[Kirana Gantari]
Tak banyak barang yang kubawa karena kami hanya menginap di sana sekitar dua hari. Aku hanya memasukkan beberapa pasang baju ke dalam koper. Tentu saja bukan hanya milikku, tapi juga milik Ivan. Saat ini dia tengah duduk dengan laptop di depannya yang menyala, menampilkan halaman e-mail yang tengah ditulisnya, berisi pengajuan ijin cuti dadakan selama satu hari. Entah akan diterima atau tidak, yang jelas Ivan tetap memaksa untuk mengajakku pergi ke Bandung hari ini, ke tempat orang tuanya.
Jujur saja aku khawatir dengan dirinya. Dari yang aku amati selama beberapa hari ke belakang, dia sedang tak baik-baik saja di kantor. Entah itu konflik dengan rekan kerja, atau mungkin juga kondisi perusahaan yang sedang tidak baik. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi perubahan sikap Ivan yang tampak stress. Dan saat ini, dia malah mengajukan permohonan cuti secara mendadak. Aku khawatir ini akan berdampak padainya di lain waktu.
"Sudah semua?" Ivan menoleh ke arahku.
"Yeah. Bajumu sudah kumasukan. Ada barang lain lagi yang mau kau bawa?" tanyaku memastikan kalau koper sudah bisa ditutup atau tidak.
"Tidak, itu saja."
"Kau sudah mengirim suratnya?" tanyaku memastikan.
"Yeah, sudah kukirim." Dia mendekat ke arahku. "Sudah siap?" tanyanya sambil menyelipkan anak rambut yang menjulur ke telingaku.
"Yeah."
"Jangan khawatir. Semua ini akan segera berlalu. Pasti ada berita lain lagi yang nantinya akan menenggelamkan beritamu," ucap Ivan mencoba membuatku tenang.
"Butuh sebuah pengalihan yang lebih besar dari berita tentang sabotase MFW seorang Terana," timpalku.
"Aku yakin, Terana pasti akan membereskan ini dengan cepat. Tentu dia tak akan mau jadi highlight terus menerus di seluruh media dengan berita buruk ini."
"Yeah kau benar. Harusnya aku bisa berpikir lebih jernih, tapi ingatan mengenai kejadian itu membuatku berpikir sebaliknya."
Ivan tak mengucapkan apapun. Dia hanya mengelur sisi pipi kananku lalu mengecup keningku dengan lembut.
"Kita pergi sekarang?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Ivan membawa koper kami dan satu tas berisi beberapa perlengkapanku yang lain ke depan rumah. Aku menguntitnya dari belakang dengan membawa tas selempang kulit berukuran kecil, lalu melihatnya memasukkan barang kami ke dalam bagasi Thunder. Mobil jenis sedan yang dibelinya sebagai hadiah pernikahan kami. Mobil ini berbeda dengan yang dibawanya untuk bekerja setiap hari. Thunder hanya digunakan saat kami pergi berdua saja selain itu, dia hanya menginap di bagasi. Selesai memasukan barang-barang ke dalam bagasi, aku masuk ke dalam mobil, sementara Ivan mengunci pintu rumah.
Seusai mengunci pintu, dia menggerakkan perseneling lalu meluncur meninggalkan rumah kami. Satpam yang ditugaskan untuk menjaga rumah kami langsung menutup pintu begitu melihat kami melewati gerbang. Aku memakai kacamata hitam, karena sedikit silau akibat cahaya matahari yang mulai terik mengenai kornea mata. Selain itu, aku juga butuh kacamata seandainya ada orang yang memergokiku nantinya.
"Kita ke POM bensin dulu, ya. Thunder butuh minuman," ujarnya sambil mengenakan kacamata hitam sama sepertiku, tapi dengan model yang berbeda. Dia selalu tampak mempesona saat memakai kacamata. Aku hanya mengangguk menanggapinya, lalu kembali melihat jalanan di depan kami yang lumayan ramai.
Aku menyalakan musik melalui pemutar musik yang terpasang di mobil dan membiarkan lagu kesukaanku mengalun indah, yang sesekali membuatku ikut bernyanyi bersama sang vokalis. Aku memang suka menyanyi, tapi hanya sekedar suka saja karena suaraku yang bisa dikategorikan sangat pas-pasan untuk didengar orang lain. Berbeda dengan Ivan. Dia malah menikmati suaraku, seolah-olah suaraku sangat merdu padahal sebaliknya. Aku menengok ke arahnya yang rupanya juga ikut bernyanyi mengikuti alunan nada. Suara Ivan lebih bagus dariku. Merdu dan dan sedikit berat.
Hingga akhirnya mobil kami berbelok ke arah POM bensin. Ivan membuka pintu kaca yang spontan membuatku menghentikan kegiatanku menyanyi dan melihat ke arah jendela di sampingku, tapi sialnya seseorang melihatku. Seorang pria dan wanita dengan seragam crew televisi. Aku segera menoleh ke arah Ivan. Berharap kalau dua orang itu tak mengenaliku sebagai Kira.
"Cepat jalan!" desakku selepas Thunder berhasil diberi minum.
"Iya, ini juga mau jalan," kata Ivan.
Aku melihat ke belakang melalui spion dan mendapati mereka mengikuti kami dari belakang. Bahkan hendak menyelip Thunder.
"Kau bisa menaikkan kecepatan?" tanyaku pada Ivan.
"Memangnya ada apa?" Jelas sekali Ivan butuh penjelasan atas keinginanku, mengingat dia bukan tipe orang yang suka memacu kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi.
"Di belakang. Dua orang dengan seragam crew televisi itu mengikuti kita," jelasku sambil sesekali menengok ke belakang seperti orang panik. "Ivan tolong! Aku tak mau sampai mereka menghentikan mobil kita dan memaksaku keluar." Aku sedikit memaksa kali ini.
"Okay ... okay ...." Setelahnya dia benar-benar meningkatkan kecepatan mobilny dengan cara menginjak pedal gas dalam-salam sampai-sampai mobil kami melaju begitu kencang. Untung saja kondisi jalanan di sini cukup lengang.
Aku menoleh ke belakang dan masih mendapati mereka mengejar, berusaha menyamai laju Thunder padahal dia sudah mencapai kecepatan yang cukup tinggi.
"Apa mereka berusaha membunuh kita? Kenapa mereka kukuh sekali ingin mengejar kita?"
"Aku tak tahu. Yang jelas mereka berambisi ingin mendapatkan keteranganku. Agar mereka bisa mencari-cari kesalahanku. Kau tahu sendiri, kan, bagaimana media membuat berita?"
"Yeah," jawab Ivan di tengah konsentrasinya.
Reputasiku memang tak terlalu baik di mata media. Jadi, jika ada hal semacam ini terjadi, mereka akan mati-matian memburuku agar menemukan celah untuk memberitakanku.
Semuanya berawal dari tiga tahun yang lalu. Ketika media berhasil merekamku tengah memaki-maki seorang pegawai restoran yang sebenarnya memang pantas untuk kumaki-maki. Media memberitakan dan memberikanku citra buruk sebagai seorang model papan atas yang arogan dan sombong. Aku sudah melakukan klarifikasi kalau pegawai itu memang kurang ajar. Tapi tak ada yang percaya. Hanya keluargaku dan keluarga Ivan saja yang percaya padaku. Mereka yang sangat menngenalku, tentu tahu bagaimana diriku yang sebenarnya.
Saat mobil itu beberapa kali ingin menyusul kami, aku memutuskan untuk menggunakan GPS sebagai alat penunjuk jalan agar kami bisa keluar dari situasi ini. Dan ada satu persimpangan di depan. Kami harus memanfaatkannya untuk melepaskan diri dari kejarannya.
"Kita pakai caraku. Di depan ada persimpangan. Kita gunaikan itu. Naikkan kecepatan. Biarkan mereka menyamai laju mobil kita. Dan begitu kita hendak sampai di persimpangan itu, kau injak pedal rem kuat-kuat. Mundur lalu berbelok ke arah persimpangan itu. Dan menghilang di persimpangan berikutnya. Rutenya sama. Hanya saja kita berhasil mengelabui mereka." Aku memberitahu rencanaku pada Ivan.
"Okay. Akan kucoba. Kau tahu sendiri, bukan. Kalau aku tak ahli dalam hal seperti ini. Aku bahkan tak tahu apa aku bisa atau tidak, melakukannya."
"Kau bisa, pasti bisa," ujarku menyentuh lengannya. "Aku percaya padamu," lanjutku. Ivan tersenyum. Aku bisa melihatnya meskipun dia tak menoleh sedikitpun. Dia terlalu khawatir karena kecepatan yang sangat tinggi bisa berakibat buruk kalau dia meleng sedikit saja.
Semuanya sesuai renccana, mereka berada di sisi kanan mobil dan di depan sana ada persimpangan.
"Siap?" tanyaku pada Ivan yang tampak tegang.
"Yeah. Semoga berhasil," ujarnya gugup. Ada hal yang dia coba lawan saat ini. Ketakutan yang begitu besar.
"Sekarang!!" ucapku dengan volume keras, yang spontan ditanggapi oleh Ivan dengan injakan rem yang mendadak dan membuat mobil kami berhenti beberapa detik lalu segera mundur dan berbelok ke sisi kiri.
Mereka melaju ke depan karena tak tahu dengan rencana kami. Dan sebelum mereka sempat berbalik dan menemukan kami, kami menikung ke persimpangan selanjutnya dan meninggalkan mereka. Kecepatan mobil masih sangat tinggi dan kami meluncur dengan perasaan bahagia karena berhasil mengelabuhi mereka.
"Kita berhasi!!" teriak Ivan tampak begitu senang. Aku membalasnya dengan senyuman manis dan tatapan kami bertemu sesaat hingga sebuah hal membuatku berteriak padanya.
"Ivan awas!!!"