalayak?’ Aku menarik napas sebelum akhirnya aku menjawab dengan tenang.   “Jika aku tahu, mungkin aku tak akan menempatkan diriku sendiri dalam kekacauan itu. Mengenai keamanan, bagaimana bisa kalian menanyakan hal ini padaku? Kau tahu, kan profrsiku?” Aku tak habis pikir dengan pertanyaan semacam itu. “Mengenai musuh, kurasa sulit untuk dikatakan, setiap orang pasti punya haters dan itu lumrah.”   “Jadi kau memaklumi kejadian ini dan menganggap kalau sabotase yang terjadi hanya ulah haters yang lumrah terjadi?” dia kembali menanyaiku.   "Kau tahu kan, mengenak kalimat. 'Sebaik apapun kamu, pasti ada saja orang yang membencimu.' Jadi, kurasa tak seharusnya seseorang menganggap sebuah kejadian yang terjadi adalah karma atau akibat dari perlakuan orang itu di waktu lampau," ujarku pada mereka.   Pertanyaan-pertanyaan berikutnya bergulir hingga aku merasa kualahan untuk menghandle pertanyaan-pertanyaan yang ada hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan acara ini karena situasinya sudah tal lagi kondusif, dan aku merasa senang saat acara ini berakhir karena saat ini kepalaku benar-benar pusing. Mungkin karena stress serta aku yang sedang tak enak badan.   Aku meninggalkan meja setelah acara selesai. Duduk di ruangan milik Pak Devan dan menunggunya untuk masuk karena dia baru sajaa keluar untuk membuat kopi. Sebenarnya di sini ada beberapa OB, tapi karena mungkin Pak Devan tak cocok dengan rekapan OBnya.   Ruangan ini dicat warna biru dan ada beberapa warna abu-abu sebagai pemanis. Warna yang ada benar-benar memikat dan aku merasa lumayan nyaman berada di sini. Satu hal yang kupikirkan, untuk apa Pak Devan memanggilku ke sini? Apa dia akan membicarakan mengenai sabotase itu sekarang atau mungkin ada hal lain lagi?   Sudah sekitar sepuluh menit aku menungunya. Dan ketika aku sudah membuka pintu, terlihat sosok Pak Devan yang hendak masuk. Rupanya bukan hanya dia tapi, ada Terana pula yang masuk. Apa mereka akan mengintrogasiku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD