Trip to Bandung

1141 Words
[Ivander Adley] Dengan cepat aku langsung memutar setir, menghindari kerbau pembajak sawah yang melintas di jalanan. Hingga akhirnya Thunder keluar lajur jalanan dengan cepat dan berhenti tepat di area yang penuh dengan rerumputan liar. Untung saja tak ada pohon atau apapun yang bisa membuat Thunder menabrak sesuatu. Kami selamat. Debar jantungku berdetak tak menentu, membayangkan betapa mengerikannya kejadian tadi seandainya aku gagal membanting setir. Aku masih terdiam. Syok dan takut. Kedua tanganku gemetaran dan tubuhku seolah dibanjiri dengan adrenalin sekaligus keringat dingin. Kilasan-kilasan  masa laluku kembali muncul. Seperti DVD rusak yang menampilkan beberapa gambaran acak secara berulang. Kilasan kejadian di mana mobil yang kutumpangi menabrak sebuah pohon yang merenggut nyawa Faris, rumah sakit tempat Faris dirawat, serta sebuah ruangan di mana terakhir kalinya aku melihat Faris dan dia mengatakan, "jaga dirimu baik-baik." Beberapa kilasan lain juga muncul seperti tangisan ibu, pemakaman Faris serta beberapa kilasan lainnya yang kembali muncul secara tiba-tiba padahal dulu telah berhasil kulupakan. "Ivan?" Aku mendengar suara Kira, tapi rasanya sulit untukku menoleh. Semua kilasan itu terus berputar di otakku dan membuatku bingung apakah semua ini nyata atau hanya fatamorgana. "Ivan!" ucapnya lebih keras. Sebuah sentuhan terasa di kedua tanganku yang masih terpatri di atas setir mobil. "Tenang! Kau baik-baik saja! Aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau cemaskan," ujar Kira yang spontan membuatkupada akhirnya sanggup menoleh. Dia menurunkan tanganku dari atas kemudi, lalu menggenggamnya erat-erat dan mengecupnya lembut. "Maaf. Ini semua salahku." Aku menggeleng. "Sekarang, aku yang gantian menyetir, ya!" ujarnya. "Tidak. Aku masih bisa menyetir. Aku hanya perlu rehat sejenak untuk menenangkan diri." "Kau yakin?" Aku mengangguk lagi. Setelah beberapa saat kami hanya terdiam akhirnya aku membuka suara. "Maaf, sudah membuatmu hampir celaka," ujarku lirih. Aku memiliki trauma, yang rupanya sampai sekarang masih membekas padahal telah lama berlalu. Bahkan kejadian itu sudah bertahun-tahun, tapi tetap saja tak ada yang berubah sedikitpun. Aku ... masih ... mengingat semua kejadian itu dengan sangat jelas. "Aku yang salah. Kalau saja aku tak memintamu mengebut, tentu hal ini tak akan pernah terjadi." "Okay. Kita sama-sama salah. Kita lanjut?" "Kau sudah baikan?" tanya Kira. Aku mengangguk. Tentu saja dia tahu mengenai trauma yang kualami. Dia sangat paham dan memaklumi apa yang baru saja terjadi padaku. Butuh bertahun-tahun untukku bisa naik mobil kembali, dan waktu yang lebih lama untuk kembali mengemudikannya. Aku menginjak pedal gas pelan-pelan hingga akhirnya mobil melaju perlahan keluar dari tepian jalanan dan meluncur di jalanan beraspal. "Pelan-pelan saja," katanya memperingatkan. "Yeah. Mereka juga sudah tak mengejar. Kurasa mereka salah jalan," jawabku. Kira tampak biasa saja dengan kejadian tadi. Mungkin itu karena dia tipe orang yang suka tantangan. Dia bahkan sering melakukan panjat tebing dan beberapa olahraga ekstrem lainnya. Yeah, dia memang tangguh. Saat kami memasuki tol, Kira mulai menyalakan kembali musik kesukaannya. Dia tampak begitu asyik bernyanyi bersama si vokalis. Sesekali aku ikut bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosan yang melingkupiku karena terus menerus fokus melihat jalanan serta mengalihkan pikiranku dari kilasan-kilasan masa lalu yang masih saja muncul meski tak seabstrak sebelumnya. Thunder kubiarkan pada batas normal kecepatan jalan tol dan seandainya ada mode autopilot, aku akan lebih tenang dan bisa melakukan hal lain selain melihat jalanan. Perjalanan masih sekitar satu jam lagi untuk sampai di kota Bandung dan dua puluh menit dari batas kota menuju rumah ibuku. Kira membuka makanan yang tadi dibawanya dari rumah. Rupanya dia juga membawa snack. Nachos rasa balado kesukaanya. Suara kriuk renyah dari nachos yang digigitnya terdengar begitu nyaring di sela-sela suara mesin mobil. Kira memakannya dengan lahap lalu tiba-tiba membagikannya padaku. "Buka mulutmu!" Aku menurut dan memakan nachos langsung dari tangannya. Enak. Karena ini juga salah satu makanan kesukaanku. Lumayan juga untuk mengatasi bosan saat berkendara. Ketika sampai di rumah ayah dan ibu. Kira masih tertidur. Hingga aku memutuskan untuk membangunkannya dengan lembut agar dia mau bangun. Kira membuka matanya setelah aku memanggilnya empat kali. Dan di saat yang sama, ibu yang berada di sampingku tersenyum ke arahnya. Kira lumayan kaget tapi tak lama. Hingga akhirnya dia menyadari kalau kita telah sampai di rumah. "Yuk, masuk!" ajakku. Kira keluar dari mobil, menggandeng lenganku kemudian ikut masuk bersama. Aku mengajak Kira untuk duduk di sofa ruang tamu. Mengistirahatkan tubuh setelah perjalanan yang lumayan jauh. "Katanya weekend? Kenapa nggak bilang kalau dimajukan? Kita kan jadi nggak bisa siap-siap apapun," ujar Ibu. Ibuku berasal dari Solo. Itulah yang menyebabkan sampai saat ini, logat Jawanaya masih sangat kental terdengar. "Aku udah nggak sabar buat ketemu kalian. Oh ya, Dito mana?" tanyaku. "Oh, anak itu lagi main sama temannya. Nanti juga pulang," kali ini bapak yang menjawab. "Nak Kira mau minum apa?" tanya Ibu dengan lembut dan tak lupa senyumannya yang membuat siapapun merasakan kehangatan saat berada di dekatnya. "Apa aja, Bu," jawabnya. Mungkin dia bingung. Kalau kalau minta yang aneh-aneh, dan di sini tak ada, malah tak enak nantinya. "Ya udah. Ibu ada sirup jeruk. Mau yang dingin?" "Boleh," jawab Kira. "Bu, aku juga, ya?" Permintaanku hanya dijawabnya dengan senyuman. Yang berarti IYA. Kira menatap ke sekeliling rumah ini. Ada banyak yang berubah. Padahal baru beberapa bulan aku tak ke sini. Dan satu hal yang masih belum berubah. Foto kami yang masih terpajang di dinding. Foto pernikahanku bersama Kira. Di dalam foto, Kira memakai gaun berwarna putih bersih sementara aku mengenakan jas hitam. Dia menggandeng lenganku dengan sangat erat dan senyum yang tak sekalipun dia lepaskan. Jelas sekali kalau moment itu, adalah moment paling membahagiakan dalam hidupku. "Kau lapar?" tanyaku pada Kira. Dia menggeleng, lalu menjawab, "tadi aku sudah banyak makan cemilan di mobil." "Oh, iya." ... Sore harinya, aku dan Kira membantu Ibu memasak makan malam. Kali ini bisa dianggap makan besar karena banyak masakan yang kami masak. Mungkin ini ide ibu yang sebenarnya dia siapkan saat penyambutan kami. Dia memang selalu seperti itu saat kami datang. Repot sendiri hanya untuk memasak makanan untuk kami. Dan karena kami berdua sudah di sini, kami memutuskan membantunya. Kira tengah memotong bawang, sementara aku tengah mengaduk-aduk masakan yang ada di panci. Harus terus diaduk agar santannya tak pecah. Ibu tengah memotong-motong buah untuk membuat sup buah kesukaan Dito dan Kira. Kira nggak terlalu pilih-pilih makanan. Meskipun dia model, tapi entah kenapa dia tak masalah dengan makanan apapun. Tubuhnya masih tetap langsibg meskipun dia makan banyak. Itu cukup menggembirakan karena aku tak perlu melihat Kira sengsara untuk menjaga berat badannya. " ... mengenai sabotase yang terjadi di Mediter Fashion Week, apa yang akan anda lakukan untuk menemukan pelakunya?" Suara televisi terdengar begitu nyaring dari ruang tengah. "Pak Terana!" panggil salah seorang reporter yang meminta jawaban Terana. "Sudah saya bilang, kalau ada perkembangan, akan saya kabari. Jadi, berhenti menanyakan hal yang sama berulang-ulang!" tegas seseorang yang suaranya sangat mirip dengan Terana. Jelas kalau itu benar-benar dia. Ketika aku hendak berbalik dan meminta siapapun yang tengah berada di ruang tengah untuk mematikan televisi atau pun mengganti salurannya, suara Kira gerdengar mengaduh. Aku menoleh dan melihat darah mengalir keluar dari jarinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD