Dinner With Family

1112 Words
[Kirana Gantari] Ada perasaan kesal ketika mendengar suara berita yang ditayangkan di televisi. Meskipun aku tak melihatnya secara langsung karena letaknya di ruang tengah, tapi bagaimanapun juga, suaranya tetap sampai di telingaku. Terana terdengar kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh wartawan karena hampir semua pertanyaan menanyakan hal yang sama. Karena fokus mendengar berita sekaligus rasa kesalku mulai membuncah, jari telunjuk kiriku teriris. Rasanya tak sakit saat di awal, hanya kaget karena pisau yang menggores kulit di jari telunjukku. Ivan langsung menengok ke arahku, dan dengan sigap, membantuku untuk membersihkan luka di air yang mengalir. "Bu! Tolong kain steril atau tissue, serta plaster untuk menutup lukanya!" Tangan Ivan menggenggamku erat. Berusaha mengambil alih tanganku agar mau mengikuti keinginannya yaitu tetap membiarkan tanganku di air yang menngalir sembari menunggu tissue dan plaster untuk membalut luka. Ibu datang sambil membawa apa yang diminta oleh Ivan. Dan dia berkata, "lukanya nggak dalam kan?" tanya Ibu ke Ivan. "Kurang tahu juga. Tapi semoga saja nggak dalam. Yang terpenting saat ini, kita tutup lukanya dulu dengan plaster. Ibu pergi aja. Nanti malah pingsan liat darah," ujarnya sama Ibu. Ibu memang memiliki hemophobia dan itu berawal dari kecelakaan yang menima Ivan dan Faris. Kemungkinan besar Ibu melihat kondisi Faris yang penuh luka sehingga sampai sekarang saat dia melihat darah, Ibu merasa pusing dan yang paling buruk kalau nggak segera ditangani, dia bisa pingsan. Itu pernah terjadi waktu itu saat Dito pulang dengan lutut yang berdarah. Desiran perih mulai terasa di jariku ketika Ivan melingkarkan plaster ke jari. Kurasa lukanya dalam. Mengingat darahnya juga masih terus mengalir. Aku hanya diam. Membiarkan Ivan yang mengurusi lukaku sementara aku hanya mengawasi dirinya yang tampak manis saat ini. "Bagaimana bisa sampai teriris, sih? Lain kali lebih hati-hati!" katanya menasehatiku. Sebuah nasehat yang terbilang wajar. Dulu, saat kecil aku juga sering dibasehati seperti ini oleh Ibu. Saat jariku teriris ketika membantunya memasak, saat jatuh dari sepeda, atau pun ketuka aku jatuh saat lari-lari. "Sakit?" tanya Ivan penuh simpati. "Sedikit. Tapi, OK kok." "Kau yakin?" "Yeah. Yuk, lanjut masak lagi!" pintaku sambil tersenyun manis ke arahnya. Dan sebuah cubitan langsung mendarat di pipi. "Bisa-bisanya kau membuatku panik," kata Ivan yang terdengar begitu imut. Rumah ini begitu ceria. Keluarga Ivan begitu menyambutku dengan baik sebagai bagian dari keluarga mereka. Ibu dan Ayah juga begitu sayang padaku. Terlihat tulus dan sama sekali tak dibuat-buat. Itu yang membuatku cukup senang berada di sini. Hanya saja, satu hal yang tak kusuka. Kucing. Ivan memiliki beberapa kucing, dan bisa dibilang dia adalah salah satu penyayang kucing. Meskipun pada akhirnya dia mengalah dan tidak membawa kucing kesayangannya ke rumah kami, serta mengurung kucingnya sementara waktu saat aku berada di sini. Sebenarnya bukan tak suka, aku bahkan merasa gemas pada mereka yang memiliki wajah imut dan buku halus. Namun, sayangnya aku memiliki alergi terhadap bulu kucing. Dan itu sudah terjadi sejak aku kecil. Jadi, there's nothing to help me. Saat jam menunjuk angka tujuh kurang, kami sudah berkumpul di meja makan yang lumayan besar. Semua orang berkumpul dan ada yang unik di sini. Keluarga Ivan selalu membiarkan sebuah kursi tetap kosong saat makan bersama seperti sekarang ini. Katanya, itu untuk Faris. Sampai sekarang, keluarga Ivan masih belum bisa melupakan sepenuhnya akan kepergian kakaknya Ivan itu. Aku jadi ingat kejadian tadi, saat kami berkendara ke sini. Saat mobil kami hampir sama menabrak kerbau pembajak sawah yang berjalan di pinggir jalan. Untung saja Ivan membanting setir dan mobil kami akhirnya bisa berhenti di pinggir jalan dan kami tak terluka sedikitpun. Namun, setelahnya Ivan kelihatan takut.ada kemungkinan dia teringat lagi masa lalunya. Trauma yang dia alami memang cukup membekas di ingatan. Bagaimana tidak kejadian itu merenggut kakak yang katanya paling dia sayangi. Seorang figur kakak terbaik baginya sekaligus sahabat yang selalu bisa berbagi apapun bersama. "Kira!" panggil Ivan yang spontan mengagetkanku. Aku langsung menoleh dan mungkin saja wajahku tampak bingung saat ini. "Ada apa?" "Waktunya makan," katanya. Aku baru sadar kalau saat ini aku telah memegang sendik dan garpu sementara sejak tadi belum ada sesuap pun yang masuk ke mulutku. "Mikirin apa, sih?" tanya Ibu. Aku berpikir keras untuk menemukan jawaban untuk berbohong. Karena jika aku jujur, yang ada malah moment menyenangkan ini akan berubah jadi awkwardvdan bisa saja membuat ibu teringat kembali dengan mendiang Faris. "Aku nggak nyangka kalau masakan Kira seenak saat ini sekarang." Pujian itu keluar dari mulut Bapak. Yang biasanya sangat jarang memberikan pujian pada apapun dan siapapun. Dan saat ini, dia memuji makananku. Oh ya ampun ... rasanya ingin melayang. Meskipun hal yang kulakukan di dunia nyata hanya ... tersenyum dan menanyainya untuk nambah atau tidak. Dan dia menolak karena katanya jumlah kalori yang dia makan sudah berlebihan. "Terima kasih," ucapku pada akhirnya. "Siapa dulu dong, yang ngajarin," Ivan meminta bagian atas pujian bapak. Dan itu curang. "Itu juga hasil didikan ibu," ibu menyahut yang membuatku hampir ingin ketawa karena Ivan tak lagi bisa mengelak. Keahliannya memasak memang diturunkan oleh ibunya dan kerenna, sebagai pria dia mau belajar memasak. Tak seperti aku yang malas dan lebih memilih melakukan hal lain, dan sekalinya membantu ibu memasak, aku malah dapat masalah. Saat sudah dewasa aku juga tak tertarik karena banyak hal yang harus kulakukan sehingga menghabiskan waktu di dapur menurutku tak terlalu menyenangkan. Semua hal itu berubah saat aku telah menikah dengan Ivan. Dia mengajariku banyak hal mengenai memasak. Menghabiskan waktu memasak dengannya bahkan menjadi hal yang paling menyenangkan menurutku. Ivan tampak manis saat memasak. Dengan apronnya yang ternoda itu dan sesekali wajahnya yang belepotan kalau kami memanggang roti. * * * Aku lupa bagaimana pada akhirnya aku terlelap padahal tadi aku sedang mengobrol dengan Ivan. Aku memandang ke langit-langit dan menoleh ke samping kiriku. Ivan ke mana? Aku meraba nakas yang ada di sisiku dan mencari ponsel yang semalam kalau tak salah aku letakan di sini. Ketemu. Aku menyalakannya untuk melihat jam. Masih pukul dua belas rupanya. Aku bangkit, dan bersandar di headboard. Menatap jendela yang mengarah ke balkon. Ada siluet yang terbentuk di sana, tampak jelas dari balik tirai putih. Apa itu Ivan? Aku bangkit dan berniat mengeceknya. Tak ada rasa takut yang menghampiriku karena jarak antara permukaan tanah dan balkon cukup tinggi, jadi nggak mungkin ada orang yang berani menaikinya. Aku membuka pintu perlahan dan benar saja, itu Ivan yang tengah menelpon seseorang. Entah siapa itu, tapi yang jelas dia tampak kesal. Dan saking seriusnya dia bahkan belum menyadari keberadaanku. "Aku akan kembali Senin ... yeah, akan langsung kujelaskan dengan boss. Iya, aku tahu. Tapi ini lebih penting. Hmm ... aku akan selesaikan semuanya Senin depan ... okay." Setelahnya Ivan menutup sambungan teleponnya. Dan secara spontan, aku memeluknya dari belakang. Membiarkan tubuh kami menyatu. Membagikan kehangatanku padanya yang besar kemungkinan merasa kedinginan karena berada di luar sini cukup lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD