[Kirana Gantari]
Pelajaran untuk hari ini. Jangan suka memainkan cincin di balkon. Apalagi memutar-mutarnya sambil menyandarkan diri pada pembatas besi. Ivan masih sibuk mencari cincin pernikahan kami yang sengaja dipesan khusus dengan inisial nama kami yang berada di dalam lingkaran cincinnya. Aku ingat ketika pertama kali Ivan memberikanku cincin itu padaku. Saat itu kami berlibur di Bali. Di hari terakhir kami di sana dia mengajakku ke sebuah restoran malam-malam. Mungkin sekitar pukul delapan malam kami sampai di restoran itu. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat tempat makan kami yang berada di rooftop.
Aku yakin betul dia sengaja memesan seluruh bagian rooftop hanya agar kami bisa menggunakannya secara pribadi tanpa adanya gangguan dari orang lain. Ivan menyulap rooftop menjadi tempat makan paling indah yang pernah kudatangi. Saat kami duduk di depan meja berhias lilin dan bunga, suara musik mengalun tiba-tiba. Indah dan begitu romantis. Aku menengok ke sudut tempat ini dan ada pemain biola di sana, dia tak sendiri karena ditemani oleh pemain piano. Musik mereka bersatu padu dan membuat malam itu terasa begitu special. Dan di saat itu juga, Ivan mengeluarkan cincin yang saat ini hilang, memberikannya padaku sembari berlutut dan memintaku agar menjadi pendamping hidupnya selamanya. Aku mengangguk pada akhirnya. Membuat keputusan besar bagi masa depanku, untuk menerimanya.
"Kira? Kau mau berdiri di sana saja atau membantuku?" tanya Ivan yang seketika membuatku kembali ke masa kini.
"Ahh ya, maaf."
Apa yang dilakukan oleh Ivan saat ini benar-benar seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Saat ini gelap, dan ada banyak sekali rumput dan tumbuhan di sekitar sini. Kemungkinan lokasi jatuhnya juga banyak. Sial! Kenapa aku bisa seceroboh itu? Aku mengorek-ngorek rumput sambil berjongkok. Membantu Ivan untuk mencari cincin yang ukurannya terlalu kecil untuk ditemukan. Ivan mencari di sekitar tumbuhan berdaun lebat yang letaknya persis di bawah aku menjatuhkan cincin itu tadi. Semoga saja, dia menemukannya di sana.
"Bagaimana?" tanyaku pada Ivan yang masih mencari-cari di lokasi lainnya dengan bantuan sinar yang berasal dari ponselnya.
"Belum ketemu. Kalau hilang, kurasa aku perlu membelinya lagi." Ucapan Ivan terdengar menggampangkan. Mana bisa semudah itu. Bagaimanapun juga, cincin yang dibeli lagi memiliki kenangan yang berbeda dari cincin yang lama. Yang telah memiliki banyak kenangan di dalamnya.
"Tapi tak sama. Cincin itu memiliki kenangan, sementara jika kau membeli yang baru, meskipun sama persis, tapi tak akan pernah sama karena tak ada kenangan di dalamnya."
"Kita isi dengan kenangan baru. Bagaimana?"
"Cari sebentar lagi!" rengekku. "Mungkin di antara kita akan ada yang menemukannya nanti."
"Kira ...." panggilnya lembut. "Bagainana kalau kau masuk. Dan biarkan aku yang mencarinya saja sendirian. Aku kawatir kau sakit karena berada di udara dingin malam hari," jelasnya sambil melihat ke arahku. Sejenak berhenti dari kegiatannya mengorek-orek rumput yang ada di bawahnya dengan tangan. Bahkan tangannya sudah belepotan oleh tanah.
"Aku kan yang menjatuhkan cincin itu, jadi sudah seharusnya aku yang mencarinya," tegasku.
"Baiklah. Tapi kalau setelah kita mencari tak juga ketemu. Kita hentikan pencarian! Aku tak mau menghabiskan malam dengan mencari cincin itu. Lagipula besok kita juga bisa mencariaya. Taman ini bukan area umum, jadi tak akan ada yang sembarangan mengambil cincin itu dari sini," kata Ivan yang tampak sudah kelelahan. Di saat yang sama, aku merasa bersalah terhadapnya. Kalau saja aku tak melakukan hal iseng itu, pasti cinci itu tak akan hilang sekarang. Aku terlalu ceroboh, padahal benda itu sangat penting.
Setelah lima belas menit mencari, pada akhirnya kami memghentikan pencarian. Kami terlalu lelah dan mengantuk untuk tetap mencari. Selain itu udara dingin juga terlalu buruk untuk tubuh kami. Aku bahkan sudah bersin-bersin beberapa kali yang menandakan hidungku tak lagi kuat untuk menahan udara dingin. Kami berdua masuk ke dalam rumah dan melangkah perlahan karena takut membangunkan orang rumah. Seluruh lampu memang sengaja dimatikan karena selain untuk menghemat listrik, tak ada gunanya juga menyalakan lampu ruang tamu dan ruang tengah di malam hari. Bisa dibilang, kami seperti seorang perampok yang hendak merampok rumah ini. Apalagi dengan pakaianku yang menggunakan hoddie. Aku memutuskan memakai hoodie ini untuk melindungiku dari dingin. Tapi rupanya tak banyak membantu juga. Aku masih saja merasakan dingin yang begitu menyengat saat di luar sana tadi.
Aku tak habis pikir. Apa Ivan tak merasakan dingin sama sekali, ya? Mengingat dia bahkan tak mengenakan jaket dan hanya menggunakan pijamas berwarna coklat s**u sama denganku di balik hoodie ini. Kurasa kulitnya sudah terlalu tebal. Sehingga dia tak merasakan dingin yang menyiksa ini. Atau kemungkinan kedua, dia berusaha menahan dingin hanya untuk bisa menemukan cincin itu.
Ketika kami berdua tengah berjalan dengan perlahan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Ivan mengerang diiringi oleh suara pukulan.
Aku kaget bukan main melihat sosok pria dengan pemukul baseball di tangannya. Seperdetik berikutnya, aku langsung mengenalinya sebagai Bapak.
"Pak! Itu Ivan!" teriakku sebelum bapak memukul Ivan lebih keras lagi.
Dan setelah aku mengatakn hal itu dengan keras, tiba-tiba lampu menyala begitu terang. Aku menoleh ke arah saklar. Rupanya Dito yang menyalakan saklar. Dan dia tampak bingung dengan apa yang dilewatkannya.
“Bapak mau bunuh aku?” Ivan memegangi punggungnya sambil kesakitan. Aku yakin, itu sakit sekali mengingat suara pukulan terdengar begitu keras tadi. Aku mendekatinya dan menyentuh punggungnya.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku bodoh. Harusnya aku tak perlu tanya, karena itu sudah jelas. Ivan kesakitan.
“Sakit sekali.” Wajahnya benar-benar menunjukkan raut kesakitan yang tak dibuat-buat.
“Bapak benar-benar tak tahu. Sumpah!” Dia mengacungkan dua jari. “Bapak kira ada maling yang menyusup ke rumah ini. Bapak nggak tahu kalau kalian berdua keluar rumah dan kembali masuk.” Bapak berusaha menjelaskan, meskipun begitu Ivan terlihat tak peduli. Dia hanya peduli pada rasa sakitnya saja dan mengabaikan penjelasan bapak.
“Harusnya bapak menyalakan lampu dulu sebelum memukul maling. Setidaknya biar bisa lihat malingnya dulu.”
“Tadi cuma spontan. Mungkin lain kali akan bapak lakukan. Menyalakan lampu dulu, baru mukul.”
“Masuk! Biar bapak periksa!” kata bapak pada Ivan.
“Nggak perlu!” Ketusnya kemudian masuk ke dalam kamar.
Aku tersenyum ke arah bapak. “Maaf ... biar aku tanyain nanti. Kalau ada masalah serius, aku langsung kasih tahu bapak,” ujarku memberitahu. Bapak mengangguk, kemudian aku masuk ke dalam kamar bergabung bersama Ivan.