The Worst Day Ever

1771 Words
[Kirana Gantari]   Ada banyak tipe manusia di dunia ini. Dan aku mengkategorikan manusia berdasarkan dua jenis. Yaitu, orang yang menyukaiku, dan orang yang membenciku. Parahnya, jumlah orang yang membenciku jauh lebih banyak daripada yang menyukaiku. Mereka sepertinya iri padaku. Iri pada semua yang kupunya. Aku memang memiliki segalanya, kecantikan, harta yang berlimpah, suami tampan yang kaya, serta orang tua yang sangat menyayangiku –meski Ayah telah tiada. Lalu apa lagi? Bagi sebagian orang, mereka mungkin akan berpendapat kalau sebaiknya aku mengabaikan orang-orang yang membenciku. Yeah, semua itu sudah kulakukan. Namun, sepertinya lambat laun kesabaranku habis juga. Aku sudah terlalu sabar pada mereka. Dan semakin aku sabar, mereka malah semakin melunjak. Hari ini adalah jadwalku untuk hadir dalam runway di Mediter Fashion Week. Aku mengenakan rancangan terbaik milik Terana Liando, designer terbaik di Indonesia saat ini. Dan tepat di hari bersejarah ini, hal buruk menimpaku. Ketika aku hendak keluar menuju runway, tiba-tiba air mengguyur tubuhku. Menjadikan tubuhku basah kuyup dan penampilanku berantakan. Aku syok. Marah, kesal, sedih, dan kecewa. Tak ada yang bisa dilakukan selain tetap melanjutkan langkah menuju runway yang membentang ke arah penonton. Aku malu. Ketika wajahku difoto dengan tampilan seperti itu. Semua orang terdiam menatapku. Mungkin mereka berpikir kalau aku adalah gadis paling aneh yang muncul dengan tubuh basah kuyup, apalagi aroma yang ditumbulkan cairan itu benar-benar tak sedap. Saat berjalan di runway, aku menangis dengan penuh kekecewaan. Siapa yang tega melakukan ini padaku? Begitu keluar dari runway, aku langsung menatap ke arah orang-orang yang ada di sini. Wajah mereka tampak berusaha menyembunyikan tawa dan semua orang benar-benar mencurigakan bagiku. Satu hal yang ingin kulakukan saat itu adalah berteriak, mungkin juga mengamuk karena amarah yang kutahan selama di runway tadi benar-benar sudah memuncak. “Siapa yang melakukan itu semua? Huh?” teriak Terana. Wajahnya merah padam. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya tajam ke arah kami. Aku diam, memeluk diri sendiri karena menggigil akibat AC yang ada di sini begitu dingin. “Kalian bukan hanya menghancurkan agency kalian sendiri, tapi juga menghancurkan reputasi saya!” teriaknya lantang. “Apa kalian pikir ini lelucon, huh?” Setelahnya, Terana melenggang pergi dari kerumunan kami. Dan sebelum terlalu jauh, dia berkata, “cari orang yang telah menyabotase acara malam ini. Jangan biarkan dia lolos!” ucapnya pada Pak Devan dengan tatapan sedingin es. Dan di sinilah aku sekarang, menatap wajahku sendiri di depan cermin toilet yang menampilkan wajah nelangsa dengan aroma yang tak sedap. Ada beberapa orang yang kucurigai terlibat dalam hal ini, yaitu; Katy, Mala, dan Kikan. Aku yakin, salah satu dari mereka lah yang melakukan ini padaku. Atau bisa juga mereka malah berkomplot. Lihat saja, kupastikan kalau mereka akan membayar semua yang mereka lakukan padaku, cepat atau lambat. Selepas mandi dan memakai pakaian, aku keluar dengan pakaian casual yang kukenakan sewaktu ke sini. Dan ketika berjalan di lorong, tak sengaja aku melihat Terana yang tengah berjalan ke arahku. Rupanya dia masih ada di sini. Ahh ... tentu saja, apapun yang terjadi dia harus menyelesaikan peragaan busana rancangannya. “Terana!” Panggilku saat dia berada beberapa meter di depanku. Dia menghentikan langkah, lalu menatapku. Aku mendongak untuk bisa membalas tatapannya. Tingginya hampir dua meter sementara aku hanya setinggi 177 cm. “Maafkan aku.” Aku menggigit bibir bawahku sementara tanganku masih terasa gemetar. Emosiku belum stabil saat ini. “Harusnya aku memilih untuk  tak masuk dan membatalkan giliranku,” ujarku menyesal. “Tak apa. Lagipula penonton sudah melihatmu begitu cairan itu mengguyur. Saya akan mengungkap siapa dalangnya dan meminta pertanggungjawaban atas kejadian ini. Jadi, jangan khawatir dan berhenti menyalahkan diri sendiri.” Ucapanya lembut dan tampak jelas jika dia berusaha menenangkanku. “Bagaimana dengan media?” “Saya belum banyak berkomentar. Dan mungkin itu membuka celah bagi media untuk memberikan komentar menurut perspektif mereka sendiri. Tapi, biarkan saja. Saya tak mau terlalu ambil pusing,” ucap pria bertopi hitam itu. Aku tersenyum ke arahnya, lalu dia menepuk pundakku dan berjalan melewatiku. Aku menyingkirkan rambut basah yang menjuntai di wajah lalu kembali melanjutkan langkah untuk keluar dari gedung ini. Sampai saat ini amarahku masih saja memuncak. Aku tak paham betul apa motif dari orang yang melakukan ini padaku. Dan betapa bodohnya mereka karena tak berpikir panjang untuk melakukan hal yang secara tak langung merusak citra Sunny Agency sekaligus nama Terana sebagai designer kondang yang selalu sukses dengan fashion show yang digelarnya. Satu kali pukul, tiga pihak yang kena imbasnya. Aku memutuskan menaiki taksi alih-alih menelpon Ivan untuk menjemput. Aku masih belum ada keinginan untuk pulang dan menceritakan ini semua padanya. Karena takut jika respon yang kudapatkan jauh dari ekspektasi dan membuatku malah terlalu emosional padanya. Saat tengah menatap gemerlap cahaya dari ruko-ruko pinggir jalan, sebuah sebuah ide spontan muncul di kepalaku. Yang kemudian kuwujudkan dalam sebuah tindakan. “Bubble Blue ya, Pak!” ujarku pada sang sopir. Dia melirik ke arahku melalui spion lalu merespon dengan jawaban, “baik, Bu.”   ***   Gemerlap cahaya dan suara dentuman musik mengusik telinga. Aroma alkohol begitu tajam terendus indera pengindu milikku. Aku berjalan menelusup melewati kerumunan orang yang tengah berjoget dengan irama musik yang begitu keras. Gerakan mereka benar-benar tak beraturan dan aneh. Sudah pasti mereka hanya asal berjoget hanya kerena menikmati musik yang mengalun. Aku duduk di depan meja bartender. Tampak seorang bartender berkemeja putih tengah meracik minuman dengan keahliannya. Jujur saja, sebenarnya Ivan melarangku ke sini, tapi karena aku ingin sejenak melupakan masalahku tadi sepertinya tak apa jika aku mencicipi minuman barang beberapa teguk saja. “Martini!” ucapku memesan lalu menunjukan jumlah pesanan dengan mengacungkan jari. Suaraku keras, hampir berteriak padanya karena musik benar-benar menyamarkan suaraku saat ini. Pria itu tersenyum lalu menyajikan minuman yang telah dibuatnya pada pelanggan yang sudah menunggu. Beberapa kali aku mengunjungi tempat ini, dulu. Tentu sebelum menikah dengan Ivan. Dia melarangku datang ke tempat ini sejak kami menikah dan baru kali ini aku melanggar atuaran itu. Ketika bar tender meletakan minuman pesananku, aku langsung menyambarnya dan meminum dalam sekali tenggak. Sensasi aneh langsung terasa di tenggorokanku. Tapi setelahnya, aku memesannya lagi. “Sedang ada masalah, huh?” tanya Si Bar tender padaku. Aku hanya mengangguk tak terlalu memperhatikan. Ponselku bergetar dan di saat itulah jantungku berdetak tak beraturan. Ivan menelpon. Apa yang harus kukatakan? Aku membiarkannya tanpa mengangkat hingga sebuah suara terdengar di telingkaku. “Kekasihmu menelpon?” tanya Si Bar Tender. Aku menoleh spontan ke arahnya. Tepat di d**a sebelah kanannya tertera sebuah nama ‘Janu’ di sana. “Bukan,” jawabku spontan. Pria itu tersenyum simpul. Dan entah kenapa aku juga spontan tersenyum ke arahnya. Melihat gelas berisi martini yang tadi kupesan sudah ada di depanku, aku langsung meminumnya. Kali ini perlahan. Aku tak boleh sampai mabuk karena Ivan pasti akan memarahiku. “Hari yang berat, ya?” tanyanya sambil mengelap gelas dengan serbet putih. “Ya,” jawabku sambil memperhatikan gelas berisi minuman. “Hari yang sangat berat,” lanjutku. Aku paham, dia bisa membacaku saat ini karena penampilanku yang jauh dari kata rapi. Aku bukanlah kira yang biasa saat ini. Aku adalah Kira yang kacau, yang telah dipermalukan di depan umum oleh orang yang membenciku. “Banyak yang datang ke sini dengan situasi yang sama. Kurasa tempat ini lebih tepat diberi nama tempat pelarian dibanding tempat bersenang-senang,” ujarnya sambil mengelap gelas-gelas miliknya. “Mungkin,” jawabku sambil minum. “Kurasa mereka memang menjadikan tempat ini sebagai tempat pelarian, sepertiku.” “Yeah ... semoga kau bersenang-senang di sini,” ujarnya kembali dan memperlihatkan senyuman miring. “Semoga saja,” kataku lalu menghabiskan sisa minuman di gelas, dan berkata, “satu lagi!” Aku mendorong gelas ke arahnya. “Kau menyetir?” “Tidak.” “Baguslah.” “Kupikir ini adalah hari terbaik untukku,”ujarku tanpa sengaja. Aku menatap bartender dengan nama Janu itu dan kurasa tak ada salahnya menceritakan tentang hari ini pada orang yang tak kukenal. Lagipula aku tak akan pernah ke sini lagi. Dan tak akan pernah menemuinya lagi. Pria itu melihat ke arahku dengan wajah penasaran, dan aku mulai bercerita. “Seharusnya aku akan menjadi pusat perhatian dengan masterpiece rancangan designer terbaik. Tapi acara yang harusnya berjalan lancar disabotase. Hariku hancur, dan kemungkinan besar karirku juga.” “Apa ada yang menyelidiki insiden itu?” “Ya, sedang diselidiki. Dan untuk sementara waktu, kurasa aku tak bisa ke manapun. Acara itu disiarkan secara live dan ... orang-orang akan menatapku dengan tatapan aneh. Sepertinya ini hari terakhirku berada di luar secara bebas.” “Kurasa, kau tak perlu terlalu memikirkan pandangan orang. Mereka sama sekali tak paham dengan kondisi yang sebenarnya.” “It’s easy to say that. Karena nggak ada di posisiku saat ini.” “Yeah. Tapi setidaknya, jangan menghukum diri sendiri atas apa yang bukan merupakan kesalahanmu,” ujarnya. “Janu!” teriak seseorang. Pria itu menoleh lalu menghampirinya. Kurasa, benar ucapan pria itu. Aku tak seharusnya menghukum diri karena semua ini. Lagi pula bukan salahku dan Terana juga sama sekali tak marah padaku. Ini hanya soal menghadapi cibiran orang tang tak kukenal saja. Dan kurasa, itu yang akan melelahkan. Aku pulang dengan taxi. Dalam keadaan teler dan kepala yang sangat pusing. Berjalan memasuki pekarangan rumahku dengan langkah gontai. Semoga saja Ivan sudah tidur dan melewatkan kondisiku yang benar-benar buruk saat ini. Mataku sangat berat dan ... kenapa tangga menuju teras terlihat banyak sekali? Astaga bahkan jalan menuju rumah terlihat begitu jauh. Pintu terkunci. Bagus sekali. Apa yang harus kulakukan sekarang? Saat hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka sendiri. Apa Ivan memasang sensor pada pintu tanpa sepengetahuanku? “Kira?” Ivan muncul dari balik pintu. “Apa yang ....” Dia menatapku intense. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Biarkan aku masuk!” Aku berusaha menghindar dari tatapannya sekaligus menerobos masuk, tapi dia menghalangi. “Kau mabuk?” Aku menggeleng. “Hanya mencicipi saja. Sedikit,” ucapku sambil memberikan gestur dengan tangan. “Kau mabuk. Itu sudah jelas,” katanya kesal. Aku hanya bisa tersenyum padanya. Dan tanpa terduga, tiba-tiba dia menggendongku. Aku cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi kemudian, aku melingkarkan tangan ke lehernya. Dia sangat tampan. Begitu sampai di tempat tidur, Ivan membaringkanku dan melepaskan sepatu hak tinggi yang kukenakan. “Sebaiknya kau tidur. Dan jelaskan masalah ini besok!” Dia menarik selimut untukku. “Kau tampan sekali,” ujarku menatapnya. “Berhenti merayuku, karena itu tak akan mempan.” Aku menarik kerah bajunya dan membiarkan wajah kami hanya berjarak satu inchi bahkan aku bisa merasakan napasnya yang beraroma mint. Mata Ivan yang bersembunyi dibalik bulu mata tebal mendelik ke arahku. Seharusnya setelah ini dia menciumku, tapi alih-alih mencium, dia hanya melepaskan cengkramanku lalu menjauh. “Ivander Adley!” panggilku. Tapi dia tak menoleh sedikitpun. Memilih pergi dan menutup pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD