[Ivander Adley]
Ada perasaan kecewa ketika melihat Kira kembali pada kebiasaan lamanya. Aku yakin betul, kalau dia berhenti minum setelah menikah denganku. Namun, kenapa dia kembali lagi? Aku menatapnya dalam diam. Wajahnya kelihatan letih sementara riasannya berantakan. Aku mengelus rambutnya yang kusut dan menyadari kalau sesuatu terjadi padanya hari ini. Bukan hal yang baik karena Kira tak akan pernah mau tampil seperti ini di luar rumah.
Tadi siang aku tak sempat pergi ke acaranya. Terpaksa. karena diriku larut dalam rapat dadakan. Penjualan trimester ini benar-benar jauh dari ekspektasi. Apalagi produk baru yang dirilis pertengahan bulan April berada di bawah target kami. Dan yang paling disalahkan dalam hal ini tentu saja divisiku. Sepertinya aku memang harus bekerja lebih keras lagi. Mendorong timku untuk bersemangat mencapai target penjualan. Aku bekerja di D.A Food sejak lulus kuliah. Bisa dibilang karirku cukup cemerlang mengingat dalam waktu yang relatif singkat aku sudah dipercaya menjadi seorang manajer pemasaran. Yeah setidaknya itu yang dikatakan banyak orang termasuk kakakku, Faris.
Besok adalah hari peringatan kematiannya. Dan aku masih tak menyangka dia sudah pergi cukup lama. Padahal rasanya baru kemarin kami bercengkrama bersama. Faris terpaut dua tahun lebih tua dariku. Dulu, dia adalah idolaku. Itulah kenapa aku bisa selalu juara kelas bahkan mengikuti berbagai kegiatan olimpiade. Faris selalu menyemangati dan membimbingku untuk semangat belajar agar bisa bersaing dengannya dan hasilnya sangat baik. Kerja kerasku terbayar lunas.
Seperti biasa, jika mengingat tentangnya aku selalu larut dalam penyesalan. Meskipun sudah lama hal itu terjadi, tapi tetap saja, ingatan kelam itu masih ada di benakku sampai kapanpun. Kata orang, waktu akan menyembuhkan luka, tapi pada kenyataannya waktu hanya mebuat kita lupa dan pada suatu masa kita akan kembali ingat mengenai luka yang kita miliki. Aku menatap Kira sebelum akhirnya terlelap dalam tidur.
Pagi harinya, aku merasakan sebuah kecupan di kening. Membuka mata dan sosok yang pertama kali kulihat adalah Kira. Wajahnya sumringah dengan bibir pucat yang tertarik ke atas. Senyumnya benar-benar manis.
"Kira ...." kataku lalu bangun.
Kira turun dari ranjang lalu berkata, "sarapan sudah siap. Sebaiknya kita segera turun."
"Aku harus bersih-bersih dulu. Kau tunggu di bawah."
Dia mesem, lalu berjalan ke luar kamar. Tak ada yang berbeda darinya. Tapi ... bagaimana mungkin semalam dia seperti itu?
Selepas mandi dan berpakaian rapi, aku mengenakan dasi. Di saat itulah sebuah notifikasi muncul di ponselku. Dari Vigo.
"Kau sudah tahu mengenai insiden di MFW kemarin?"
Mendapat pesan itu dari Vigo, aku langsung menelponnya guna mempersingkat waktu.
Tanpa butuh waktu lama, Vigo mengangkat panggilan dariku. "Insiden?" tanyaku sebagai pembuka percakapan.
"Seseorang menyabotase MFW kemarin. Untuk lebih jelasnya kau bisa membuka berita di internet. Sudah tersebar bahkan tranding nomor satu di Birdiest"
"Dan?"
"Kira yang jadi sasaran."
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanganku mengepal, ada titik emosi yang muncul di dalam diriku.
"Aku tak terlalu paham masalahnya. Terana tak banyak berkomentar pada media" komentar Vigo.
Sial!! Jadi ini yang membuat kira semalam melakukan hal yang di luar kebiasaanya?
"Kira bahkan belum mengatakan apapun padaku. Dan pagi ini dia tampak seperti biasanya."
"Jika begitu, jangan tanyakan apapun. Mungkin dia berusaha menyembunyikannya untuk melupakan kejadian semalam."
"Mas!!" Suara Kira terdengar nyaring di telinga. Dia berdiri di pintu dan menatapku. "Siapa yang menelpon?" tanyanya.
"Vigo." Aku menunjukan ponselku ke arahnya.
"Kalau begitu aku harus pergi. Terima kasih infonya," kataku pada Vigo.
Setelah menutup telpon, aku berbalik dan berjalan menuju Kira. Turun dan makan di meja makan. Kira sama sekali tak menyinggung apapun mengenai kejadian semalam. Dan ini membuatku khawatir. Kenapa dia menyembunyikan itu dariku?
Bahkan hingga kami selesai makan, Kira sama sekali tak bicara. Apapun. Dia seolah diam dan berusaha bersikap seperti biasa meskipun diamnya Kira tak bisa disebut hal yang biasa. Aku memeluk pinggulnya saat dia mencuci piring. Kira menoleh dan membuat wajah kami berada sangat dekat saat ini.
"Kau ada masalah?" tayaku.
"Hanya ...."
"Aku sudah tahu semuanya dari Vigo. Maaf aku tak ada di sana saat kau membutuhkanku. Saat ini, kau bisa menceritakan semuanya padaku."
"Kurasa ... tak ada yang perlu diceritakan. Lagi pula semuaya dapat kau lihat di internet," katanya sambil membilas piring yang dicucinya.
"Kau tahu, kan? Apa yang kita temukan di internet itu sebagian besar dilebih-lebihkan?"
Kira tampak berpikir, lalu melepaskan pelukanku dan berbalik. Jarak kami hanya terpaut satu meter dan dia menunduk.
"Aku minta maaf soal semalam. Aku sadar, aku mabuk dan melupakan perjanjian kita."
"It's okay. Aku paham situasimu semalam. Mungkin kau berpikir kalau alkohol dapat menyingkirkan semua sarang laba-laba di pikiranmu. Yang kuinginkan saat ini hanya sudut pandangmu. Kau mau cerita?"
Kira mudur, tangannya berada di pinggiran tempat cuci piring. "Seseorang menyabotase acara kemarin. Tubuhku diguyur cairan berbau busuk sebelum melangkah ke runway."
Aku terdiam sejenak ketika wajah Kira berubah kalut. Seolah kembali mengenang saat terburuknya, dia menangis. "Aku tak bisa kembali karena posisiku sudah di depan penonton saat cairan itu mengguyur. Aku melangkah ke arah penonton dengan penampilan yang sangat menjijikan, semua kamera memotretku, menjadikanku bahan tontonan dan pembicaraan, aku ...." Sebelum sempat Kira melanjutkan ceritanya, aku kembali memeluknya. Membenamkan wajahnya di bahuku. Dia menangis sesenggukan, sementara tangan kananku mengelus punggungnya pelan guna sedikit menenangkan tangisannya.
"It's okay, jangan dilanjutkan karena kamu bakal mengingat seluruh kejadian kemarin malam lagi."
Tangisan Kira benar-benar pecah di dekapanku. Baru kali ini dia menangis seperti ini, Kira adalah gadis yang sangat tangguh dan aku berani taruhan kalau dia sangat jarang sekali menangis. Kecuali suatu hal benar-benar menghancurkan dirinya.
"Kurasa, aku akan izin hari ini. Kau butuh aku dan bagaimana kalau kita percepat pulang ke Bandung? Lagipula besok kan weekend," ucapku pada Kira.
"Tak apa, Mas. Aku baik-baik saja Kita ke bandung besok saja. Lagi pula kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu, kan? Aku nggak mau nantinya kau malah ada masalah yang jauh besar kalau kamu nggak pergi kerja hari ini."
Mungkin Kira benar. Posisiku di kantor saat ini memang sangat dibutuhkan dan tak bisa digantikan oleh siapapun. Jika aku izin hari ini bisa saja masalah yang ada malah makin membesar. Namun, Kira juga sama pentingnya dengan pekerjaanku, bahkan lebih penting. Aku juga tak akan bisa berkonsentrasi jika meninggalkan Kira dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Tak apa, aku bisa mengatasinya nanti. Aku akan membuat surat izin cuti, dan kau persiapkan pakaian untuk dua hari tiga hari dua malam. Okay?" tanyaku sambil menatap matanya.
"Tapi, Mas! Aku benar-benar khawatir jika nantinya kamu dapat masalah," ujarnya sambil menggigiti bibir bagian bawah.
"Aku juga tak mau kau dapat masalah. Aku yakin sekali, sebentar lagi media akan datang ke sini dan berusaha mewawancaraimu bagaimanapun caranya. Kau tahu, kan? Bagaimana Terana?" kataku berusaha membujuknya.
"Yeah ... aku ...."
"Trust me, I can handle this. Aku nggak akan biarin kamu menghadapi ini sendiri, Kira."
Kira meletakan tangann kanannya di pipiku, sambil menatap dengan tatapan intense disertai air mata yang menggenang di matanya.
"I love you."
"Love you too," jawabku lalu menggenggam tangan yang ada di pipiku, lalu meciumnya.