Dinner

1508 Words
[Kirana Gantari] Menatap cahaya lilin sedari tadi membuatku sedikit ngantuk, mungkin karena ditambah cahaya remang-remang yang ada di ruangan ini. Ivan juga belum pulang, padahal sudah pukul setengah delapan. Biasanya dia pulang sekitar pukul enam atau paling lama pukul tujuh. Aku bermain-main dengan lilin yang menyala. Menyentuh bagian yang meleleh dan membiarkannya mengeras di jariku. Sedikit panas, tapi aku suka melakukannya. sejujurnya hari ini tak ada sesuatu yang special bagi kami, misalnya saja ulang tahun pernikahan, atau bahkan ulangtahunku atau Ivan. Aku menyiapkan ini semua hanya karena hari ini aku sedang bahagia. Banyak hal yang ingin kubagi dengan Ivan mengenai hari ini, jadi aku tak sabar untuk menemuinya. Aku masak beberapa masakan kesukaanya, termasuk jamur yang menjadi favoritnya. Suara mobil terdengar cukup nyaring di telinga, yang spontan membuatku beringsut untuk keluar dan melihat apakah itu Ivan atau bukan. Aku membuka gorden lebih dulu untuk memastikan mobil yang datang adalah milik IVan atau bukan. Dan rupanya benar, itu Ivan. Aku langsung membuka pintu, keluar dan menunggunya naik ke teras. Usai memarkirkan mobilnya, dia berjalan ke arahku. Kedua tangannya dibelakang. Seolah tengah membawa sesuatu dan menyembunyikannya dariku dan berusaha membuatku penasaran. Hmm ... apa yang sebenarnya dia bawa? Karena penasaran, aku mendekatinya. Dan di saat yang sama dia malah berusaha melindungi benda yang dia bawa agar tak sampai terlihat olehku. "Apa yang kau bawa?" tanyaku penasaran. Apa itu hadiah? Atau ... bunga? Ivan tersenyum padaku. Menunjukan wajah menawannya yang entah kenapa setiap dia tersenyum mampu membuatku meleleh. "Kau penasaran?" tanya Ivan kali ini dengan wajah yang menyebalkan. "Apa itu?" tanyaku memaksa karena sudah terampau penasaran. "Just kiss me, and I'll show you," katanya dengan wajah yang dibuat sok imut. And than, because I'm so curious, I kiss him. Mungkin sekitar beberapa detik hingga akhirnya kedua tangannya berada di depan. Menunjukkan bucket bunga liliy berwarna pink yang sangat cantik. 'Oh God, he is so cute.' "Ohh ... ini sangat cantik," kataku menerima bunganya dengan kedua tanganku. Aku memang menyukai bunga liliy. Apalagi lilly berwarna pink seperti itu. Dia benar-benar tahu semua hal favoritku. Aku tersenyum ke arahnya, yang spontan membuatnya mengecup keningku, melingkarkan tangan ke pinggang lalu mengajakku masuk. Yeah, untuk apa lama-lama di luar sini yang dingin? Kami memasuki rumah. Dan Ivan kusambut dengan suasana dinner yang cukup classy --menurutku-- di ruang makan. Ada lilin-lilin yang sengaja kunyalakan dan beberapa masakan yang kubuat seolah-olah berada di restaurant. Sungguh, aku menyiapkan ini semua hanya untuk membuat makan malam kali ini terasa seperti makan malam di restaurant. Saat aku melihat wajah Ivan, aku dapat merasakan kebahagiaan di sana. Matanya berbinar sambil menatap ke arah meja yang telah kusiapkan sedemikian rupa. "Kau menyiapkan semua ini?" tanya Ivan seolah tak percaya. "Tentu. Just for us," jawabku lalu menyuruhnya duduk. "Aku harus bersih-bersih dulu," kata Ivan yang mau berlalu pergi, namun kuhentikan dengan menggenggam lengannya. "Nope. Just sit there! And enjoy the moment," kataku padanya. Ivan tersenyum kecil, dan masih memandang ke arah meja. "Aku yakin, kalau pasti ada sesuatu yang ingin kau katakan," ujarnya sembari duduk di seberangku "Emm ... nggak terlalu penting, sih. Hanya saja, aku lagi bahagia hari ini," jelasku sambil senyam-senyum. "Oh, why?" "Aku sudah bisa kerja lagi." jelasku sambil menuangkan minuman ke arahnya. Bukan alkohol, hanya air putih karena Ivan paling anti dengan minuman beralkohol. "Semuanya sudah selesai?" Dia menerima minumanku. "Bukan, hanya saja mereka berusaha mengabaikan penilaian publik dan mau membantuku mengubah citra buruk menjadi lebih baik dengan mempersiapkan penampilan terbaikku nanti di runway selanjutnya," jelasku padanya mengenai perbincanganku tadi siang dengan Terana dan Pak Devan. Kami membicarakan hal itu mungkin sekitar dua jam, hingga pada akhirnya aku diperbolehkan kembali ke dunia modeling. Modeling adalah hidupku, dan sampai kapanpun, aku tak akan semudah itu melepaskannya. "Congratulation,"  ujarnya tampak ikut bahagia. Tentu saja, Ivan memang selalu mendukungku. "Jadi, malam ini kita harus merayakannya," Ivan mengangkat gelas berisi air putih. Bermaksud untuk mengajakku bersulang. Aku menurutinya dan kami pun bersulang meski hanya dengan gelas berisi air putih. "Bagaimana harimu?" tanyaku padanya.. "Exhausted, banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Tapi semua masih bisa ku-handle kok," jawabnya. "Oh ya, ini sudah bisa dimakan? Aku lapar," katanya mengangkat piring yang sebelumnya sengaja kutelungkupkan. Aku tertawa menanggapi, "tentu saja. Maaf, aku malah ngajak ngobrol dulu." Ivan hanya mesem, lalu mengambil makanan secukupnya ke dalam piring. Jujur saja aku menyukainya saat makan. Yeah, aku memang pernah mengatakan kalau aku menyukainya saat masak. Tapi tak cuma itu, Ivan juga manis saat makan. Lihat saja, betapa lahapnya dia memakan masakan buatanku. Bahkan rasanya sudah kenyang hanya dengan menatapnya makan. "Kira!" Pikiranku kembali. "Hah?" "Kau tak makan?" tanya Ivan menahan senyum. "Oh .... " Aku membalik piring, lalu mengisi piringku dengan makanan. "Aku makan, see!" kataku menunjukkan makananku padanya. Kami memilih untuk membiarkan keheningan berkuasa saat kami makan. Membiarkan hanya suara dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar di ruang makan kami. Lampu remang-remang yang sengaja kunyalakan membuat suasana ruangan ini jadi semakin romantis. Rupanya aku pandai juga menyiapkan semua ini. Usai menghabiskan makanan, kami mengobrol banyak hal. Mulai dari pekerjaan, sampai melanjutkan pembicaraan kami di dapur pagi tadi. Yeah, mengenai masa depan. Yang bahkan belum terjadi dan kita juga tak bisa memprediksinya. Aku merasa geli saat Ivan mengharapkan kalau seandainya anak pertamanya adalah anak kembar. Katanya, kalau kami punya anak kembar akan lebih ramai sekaligus menyenangkan. Karena di antara kami kembali hening, akhirnya aku mengeluarkan ponsel. Lalu menyalakan lagu Life With Me melalui ponsel yang secara otomatis akan tersambung pada speaker aktif di bawah televisi. Suara piano terdengar mengalun merdu. Yang entah kenapa membuatku sangat ingin berdansa. Selain karena makanan kita sudah habis, aku juga merasa momen ini sangat pas untuk kita berdansa bersama. Ivan berdiri. Lalu membungkuk di depanku dan mengulurkan tangan padaku. "You wanna dance with me?" tanya Ivan tanpa terduga. Apa dia bisa membaca pikiranku? Bagaimana bisa dia tahu kalau aku ingin berdansa? "Tentu." Aku menerima uluran tangannya lalu berdiri. Ada perasaan aneh di dalam perutku ketika kami berhadapan. Seolah ada kupu-kupu yang terbang di dalam sana dan jantungku ... astaga. Tak bisa bergerak normal. Ini terlalu kencang dan aku bahkan tak bisa menetralkannya. Kami saling menatap dan di saat yang sama aku masuk lebih dalam ke dalam lantunan musik yang mengalun. Aku bergerak mengikuti lagu yang dimainkan. Tangan kami menyatu dan kaki kami bergerak mengikuti tempo lagu yang ada. Ivan memang andal dalam hal berdansa. Dan ini cukup untuk membuatku terkesan padanya saat dulu kami bertemu di pesta dansa topeng. Yeah, kami pernah berdansa bersama dulu, itu saat aku belum terlalu mengenalnya dan bisa kau tebak. Aku masih belum menyukainya. Singkatnya, saat itu secara tak sengaja aku berdansa dengannya dan bisa dibilang kami cukup mahir dalam berdansa bahkan kami menjadi pusat perhatian kala itu. Mendapat tepuk tangan meriah dari hampir semua orang di dalam ruangan itu. Pertemuan yang menarik, bukan? Yeah. Tak ada yang menyangka kalau kami ditakdirkan untuk bersama. Aku masuk ke dalam dekapan Ivan setelah berputar ke arahnya dan merasakan aroma parfume yang begitu segar ditambah aroma maskulin setelah seharian bekerja. Aku menyukai aromanya. Dan ini yang membuatku selalu rindu kalau dia mendapat tugas ke luar kota. *** Aku bangun sekitar pukul empat.  Dan segera bangkit dan menyiapkan makanan untuk Ivan lalu membangunkannya pukul lima dengan kecupan. Seperti biasa tentu saja. Ini adalah rutinitasku, dan akan terasa aneh jika tak dilakukan. "Hey, bangun!" ujarku lembut. Ivan langsung tersenyum ke arahku yang membuat bibirku secara spontan langsung tertarik untuk membuat senyum manis untuk menginbangi senyumnya. "Good morning, my Angel," ujarnya dengan suara malas tapi. "Morning," jawabku. Rasanya, membangunkannyaseprti ini bagaikan menyambutnya kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya terlalu lama di alam mimpi. Ivan bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas mencuci muka. Yeah, terkadang dia memang terlalu malas untuk langsung mandi setelah baru bangun. Dan itu membuatnya harus mencuci muka untuk selanjutnya makan. Sekitar pukul setengah delapan, Ivan pergi dari rumah dan aku juga ada casting hari ini sekitar jam sepuluh. Dan aku harus bersiap-siap dari sekarang. Karena perjalanan menuju Jakarta bisa dibilang lumayan jauh. Butuh sekitar satu jam lebih untuk sampai di sana --tempatku casting. Aku menyapukan pewarna bibir ke bibirku sebagai sentuhan terakhir yang menandakan kalau riasanku sudah rampung. Tak banyak yang kukenakan, hanya makeup wajib serta pemanis bibir, Aku akan lebih menonjolkan wajah naturalku. Karena itu pasti jauh lebih menarik. Seperti biasa aku menaiki Thunder. Yeah, mobil ini pada akhirnya kupakai juga ke manapun aku pergi atas izin Ivan tentu saja. Lagi pula mobilku sudah dijual karena menurut Ivan menyimpan tiga mobil padahal kami hanya berdua adalah hal yang boros. So, Ivan menjualnya ke seseorang yang kenal dengan temannya. Jujur saja awalnya aku menolak, tapi setelah dia meyakinkanku, akhirnya aku melepaskan mobilku untuk dijual. Aku keluar rumah dengan Dress berwarna hitam selutut. Membiarkan rambutku yang telah ku-styling tergerai. Saat ini aku memang menyukai rambut yang tak terlalu panjang. Rasanya lebih mudah untuk kuatur dan enteng. Aku membuka pintu Thunder dan masuk ke dalamnya. Aromaku kemarin masih terasa sampai saat ini. Apa aku terlalu banyak memakai parfume? Hmm ... kurasa tidak. Setelah semuanya siap, aku meluncur melewati pintu gerbang yang secara otomatis terbuka kalau aku menekan remote yang ada di ponsel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD