"Lara!"
Gibran seketika terbangun dari tidur. Napasnya terengah-engah. Kemeja putih yang ia kenakan tak terasa telah basah akan keringat dingin yang entah sejak kapan mengucur dari permukaan kulitnya.
Gibran tak sengaja tertidur dengan meletakkan kepala di atas meja ruangannya. Ia lalu melirik jam di tangan. Detik ini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sekitar satu jam lalu, ia baru selesai praktik. Gibran niatnya beristirahat sejenak di ruangannya. Tak terasa ia malah ketiduran dan jadi mimpi buruk.
Mimpi itu terlihat seperti nyata di mata Gibran. Ia tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba bermimpi buruk tentang kekasihnya. Mendadak Gibran jadi teringat dengan kondisi Lara saat ini.
"Dia udah sadar atau belum, ya? Mending aku coba cek ke ruangannya."
Gibran putuskan untuk mencuci muka terlebih dahulu di wastafel yang berada di ruangannya. Saat sedang mencuci muka, ia mendengar seperti ada yang membuka pintu. Tampaknya ada seseorang yang datang dan mulai memasuki ruangannya.
"Hai, Ran. Kamu belum pulang?" tanya Rinka sambil bergerak menghampiri Gibran.
Gibran berbalik badan setelah ia selesai mencuci muka. Ia sempat terkejut dengan penampilan Rinka sekarang. Entah Rinka ini sengaja atau tidak, yang jelas Gibran merasa risih melihat dua kancing bagian atas dari blouse wanita itu tidak dikancingkan.
"Kamu sendiri belum pulang? Aku tadi nggak sengaja ketiduran. Sekarang mau lihat Lara dulu, baru setelah itu aku pulang."
"Udah ada perawat yang jaga loh. Ngapain sih pakai acara mau lihat Lara segala? Kalau misalkan Lara sadar, pasti nanti para perawat juga laporan ke kamu. Mending sekarang pulang sama aku aja, yuk," ajak Rinka. Ia lalu bergerak mendekati Gibran yang tengah duduk sambil merapikan dokumen-dokumen penting di atas meja.
Rinka memilih duduk di atas meja, lebih tepatnya di samping kanan Gibran. Sengaja ia menaikkan rok pendeknya sampai di atas lutut. Rinka tengah mencari perhatian Gibran dengan cara menggoda pria tersebut.
"Kamu hari ini kenapa? Tingkahmu benar-benar berbeda." Gibran sadar betul dengan tingkah tak biasa Rinka.
"Aku lagi usaha buat merebut hati kamu. Kamu tau sendiri kan, orang tuaku berniat menjodohkan aku sama pria yang nggak aku kenal sama sekali? Aku mana mau dijodohin gitu aja. Aku maunya nikah sama kamu, bukan sama orang lain!"
Gibran membuang napas kasar. Ia tahu betul bagaimana perasaan Rinka selama ini. Namun, yang namanya cinta memang tidak bisa dipaksa. Sejauh ini, Gibran hanya menganggap Rinka sebagai teman. Ia sudah memiliki tambatan hati. Mana mungkin Gibran berpaling dari Lara, apalagi kondisi Lara saat ini sedang kritis.
"Ya kamu coba kenalan dulu sama pria pilihan orang tua kamu. Siapa tau cocok, Rin. Yang namanya orang tua, pasti akan cari jodoh yang terbaik untuk anaknya." Gibran mencoba berbicara baik-baik pada Rinka agar bersedia menerima perjodohan itu.
"Kamu ngomong begini biar aku nggak ngejar-ngejar kamu, kan?!" Rinka memilih berdiri setelah ia melontarkan pertanyaan dengan nada marah.
Gibran pun putuskan untuk berdiri dan mulai menatap Rinka tak terbaca.
"Mau kamu apa, Rin? Aku udah punya Lara. Dan sekarang Lara sedang kritis. Aku nggak mungkin mengkhianati dia. Kita nggak mungkin bersama. Jadi tolong, lupain perasaan kamu ke aku, dan belajar menerima kehadiran orang lain, Rin." Gibran meminta pengertian Rinka.
"Kamu pikir mudah menghilangkan perasaan yang udah bertahun-tahun aku simpan untuk kamu?! Aku itu terkadang heran sama kamu. Aku ini lebih cantik, lebih dewasa, nggak manja, nggak posesif seperti Lara, tapi kenapa kamu lebih memilih dia ketimbang aku, sih?!"
Jika menurut pandangan pria lain, mungkin Rinka jauh lebih baik dari Lara. Namun, di mata Gibran, Lara adalah yang terbaik. Pria itu juga tidak mencari pendamping yang benar-benar sempurna. Bagi Gibran, Lara adalah pribadi yang berbeda dari perempuan lain.
"Kamu ini memang jauh lebih baik dari Lara, tapi kamu nggak memiliki apa yang dimiliki oleh Lara. Lara memiliki pesona tersendiri, Rin. Ya, memang kita sering berantem, sering salah paham, tapi beberapa menit kemudian, kita biasa akur lagi. Aku dan Lara, berusaha untuk bertahan dengan hubungan ini meski sering kali bertengkar, karena apa? Karena dari awal kita udah sepakat, berantem boleh, tapi berpisah jangan. Karena kalau sekedar berantem, kemungkinan besar bisa baikan lagi, tapi kalau udah berpisah, belum tentu bisa balikan lagi, Rin."
Sungguh Rinka merasa muak sekali dengan cerita Gibran yang menjelaskan tentang salah satu alasan kenapa mereka tak bisa berpisah meski sering kali bertengkar. Rinka tak butuh penjelasan seperti itu. Yang Rinka inginkan hanyalah balasan dari Gibran atas perasaannya selama ini.
"Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan kamu, Ran, gimana pun caranya. Selama ini aku udah cukup sabar dengan sikap kamu yang sering kali mengabaikan perasaan aku. Lihat, suatu saat aku pasti akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku dan memintaku untuk jadi milikmu, Ran." Rinka memilih pergi setelah ia puas mengutarakan isi hatinya.
***
"Apa kabar, Sayang? Kamu masih betah tidur? Nggak kangen gitu sama aku?" Gibran tengah mengajak bicara kekasihnya.
Posisi lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi stainless yang letaknya di samping kiri ranjang. Tampak lelaki itu mengusap-usap lembut puncak kepala Lara. Lantas Gibran daratkan kecupan mesra di kening gadis pujaannya.
Perasaan Gibran menjadi tidak tenang semenjak mimpi buruk itu. Memang Gibran beranggapan kalau mimpi adalah bunganya tidur. Namun, tetap saja ia merasa khawatir karena di dalam mimpi tersebut, situasi Lara sedang dalam bahaya. Ia mengingat-ingat kembali tentang makhluk menyeramkan yang menyandera Lara di dalam mimpinya itu.
'Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia harus menukar nyawaku dengan membunuh orang-orang yang kalian sayangi!'
Gibran kembali teringat dengan pesan misterius dari wanita yang mengenakan pakaian perawat dalam mimpinya tadi. Semakin ia mengingat, dirinya justru merasa cukup familier dengan seragam perawat tersebut.
"Kayak seragam perawat sini, ya? Tapi kenapa dia ngomong begitu? Dia akan membunuh orang yang gue dan Lara sayangi, contohnya siapa? Dan ada motif apa gitu?" Gibran lantas garuk-garuk kepala karena ia merasa cukup bingung dan pusing mencari jawaban atas pesan misterius dari hantu perawat itu.
Sesaat Gibran merasakan hawa di dalam ruangan ini menjadi tidak nyaman. Tiba-tiba merinding, tengkuknya terasa seperti ditiup-tiup, hatinya mendadak berdebar-debar seperti orang yang tengah panik.
"Duh, jangan-jangan dia nongol gara-gara gue ghibahin tadi? Bener-bener horor rumah sakit nih," gerutu Gibran.
Ia tidak sadar kalau hantu perawat yang baru saja ia bicarakan itu kini tengah berada di belakangnya. Menatapnya penuh benci. Kemudian menyeringai lebar.
"Kan, kan, kan, rasanya itu kayak ada yang lagi memperhatikan gue dari belakang. Nengok nggak ya? Nengok, nggak? Nengok, nggak? Nengok, nggak?" Gibran sampai menghitung kancing kemejanya karena ia bingung harus menengok ke belakang atau tidak.
"Jiah, malah jatuhnya nengok." Tangan Gibran sampai pada kancing paling atas. Dan menengok ke belakang adalah pilihan terakhir dari hitungan kancing bajunya itu.
"Bismillah. Mudah-mudahan dia nggak nongol." Dengan cepat Gibran menoleh ke belakang. Mengedarkan pandangan. Ia dapat bernapas lega karena dirinya tidak menemukan siapa-siapa.
"Mas Dok."
Gibran refleks menoleh ke arah pintu kaca kamar rawat Lara, ketika terdengar suara Vira memanggil dirinya.
"Opo, Vir?"
Vira malam ini kedapatan tugas shift malam, dan ia pun memiliki tugas untuk menjaga Lara sampai jam tujuh pagi besok.
"Belum pulang, to? Wes sana pulang dulu, istirahat di rumah. Biar Mba Lara, malam iki aku sing jaga, Mas." Vira bergerak menghampiri Lara dan mengecek tabung infus milik gadis itu.
Gibran tampak memerhatikan Vira dengan saksama. Model baju perawat yang dikenakan Vira terlihat sama persis dengan yang dipakai oleh hantu perawat dalam mimpinya. Baju perawat berwarna putih dengan model atasan lengan pendek serta bawahan rok pendek selutut, dan kerah baju perawat tersebut berwarna biru muda.
'Benar dugaan gue. Bajunya sama persis dengan perawat sini,' batin Gibran.
"Weh, Mas, disuruh pulang malah ngalamun."
Kata-kata Vira sontak membuyarkan lamunan Gibran.
"Eh, enggak, Vir. Aku nggak melamun kok. Aku cuma lagi merenung, kira-kira Lara kapan sadarnya, ya?" Gibran kembali menatap wajah pucat Lara.
"Sing sabar, Mas. Doa ae semoga Mba Lara cepat sadar. Wes, cepetan pulang, istirahat. Mas Dok juga capek seharian ini, to?"
Gibran pun menuruti perkataan Vira untuk segera pulang. Lelaki itu lalu berdiri dan merapikan diri. Sebelum keluar dari ruangan ini, Gibran sempatkan untuk mengecup kening Lara sekali lagi.
"Duh, seneng tenan yo punya pacar? Gaweane dicap-cup terus jidate. Aku yo dadi iri ki." Vira merasa sangat iri melihat Gibran mengecup kening Lara. Sebagai jomblo akut, ia juga ingin sekali punya pacar.
"Makanya cepetan cari pacar, Vir. Penyakit jomblo kok dipelihara," ejek Gibran.
Bukannya Vira tak mau cari pacar, tapi ia belum menemukan yang cocok saja. Kriteria Vira boleh dibilang terlalu sempurna. Ngebet sekali ingin punya pacar yang wajahnya benar-benar mirip dengan Sehun.
Gibran pun keluar dari ruang ICU dan kembali ke ruangannya untuk mengambil tas kerja serta kunci mobil. Sementara Vira kini tampak mengusap-usap puncak kepala Lara dan menatap gadis itu dengan nelangsa.
"Mesakke tenan awakmu yo, Mba, Mba. Cepat sadar yo, Mba, nanti sama aku tak traktir makan bakso mercon di kantin sampe ndower."
Vira putuskan untuk keluar dari kamar rawat Lara, dan bergerak menuju pos perawat yang letaknya masih berada di dalam ruang ICU. Nantinya ia akan sering-sering melihat kondisi Lara, sekedar mengecek cairan infus masih banyak atau tidak dan lain-lain.
Di dalam kamar rawat Lara, tidak ada yang tahu kalau detik ini hantu perawat itu telah berada di dekat Lara. Ia tersenyum penuh arti ketika salah satu jari Lara terlihat bergerak-gerak.
"Akhirnya kamu sadar. Siapkan dirimu untuk balas dendam atas kematianku, Lara," ucap Ayudia lirih.
Tbc ...