Menerka sang pelaku

1087 Words
[Ivander Adley] Sentuhan tangan melingakari perutku, hingga kurasakan sebuah kehangatan yang nyaman baru saja mendarat di tubuhku. Aku sangat mengenal aroma tubuhnya. Aroma peach yang segar bercampur dengan sejenis bunga-bungaan yang tak kuketahui jenisnya. Aku menengok ke belakang. Dan benar saja, ini ulah Kira. Dia membenamkan kepalanya di punggungku seolah baru menemukan tempat ternyaman. "Maafkan aku," lirihnya. Aku kembali menatap ke depan, tepat ke arah pepohonan yang ditanam di sekitar rumah ini. "Kenapa?" tanyaku bingung. Untuk apa dia minta maaf, padahal dia tak memiliki salah padaku. "Karena aku, kau jadi punya masalah dengan direktur. Jika kau tak mengajakku ke sini, pasti semuanya akan baik-baik saja," kata Kira dengan suara lembutnya. Aku yakin kalau Kira sudah mendengar hampir sebagian besar percakapanku dengan Vincent. Dia pasti tahu kalau ada sesuatu yang tak beres denganku di kantor, sehingga dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi padaku. "Kau salah," kataku yang mulai berbalik. Aku masih memegangi tangan kanan Kira lalu menggenggamnya semakin erat ketika aku menatap ke arah mata bulatnya. "Hubunganku dengan Boss memang sudah tak baik, sejak skandal makanan beberapa bulan yang lalu. Lagi pula, seandainya hari ini aku tak cuti pun dia pasti akan bersikap sama padaku. Tak akan ada yang berubah. Hanya saja, mungkin pekerjaan yang seharusnya bisa dihandle olehku harus dialihkan ke karyawan lainnya," jelasku pada Kira. Tatapannya teduh. Dengan wajah yang disinari cahaya temaram. "Kau yakin?" Kira memastikan. Dan aku hanya mengangguk untuk menanggapinya. Bagaimanapun, sudah sepantasnya aku menghibur Kira yang saat ini tengah kacau, meskipun aku harus berkorban waktu untuk pekerjaanku. Bisa dibilang aku juga sedang dalam keadaan tak baik. Skandal yang terjadi beberapa bulan lalu benar-benar membuat kredibilitas perusahaan merosot tajam. Aku yang merupakah seorang manajer pemasaran dituntut untuk sebisa mungkin mendapatkan kembali kepercayaan konsumen bagaimanapun caranya. Apalagi perusahaan kompetitor kelihatannya memanfaatkan kondisi D.A Food yang sedang terpuruk dengan sangat bagus. Mereka seolah mengambil sebagian besar pelanggan produk kami. Ahh ... sudahlah, aku tak perlu memikirkan masalah itu di sini. Biarkan saja masalah itu kutinggal di Mediter. Aku juga sengaja untuk seminim mungkin menggunakan gedget agar tak ada yang mengganggu momenku di sini. "Kenapa malam-malam begini bangun?" tanyaku yang sadar kalau dia bangun di jam yang nggak wajar. Saat ini mungkin sekitar jam dua belas malam, dan sebelum tadi kutinggal untuk menelpon Vincent Kira masih terlelap dalam tidurnya. Wajahnya tampak mengantuk dengan matanya yang mulai sayu. "Entah, tiba-tiba saja aku terjaga, dan saat melihat ke sisi ranjang di sampingku, kau tak ada." "Kok bisa tahu kalau aku di sini?" "Tuh!" Dia menunjuk ke arah jendela. Ahh ... benar juga, dia pasti melihatku melalui jendela kaca itu. Bukan sosoku yang jelas, melainkan hanya seberkas bayangan yang ada di tirai putih. "Yuk, tidur lagi!" ajakku menyadari kalau sebenarnya, Kira masih mengantuk meskipun dia bersikeras untuk kelihatan segar. "Nanti, ada yang ingin kubicarakan padamu, Mas," ujar Kira tiba-tiba serius. Dengan mata besarnya yang menatap ke arahku. Tangannya dilipat di d**a dengan sikap defensif. "Apa?" tanyaku penasaran, berharap kalau Kira akan langsung menceritakan apa yang ingin dia katakan tanpa harus membicarakan hal lain dulu. "Soal sabotase MFW," katanya yang spontan membuatku penasaran setengah mati. Apa pelakunya sudah tertangkap, atau dia hanya ingin memberitahu sesuatu padaku? Kira melepaskan genggamanku, lalu berjalan ke tepian dan berpegangan pada besi pembatas tepian balkon. Pasti sangat dingin saat jemarinya menyentuh besi itu. Aku melangkah ke arahnya lalu berdiri sejajar di sampingnya. Menatap kegelapan malam yang sunyi. "Aku memiliki kecurigaan pada seseorang," kata Kira tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. "Aku tahu, kalau aku belum memiliki bukti, tapi entah kenapa feelingku begitu kuat kalau hanya dia yang sanggup melakukan hal gila seperti ini padaku," lanjutnya yang membuatku semakin penasaran saja dengan orang yang Kira maksud. Apa dia merupakan rekan sesama model di Sunny Agency? Atau bahkan orang luar yang sengaja ke sana dan membuat kekacauan itu hanya untuk menjatuhkan Kira. Terlalu banyak kemungkinan yang dapat terjadi dan itu membuatku merasa percuma saja jika menebak-nebak siapa pelakunya. Jadi, tunggu saja Kira menjelaskan siapa dia. "Siapa?" tanyaku melontarkan pertanyaan yang sejak tadi bersemayam di kepalaku. "Dia sama sepertiku, hanya saja aku memiliki jam terbang yang lebih padat darinya. Dia salah satu anggota baru di Sunny Agency dan entah kenapa sejak mengenalku dia terlihat sekali tak suka padaku," katanya yang masih enggan untuk menyebutkan namanya. "Namanya?" Aku meminta kejelasan darinya karena rasa penasaranku semakin tinggi saja. "Kikan dan teman-temannya," jawabnya. "Bukannya sejak tadi kau menyebutkan 'Dia' kenapa tiba-tiba jadi banyak?" "Teman-temannya tak akan beraksi jika Kikan tak memerintahnya," jelasnya masih menatap lurus ke dapan. "Astaga, mereka kekanakan sekali?" tanyaku tak habis pikir. Sungguh, bagaimana bisa mereka masih seperti anak-anak? Ada hal mengganjal setelah Kira menyebutkan nama tadi. Ki ... kan? terdengar femilar. Namun, kurasa tak mungkin, karena Kinan yang kukenal tinggal di Bali, dan bukan di Mediter. Yeah, aku yakin. Kemungkinannya sangat kecil. "Apa kau tahu alasan Kikan membencimu dan selalu mengganggumu?" tanyaku penasaran pada Kira. Dia jelas sudah tak sabar dengan wanita yang bernama Kikan itu. Aku yakin, dia berusaha mati-matian untuk menahan emosinya untuk tidak meledak-ledak karena aku kenal Kira. Jika ada hal yang sudah melewati batas toleransi kemarahannya, dia akan meledak-ledak dan tak segan untuk memukul atau jika dengan seorang wanita, dia bisa mengajaknya berkelahi dengan menjambak rambutnya mungkin atau mencakar wajahnya. Kedengarannya memang mengerikan, tapi Kira memiliki batas toleransi kesabaran yang tinggi, tenang saja. Kira menggeleng untuk merespon pertanyaanku. "Kau yakin? Mungkin kau pernah menyinggung perasaannya secara tak sengaja?" "Entahlah, seingatku aku bahkan tak pernah berbicara banyak padanya. Sejak awal dia sudah menghindariku dan seolah-olah menolak berbicara padaku dan memberikan tatapan mengancam saat melihatku. Itu aneh," jelasnya yang membuatku semakin penasaran dengan sosok itu. "Yeah, dia aneh. Kau sudah menanyakan hal ini pada Terana?" tanyaku. Terana adalah orang yang memiliki akses luas untuk menguak kasus ini dan harusnya dia sudah menemukannya. Tapi kenapa sampai saat ini dia belum menemukannya? Ini aneh. Benar-benar aneh. "Belum. Seperti yang kukatakan padamu. Aku belum memiliki bukti untuk menuduh Kikan bersalah. Jadi jika aku memberitahu Terana mengenai hipotesisku, itu malah akan terlihat aneh," jelasnya yang ada benarnya juga. Dia pasti akan dianggap menyebarkan berita tak benar jika dia menuduh Kikan tanpa bukti yang kuat. "Bagaimana dengan pemilik agencymu itu?" Aku bahkan lupa namanya. Ya ampun! "Pak Devan? Dia sama seperti Terana, hanya saja orang itu jauh lebih tenang dari Terana. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan penyelidikan mereka," ujar Kira. Tentu saja, tak banyak yang akan dia beritahu mengenai hal itu karena dia belum memiliki cukup bukti untuk menuduh siapa yang bersalah. Sial! Tak kusangka kalau masalah yang terlihat sepele seperti ini memiliki penyelesaian berbelit-belit yang tak kunjung selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD