The Gift For Angel

1093 Words
[Ivander Adley]   Hari yang cukup melelahkan. Aku masih berada di dalam mobil meskipun saat ini mobilku telah berada di dalam garasi. Ada satu hal yang sejak tadi siang mengganjal di benakku. Mengenai pertanyaan ayah. Apa ibu sudah terlalu menginginkan cucu dariku? Tapi, spertinya Kira masih belum memiliki keinginan untuk itu. Aku tahu, ambisi Kira masih begitu besar untuk bisa menjadi model professional dan mendapatkan kesempatan runway di NewYork Fashion Week. Jadi, sepertinya dia masih belum terpikirkan untuk memiliki anak. Aku juga selalu berusaha untuk menghormati setiap keinginannya. Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar dan berjalan menuju beranda. Aku mendapati Kira tengah berdiri di teras dengan dres berwarna hitam di atas lutut. Melipat tangannya dan melihat ke arahku. Wajahnya polos tanpa makeup sedikitpun. Dan ini adalah hal yang paling kusukai darinya. Wajah cantik alami Kira khusus untukku. Tentu saja, karena Kira tak akan berani keluar rumah tanpa makeup dan hanya denganku lah dia mau tampil polos seperti ini. Rambut coklat Kira yang sudah mulai panjang menjuntai di bahunya, lalu dia tersenyum ke arahku dengan senyuman manja. Astaga, dia benar-benar cantik saat ini. Apalagi hanya dengan bantuan sinar temaram ini. Aku mendekatinya, lalu merangkul Kira dan mencium keningnya. “Bagaimana harimu?” tanya Kira mendongak ke arahku –masih dalam dekapanku. “Melelahkan, tapi semua sirna saat melihatmu.” Aku menggodanya. “Kau bisa saja,” katanya lalu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. “Yuk, masuk!” Aku mengangguk. Kami berjalan masuk ke rumah. Rupanya Kira telah memasak, bahkan semua makanan telah siap di meja makan. Kelihatannya enak-enak dan membuatku tak sabar untuk segera mencicipinya. “Aku akan ke kamar untuk bersih-bersih,” kataku meninggalkan Kira lalu naik ke lantai dua menuju kamar. Saat awal pernikahan kami, Kira tak bisa memasak. Dia benar-benar gadis yang manja sebelumnya. Bahkan saat itu aku lah yang mengajarinya memasak. Aku memang memiliki keahlian memasak yang diturunkan oleh Ibu. Selain itu karena aku adalah anak kedua yang paling dekat dengan Ibu menjadikanku selalu melakukan banyak hal untuk membantu Ibu termasuk dalam hal memasak. Kira memiliki keinginan yang kuat untuk berlajar memasak hingga tak kurang dari satu bulan pernikahan kami, dia sudah bisa memasak beberapa makanan, dan rasanya cukup enak meskipun masih kalah dibanding masakan Ibu. Entah kenapa, menurutku tak ada yang bisa menandingi masakan Ibu. Mungkin karena sejak kecil aku sudah terbiasa dengan masakan Ibu. Aku menyusuri tangga untuk turun menuju meja makan. Dan suara yang kukenal terdengar di telingaku dari ruang tamu. Aku berjalan ke arah ruang tamu dan suara itu semakin terdengar. Bukan suara Kira, melainkan ibunya. Begitu melihatku, Ibu Kira langsung menyapa, “Ivan ...,” panggilnya. Ibu duduk di sofa dengan tas yang ditaruh di pangkuannya. “Bu ....” Aku langsung menyambar tangannya untuk bersalaman dan mencium tangannya. “Bagaimana kabarnya?” tanyaku ramah. “Seperti yang kau lihat. Sangat baik.” Dia tersenyum sumringah. “Kebetulan Ibu di sini. Kita bisa sekalian makan malam. Kira sudah menyiapkan makanan tadi.” Aku melirik ke arah ruang makan yang letaknya di sebelah kanan. “Aku sudah memaksanya, Mas. Tapi Mama menolak.” Kira mengadu padaku, menunjukan wajah menggemaskan miliknya. “Kurasa, tak baik menolak ajakan untuk makan. Lagipula, sudah waktunya makan malam.” Aku sedikit memaksa kali ini. “Benar kata Mas Ivan, Mah. Mama ikut makan malam di sini saja.” Kira membujuk Ibunya. Pada akhirnya Ibu menerima ajakan kami untuk bergabung makan malam bersama. Rasanya, cukup menyenangkan dengan kehadiran Ibu di sini. Dia adalah tipe orang tua yang sagat baik padaku, penyabar dan pintar. Wajar memang, Ibu adalah istri dari seorang Alm. Hendrawan Ashali. Seorang pengusaha yang sangat mahsyur dan disegani banyak orang. Meskipun dulu aku bahkan tak pernah sekalipun memiliki pemikiran akan menjalin hubungan dengan putrinya. Aku menikah dengan Kira selepas tiga tahun kematian ayahnya. Dan setiap bulan, aku selalu mengajak Kira mengunjungi makan Ayahnya untuk ziarah. “Masakanmu semakin enak saja,” ujar Ibu melirik ke arah Kira. Memuji makanannya. “Tentu saja, hampir setiap hari Kira memasak.” Kira menjawab dengan percaya diri, “Aku bahkan tak pernah makan di luar sejak Kira sering memasak. Masakannya membuatku betah makan di rumah,” aku memujinya. Yang seketika membuat kaki Kira menendang kakiku pelan. Aku menoleh ke arahnya lalu tersenyum. “Aku bicara jujur, Bu,” kataku pada Ibu. Ibu hanya tersenyum kecil lalu menjejalkan makanan ke mulutnya lagi. Kami banyak mengobrol mengenai butik yang dijalankan Ibu serta perusahaan milik mendiang Ayah Kira yang saat ini ditangani oleh Ratih, kakaknya. Ratih cukup andal dalam mengelola perusahaan. Sementara Kira, dia terlalu malas untuk berkecimpung di dunia bisnis. Dia lebih memilih dunianya sendiri, yaitu modeling. Selepas makan, dan obrolan kami berakhir, Ibu memutuskan untuk pamit pulang. Aku sempat menawarinya tumpangan, tapi beliau memilih untuk pulang dengan taxi online yang telah dipesannya. Jadi, apa boleh buat. Yang terpenting, aku sudah berusaha menawarinya. Kira melirik ke arahku begitu mobil yang ditumpangi Ibu melaju meninggalkan area rumah kami. “Ada apa?” tanyaku. “Kalian tampak cocok begitu membahas soal bisnis.” Tanpa sadar, dua sudut bibirku tertarik. Lalu reflek menggaruk tengkuk yang sebenarnya tak gatal. “Aku hanya, menanggapinya. Berusaha membuat Ibumu nyaman.” “Itu bagus. Tak salah Ibu menyukaimu, Mas.” Dia mencubit pipiku, lalu menarikku masuk. Saat hendak terlelap, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Gelang pemberian Ayah. Hampir saja aku terlupa. Aku melirik ke arah Kira di sampingku. Dan untung saja dia belum tidur. Dia masih menatap langit-langit, entah apa yang dia pikirkan saat ini. “Kira?” “Iya.” Dia menengok ke arahku. Aku membuka laci yang ada di samping tempat tidur kami, lalu mengambil wadah perhiasan beludru berwarna biru tua dengan bagian sampingnya berwarna emas. Aku menunjukan ke arah Kira, dan membuat gadis itu penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak tang kupegang saat ini. “Itu apa?” Aku membukanya, dan memperlihatkan isinya pada Kira. “Sebuah gelang,” kataku. “Ya ampun. Cantik banget, Mas!” ucap Kira mengagumi gelang ini. Wajar saja memang. Gelang pemberian Ibu memang sangat cantik. Modelnya juga sesuai dengan selera Kira. Ibu benar-benar tahu apa yang disukai menantunya. “Dari Ibu,” kataku sembari memberikan padanya. Kira menerima dan tampak begitu senang dengan pemberian Ibu. Aku memakaikannya di tangan Kira dan benar saja, gelang ini semakin cantik setelah berada di tangan Kira. “Besok aku akan mengucapkan terima kasih padanya,” kata Kira masih melihat ke arah gelang itu. “Tak perlu, kita akan ke Bandung weekend ini. Sabtu pagi kita berangkat ke sana.” “Tapi ...” “Kucing Ibu akan diamankan sementara, tak perlu khawatir.” “Okay.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD