Thunder was broke

1534 Words
[Ivander Adley] Aku sedikit heran, kenapa Thunder bisa mogok padahal aku rutin membawanya ke bengkel. Atau gara-gara kemarin? No, kemarin dia bahkan tak sampai menabrak apapun. Jadi, mana mungkin mesinnya rusak? Ahh ... sudahlah, mungkin memang dia sedang ingin dibawa ke bengkel. Kami berdua duduk di dalam mobil, sementara derek menarik mobil kami dengan kecepatan normal. Aku menoleh ke arah Kira yang kelihatannya nggak nyaman dengan situasi ini, tapi, mau bagaimana lagi. Yang terpenting adalah Thunder bisa sampai di bengkel, dan dia bisa segera diperbaiki. Perjalanan berlangsung sekitar lima belas menit untuk bisa sampai di sebuah bengkel. Kami turun dari mobil, dan membiarkan Thunder diperbaiki. "Aku harus ke sana dulu, ya. Kau bisa duduk di sini dan istirahat di sini," ujarku pada Kira untuk pergi ke mekanik yang akan menangani Thunder. Aku sadar dia akan bosan, tapi setidaknya dia bisa istirahat dengan duduk di kursi dan tak berdiri menungguiku yang mengobrol dengan sang mekanik. Seusai membicarakan kerusakan mobil yang terjadi, aku berbalik dan berjalan ke arah di mana tadi kutinggalkan Kira sendirian. Ada hal yang menarik di sana. Dia bersama seorang pria mengobrol dan tertawa-tawa. Apa itu teman kuliahnya? Atau SMA, SMP? Mungkin saja. Kurasa aku harus mencoba menyapanya. Aku berjalan ke arah mereka, tapi, belum sempat aku tiba mereka telah menyudahi pembicaraan. Pria itu pergi meninggalkan Kira, menuju mobil dan pergi meninggalkan bengkel ini. Aku melihat ke arah Kira. Menatapnnya penasaran dan agak bingung untuk memutuskan apakah harus kutanyakan mengenai pria itu atau membiarkannya saja. Di satu sisi, aku penasaran, tapi di sisi lain aku juga merasa risih jika aku terkesan sangat pencemburu. "Ada apa?" tanya Kira, menyadari tatapanku menyiratkan keingintahuan yang tinggi. "Nope. Kau cantik," alihku berusaha tak kelihatan tahu mengenai apa yang kulihat barusan. Kurasa aku harus berpikir positif. Bisa saja dia adalah teman sesama model yang bekerja di agency yang sama. Itu snagat mungkin terjadi. "Astaga, sudah berapa kali kau bilang itu?" Dia menggeleng tak percaya. Tapi diikuti oleh senyuman manis yang selalu bisa membuatku meleleh dibuatnya. "Entahlah, selama kita bersama kau akan selalu mendengar pujian itu dari bibirku." Kedua tangan Kira langsung merengkuh pipiku, menekannya ke dalam hingga bibirku menjadi kecil dan berkumpul jadi satu di tengah. Argh ... kebiasaan yang menjengkelkan. "Berapa lama lagi?" tanya Kira setelah melepaskan tangannya dari pipiku. "Mungkin satu jam lebih. Tadi aku sudah tanya ke pemilik bengkel dan katanya ada sebuah coffee shop di sini. Bagaimana kalau kita ngopi di sana sambil menunggu?" tawarku. Lagi pula terlalu membosankan jika aku harus menghabiskan waktu di sini untuk menunggui Thunder diperbaiki. Selain itu, sepertinya menyenangkan menghabiskan waktu di kafe bersama Kira. Sudah lama juga aku tak pernah pergi dengannya ke kedai kopi. "Ide bagus," jawabnya sembari memakai topi dan kecamatanya lagi. Rambut kira terurai, dan cukup keren dengan panyamaran itu. Mungkin kalau ditambah masker akan jauh lebih keren nantinya. Kami pergi dari bengkel dan berjalan ke kafe yang letaknya di sebelah kanan bengkel besar ini. Mungkin sekitar lima puluh meter dari sini. Kafe ini bernuansa klasik dengan interior bergaya Italy. Barang-barang di sini juga banyak yang kuno termasuk suara musik yang terdengar dari gramaphone yang diletakan di ujung kanan. Kami memesan kopi pada barista. Dua cangkir vanilla latte kesukaanku. Seusai mendapat pesanan, kami mencari meja kosong sembari membawa pesanan kami masing-masing menggunakan nampan kayu berwarna coklat tua. Aku memilih meja di bagian pojok kanan. Sehingga bisa melihat dengan leluasa ke arah luar bangunan Coffee shop ini. Instrumen yang dimainkan saat ini begitu indah. Seolah-olah menarikku untuk mengajak Kira berdansa. Namun, tentu saja akan aneh jika kami berdansa di sini. Menjadikan diri kami sebagai tontonan apa lagi Kira yang sedang memiliki masalah, adalah ide buruk. Saat ini dia bahkan belum melepaskan kacamata hitamnya. Kecuali tadi, saat dia bertemu seorang pria berperawakan tinggi dengan tubuh yang bisa dibilang atletis. Sungguh, aku sedikit cemburu melihatnya bercengkrama dengan pria itu. Meskipun tahu, bisa saja mereka hanya teman SMA yang secara tak sengaja bertemu di sini. "Apa yang terjadi pada Thunder, tadi?" tanya Kira sambil menyesap vanilla latte pesanannya. "Alternatornya bermasalah." "Oh ... yang terpenting saat ini dia tengah ditangani. Ya, meskipun hari sudah mulai menggelap." Dia menghela napas. "Kau bosan?" tanyaku yang ditanggapinya hanya dengan gelengan. "Menurutmu, berapa persen kemungkinan seseorang akan mengenaliku di sini?" "Entahlah, banyak kemungkinan tak terduga yang bisa terjadi." "Ah, kau benar." Dia berubah murung setelahnya. "It's okay. Kau tak bersalah, kau bahkan korban. Bagaimana bisa kau malah bersikap seperti buronan yang baru saja membunuh seseorang, dan menyembunyikannya di sebuah gudang." "I-van-der Ad-ley," dia mengeja namaku perlahan, dan aku suka saat dia melakukannya. "Bagaimana bisa kau berpikir sampai sana," katanya sambil menggeleng. Terkadang aku memang terlalu melebih-lebihkan ucapan. Dan itu hanya terjadi pada orang yang kukenal baik saja dan akan berubah sangat tegas jika dengan orang baru atau di kantor. "Jadi, apa kau sudah mendapat kabar dari Terana?" "Hanya ... dia memintaku untuk menghindari media sebisa mungkin." "Baiklah, kurasa itu memang pilihan terbaik. Mungkin juga Terana berusaha membendung informasi. Yang terpenting adalah, dia berada di pihakmu," ujarku lalu menyuap cheese cake yang tadi kupesan. Begitu masuk ke dalam mulut, entah kenapa langsung meleleh dan rasa manis dan gurih seketika menyebar di lidah. "Yeah, dan selama itu pula aku harus hidup dalam penyamaran. Aku muak dengan ini semua." "Oh ya, mengenai Kikan. Apa kau sudah mencoba mencari informasi mengenainya? Misalnya di mana beberapa jam sebelum dia melakukan runway denganmu di panggung catwalk?" tanyaku iseng. "Belum. Kau kan tahu, sejak kejadian itu aku tak pernah pergi ke manapun tanpa sepengetahuanmu." "Ah ... aku lupa. Bagaimana dengan menelpon?" "Aku membatasi melakukan panggilan. Aku hanya berkomunikasi dengann Terana dan keluarga." "Jadi, bagaimana untuk mencoba menggali dari sana?" "Maksudmu?" "Kita cari informasi dari sana. Jika Kikan tak punya alibi yang menyatakan dia berada di suatu tempat kecuali sekitar panggung catwalk, kau bisa mencurigainya. Mengingat CCTV juga sengaja dimatikan, itu jelas perencanaan yang matang." "Bagaimana kalau dia sudah menyiapkan alibi?" "Kita coba dulu dan hasilnya, kita lihat saja nanti." "Deal." Perbincangan kami berlanjut, bahkan sampai mengenai bagaimana cara bertemu dengan Kikan tanpa menimbulkan kecurigaan yang berarti. Entah kenapa aku menjadi seperti detective wannabe, tapi yang jelas, aku biasa melihat ini di film-film yang kutonton, dan kelihatannya mengasyikan, apalagi dilakukan bersama Kira. Seusai mendapat kabar dari seorang mekanik yang sebelum ini kuberikan nomorku, kami kembali ke bengkel untuk mengambil Thunder karena dia sudah selesai diperbaiki. Peringatan kematiannya. Faris sudah berlalu. Dan aku masih tak menyangka dia sudah pergi cukup lama. Padahal rasanya baru kemarin kami bercengkrama bersama. Faris terpaut dua tahun lebih tua dariku. Dulu, dia adalah idolaku. Itulah kenapa aku bisa selalu juara kelas bahkan mengikuti berbagai kegiatan olimpiade. Faris selalu menyemangati dan membimbingku untuk semangat belajar agar bisa bersaing dengannya dan hasilnya sangat baik. Kerja kerasku terbayar lunas. Seperti biasa, jika mengingat tentangnya aku selalu larut dalam penyesalan. Meskipun sudah lama hal itu terjadi, tapi tetap saja, ingatan kelam itu masih ada di benakku sampai kapanpun. Kata orang, waktu akan menyembuhkan luka, tapi pada kenyataannya waktu hanya mebuat kita lupa dan pada suatu masa kita akan kembali ingat mengenai luka yang kita miliki. Aku ingat betul bagaimana tadi siang, aku hampir mati karena mengalami kejadian yang hampir sama dengan yang menimpaku bersama Faris. Itu membuatku merasa syok sekaligus membuka kembali trauma masa lalu. Ya, meskipun kehadiran Kira bisa sedikit membantuku untuk bisa lepas dari trauma itu. Kira sanggup menenangkanku. Dia bisa membuatku lebih releks dengan kalimatnya yang menenangkan dan entah kenapa itu selalu berhasil. Aku ingat ketika dulu sempat bermimpi mengenai kejadian itu dan aku berteriak sekaligus menangis di malam hari. Aku ketakutan setengah mati dan terus memanggil-manggil nama Faris dan apa yang terjadi? Kira lah yang membangunkanku dan menenagkanku. Dia memelukku dengan erat dan membuatku seolah-olah berada di tempat paling nyaman di dunia berkat pelikan hangatnya itu. Sejak saat itu, aku paham. Kalau aku bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak jika Kira tak bisa mematikan waktunya atau memotong penghenti waktu mundurnya, dia seolah penjinak bom yang sanggup membuatku tenang dan tak meledak. Aku menoleh ke arah Kira. Dia tertidur sangat pulas. Rambutnya menutupi wajahnya dan aneh memang, dia masih menggunakan kacamata yang tadi dikenaannaya. Dia lupa karena terlalu lelah. Aku mengambil kaca mata itu dengan tangan kiriku. Meletakannya di atas dashboard. Seketika wajah Kira langsung tampak lebih jelas. Bulu mata lentiknya tergambar sempurna menghiasi matanya yang memiliki sorot bidadari. Sungguh, aku sangat ingin mengecupya saat ini. Tpai berusaha kutahan karena saat ini kami masih berada dalam mobil dan aku tak mau menghentikan mobil hanya untuk mengecupnya yang selanjutnya pasti akan membangnkanya. Aku melihat lurus ke depan dan tak terasa kami telah sampai di depan tumah. Aku memarkirkan mobil tepat di depan rumah dan keluar dari dalam mobil. Membuka pintu kanan dan mengeluarkan Kira dengan cara menggendongnya menuju rumah. Aku yakin, setelah ini Ibu akan membuatku malu karena dia pasti akan mengejekku. Dan sesuai kebiasaanya, jika tidur di mobil, Kira pasti akan sulit untuk dibangunkan. Bahkan saat aku gendong pun dia masih bisa tidur dengan sangat nyenyak. Sungguh, aku heran bagaimana dia bisa melakukan itu. Padahal selama menuju kamar bisa dibilang dia sangat berat, aku sangat kesusahan untuk membawanya ke kamar. Ibu membukakan kamar, dan aku membaringkan Kira di ranjang lalu menyelimutinya dengan selimut berwarna biru muda dan meninggalkannya karena Ibu pasti meminta penjelasan kenapa kami pergi sampai malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD