Ordinary day

1051 Words
[Ivander Adley] Jalanan cukup macet saat aku berangkat ke kantor. Bukan karena terjadi kecelakaan atau penghambat lainnya, tapi akibat terlalu banyak pengemudi yang menggunakan kendaraannya di jalanan yang sama. Sepertinya aku perlu mempertimbangkan untuk membeli sebuah sepeda motor untuk kubawa saat pergi ke kantor. Setidaknya, dengan sepeda motor aku bisa menggunakan celah sempit di kala macet sekalgus menggunakan jalanan sempit di gang tikus. Aku sedikit menyesal saat Vigo menawariku sepeda motor melalui sebuah brosur yang diberikan oleh kakaknya. Motor yang ditawarkan Vigo begitu keren, dengan bodi yang sangat cantik dan tampak berkelas serta kecepatan yang ditawarkan sangat mumpuni. Aku bisa melaju kencang di jalanan saat diperlukan. Pertimbanganku saat dulu adalah Kira, aku yakin dia tak akan memperbolehkanku menggunakan sepeda motor karena terlalu mengkhawatirkanku. Menurutnya, mengendarai sepeda motor adalah hal yang berbahaya, dan aku bisa mati. Apakah dia tahu, kalau angka kecelakaan di jalan raya juga disumbang oleh pengendara mobil juga? Itu hanya faktor kelalaian manusia saja, bukan soal kendaraan yang mereka pakai. Saat memasuki basement, aku melihat Vigo baru saja turun dari motornya. Sial! Anak itu menggunakan kendaraan yang sejak tadi kupikirkan. Dia melepaskan helm full facenya kemudian membuka resleting. Sepertinya dia tidak menyadari kalau aku di sini memperhatikan. Dia berlalu kemudian aku turun dari mobil dan memanggilnya saat jaraknya belum jauh. “Vigo!” Dia menengok ke belakang dan langsung tersenyum. “Pak!” ujarnya kemudian mendekat ke arahku. “Aku tak tahu kalau Anda di sini,” ujarnya dengan bahasa formal. Dia memang selalu seperti itu, menggunakan bahasa formal padaku setiap kali di kantor. Aku pernah menegurnya, tapi dia memberikan alasan klasik. Jadi apa boleh buat, kubiarkan saja berbicara padaku dengan bahasa formal. “Aku baru saja sampai.” Kami berdua melanjutkan percakapan sembari berjalan ke arah lift untuk sampai di lantai empat. Vigo membicarakan beberapa topik, padahal masih pagi. Dia bahkan sudah memberikanku banyak masalah. Salah satunya adalah menurunnya kembali tingkat penjualan bulan ini. Bahkan tak mencapai enam puluh persen dari target yang telah ditentukan. Tak hanya itu yang ia bahas, Vigo juga membahas mengenai Nency, gadis yang dicintainya itu. Dia menceritakan mengenai makan malam mereka dengan orang tua Nency. Katanya, mereka terlihat cukup menyukai Vigo. Setidaknya, itulah pendapat Vigo usai pulang setelah dinner dengan orang tua Nency, sebuah komentar objektif yang aku sendiri tak bisa berkomentar apapun. Ada macam-macam karakter manusia yang bercampur menjadi satu di kantor ini. Dan dari perbedaan itu, kami bersama-sama bekerja untuk membangun kantor ini menjadi lebih baik dan memiliki keuntungan yang tinggi agar kami mendapat upah lebih besar dari yang ditentukan. Beberapa tahun saat aku masih menjadi junior di sini, aku sering mendapatkan tugas yang sulit. Bisa dibilang terlalu sulit bagi seorang junior, tapi karena tekanan dan aku memiliki senior yang bisa dibilang sangat mengayomi, akhirnya aku berhasil memenangkan beberapa projek yang diadakan oleh kantor. Hal itulah yang membuatku menduduki jawaban manajer di usiaku yang terbilang masih muda. Beberapa bahkan butuh lebih dari yang kucapai untuk menduduki posisi ini. Bisa dibilang, kerja keras memang menentukan hasil yang akan kita dapat. Seandaiya aku lebih banyak mengeluh dan kurang berusaha, mungkin aku tak akan bisa sampai sekarang. Setidaknya, belum bisa. Nongomong-ngomong soal pencapaian, kemarin malam Kira memberitahuku kabar bagus. Aku benar-benar tak menyangka kalau Pak Devan, memberikan kesempatan untuk Kira bisa naik ke panggung runway lagi. Itu cukup langka karena citra Kira yang cenderung sudah buruk di mata publik. Aku tahu, dia memang tipe wanita yang angkuh ketika di lingkungan yang tak dikenalnya, tapi sungguh, dia akan menjadi pribadi yang sangat berbeda saat berada di dekat orang yang sudah lama dikenalnya. Dia tipe tertutup, dan tak acuh pada hal yang menurutnya tak terlalu penting. Meskipun beberapa hal bisa dibilang keliru, termasuk beberapa hal yang dia lakukan pada pers dan orang yang ditemuinya untuk meminta foto, dulu. Aku yakin, kondisinya saat iitu sedang tak baik, sehingga tempramennya meningkat, dan dia melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan. Tapi, lagi-lagi publik memiliki sudut pandang mereka sendiri, mereka lebih memilih untuk menghakimi daripada mencoba untuk melihat dari sudut pandang Kira. Jam dua belas lebih, Vigo mengunjungi mejaku. Memberikan berkas yang harus kucek dan selanjutnya kutanda tangani. Wajahnya tampak lebih lesu dari sejak aku melihatnya tadi pagi. Dia kenapa? Apa ada masalah? “Sudah waktunya makan siang. Anda mau makan siang di luar?” tanya Vigo dengan bahasa formal seperti biasa. Aku tak membawa bekal hari ini, dan kurasa aku harus menghabiskan jam makan siang di luar. “Tentu. Hari ini Kira tak membawakanku bekal.” “Kenapa?” “Hanya ... dia sedang sibuk. Hari ini Kira ke kantor.” “Masalahnya sudah beres?” tanya Vigo penasaran. “Belum sepenuhnya, tapi mereka berusaha untuk memberikan kesempatan kedua pada Kira.” Aku menjelaskan secukupnya pada Vigo. Aku memberikan berkas yang telah kutanda tangani. Dia menerimanya dan bertanya, “aku salut karena mereka masih memberikan Kira kesempatan.” Aku memilih untuk tidak memberikan tanggapan. Enggan untuk membahas masalah ini lebih lanjut dan memilih untuk beranjak dari kursi, dan pergi keluar mencari makan siang. Ada beberapa restoran di dekat kantorku. Beberapa di antaranya sudah kujajal dan ada sebuah restoran cina yang baru buka cukup menarik perhatianku. “Apa kau suka makanan cina, Vigo?” tanyaku sembari menatap ke arah restoran bernuansa biru itu dengan huruf china terpampang di atas pintu masuk. “Aku pemakan segala.” “Bagus. Bagaimana kalau kita makan di sana?” tanyaku meminta pendapat. “Apa kau yakin kalau tempat itu menyediakan makanan yang cocok denganlidah kita?” tanya Vigo ragu. “Makanya kita coba. Aku cukup penasaran dengan menu apa saja yang mereka tawarkan.” “Oke, ke sana.” Vigo setuju, dan kami pergi dengan berjalan kaki mendatangi restoran di seberang jalan itu. Begitu sampai di depan restoran, aroma sedap tercium oleh indera penginduku. Kami melangkahkan kaki masuk, dan ada beberapa pelanggan yang telah duduk di sini. Kami duduk di dekat jendela, dan memesan dua porsi mie. Mataku memandang sekeliling dan melihat seorang pria yang pernah kutemui sebelumnya. Aku lupa namanya, tapi dia adalah pria yang mengembalikan ATM milik Kira beberapa hari yang lalu. Saat ini dia tengah duduk bersama seorang pria yang tampak lebih tua darinya. Aku memilih mengabaikan alih-alih menyapa. Kami belum sedekat itu untuk saling menyapa. Lagi pula aku tak memiliki keinginan untuk dekat dengannya. Bukannya cemburu, hanya saja aku merasa tak nyaman karena Kira tampak akrab dengan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD